Bagian 13. (Bukan) Cemburu

1556 Words
Setiba di kantor, Agung meletakkan tas kerjanya sedikit kasar di atas meja. Ia duduk dengan menghenyakkan tubuhnya secara kasar pula di atas kursi. Sambil menyandarkan kepala, ia menarik dan mengembuskan napas panjang beberapa kali, mencoba meredam rasa sakit dan kecewa atas ucapan Maharani tadi. "Kenapa kamu, Bro?" Ardi, rekan kerja satu ruangan sekaligus teman dekatnya sejak kuliah menyapa. Agung menggeleng. Meskipun hubungan pertemanan mereka dekat, ia tidak mungkin menceritakan pelik permasalahan rumah tangganya saat ini. Belum waktunya. "Kelihatannya kacau?" Ardi tidak percaya dengan jawaban yang diberikan Agung. "Enggak apa-apa, Bro. Biasa, masalah rumah tangga. Makanya kamu cepat nikah, biar paham apa itu masalah rumah tangga," sahutnya mencoba menutupi problema yang dihadapi dengan berkelakar. Ardi mendengkus, "Makanya aku enggak mau nikah. Biar gak ada masalah!" ketusnya, "Ayo ke depan. Apel pagi." Laki-laki berperawakan sedikit berisi itu beranjak dari duduknya. "Sebentar. Masih ada beberapa menit." Agung berucap malas. Ia mengeluarkan ponsel, membuka aplikasi perpesanan di sana, lalu mengirim chat kepada Rumaisha. "Setengah jam lagi saya jemput," tulisnya. *** Sesuai rencana, pagi ini Naira harus ke puskesmas dan rumah sakit daerah untuk memperoleh rujukan screening jantung atau echocardiography dan pemeriksaan tiroid. Antrian puskesmas buka mulai pukul 06.30 wib. Loket pendaftaran buka pukul 08.00 wib. Namun, Rumaisha memutuskan untuk datang pukul 09.00 wib karena dokter biasanya datang pada jam-jam tersebut. Usia Naira masih di bawah dua tahun sehingga masuk kategori prioritas. Jadi tidak perlu mengantri lama. Agung datang menjemput tepat pada jam yang dia janjikan. Rumaisha pun telah menunggu sehingga mereka langsung menuju puskesmas. Di deretan kursi tunggu, perempuan muda itu duduk tenang dengan berbekal tas perlengkapan Naira. Suasana sudah sangat ramai. Gadis itu telah mengambil antrian poli umum prioritas dengan urutan empat. Antrian prioritas ini di peruntukan bagi para lansia, anak baduta, dan para penyandang d*********s. “Mas gak balik ke kantor lagi?” tanya Rumaisha heran melihat suaminya mengambil posisi duduk di sampingnya. Padahal tadi malam dia bilang tidak bisa menemani. “Enggak. Tadi saya sudah urus ijin dan diperbolehkan sampai besok,” jawab laki-laki itu datar. Ia kemudian merogoh saku, mengambil ponsel, lalu sibuk memainkannya. Rumaisha mengembuskan napas lelah. Sejak kemarin bersama lelaki itu, ia selalu sibuk sendiri. Sangat jarang bicara dan kalau bicara pun hanya sekadarnya. Itu juga tidak saling menatap. Setelah bicara satu dua kalimat, kemudian hening dan ia akan menyibukkan diri dengan ponselnya. “Mas Agung, kok, di sini?” Satu suara mengejutkan mereka. Agung dan Rumaisha sontak menoleh. Seorang perempuan cantik berdiri di samping Agung. Rumaisha menatap takjub wajah cantik yang nyaris sempurna itu. Kulit putih bersih, nyaris berkilau terlihat jelas karena dia hanya mengenakan mini dress di atas lutut dan lengan pendek. Kancing di atas d**a dibiarkan sedikit terbuka, memperlihatkan keindahan yang menantang. Belt melingkar menunjukkan betapa tubuh itu langsing, tetapi padat berisi. Rambut halus tergerai, diwarnai pirang begitu kontras dengan kulitnya yang putih. Alis hitam, indah dibentuk dengan ukuran proporsional. Hidung mancung menukik, pipi kencang tersapu blash on, bibir indah dengan pewarna yang menambah s*****l. Nabila Syakieb mungkin kalah cantik jika dibandingkan wanita ini. Dia adalah Maharani. Rumaisha menunduk ciut. Apalah dia yang parasnya tidak ada apa-apanya. “Maharani?" Agung sedikit terkejut mendapati perempuan yang baru ditemuinya beberapa jam yang lalu itu. "Siapa yang sakit?” Tidak menjawab pertanyaan Maharani, ia justru balik bertanya. “Tidak ada. Aku hanya mau bikin surat keterangan sehat. Mau daftar CPNS.” Agung memindai penampilan Maharani. Kecantikannya sungguh paripurna dan dia tidak pernah bosan memandangnya. Jika Maharani secantik itu, bagaimana mungkin ia bisa berpaling? “Oh. Sama siapa?” “Mama.” Maharani mengarahkan telunjuknya pada wanita paruh baya yang terlihat sedang berbincang dengan seseorang. Wanita itu menghentikan obrolannya pada temannya, kemudian terlihat keduanya sama-sama say goodbye. Penampilannya tidak kalah dengan Maharani. Dia juga mengenakan mini dress meski dengan corak yang disesuaikan usia. Make up pun menyapu seluruh wajahnya. Beberapa perhiasan menempati leher, telinga, pergelangan tangan, dan jemari. Dia juga terlihat menenteng tas dengan brand mahal. Deswinta melangkah mendekati putrinya. “Ada apa, sayang?” tanyanya lembut pada Maharani. “Mas Agung,” jawab wanita cantik itu sembari matanya melirik memberi kode. “Oh, Agung." Deswinta mengerling malas, "Kenapa? Naira sakit?” tanyanya sinis. “Enggak!” jawab Agung singkat. Jujur, ia merasa enggan untuk berbincang lebih lama dengan mertuanya itu. Wanita ini pasti akan membawa pembicaraan ke arah yang tidak mengenakkan. “Kalau enggak sakit kenapa ke sini? Aneh aja, deh,” ucap Deswinta. Bibirnya mencebik mengejek. Agung menghela napas panjang. Benar apa yang dia prediksi. Ibu mertuanya mulai julid. “Mama sendiri kenapa ke sini? Sakit?” Agung membalikkan pertanyaan. “Eh, aku tidak penyakitan. Tidak cacat seperti anak kamu itu!” “Astaghfirullahal'azim. Anak Mas Agung 'kan juga anak Mbak Rani, Bu. Yang artinya cucu Ibu juga,” ucap Rumaisha spontan. Hatinya tidak senang mendengar perkataan Deswinta. Ia tidak terima Naira disebut cacat dan penyakitan. Naira tidak cacat. Fisiknya sempurna. Dia pun bukan penyakitan. Perempuan paruh baya itu menatap Rumaisha dengan bola mata membesar. Mukanya memerah menahan amarah. Tidak sudi Naira disebut sebagai darah dagingnya. Apalagi di depan umum. Bagaimana jika ada koleganya yang mendengar? “Oh, ini istri barumu?” tanyanya pada Agung. Ia menatap Rumaisha tajam, memindai dari atas hingga bawah. Sorotnya seolah ingin menelanjangi wanita muda di hadapannya itu. “Pantas saja mau menikah denganmu, kampungan begini,” lanjutnya. “Maksud, Mama?” tanya Agung tidak suka. Meskipun tidak mencintai Rumaisha, dia tidak membolehkan siapa pun menghina gadis itu. Apa lagi, memfitnah alasan di balik pernikahannya. “Mana ada perempuan berkelas yang mau menikah dengan laki-laki hanya untuk mengurus anaknya yang cacat,” ucapnya mengejek, “kalau bukan karena tidak laku atau mungkin hanya ingin mengambil jalan pintas." "Jalan pintas apa maksud Ibu?" tanya Rumaisha. Ia tidak mau hanya diam jika ada orang yang terlalu menjatuhkan harga dirinya. "Ya ..., jalan pintas untuk cepat hidup enaklah, punya rumah, punya mobil. Saya dengar kamu cuma guru honorer 'kan? Pasti bosan miskin, ya?" sahut Deswinta. Rumaisha menarik napas dalam, "Saya tidak seperti itu," sahutnya menahan serak. Hatinya terluka mendapat hinaan dari mertua suaminya itu, terlebih dilakukan di depan umum. Matanya mengembun menahan perih. "Siapa yang tahu," ucap Deswinta mencibir, "Kampungan." Ia terkekeh sinis. Agung menatap Rumaisha sendu. Digenggamnya tangan istrinya itu erat untuk memberi kekuatan. Sementara rahangnya bergemeretuk menahan amarah. Dia memang mencintai Maharani. Diakuinya fisik Maharani nyaris sempurna. Namun, bukan berarti keluarga wanita itu bisa seenaknya menghina Rumaisha. Entah kenapa, dia tidak terima dan merasa sakit. "Apa pun alasannya, Rumaisha lebih baik dari pada orang yang menelantarkan darah dagingnya sendiri," geram Agung. "Kamu mengatakan Upik Abu ini lebih baik dari putri saya?" Mata Deswinta membola. Amarahnya menyala. "Saya tidak menyebut putri anda. Saya hanya bilang Rumaisha lebih baik dari orang yang menelantarkan darah dagingnya sendiri." "Kamu ...." Deswinta menggeram. “Siapa yang seperti Upik Abu? Mbaknya ini tidak seperti Upik Abu, kok. Dia cantik. Mirip Citra Kirana. Pakaiannya sopan." Tiba-tiba seorang pemuda yang duduk di sebelah Rumaisha bersuara, memotong ucapan Deswinta. Pria itu tersenyum manis menatap Rumaisha. Rumaisha yang terkejut, refleks menoleh. Sejenak matanya dan pria itu bersirobok. “Kalau dia jadi istriku, jangankan rumah dan mobil, istana pun akan ku bangun," lanjut lelaki itu. Ia masih terus menatap Rumaisha yang terpaku. "Ehem!" Agung berdeham, membuyarkan pikiran Rumaisha yang bagai terhenti. Ia tidak senang ada lelaki lain yang menatap Rumaisha demikian intens. "Jaga mata anda, Bung. Dia istri saya," ucapnya. Ditatapnya tajam lelaki itu, yang ditatap hanya cengengesan tak berdosa. Demikian pula Deswinta, pun merasa tak senang atas pujian laki-laki tak dikenalnya itu terhadap Rumaisha. Rumaisha memang cantik. Bedanya dengan Maharani, Rumaisha tidak menunjukkan kecantikanya secara kentara. Tidak ada polesan make up di wajahnya. Dia memiliki mata yang bening, sebening hatinya. Bulu matanya lentik meski tidak tersapu mascara. Alisnya rapi dan tentu saja original, tidak pernah sehelai alis pun yang sengaja ia cukur bahkan ketika acara akad nikahnya kemarin. Hidungnya mancung khas Indonesia. Bibirnya tipis, merona, tidak perlu polesan pewarna yang cetar membahana. Giginya rapi. Jika tersenyum sangat indah dipandang. Agung mengalihkan pandangannya kepada Deswinta, “Tolong jangan hina istri saya. Dia tidak mengganggu Anda bukan?” ucap Agung tajam. Dia sengaja mengganti panggilannya kepada mertuanya itu. Baginya ucapan mertuanya itu sangat tidak sopan dan tak bertata krama sehingga dia pun enggan untuk menghormatinya lagi. “Agung, kamu harus ingat, perceraian kamu dan Maharani itu belum diproses. Kamu itu masih suami Maharani. Dan karena kamu dan Maharani itu belum resmi cerai, artinya perempuan ini pelakor dong!” ucap Dewinta dengan wajah merah padam. Dia tidak senang dengan ucapan Agung yang terdengar sinis. Segera wanita itu menggamit tangan Maharani dan membawanya menjauh. Beberapa langkah, dia kembali berhenti kemudian menoleh dan menatap Rumaisha, “Dan kamu pelakor, kamu harus tahu suamimu itu sudah cinta mati sama anak saya. Dia hanya memanfaatkanmu saja untuk mengurus anaknya yang penyakitan itu.” Tetes embun akhirnya jatuh juga dari kelopak mata Rumaisha. Wajahnya menunduk, tak mampu diangkatnya untuk bertatapan dengan puluhan pasang mata yang ada di tempat itu. Ketika nomor antriannya dipanggil, wanita itu pun tetap bergeming. Agung segera berdiri menuju loket yang memanggil nomor antriannya. Petugas loket hanya memberi tahu agar segera menunggu di depan poli untuk pemeriksaan awal. Agung kembali ke kursi istrinya. Namun kembali rahangnya bergemeretuk ketika dilihatnya lelaki yang tadi bicara, terus menatap istrinya sambil tersenyum sendiri. Segera diraihnya tangan Rumaisha, “Jangan menatap istri saya terus-terusan,” ucapnya gusar. Ia segera menarik Rumaisha menuju ruang poli umum, membawanya menjauhi laki-laki itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD