"Kak Damar," ucap Lila dengan membekap mulut dihadapan Damar.
"Maaf pak Damar. Aku haus jadi aku mengajak Lila mampir di cafe, hanya bentar doank...ini juga udah mau pulang.
"Lila, ikut pulang dengan ku sekarang."
"Maaf kak, aku mau pulang dengan kak Rafa."
Lila menarik tangan Rafa dan langsung meninggalkan Damar seorang di cafe tempat mereka sering nongkrong.
"Ayo," ajak Lila menarik tangan Rafa.
"Cepat lah," lanjut Lila meminta Rafa lebih mempercepat langkahnya.
"Lila....!" panggil Damar dari kejauhan namun Lila tak peduli.
"Tunggu Lila, aku aku perlu bicara dengan pak Damar, sepertinya ada hal yang mesti aku luruskan sekarang."
"Raf....jangan gegabah. Ini bukan saat yang tepat, kamu dan kak Damar sedang sama-sama emosi," bujuk Lila menenangkan Rafa.
"Lila tunggu di mobil sekarang, aku akan bicara dengan Rafa," tegas Damar dan menyerahkan kunci mobil pada Lila.
"Kamu nurut sekarang," ucap Rafa sambil membelai rambut Lila dan menyarankan gadis itu menuju mobil Pak Damar.
"Raf....!" Lila nampak enggang setuju dengan Rafa.
"Lila, udah sana. Aku janji gak macam-macam."
Lila melangkah menuju mobil Kak Damar dan meninggalkan mereka.
"Apa maksud kamu mendekati Lila seperti itu?" tanya Damar penuh penekanan.
"Seharusnya aku yang bertanya pada anda, kenapa Bapak terlihat sangat cemburu melihat aku dan Lila bersama?"
"Aku calon kakak iparnya, apa kamu lupa itu?"
"Wah...masih juga calon, tapi bapak terlihat sangat over pada Lila."
"Rafa, jaga ucapan kamu."
"Lila bukan lagi anak SMA, bahkan dia sekarang sudah menduduki bangku kuliah, dia bukan lagi gadis kecil, salah jika aku mendekatinya, salah jika kamu sekarang memiliki hubungan seperti bapak dan Bu Maya?" ucap Rafa mempertanyakan sikap Damar pada Lila.
"Tapi aku tak mengizinkannya," tegas Damar yang semakin diluar batas.
"Hey...apa bapak waras?, anda bukan siapa-siapa Lila, bapak tak berhak sama sekali. Ucapan bapak terlalu berlebihan."
"Itu bukan urusanmu...!" jawab Damar semakin marah atas ucapan Rafa padanya.
"Jadi benar, bapak suka dengan Lila, dan berhubungan dengan kakaknya, aku rasa anda sudah gila," ungkap Rafa semakin tak percaya dengan kebenaran pak Damar sekarang.
"Rafa, aku peringatkan jauhi Lila, atau kamu tak akan nyaman dikampus ini mulai dari sekarang."
"Silahkan, terserah apa yang bapak rencanakan, tapi aku takkan menyerah. Aku mencintai Lila dan aku bersumpah akan melindungi dia dari pria b******k seperti mu."
Setelah mengucapkan kalimat terakhirnya Rafa melajukan motor miliknya dan menuju mobil pak Damar. "Lila, turun sekarang...!, aku akan mengantarkan mu pulang."
Lila dengan cepat membuka pintu mobil dan naik di motor Rafa, mereka langsung meninggalkan cafe menuju rumah Lila.
Diperjalanan Rafa terlihat tak bisa mengontrol emosi sesekali ia tak sengaja menaikkan kecepatan kendaraannya hingga Lila terpaksa memeluk erat dirinya. "Kak Raf...pelan dikit aku takut."
"Maaf, aku masih emosi dengan pak Damar. Ternyata selama ini aku salah menilai pria busuk itu, aku pikir ia pria setia tapi tak disangka ia adalah pria buas yang baru aku temui di muka bumi ini."
"Raf...Tolong berhenti di taman. Aku hanya ingin menenangkan diri."
Rafa menghentikan motor tepat di depan taman mini, yang merupakan salah satu area terbuka di kota tersebut dan sering menjadi tempat persinggahan para muda mudi memadu kasih.
"Jadi kamu udah tau...?" tanya Lila dengan ucapan terbata.
"Ya," jawab Rafa singkat.
"Dulu kami tak sengaja bertemu dan ngobrol tepat di acara keluarga, Kak Maya sangat sibuk saat itu jadi kakak memintaku menemani kak Damar, setelah melihat kami tak sengaja bertemu sebelum ia memperkenalkan pacarnya pada keluarga. Aku sama sekali tak menyangka jika pertemuan kami malah memunculkan konflik batin seperti ini, awalnya aku kagum padanya, namun rasa itu terus aku tekan hingga aku berhasil sedikit demi sedikit menghindari dirinya dan memberi jarak dengannya, tapi kak Damar tak mampu mengontrol dirinya, ia terus saja berusaha mendekati diri ku, jujur untuk sesaat memang sulit mengalihkan rasa yang terlanjur hadir, tapi aku cukup tau diri," jelas Lila mengungkapkan isi hatinya pada pria dihadapannya yang terus memberi tatapan lembut padanya.
"Jadi apa rencanamu sekarang?" melihat situasi yang rumit Rafa sama sekali tak menyangka hal itu akan terjadi pada gadis seperti Lila, ia pun kembali mempertanyakan rencananya.
"Aku tak ingin menyakiti kak Maya, aku lebih memilih Kak Maya dari pada pria seperti itu, aku sudah melihat seperti apa dirinya sekarang, pria seperti itu tak pantas untuk diperjuangkan, bahkan tak layak sedikitpun. Aku malah berpikir jahat semoga ia bukan jodoh kak Maya."
"Ya, kau benar. Aku juga tak menyangka sifat pak Damar yang sebenarnya sangat jauh dari kata Gentlemen," ucap Rafa membenarkan ucapan Lila.
"Pulang yuk, aku tak mau Kak Maya tambah salah paham dengan ku."
Setelah mengungkapkan perasaannya Lila sedikit lega, dan Rafa pun terlihat tenang.
"Sampai, kamu gak Singga," ucap Lila basa-basi pada Rafa.
"Gak liat mobil, pawang kamu di depan. Aku bisa diterkam abis-abisan didalam."
"Ya udah, sampai jumpa dikampus besok."
Rafa terus memandang Lila tak berkedip sekalipun hingga tubuh gadis itu menghilang dibalik pintu rumah dan masuk kedalam menemui keluarganya, ia berharap semoga Damar tak mempersulit dirinya.
Memastikan Lila sudah aman dan sekarang telah bersama keluarganya, Rafa pun segera melajukan motor miliknya dan pulang ke kediamannya, mengistirahatkan lelahnya setelah sore ini ia dihadapkan dengan pria yang seharusnya memberi contoh teladan tapi malah diluar dugaan ia menyaksikan kebenaran tentang pak Damar yang merupakan salah satu dosen terbaik dikampus mereka.
"Baru pulang...." tanya kak Maya.
"Iya, kak aku dan kak Rafa mampir di Cafe langganan kami dan mengobrol sedikit."
"Cik...ngobrol atau pacaran..?" tanya Damar dengan ucapan sangat menekan.
"Kak, udahlah. Aku dan Rafa udah sama-sama dewasa kalau kami membina hubungan yang lebih dekat itu wajar, aku janji gak akan melampaui batas, dan Rafa juga adalah pria bertanggung jawab, Apa salahnya?" ucap Lila membela diri.
"Hmmm....jadi anak mami sekarang udah besar, udah tau pacar-pacaran," sahut mami dari arah dapur menyela obrolan mereka.
"Mami juga kenal baik kok dengan Rafa, kalian juga. Sekarang masalahnya dimana?" tanya Lila kembali.
"Kamu masih kuliah dek, harusnya kamu fokus. Baru juga semester 2 perjalanan kamu masih panjang," jawab Kak Maya memperingatkan Lila.
"Kak....Rafa adalah pria yang bertanggung jawab, menikah muda dengannya pun aku mau, lagian jaman sekarang punya suami yang bertanggung jawab dan gentle sangat langka."
"Jadi kamu yakin cinta sama dia?" tanya Kak Damar to the point'.
"Sekarang masih tahap mengenal lebih dekat, tapi aku yakin aku punya perasaan lebih padanya, aku kagum padanya, aku nyaman dengannya, dan dia selalu membimbing semua mat kuliah aku, dan Kakak bisa liat sendiri nilai aku selama dekat dengan kak Rafa."
Jawaban yang Lila berikan sangat menusuk hati Damar, hingga membuat dirinya semakin emosi namun sangat tak mungkin ia ungkap karena hal itu akan membuat suasana semakin kacau.
"Kalau gitu aku pamit sekarang sayang, aku ingat besok ada kelas pagi," ucap Damar dengan hati yang geram meninggalkan keluarga Maya.
"Ia pasti marah sekarang, tapi maaf kak, ini adalah yang terbaik untuk kita semua," guman Lila dan berjalan menuju kamarnya merebahkan diri, dan mengistirahatkan sejenak penat yang membelenggu hari dan perasaannya sejak pertemuan dirinya dengan kak Damar.
Bersambung.....