Mendengar perintah pak Damar, Lila langsung menutup kembali pintu kelas dan ia berdiri sejenak di depan pintu kelas tersebut, lalu akhirnya ia pun melangkah meninggalkan kelas tersebut dengan hati yang sangat kecewa, ia kini terlihat berpikir "kok bisa sih jamnya dimajukan, bukannya kemarin ia bilang jam 08.00,"
Lila pun membuka gadget miliknya dan mencari pesan yang belum sempat ia buka dan memang ternyata di grup kelas untuk mata kuliah pak Damar memang ada pemberitahuan bahwa kelas akan dimajukan sekitar setengah jam dari jam 08.00 menjadi jam 07.30, Lila pun syok melihat pesan tersebut, ia sampai lupa ngecek grup sebelum berangkat dari rumah tadi, pantas saja kak Damar sangat marah melihat aku sampai terlambat setengah jam.
Lila tak mau ambil pusing dari pada ia stres dengan pikiran yang semakin kacau, ia kini melangkahkan kakinya menuju kantin. Di kantin ia duduk tanpa memesan apapun dan justru mengeluarkan beberapa buka mata kuliah untuk jadwal kelas berikutnya sekitar sejam lamanya Lila nongkrong di kantin tersebut seorang diri, hingga terdengar suara menyapa dirinya dari arah belakang, ketika Lila menoleh betapa kebetulan nya justru yang menyapa dirinya barusan merupakan seorang pria yang mengantarkan dirinya pulang kemarin sore.
"Kakak nggak ada kelas pagi?, tumben ada di kantin sekarang, biasanya kan kakak sibuk kalau pagi hari." Sapa Lila sekedar berbasa-basi.
"Emang salah kalau aku nyantai sedikit," jawab Rafa malah balik nanya.
"Ya, nggak sih Kak...!, hanya saja kan biasanya kakak sibuk, kok tumben sekarang lagi nyantai."
"Bukannya kamu ada kelas dengan Pak Damar ?, kok malah lagi di kantin?" tanya Rafa kembali.
"Aku terlambat Kak, aku terlambat bangun," jawab Lila sekenanya.
"Pasti ia nyuruh kamu nutup pintu dari luar kan?"
"Kok kakak tahu?"
"Biasanya kan gitu itu. Slogan andalan kami untuk pak Damar, tutup pintu dari kelas dari luar."
"Ya, sebenarnya aku gak terlambat hanya saja semalam aku sempat berdebat dengannya melalui handphone, dan aku masih terbawa emosi liat hp, apalagi grup kelasnya, dan ternyata ia majuin jam kelas ngajarnya, aku jadi ketinggalan info."
"Emang pria b******k, kok gak ada tobatnya, udah dapatin kakaknya malah ngincar adiknya," ucap Rafa semakin kesal dengan cerita Lila pagi ini.
"Sebenarnya Pak Damar orangnya baik dan disiplin, jadi wajar Jika ia tak pilih kasih dengan kedisiplinan untuk semua mahasiswa termasuk kamu kamu, meski kamu adalah salah satu gadis tambatan hatinya," lanjut Rafa.
"Bisa nggak nggak ngebahas itu lagi males dengarnya," ucap Lila tak mau membahas tentang pak Damar lagi.
"Jadi semalam Bagaimana apa dia marah sama kamu?" tanya Rafa tetap ingin mengetahui kejadian semalam.
"Kak Rafa Aku dah bilang kan, Jangan membahas lagi, kok masih dibahas..." cetus Lila.
"Lila masalahnya kamu itu harus diselesaikan bukan dihindari yang ada keadaannya malah tambah rumit," tegas Rafa pada gadis yang sudah semakin pusing dihadapannya.
"Lah terus gimana?, aku harus ngapain?, memang kamu punya solusi nggak?"tanya Lila bertubi-tubi pada Rafa karena sudah sangat emosi padanya.
"Kamu harus coba ngomong baik-baik dengan Kak Damar agar masalahnya cepat clear."
"Woi....!, kamu nggak mikir, memangnya aku senang dengan keadaan seperti ini aku sudah berapa kali minta agar dia melupakan semuanya dan berhenti, tidak melanjutkan perasaannya terhadap saya, aku bahkan membuat kesepakatan agar kami menjauh satu sama lain."
"Gimana kalau kita pacaran beneran?, mungkin dengan seperti itu dia akan mengalah dan melanjutkan hubungannya dengan serius pada Kak Maya," ucap Rafa mencoba memberikan ide terbaik.
"Kenapa gak sekalian nikah aja?, pacaran gak ada dalam kamus aku, aku bahkan gak percaya akan ada pria yang jatuh cinta padaku."
"Kamu kok ngomongnya pesimis seperti itu, Lila memang kamu nggak pernah jatuh cinta sebelumnya?, kamu tahu cinta itu murni nggak memandang apapun, dia hadir nggak diundang sama sekali, dia juga tak harus dicari, bahkan tak perlu dinanti, jika sudah saatnya pasti akan tiba."
"Lalu seperti apa tipe kakak?" tanya Lila begitu serius.
Rafa hanya tersenyum mendengar pertanyaan Lila padanya, ia sama sekali tak menyangka gadis yang di hadapannya ini merupakan gadis yang sangat polos dan masih murni dan jujur, Ia baru pertama kali menemukan gadis seperti Lila yang sekarang merupakan gadis yang menjadi tambatan hatinya meski ia tak menyadari akan perasaannya untuknya yang terus tersimpan dengan rapi.
"Kalau aku bilang gadis sepertimu. gimana menurutmu?" tanya balik Rafa pada Lila.
"Wow....kurasa itu hal amazing yang pernah aku temui dalam hidupku, aku yakin kamu pasti sedang mencoba meledek aku sekarang, cuih....aku gak tertipu sama sekali."
"Lalu bagaimana jika aku malah serius kali ini?, Mau nggak jadi pacar ku?" tanya Rafa semakin serius.
"Kamu kok nembak aku gak ada romantisnya sama sekali, masa pria terkeceh dikampus ini menurut para ciwi-ciwi, nyatain perasaan gak ada romantisnya sama sekali."
"Ya biarin, aku kan orangnya sederhana kalau kamu terima dengan keadaan aku seperti ini itu malah bagus, aku gak perlu menjadi orang lain untuk mencuri hati mu. Lagian bukannya lebih baik menjadi diri sendiri."
"Aku kagum dengan kepribadian kakak, tapi menurutku itu hanya sebatas kagum saja, aku sama sekali belum berpikir jika perasaan itu akan meningkat menjadi rasa cinta."
"Jadi kamu suka sama Kak Damar?"
"Aku juga nggak tahu Kak. Aku juga nggak tahu bagaimana perasaan cinta yang sebenarnya, aku juga gak pernah rasain jantung berdebar dengan seorang pria, apalagi dengan hati yang selalu memikirkan pria di luar sana, merasa cemas yang berlebihan terhadapnya, saya nggak pernah ngerasain itu, entah itu denganmu dan entah itu dengan Kak Damar perasaan itu belum pernah ada," jelas Lila dengan jujur.
"Kalaupun aku mengiyakan sekarang menjadi pacar Kak Rafa, aku sih maaf-maaf aja bukan berarti aku cinta sama Kak Rafa aku hanya ingin tahu perasaan cinta itu seperti apa," lanjut Lila.
"Baru kali ini aku ketemu gadis sepertimu sudah berusia 20 tahun malah nggak tahu cinta itu seperti apa," sahut Rafa tak habis pikir dengan ucapan gadis dihadapannya yang terlalu polos baginya.
Lila diam begitu mendengar ucapan Rafa tentangnya, Dia terlihat sedang memikirkan sesuatu, Lila sama sekali tak tahu bagaimana rasanya jatuh cinta pada seorang pria selama ini hanya rasa kagum yang sering ia rasakan, belum pernah ia merasakan getaran yang begitu menggetarkan jiwa saat bertemu dengan sosok pria dalam hidupnya, bahkan itu Kak Damar, dia memang menyukai dirinya dan berani mengakui itu cinta tapi sejujurnya, ia tak paham cinta itu seperti apa.
Lila akui dirinya sangat sulit untuk jatuh cinta dengan pria manapun, hal itu mungkin karena pengalaman pertamanya melihat Kak Maya yang pernah parah hati, sehingga membuat dirinya menjadi trauma akan hal itu hingga ia menutup hatinya rapat-rapat dengan perasaan cinta.
"Aku pernah melihat Kak Maya disakiti sama pria lain dan rasanya sangat menusuk dan menghancurkan, kakak yang ngalamin hal itu tapi hati saya hancur, aku sama sekali tak tega melihat Kakak begitu sedih mungkin karena itu aku malah menutup hati ini rapat-rapat aku bahkan tak ingin percaya dengan kata cinta.
Andai aku hidup bisa hidup tanpa cinta, andai aku bisa hidup tanpa pernikahan, mungkin aku akan menghindari hal tersebut menanggung rasa sakit dikemudian hari."
"Maaf Lila, aku pikir kau juga jatuh cinta sebucin-bucinnya dengan pria b******k itu," ucap Rafa sedikit lega mengetahui isi hati gadis pujaannya.
"Jadi, kamu aku suruh keluar kelas berbenah diri dan introspeksi diri, malah asyik gosip di kantin," tegur Damar pada Lila.
Bersambung....