Tidak berapa lama, Pramusaji datang membawa pesanan. "Makan yang banyak," ucap Agung lembut. Ia mengulurkan pesanan untuk Rumaisha terlebih dahulu. "Terima kasih," sahut Rumaisha. Kemudian mereka mulai menikmati hidangan masing-masing. "Aaa ...." Agung mengulurkan satu suapan pada wanitanya itu. Rumaisha membuka mulut malu-malu. Debaran yang tercipta dalam d**a mereka kali ini bukan lagi kencang dan tidak beraturan, tetapi perlahan dan berirama. Semua terasa begitu indah. Barangkali tidak ada kata yang pas untuk memadankan keindahan yang sedang mereka rasakan saat ini. Nada yang lebih indah dari alunan melodi. Warna yang lebih indah dari bunga-bunga yang bermekaran. Rumaisha memberanikan diri membalas suapan Agung. Walaupun tangannya terasa amat gemetar. Agung cepat membuka

