Bagian 15. Hanya Miliknya

1072 Words
Hari itu usai dengan segala rangkaian kegiatan standar. Sholat magrib, sholat isya, dan makan malam. “Besok kita berangkat ba'da subuh ya." Agung mengingatkan kembali rencana keberangkatan mereka untuk cek up kesehatan Naira ke Pontianak besok. Saat itu Rumaisha sudah bersiap memejamkan mata. “Nginap tidak, Mas?” tanyanya. “Kalau PP kamu kuat? Saya gak bisa banyak ambil ijin." “Aku Insya Allah kuat. Naira kira-kira bakal kecapekan enggak ya?” “Naira 'kan bisa tidur di kasur mobil,” sahut Agung. Ia membenarkan posisi bantal di sofa kemudian mengambil posisi untuk bersiap tidur. Laki-laki itu menutup obrolan secara sepihak. Rumaisha mendengkus kesal. Padahal dia masih ingin bicara. Dari pada kesal, gadis itu pun meluruskan badan, membenarkan posisi kepala di bantal, kemudian memasang selimut. Bibirnya terangkat untuk membaca doa amalan sebelum tidur. Selanjutnya, lelah tak berlama-lama mengantarnya ke alam mimpi. *** Pukul setengah empat pagi gadis itu bangun, mempersiapkan segala kebutuhan selama perjalanan. Tas perlengkapan pakaian dan s**u Naira. Handuk, baju ganti untuknya dan suaminya, sekadar untuk berjaga-jaga. Tak terlupakan air putih dan minyak angin. Setelah itu, dia bersiap mandi. Kali ini dia pun memasak air hangat untuk dirinya sendiri, tidak hanya untuk Agung. Dia pun butuh kesegaran untuk merilekskan tubuh dan pikiran. Lagi pula, Khawatir jika memaksa mandi air dingin, suhu dingin akan membuatnya merasa tidak nyaman dan meriang, padahal dia harus tetap bugar untuk menempuh perjalanan jauh. Setelah selesai berpakaian, gadis itu menyiapkan air hangat untuk Agung. Kemudian membangunkan suaminya itu untuk segera membersihkan diri dan bersiap. Ketika Agung mandi, Rumaisha mengganti pakaian Naira. Begitu azan subuh berkumandang, mereka langsung sholat berjamaah. Semua persiapan telah sempurna, bersama bayu yang mengecup dingin, mereka berangkat. Berikhtiar untuk kesempurnaan buah hati. Perjalanan yang menjemukan bagi Rumaisha. Dingin semakin terasa menusuk karena laki-laki di sampingnya juga bertingkah dingin. Ia sama sekali tidak bersuara sejak awal keberangkatan mereka. Tatapannya hanya fokus ke depan. Entah apa yang ada di benaknya. Agung bagai teka-teki tak tertebak. Kadang dia bersikap manis dan hangat. Kadang dingin tak ubahnya es. Rumaisha bahagia ketika Agung menggenggam erat tangannya saat Deswinta menghinanya di puskesmas. Ia bahkan sempat gede rasa saat melihat raut tidak suka Agung ketika ada pria asing yang memujinya. Namun, segalanya terpatahkan setelah laki-laki itu kembali bersikap dingin dengan selalu mendiamkannya. Beberapa kali Rumaisha menguap. Naira terlelap dalam dekapannya. Untuk mengusir kantuk, ia mengalihkan perhatian pada bayi surga itu. Rumaisha menggerakkan jemarinya, menyentuh dahi kemudian menyusuri setiap inchi wajah mulai mata, hidung, dan bibir bayi down syndrome itu. Tak pernah ia menyangka bahwa takdir akan membawanya menjadi ibu dari seorang penyandang down syndrome. lstilah down syndrome dulu ia pelajari ketika kuliah. Dia sarjana pendidikan biologi. Menurut yang dia pelajari waktu itu, down syndrome adalah suatu keadaan yang disebabkan mutasi kromosom ke 21. Setiap orang yang mengalami mutasi jenis ini akan mengalami gejala yang sama, yaitu ciri fisik yang mirip. Adanya gejala ini diamati pertama kali oleh dokter berkebangsaan Inggris yaitu dokter John Langdon Down pada tahun 1866. Dokter Down mengamati anak-anak di rumah sakit tempatnya bekerja dan melihat adanya kesamaan fisik pada mereka semua. Menurut dokter Down, wajah mereka mirip suku mongoloid. Sehingga awalnya mereka disebut mongoloid face family. Sekarang sebutan mongoloid face family dilarang karena bersifat rasis. Untuk menghormati dokter John Langdon Down, keadaan ini disebut syndrome down atau down syndrome. Namun, banyak masyarakat yang memandang rendah penyandang ini disebabkan adanya kata Down itu. Rumaisha awalnya tidak pernah mengira jika penyandang down syndrome harus melewati perjuangan hidup yang berat agar bisa survive. Dulu dia mengira bahwa bayi down syndrome tumbuh layaknya anak-anak pada umumnya. Hanya intelegensinya saja yang rendah. Namun, ternyata mereka harus berjuang keras agar bisa hidup di dunia. Rumaisha kembali menguap. “Kalau masih mengantuk tidur lagi saja.” Suara berat Agung akhirnya keluar juga memecah kebisuan. Namun setelah itu, wajahnya datar lagi membuat gadis itu enggan menjawab. Dia memilih mengikuti saran laki-laki itu. Menyandarkan kepala pada bantal leher yang menempel di sandaran kursi tempatnya duduk. Kemudian memejamkan mata sambil tangannya mengeratkan gendongannya pada Naira. Pukul 08.00 wib mobil yang dikendarai Agung memasuki pelataran parkir rumah sakit yang mereka tuju. Setelah menepuk-nepuk pakaian agar tidak terlampau kusut, mereka segera turun dari mobil menuju ruang pendaftaran pasien. Agung membawa berkas rujukan yang diperlukan. Sedangkan Rumaisha masih sibuk dengan tentengan berbagai keperluan Naira. “Biar saya saja yang bawa,” ucap Agung. Ia segera meraih tas dari tangan Rumaisha ketika dilihatnya gadis itu sedikit kerepotan. Kemudian, tanpa banyak bicara ia masuk ke ruang pendaftaran, mengantar Rumaisha ke salah satu kursi kosong dan meletakkan tasnya di sana. Setelah itu, ia menuju bagian pendaftaran, mengambil nomor antri dan selanjutnya menunggu panggilan sambil duduk di kursi samping istrinya. “Kamu lapar?” tanyanya, “Saya cari kue ya.” Tanpa merasa perlu menunggu jawaban dari Rumaisha, ia bangkit dari kursi bermaksud menuju kantin. Rumaisha mendesah. Sungguh sebenarnya Agung itu adalah laki-laki yang perhatian. Betapa bahagianya jika dicintai olehnya sepenuhnya. Pasti ia akan diperlakukan bak seorang putri. Saat ini saja sebenarnya dia selalu diperhatikan. Tapi sayang, perhatian itu dibalut es. Dingin! “Apa enggak kelewat antriannya nanti, Mas?” Rumaisha menahan langkahnya. “Masih lama, kok,” jawabnya datar sambil terus melenggang. Ia tetap melanjutkan langkah tanpa menoleh pada Rumaisha yang mengajaknya bicara. Akan tetapi, .... “Hai ... Citra Kirana, ketemu lagi kita!” Satu suara seketika menghentikan langkahnya. Sepertinya ia kenal dengan suara itu. Apalagi menyebut nama aktris Citra Kirana. Terasa begitu akrab di telinganya. Segera ia menoleh. Benar saja! Netranya mendapati wajah pria yang pernah ia lihat sedang senyum sok ramah kepada istrinya di Puskesmas waktu itu. Seketika hatinya menjadi panas. Tangannya mengepal menahan geram. Mengapa harus bertemu lagi dengan laki-laki itu di sini? “E-eh ... Hai juga ....” Rumaisha membalas kikuk. Ia tidak menyangka bertemu dengan laki-laki itu di sini. “Apa kabar?” tanya laki-laki itu sok akrab. Senyum lebar ia ukir di bibirnya. “Baik,” jawab Rumaisha. Ia mengerling ke arah Agung dengan perasaan tidak enak. Sebab dilihatnya Agung sedang menatapnya dengan wajah memerah. “Wah, setiap berobat selalu bertemu. Apa kita jodoh?” lanjut laki-laki yang tidak ia ketahui namanya itu tak sopan. Semakin saja membuat Agung murka. Segera ia melebarkan langkah, kembali menghampiri istrinya itu. “Kamu ikut saja, pilih sendiri kuenya,” ucapnya sambil menarik tangan wanitanya itu sedikit kasar. Hatinya gusar. Ia tak menoleh sedikitpun pada lelaki lancang di sampingnya. Digenggamnya erat tangan Rumaisha, seolah ingin menegaskan pada lelaki asing itu bahwa perempuan yang digodanya itu miliknya. Hanya miliknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD