“Aku merindukanmu Ryoko, jangan lepaskan pelukanmu. Aku juga merindukan Nishi, di mana dia?”
Sosok wanita cantik itu berpakaian serba putih, memeluk hangat dan membelai wajah Takeshi.
“Ryoko mengapa kau diam saja?”
Wanita itu hanya diam saja, sembari menatap Takeshi dengan senyuman, namun kemudian dia beranjak, melepaskan pelukannya secara perlahan, tubuhnya melayang, ada cahaya putih muncul di atas langit menyinari dirinya.
“Ryoko, jangan pergi… kumohon… Ryoko… Mengapa kau lepaskan pelukanmu.”
“Takeshi, aku tidak pernah pergi, aku selalu di sisimu. Aku selalu di sisimu sayang.” balas wanita itu.
“Aku merindukan kalian… Aku merindukan kalian mati-matian…” jawab Takeshi dengan penuh isak tangis.
“Takeshi sayang, kumohon, jangan berlarut dalam kesedihan, aku tidak ingin melihatmu bersedih seperti ini.”
“Aku rindu kalian, aku ingin bersama kalian.”
“Takeshi sayang, kami selalu bersamamu, mendampingi dirimu, dan selalu menunggu dirimu. Tetapi, kau harus bahagia dan melanjutkan hidupmu.”
“Ryoko… Nishi…”
* * *
Takeshi terbangun dari tidurnya, “lagi-lagi… aku bermimpi…” katanya dalam hati.
Takeshi melihat Asuka sudah bangun lebih dulu dan sarapan sudah tersedia, rupanya Asuka yang menyiapkannya.
“Ah, kau sudah bangun?” sapa Takeshi.
“Iya, aku kan sudah merepotkan, jadi aku coba buatkan makan pagi untukmu tuan, mudah-mudahan enak, maaf aku baru belajar memasak, tetapi ibuku pernah mengajariku sedikit.”
Pagi itu, untuk pertama kalinya Takeshi tidak makan pagi sendirian seperti biasanya.
“Ini enak sekali, sudah lama aku tidak merasakan sarapan pagi.”
“Ah, benarkah?”
“Aku harus mengurus kebunku dulu, kau tidak apa-apa kan di sini?”
“Tidak apa-apa.”
“Terima kasih ya, sekarang aku pergi dulu ke ladangku.”
“Selamat bekerja.” ucap Asuka.
Sementara Takeshi bekerja di kebunnya, Asuka membereskan rumah. Iseng-iseng dia melihat seisi kamar Takeshi. Lemarinya, laci-lacinya, rak barang-barangnya, rupanya sedikit mengejutkan membaca dokumen-dokumen dan jurnal milik Takeshi.
Takeshi dulunya adalah seorang bangsawan, dia memiliki seorang istri bernama Ryoko dan seorang anak laki-laki bernama Nishi yang masih berusia 5 tahun. Tragis, Takeshi harus kehilangan mereka pada saat desa mereka diserang pasukan milik pemerintah karena dituduh sebagai sarang pemberontak.
Asuka segera membereskan semuanya, baginya cukup mengetahui fakta tersebut tanpa harus membahasnya dengan Takeshi.
Asuka membuatkan makan siang, hendak membawakannya ke ladang untuk Takeshi.
“Wah, hanya sayuran dan kentang, orang ini tidak punya daging apa ya? Kasihan sekali…”
* * *
Di tengah ladangnya, Takeshi melihat seorang wanita berjalan dari kejauhan menuju tempatnya.
“Tuan Takeshi.” sapa wanita itu dari kejauhan sambil berlari-lari kecil.
Takeshi menjemputnya di pinggir ladang dan membawanya ke tenda peristirahatannya.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Takeshi.
“Aku membuatkanmu makan siang.” Balas Asuka.
“Wah, terima kasih, di rumahku hanya ada makanan seadanya, aku belum sempat menjual hasil panen ini ke kota.”
“Tidak apa-apa, kita nikmati saja yang ada dulu.”
“Ya sudah, ayo kita makan bersama.”
Asuka membukakan bungkusan makanan tersebut dan menghidangkannya untuk Takeshi.
“Aku senang sekali berada di sini, bolehkah aku tinggal beberapa hari lagi?”
“Aku sih tidak melarang, tapi apa tidak ada yang akan mencarimu?”
“Ah, tidak. Tidak mungkin akan ada yang mencariku lagi! Dan kalau pun ada aku tidak akan mau kembali ke tempat itu lagi.” ekspresi Asuka berubah sedih.
“Sepertinya buruk sekali.”
“Aku tidak ingin mengingat-ingatnya lagi, sekarang aku hanya ingin hidup dengan damai.”
“Baiklah aku mengerti.” Takeshi membelai punggung Asuka, tiba-tiba Asuka merebahkan tubuhnya di d**a Takeshi.
Mendadak keadaan menjadi canggung, Takeshi memisahkan diri perlahan dan Asuka pun perlahan beranjak dengan wajah memerah. Entah apa yang dipikirkannya, tetapi ia bemerasa nyaman berada di dekat Takeshi.
Selesai makan Takeshi bersantai sejenak dan melinting tembakau seperti biasa. Asuka membereskan peralatan makan yang sudah selesai.
Kemudian setelah puas beristirahat, Takeshi kembali memanggul cangkulnya dan melanjutkan pekerjaannya di ladang.
Selagi Takeshi bekerja, Asuka melihatnya dari kejauhan, memperhatikan segala yang dilakukan Takeshi di ladangnya, melihat sinar matahari membakar tubuh kurus lelaki paruh baya itu, otot-otot tubuhnya mengencang saat mengayun cangkul untuk menggemburkan tanah, Takeshi nampak bekerja keras seakan tidak mengenal lelah. Untuk ukuran seorang bangsawan yang biasa hidup di rumah mewah yang sekarang berubah menjadi seorang petani dan menjalani kehidupan sederhana, bagi Asuka itu adalah seseorang yang luar biasa.
“Aku juga bisa seperti dirinya, aku bisa menjalani kehidupan seperti ini asal bersama dirinya. Aku tidak perlu kemewahan istana, yang aku perlu adalah kedamaian dan cinta.” ucap Asuka dalam hati.
Hari itu perasaan Asuka sungguh bersuka ria, memandangi hamparan ladang kecil milik Takeshi yang dikelilingi oleh rimbunnya pepohonan yang saling bersapa melambai oleh angin semilir.
Tidak lama kemudian Asuka kembali lebih dulu ke pondokan.
* * *
Sore harinya Takeshi kembali dengan membawa beberapa buah kentang dan sayuran hasil panen. Sampai di pondok Takeshi terkejut, ternyata Asuka sudah menyiapkan air mandi dan membuatkan minuman hangat, bahkan ia pun sudah menyalakan perapian. Wajahnya nampak cemong kehitaman oleh asap dan arang.
“Hehehe… Maaf ya aku baru belajar cara menyalakan perapian.”
“Untuk apa kau melakukan semua itu?” tanya Takeshi.
Takeshi mengambil lap basah untuk membasuh wajah Asuka.
Asuka membiarkan Takeshi membasuh wajahya, saat Takeshi menyeka pipinya, Asuka memegang tangan Takeshi. Tiba-tiba seperti ada sesuatu yang membuat jantungnya berdegup kencang. Wajah Takeshi terasa begitu dekat dengan wajahnya bahkan nyaris bersentuhan. Asuka memejamkan matanya entah apa yang dipikirkannya tetapi ia seperti menunggu Takeshi melakukan sesuatu.
“Sudah, sudah bersih.” ucap Takeshi.
Ternyata tidak ada apa pun yang terjadi. Asuka membuka matanya dan nafasnya nampak seperti baru saja dikejar-kejar sesuatu.
“Hei, kau baik-baik saja?” tanya Takeshi.
Asuka hanya membalas dengan mengangguk.
Takeshi pun pergi membersihkan badan, Dan selesai membersihkan badan, rupanya Asuka sudah menyiapkan makan malam untuk mereka.
“Wow, hebat, kau yang menyiapkan semua ini?”
Takeshi memakan makan malam yang sudah disediakan Asuka.
“Terima kasih ya.” ucap Takeshi.
“Kenapa?” tanya Asuka.
“Untuk semua ini.” balas Takeshi.
“Aku senang melakukannya.” balas Asuka.
Malam itu acara makan berlangsung dengan hening ditemani nyala hangat perapian.
* * *
Selsesai makan, seperti biasa Takeshi merokok di samping perapian. Asuka duduk menghampiri di sampingnya.
“Kau belum tidur?” sapa Takeshi.
“Aku ingin duduk bersamamu di sini tidak apa-apa kan?”
“Ya, tidak apa-apa.”
“Terima kasih ya sudah menyelamatkanku dan juga mengijinkanku tinggal di sini bersamamu.”
“Tetapi aku sendiri tidak tahu siapa dirimu dan dari mana asal usulmu.”
“Apakah itu penting?”
“Ya kalau kau mau menceritakannya akan bagus.”
“Aku sudah tidak mau mengingat siapa diriku dan tempat asalku lagi.” kata Asuka.
“Kenapa? Tidak apa-apa kan semua orang punya masa lalu.” balas Takeshi.
“Aku menyukaimu tuan.”
Takeshi terdiam saja mendengarnya.
“Bagaimana mungkin kau bisa menyukai pria sepertiku, aku ini hanya pria tua miskin buruk rupa. Kau adalah gadis muda, parasmu sangat cantik bagai dewi dari khayangan, sepantasnya kau dimiliki oleh pangeran-pangeran muda putra-putra bangsawan di luar sana.”
“Mereka semua adalah laki-laki lemah pengecut, aku menyukaimu, aku melihat sesuatu yang berbeda dari pandangan matamu, kejujuran bisa terpancar dari sana.”
Tiba-tiba Takeshi menggenggam tangan mungil Asuka.
Asuka terkejut dan terdiam, jemari lentiknya tenggelam dalam genggaman Takeshi. Genggaman itu terasa begitu hangat, ada sebuah perasaan yang membuatnya begitu nyaman. Membuatnya semakin mendekati tubuh Takeshi.
Takeshi lanjut membelai rambut hitam yang panjang tergerai itu, belaian lembutnya turun ke pipi Asuka, hingga Asuka pun memejamkan matanya, ada sebuah getaran dalam dirinya mengalir begitu saja. Ia meraba tubuh Takeshi, menyentuh lembut pundak dan d**a lelaki itu, walaupun tubuh Takeshi kecil tetapi dadanya sungguh bidang dan kencang, hasil bekerja keras di ladang hari demi hari.
Lagi-lagi perasaan berdebar itu terasa mengisi d**a Asuka.
Namun tiba-tiba mereka seperti tersadar, dan lagi-lagi Takeshi malah mundur. Dan keduanya menjadi salah tingkah.
“Ah, maafkan aku… Maafkan aku…” ucap Takeshi.
Asuka hanya terdiam saja.
Malam itu pun hening.