Seorang petani yang sedang beristirahat dipinggir sungai setelah mencari kayu bakar menemukan sesosok tubuh wanita malang yang hanyut tidak sadarkan diri dan mengangkatnya keluar dari air.
“Nona, sadarlah, anda tidak apa-apa?” petani itu berusaha membangunkannya namun tampaknya gadis itu mengalami shock.
Petani itu membawa gadis tersebut pulang dan menghangatkan tubuh wanita malang itu di pinggir perapian rumahnya.
Ketika membuka matanya gadis itu menyadari dirinya berada di sebuah gubuk yang hangat. Dia menatap sekeliling, rumah itu sangat sederhana, tetapi ada barang-barang yang nampaknya antik, Ia hanya bisa bertanya-tanya dalam hati di manakah dirinya berada sekarang.
“Ah, nona, anda sudah sadar rupanya, silahkan pakai baju yang sudah saya sediakan.”
Suara itu terdengar dari sebelah pintu, suara seorang laki-laki yang sepertinya sudah berusia matang. Lelaki itu menunggu Asuka di luar.
Selesai memakai baju yukata yang disediakan lelaki itu, Asuka keluar hendak menemui pemuda yang telah menolongnya. Di luar dia melihat seorang berpakaian lusuh duduk santai sembari menghisap tembakau.
“Nona, anda sudah sadar, syukurlah, wah ternyata yukata itu cocok sekali untuk anda, maafkan untuk ketidaknyamanan ini. Rumahku memang sederhana. Oh ya, perkenalkan, saya Kawaguchi Takeshi.”
“Ah, tuan, terima kasih banyak untuk bantuan anda, anda sudah menyelamatkan saya hari ini, saya rasa berhutang nyawa kepada anda.”
Gadis itu masih bertanya-tanya dalam hati, milik siapakah yukata ini, apakah tuan Kawaguchi ini punya anak, atau mungkin istri, tapi nampaknya dia tinggal sendiri.
“Maaf, saya belum memperkenalkan diri, panggil saya Asuka.”
“Oh, ya baiklah nona Asuka, bagaimana, apakah kau sudah merasa baikan?”
“Ah, ya terima kasih, sudah menyelamatkanku.”
[Yukata = Pakaian tradisional Jepang yang bentuknya mirip Kimono namun lebih sederhana. Yukata dipakai untuk beraktivitas sehari-hari.]
“Aku heran, apa yang kau lakukan sehingga hanyut di sungai itu?”
“Ah, aku hanya melakukan hal bodoh…”
“Hahahahaa… ada kalanya kita semua melakukan hal bodoh dalam hidup kita ini. Omong-omong, apakah kau ingat dari mana asalmu?”
“Ah, aku dari kota.”
“Mungkin kau masih lelah ya, baiklah, nona, kau boleh beristirahat di sini, tapi nanti kau harus ceritakan kepadaku siapa dirimu dan dari mana asalmu.”
“Tuan mau pergi ke mana?”
“Aku mau mencari beberapa batang kayu bakar lagi dan menyiapkan makan malam.”
“Biar aku menemani tuan.”
“Apakah kau yakin dirimu tak ingin beristirahat saja?”
“Tidak, tidak apa-apa, aku sudah merepotkan anda, aku akan membantu anda.”
“Baiklah kalau begitu…”
Akhirnya Takeshi dan Asuka berjalan ke tepi hutan. Asuka membantu Takeshi membawa tumpukan dahan kering.
“Tuan, apakah engkau tinggal sendiri?” tanya Asuka.
“Ya…”
“Kau tidak berkeluarga?”
“Dulu, tapi sekarang mereka…” kata-kata Takeshi terputus.
“Oh, apakah kau bercerai?”
Takeshi membalikkan badannya menatap Asuka.
“Kau ini suka ingin tahu tentang kehidupan orang ya?”
“Oh, maaf, aku hanya ingin mencoba berkenalan.”
“Keluargaku… telah tiada…”
“Maafkan saya tuan.”
Asuka kemudian terdiam tidak lagi bertanya-tanya.
Dalam perjalanan pulang Takeshi memperhatikan Asuka yang diam saja.
“Hei nona, maafkan aku, tidak seharusnya aku berkata demikian.” ucap Takeshi.
“Tidak, aku lah yang seharusnya minta maaf, mungkin aku terlalu ikut campur urusan anda.”
“Tidak, sudah mari kita makan malam bersama.”
Saat makan malam, akhirnya Asuka menceritakan tentang dirinya.
“Aku dari tempat bernama Geisaku. Anda tahu tentang tempat itu?”
“Oh, aku tahu, aku malah berpikir anda dari Takamanomon.”
“Ceritaku sangat panjang…”
“Tidak apa, di tempatku ini kau punya waktu di seluruh dunia untuk melakukan apapun.”
* * *
Malam semakin larut dan udara semakin dingin.
“Kau tidurlah di kamar itu, ada kasur hangat dan selimut, aku akan tidur di pinggir perapian di ruang tengah ini. Kalau butuh sesuatu kau bisa bangunkan aku.”
“Terima kasih tuan.”
“Tidak apa-apa, istirahatlah malam ini.”
Takeshi merokok di pinggir perapian sambil menatap api yang menyala-nyala sepanjang malam. Di luar hanya terdengar suara burung hantu dan binatang-binatang malam yang berkeliaran. Ladang milik Takeshi semua gelap, tidak terlihat apapun di luar sana.
Tiba-tiba Asuka keluar dari kamarnya, “Kenapa?” tanya Takeshi.
“Aku, tidak bisa tidur…”
“Ah, biasa, di tengah hutan begini memang sulit untuk tidur. Tapi dengarkan saja nyanyian para hewan malam ini, mungkin perlahan kau akan tertidur.” hibur Takeshi.
“Aku takut.” kata Asuka pelan.
“Apa yang kau takutkan? Binatang buas? Mononoke? Tenang saja, mereka semua jauh dari tempat ini.” balas Takeshi.
“Tidak… Aku takut kalau-kalau aku tertidur, aku akan bermimpi buruk.” balas Asuka.
“Ah, kita semua pernah mengalami mimpi buruk pastinya, bahkan yang terburuk adalah ketika kita bermimpi dengan mata terbuka. Pernahkah kau mimpi dalam keadaan matamu terbuka?”
“Maksud tuan?”
“Kau kira dirimu bermimpi ternyata kau melihat kenyataan, ya kenyataan yang sangat buruk, dan kau harus menerima kenyataan kalau hal itu telah terjadi, kau berharap dirimu bangun dan tersadar dari mimpi buruk itu, tetapi sekali lagi itu bukan mimpi buruk, melainkan kenyataan pahit dan kejam yang terjadi di depan matamu. Hehehe, tidak ada yang namanya bermimpi dengan mata terbuka, karena itu bersyukurlah kalau kau masih bermimpi dengan mata tertutup.”
“Itu… mengerikan sekali… Kau pernah mengalami kejadian yang mengerikan itu?” balas Asuka.
Asap putih berhembus dari hisapan panjang Takeshi pada lintingan tembakaunya, dan segera menguap di udara. Melayangkan ingatan Takeshi akan sebuah masa lampau.
“Dahulu desaku yang damai diserang karena dikatakan ada pemberontak di sana. Pasukan milik pemerintah menyerbu, mereka membantai dengan membabi buta, karena tidak ada satu pun dari penduduk desa kami yang mengaku sehingga kami semua dianggap menyembunyikan pemberontak yang tidak kami ketahui itu. Bayang-bayang mengerikan itu, seluruh penduduk desa berlarian kesana kemari, kebakaran di mana-mana, kami terpojok, aku melihat seluruh keluargaku dibantai di hadapanku, aku berusaha melawan mereka sekuat tenagaku namun aku tetap tidak bisa menyelamatkan keluargaku. Tanahku, rumahku, mereka membakar semuanya, aku tidak berdaya, mencoba menyelamatkan diri, sungguh aku ini manusia hina. Meninggalkan keluargaku di sana, istriku dan anakku…”
Tiba-tiba Asuka memeluk Takeshi, “Tapi kau pasti sudah berusaha yang terbaik, aku yakin, buktinya hari ini kau sudah menyelamatkanku.”
“Mengapa saat itu aku tidak mati saja bersama mereka? Mengapa mereka harus lebih dulu meninggalkan diriku?” ucap Takeshi dengan suara parau. Tiba-tiba tubuh Takeshi bergetar, wajahnya tertunduk, tangannya memegangi dadanya, menahan kesedihan melanda dirinya.
“Sudahlah…” Asuka spontan memeluk erat Takeshi dan tidak melepaskannya.
“Aku… aku…” Takeshi hendak melanjutkan ceritanya dengan terputus-putus.
Asuka semakin memeluk erat Takeshi.
“Jangan dilanjutkan, sudah cukup tuan, kau tidak perlu mengungkit semua kenangan pahitmu, aku dapat merasakannya di dadaku.” ucap Asuka pelan.
Asuka menangis sambil memeluk Takeshi.
Keadaan menjadi hening, suasana di ruangan itu hanya ada bunyi kretek suara api memecah kayu di perapian, jangkrik dan binatang malam lainnya yang bernyanyi, suara angin yang berhembus lembut.
“Hangat… Aku merindukanmu Ryoko.”
“Maaf, apa katamu tuan?” Asuka tidak begitu jelas mendengar perkataan Takeshi.
Takeshi bergumam-gumam seperti mengigau, ia berkata terputus-putus antara sadar dan tidak sadar, rupanya Takeshi perlahan tertidur.
Asuka membiarkan Takeshi tertidur dalam pelukannya. Malam itu Takeshi tidak menyadari kalau Asuka turut tertidur pulas di sampingnya.