Bagian 14. Nakalnya Rumaisha

1628 Words
Bagian 14 Sekitar pukul dua siang urusan mereka di puskesmas dan rumah sakit selesai. Gurat lelah menggores wajah keduanya. Bukan hanya karena urusan pemeriksaan Naira, melainkan kejadian-kejadian menyakitkan yang tak terduga. Hasil pemeriksaan Naira justru memberikan sedikit kelegaan. Dokter puskesmas dan dokter di rumah sakit sama-sama mengatakan irama jantung Naira bagus. Besar kemungkinan tidak ada masalah dengan jantung bayi itu. Hanya saja echocardiography harus tetap dilakukan untuk hasil yang lebih akurat. Ketika tiba di rumah, keduanya segera membersihkan diri. Berwudhu untuk menunaikan waktu yang tertunda. “Maaf atas semua tadi pagi,” ucap Agung kepada Rumaisha usai mereka melaksanakan sholat zuhur. Hatinya sendiri masih terasa panas atas semua ucapan Deswinta. Rumaisha menatap suaminya sejenak, kemudian menggeleng. “Bukan salah, Mas Agung,” jawabnya. Bukan permintaan maaf yang dia inginkan. Toh, yang melakukannya bukan Agung. Yang diinginkan perempuan itu adalah penguatan bahwa dia bukan pelakor, bahwa Agung tahu, semua yang dia lakukan bukan jalan pintas untuk menikmati hidup mewah. Dia juga ingin agar Agung menyangkal ucapan Deswinta bahwa ia masih mencintai Maharani. Akan tetapi, sepertinya hal itu mustahil. Laki-laki mana yang bisa menjauh dari pesona seorang Maharani? Rumaisha menahan panas di dadanya. Ia cemburu! Ingin marah! Namun, tidak berdaya. “Kamu masak apa?” tanya Agung mengalihkan pembicaraan. Sejauh yang dia dengar, seorang istri akan bahagia jika masakannya dimakan dengan lahap oleh suaminya. Barangkali jika siang ini dia memakan habis masakan istrinya itu, bisa membuat perempuan itu melupakan kejadian tadi siang. Di samping itu, dia memang sudah sangat lapar karena saat ini telah lewat jam makan siang. Apalagi tadi pagi ia tidak sarapan karena ulah Maharani. Ah, menyesal .... Mengapa tadi pagi harus menemui Maharani dan mengabaikan nasi goreng Rumaisha jika ujung-ujungnya harus kecewa dan lapar? “Mas lapar?” “Iya.” Agung mengangguk sambil tersenyum. “Aku Cuma masak sayur lodeh sama ikan asin. Tadi buru-buru,” ucap Rumaisha. “Itu kedengarannya segar," sahut Agung tulus. Rumaisha tersenyum sambil berlalu menuju meja makan. Ia segera menyiapkan piring untuk Agung, mengisinya dengan nasi dan sayur lodeh, serta ikan asin. Tidak lupa air putih hangat, kebiasaan Agung saat makan adalah minum air putih hangat, begitu kata Nurmala. Meski dengan menu sederhana itu, Agung benar-benar makan dengan lahap. Diakuinya, Rumaisha memang pintar memasak. Tadi malam masak soto enak, hari ini sayur lodeh pun enak. Bumbunya begitu pas. Untuk kedua kalinya, piring miliknya kosong. “Tambah lagi, Mas?” tawar Rumaisha sambil tersenyum. Tentu saja dia sangat bahagia ketika masakannya disantap dengan lahap oleh sang suami. “Sudah cukup, Maharani. Sudah dua kali tambah. Perut saya penuh,” ucap laki-laki itu sambil meneguk air putih. Raut wajahnya tampak bersemangat. Namun sesaat bertukar sendu, diselimuti rasa bersalah. “Maaf, Rumaisha,” ralatnya pelan. Gadis di depannya hanya tersenyum kecut seraya menggeleng, “Enggak apa-apa, Mas,” jawabnya nyaris tak terdengar. Pelan suaranya menyembunyikan getar yang tiba-tiba terasa menyengat, sakit. Benar kata Deswinta, Agung telah cinta mati kepada Maharani, dia tidak akan berpaling. Dirinya di sini hanya bertugas merawat anaknya saja. Air mata Rumaisha nyaris tumpah. Sekuat tenaga ia tahan agar tidak jatuh. Luka yang ditawarkan Agung sebelum pernikahan ternyata memang perih. Laki-laki itu masih menyimpan nama wanita itu di hatinya. Namun, sekuat apa pun ia menahan, akhirnya butiran bening itu jatuh juga dari sudut matanya. Menyembunyikan isak, Rumaisha membawa satu per satu piring kotor ke tempat pencucian. Dia terluka. Namun, tidak ada yang harus dipersalahkan dalam hal ini. Seharusnya dia telah siap dengan setiap luka yang akan tercipta. Bukankah laki-laki itu sudah mengingatkan, bahwa pernikahan ini memang akan membawa luka untuknya? Jadi, jika dia kukuh menjalani rumah tangga ini, maka dia harus rela menahan sakit dalam setiap waktunya. “Sudah biar saya saja, Mbak. Mbaknya istirahat saja, baru pulang pasti capek,” ucap Rohmah. Ia mengambil alih piring-piring dari tangan Rumaisha. Memang itu adalah tugasnya. Rumaisha mengangguk. Ia segera berlalu tanpa berniat sedikit pun membantah ucapan Rohmah. Pun tanpa mengucapkan satu patah kata pun. Ia khawatir jika bicara, suara tangisnya akan kentara. Gadis itu segera menuju kamar. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat Agung duduk di sudut sofa. Sejenak dia ragu, bimbang untuk menuju ranjang dan melewati laki-laki itu. Untuk sementara, ada rasa enggan di hatinya melakukan interaksi dengan Agung. Akhirnya dia melangkah menuju ranjang Naira yang berada pada sisi berbeda dengan sofa, demi tidak melewati depan suaminya. “Mumpung Naira tidur dan belum waktunya minum s**u, sebaiknya kamu istirahat.” Suara tebal Agung terdengar dari arah belakang ia berdiri, "Kamu juga harus menjaga kondisi kesehatanmu," lanjutnya. Rumaisha bergeming. Lalu seulas senyum tipis terbit di bibirnya. Ternyata Agung masih memerhatikannya. Gadis itu mengembuskan napas lega. Secuil harapan kembali membentang di hatinya. Jika Agung masih mau memberikan perhatian-perhatian kecil padanya, maka memenangkan hati laki-laki itu bukan lah suatu hal yang mustahil. Lantas mengapa tadi dia begitu sedih ketika Agung salah menyebut namanya? Bukankah itu adalah hal lumrah? Seharusnya dia paham bahwa laki-laki itu pun mempunyai pergolakan batin yang tidak ringan. Dia baru saja ditinggalkan Maharani. Suatu hal yang wajar jika dia masih mengingat dan mencintai wanita itu. Justru menjadi sebuah tanda tanya besar jika dia bisa move on dengan sangat cepat dan berpaling kepada lain hati begitu mudah. Itu menunjukkan bahwa Agung bukanlah laki-laki setia. “Kuat Rumaisha, jangan menyerah!” bisik hatinya, "Raih laki-laki yang telah lama kamu cintai." Segera gadis itu melangkah menuju ranjang utama, merebahkan diri sambil menanti waktu ashar tiba. Ranjang ini memang hanya dia yang menempati. Agung selalu tidur di sofa. Kadang kalau sedang malas, ia langsung bablas tidur di ranjang Naira setelah memberi bayi itu s**u. Enggan pindah. Toh, tetap saja tidur sendiri. Rumaisha memejamkan mata. Tidur sebentar di sela waktu mengurus Naira memang sangat ia butuhkan. Semenjak menikah, waktu tidurnya drastis berkurang. Mengurus Naira benar-benar menguras waktu dan tenaga. Setiap dua jam dia harus memberikan s**u untuk bayi itu. Kemampuan mengisap yang lemah membuatnya memerlukan waktu yang lama untuk menghabiskan hanya 60 cc s**u. Kadang perlu waktu satu jam. Rumaisha juga banyak memberikan stimulasi kepada Naira. Skin to skin rutin dilakukan dua kali sehari. Rumaisha juga mulai menstimulasi gerakan miring kiri, miring kanan, dan tengkurap. Hampir berusia tiga bulan, Naira masih saja tidur anteng telentang. Secara berkala Rumaisha merubah posisinya menjadi miring memeluk guling. Semua aktivitas itu, membuat waktunya benar-benar tersita. Tiga puluh menit gadis itu memejamkan mata. Tidur siang yang cukup nyenyak. Meskipun memiliki waktu tidur yang sedikit, tetapi kebiasaan deep sleep mampu membuatnya tetap segar ketika bangun. Rumaisha bergegas bangun untuk melaksanakan sholat ashar. Ia melangkah menuju kamar mandi untuk berwudu. Gadis itu tersenyum ketika melewati sofa, mendapati Agung yang tengah terlelap. Perlahan ia mendekat. Memerhatikan wajah suaminya yang tampak begitu damai. Napasnya halus teratur. Hati gadis itu berdesir. Tiba-tiba muncul keinginannya untuk menyentuh laki-laki yang telah halal untuknya itu. Rumaisha mengulurkan tangan. Jemarinya menyapu lembut wajah tampan Agung, telunjuknya menelusuri setiap inchi keindahan di sana. Lagi-lagi hatinya berdesir. Kini, ia seolah melupakan semua luka yang pernah tercipta akibat laki-laki ini. Bertukar syukur, ia bisa sedekat ini dengannya. Nakal, gadis itu mendekatkan wajah hendak menyentuh pipi kokoh Agung. Pelan-pelan, hidungnya menghidu aroma maskulin suaminya dalam tiada jarak. Jantungnya demikian bertalu, berdegup kacau. Akan tetapi, dia menyukai sensasi rasa ini. Dia tidak mau mengakhirinya. Perlahan, bibir basahnya turun beberapa centi, mengecup lembut bibir Agung. Cup! Ahhh .... "Rumaisha!" Agung tiba-tiba mengerjap dan membuka mata. Ia terkesiap, sedikit terlonjak mendapati Rumaisha dalam jarak yang sangat dekat. Rumaisha pun tak kalah terlonjak, "M-m-mas. S-s-sholat ashar," sahutnya gugup. Jantungnya yang tadi berdegup kencang, kini berasa akan melompat dari sarangnya. Wajahnya seketika memanas. Rona merah menjalar cepat memenuhi pipi. Ia segera bangkit, membalikkan badan, meninggalkan Agung dengan tergesa. Ya Tuhan .... Apa yang telah gadis itu lakukan? Rumaisha mengutuk kenakalan yang baru saja dia lakukan. "Dasar bodoooh ...," sesalnya. Di kamar mandi, ia memukul kening sendiri berulang kali. Nyali ciut untuk keluar. Apakah Agung merasakan sentuhannya? Aduh, bagaimana ini?  Pikirannya terus saja kalut. Akan tetapi, semua sudah terlanjur. Terserahlah apa yang akan terjadi. Rumaisha dengan menunduk menyembunyikan wajah merahnya, keluar kamar mandi. Sholat berjamaah merupakan moment yang selalu dinanti Rumaisha. Itu merupakan mood booster baginya. Saat sholat berjamaah itulah dia merasa menjadi seorang istri yang utuh, memainkan peran imam dan makmum dalam arti sebenarnya. Dia bisa mencium punggung tangan suaminya itu dengan leluasa. Akan tetapi, dia sedikit tidak khusyuk saat sholat berjamaah kali ini. Semua itu akibat kenakalan dan kebodohan yang baru saja ia lakukan. Sekarang dia menjadi kikuk setiap berinteraksi dan berhadapan dengan Agung. Ah, Rumaisha! Seharusnya kamu bisa menahan diri. 'Kan, dah, malu .... Setelah sholat ashar, Rumaisha melakukan standar kegiatan sore. Memandikan Naira, serta menstimulasi bayi surga itu. Agung memerhatikan dengan seksama bagaimana istrinya itu merawat dan memerlakukan Naira. Hati laki-laki itu berdesir. Andai itu Maharani. Tentu dia akan sangat bahagia sekali. Mengapa justru wanita lain yang tidak mempunyai ikatan darah sama sekali yang mencintai Naira demikian tulus? Setelah mengurus Naira, Rumaisha akan beranjak ke dapur, menyiapkan makan malam dengan dibantu Rohmah. "Mas mau mandi sekarang?" tanyanya menahan malu pada Agung sebelum berlalu, "Mau aku masakkan air hangat?" Agung menengadah menatap perempuan itu, "Jika tidak merepotkan," jawabnya. Kejadian yang dia alami belakangan ini sungguh membuat penat benaknya. Berlama-lama menyiram kepalanya dengan air hangat membantunya untuk lebih rileks. Peredaran darahnya terasa lancar. Air hangat seolah membuka pori-porinya kemudian segenap masalah terasa menguap meski sejenak. Agung menikmati semua pelayanan Rumaisha. Tanpa dia sadari dia sudah merasa sangat nyaman dengan apa yang dilakukan perempuan yang baru beberapa hari dinikahinya itu. Ketika akan mandi, air hangat tersedia, handuk sudah ada di kamar mandi. Setelah selesai, dia tidak perlu mengubek-ubek lemari untuk mengambil pakaian. Pakaian ganti telah tersedia di atas tempat tidur. Ketika duduk santai, teh hangat tersedia di atas nakas. Rumaisha juga memanjakannya dengan masakan-masakan yang menggugah selera. Semua itu dulu tak pernah ia dapatkan dari seorang Maharani. "Tunggu sebentar ya, Mas. Aku siapkan dulu," ucap Rumaisha. Lalu melangkah menuju dapur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD