Kerusakan 16
.
Kunjungan pertama Duke of Clemente mungkin masih dapat ditolerir, baik oleh Loqestilla maupun Neuri. Namun, setelah kunjungan kala itu, rupanya ada lagi dan lagi dan lagi hal serupa di hari-hari berikutnya.
Kali ini bahkan sudah hari ke tujuh, dan Neuri sudah berada di ambang kesabarannya.
Banyak sekali alasan yang tentu saja sampai membuat Neuri ingin memaki Rowland Lubbock.
Pertama, duke dari Clemente itu mengganggu waktu Loqestilla untuk mengajar di sekolah, juga membuat perkerjaan Loqestilla di ladang sampai terbengkalai. Lebih menjengkelkan lagi, karena rumah Neuri lah yang dijadikan sebagai tempat berkencan sehari-hari. Entah berapa banyak teh dan buah-buahan yang harus disuguhkan. Rasanya Neuri harus menghitung pengeluaran bulan ini dengan lebih teliti. Padahal orang lain yang menjadi pusat perhatian, tapi Neuri merasa banyak dirugikan.
“Your Grace, Duke of Clemente. Bukankah kunjungan Anda kali ini sudah berlebihan?”
Di depan gerbang rumah, pada pagi hari, di saat Neuri dan Loqestilla akan pergi ke sekolah, mereka dicegat kembali oleh kedatangan Duke of Clemente yang tiba-tiba.
Namun, alih-alih merasa bersalah, Rowland hanya tertawa-tawa riang dan berpura-pura tidak mengerti teguran Neuri.
“Apa yang salah dengan kunjunganku, Lycaon? Aku ke sini bukan untuk menemuimu. Seperti biasanya, aku hanya ingin bertemu dengan Miss Vent.”
Kepalan tangan Neuri pada tongkat jalannya semakin mengerat. Mulutnya seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi juga tidak dapat berbuat banyak karena terhalang kedudukan.
“Your Grace.” Loqestilla memanggil Rowland dengan suaranya yang kalem. Meskipun begitu, tampaknya hari ini mata yang selalu ramah dan lembut tersebut, terkesan sedikit dingin dan tegas.
“Ya, ya, ada apa Miss Vent?”
Loqestilla tersenyum manis. “Saya harus mengajar. Jadi hari ini saya tidak bisa menemani Your Grace.”
Wajah Rowland mulai tampak tidak senang. “Mereka hanya anak-anak desa, Miss Vent. Anda bisa menyerahkan tugas tersebut kepada orang lain. Apakah mereka lebih penting dari saya?”
Tidak disangka, Loqestilla menjawab dengan tegas. “Ya. Mereka sangat penting bagi saya. Lagi pula, kunjungan Anda sehari-hari sudah terasa menganggu. Saya bosan harus bersama dengan Anda setiap hari.”
Entah saat itu Tuhan sedang menonton pertunjukkan mereka, tetapi setelah ucapan Loqestilla tersebut, terdengar suara guntur dari kejauhan. Seolah-olah, guntur tersebut menggambarkan betapa gemuruhnya d**a Rowland saat ini.
“Apa yang baru saja Anda katakan?! Beraninya berkata seperti itu kepada seorang bangsawan!”
Neuri tampak ketar-ketir melihat kondisi yang berubah sedikit berisiko ini. Namun, Loqestilla masih terlihat tenang dan santai, bahkan sempat-sempatnya mendebas kecil tanpa sopan santun.
“Your Grace, harap Anda mengerti. Saat pagi, saya harus mengajar di sekolah. Saat siang, saya harus bekerja di ladang hingga sore. Saat malam, saya harus belajar dan menyiapkan materi untuk keesokan harinya. Namun, sejak Anda berkunjung tanpa tahu waktu, saya tidak bisa menjalankan kewajiban saya dengan baik.”
Dengan tangan terkepal, Rowland menyahut. “Jika memang masalahmu begitu, bagaimana jika bekerja saja denganku? Aku akan membayarmu sepuluh kali lipat. Berhenti menjadi guru di Lunadhia, dan pergilah ke Clemente bersamaku.”
“Tidak bisa.”
Suara guntur di kejauhan terdengar sekali lagi.
“Kenapa tidak bisa?!” Suara yang keluar dari Rowland bahkan seperti geraman dan bentakan. Kemarahannya menjadi-jadi.
“Tidak ada alasan tertentu. Saya hanya suka berada di sini. Lagi pula, saya tidak suka dipaksa.”
PLAK!
Itu adalah suara tamparan yang sangat keras. Bahkan tukang kebun yang sejak tadi bersembunyi di kejauhan, bisa mendengar suara tersebut dengan jelas.
Suara tamparan itu, berasal dari tangan Rowland, dan berakhir di pipi kiri Loqestilla. Pipi putih yang biasanya kemerahan karena yang bersangkutan memang mudah merona saat bahagia, kini warna merahnya hanya di sebelah saja. Warnanya sangat tajam dan gelap, sangat tidak sedap dipandang mata.
Neuri sangat terkejut dengan keadaan yang berubah kacau dalam sekejap ini. Ia juga tidak percaya bahwa Duke of Clemente bisa begitu mudah mendaratkan tangannya untuk menyakiti wanita. Entah Neuri harus sedih atau senang melihat fenomena ini, tapi di sisi lain, ia juga mengkhawatirkan kondisi Loqestilla.
Namun, untung saja, benar-benar untung saja, Loqestilla sepertinya tidak ikut tersulut amarah. Bahkan dengan pipi yang pasti berdenyut sakit, wanita rubah tersebut masih berdiri tegap dengan senyum bagai malaikat. Neuri benar-benar ngeri melihatnya.
“Berani-beraninya kau, perempuan! Aku sudah memberimu banyak hadiah, meluangkan waktu berhargakku untukmu, tapi ini yang aku terima sebagai balasan?! Tidak tahu malu!”
“Saya tidak meminta.”
“Perempuan jalang!” Tangan Rowland sudah terangkat, siap melakukan pukulan berikutnya. Namun, ketika tangan tersebut hampir mencapai pipi Loqestilla kembali, si rubah betina menahan pergelangan tangan Rowland dengan cengkeraman yang cukup kuat. Rowland bahkan sama sekali tidak dapat menggerakkan tangannya. Ia terlalu meremehkan seorang perempuan yang tampak halus seperti Loqestilla, sehingga wajahnya benar-benar terkejut ketika mengetahui bahwa Miss Vent-nya itu memiliki tenaga setara kuda.
“Your Grace, Anda terlalu terbawa emosi.”
“Lepaskan tanganku!”
Dengan mudah, Loqestilla melepaskan tangan Rowland yang sebenarnya lebih besar darinya.
“Maafkan saya karena bertindak tidak sopan. Namun, Your Grace memang sudah benar-benar keterlaluan. Saya bukan seorang p*****r, Your Grace. Saya tidak bisa menghabiskan seluruh waktu saya untuk Anda hanya karena Anda memberi banyak hadiah.”
“Kau ….”
“Jika Your Grace mau, Anda boleh mengikuti ke manapun saya pergi, saya tidak keberatan,” ucap Loqestilla lagi. “Tapi, biarkan saya bekerja, ya?” pintanya dengan suara selembut peri-peri di peraduan para dewa.
Meskipun pemarah, tapi nyatanya Rowland adalah tipe yang mudah luluh oleh kebaikan wanita. Oleh sebab itu, ketika Loqestilla mencoba bernegosiasi dengannya, rasa kesalnya memudar perlahan.
Hanya saja, karena harga dirinya cukup tinggi, Rowland tidak segera menyetujui permintaan Loqestilla. Ia memalingkan wajah begitu saja, lalu berbalik dan naik ke kereta kudanya tanpa mengucap salam perpisahan.
Setelah kepergian Rowland, Neuri menatap Loqestilla dengan ekspresi khawatir sekaligus tidak percaya. “Anda baik-baik saja, Miss Loqestilla?”
Loqestilla mengangguk. “Ya … sepertinya saya tidak apa-apa. Itu tadi cukup mendebarkan. Rasanya, saya ingin ikut marah-marah,” jawabnya tenang. Ia memegang pipinya yang masih terasa berkedut, rasa panas akibat tamparan Duke of Clemente mulai terasa semakin menyakitkan. Mengingat bagaimana ia diperlakukan, gigi taringnya pun mulai muncul perlahan. “Saya sangat sial,” gerutunya kemudian.
Neuri hanya bisa menghela napas. “Anda terlalu berani, Miss Loqestilla. Anda seharusnya tahu bahwa ucapan adalah senjata paling berbahaya untuk diri sendiri. Sebaiknya lain kali Anda lebih berhati-hati.”
“Akan saya ingat petunjuk Anda, Milord.”
.
***
.
Setelah seminggu cuti mengajar karena terpaksa, kehadiran Loqestilla pagi ini benar-benar membawa angin segar untuk murid-muridnya. Mereka memeluknya dengan erat, bahkan sampai ada yang menitikkan air mata.
Entah mereka terharu karena bertemu Loqestilla, atau mereka hanya merasa beruntung karena tidak lagi harus berada di bawah pengawasan Ferguso yang selalu bersikap kejam. Yang manapun, semua terasa menyenangkan.
Terlebih, pagi ini Loqestilla juga membawa Earl of Lunadhia bersamanya. Sehingga murid-murid semakin merasa hari ini begitu spesial.
Earl of Lunadhia memang hanya datang untuk menyapa, karena setelah itu ia segera pergi menemui Ferguso untuk membicarakan hal yang penting. Namun, siapa yang peduli dengan urusan orang dewasa?
“Bagaimana hari-hari kalian akhir-akhir ini?” tanya Loqestilla ketika ia sudah berada di dalam kelas dan mulai membuka buku pedoman.
Mendengar pertanyaan Loqestilla, kelas pun secara instan berubah riuh. Banyak yang ingin menjawab, sehingga Loqestilla tidak tahu harus mendengarkan siapa. Untung saja, para murid sepakat bahwa lebih baik menyerahkan tugas berbicara kepada Venecia. Mereka pun diam secara serempak.
“Seminggu ini kami baik-baik saja, Miss. Tapi … rasanya sangat sepi ketika bukan Miss Loqestilla yang mengajar,” ucap Venecia. Ia pun melanjutkan, “Bukan berarti kami tidak suka diajar oleh Mr. Albanero, dia guru pertama kami, tetapi Miss Loqestilla memiliki posisi yang berbeda di hati kami.”
“Aku tidak suka diajar Mr. Albanero. Dia menghukum kami semua karena tidak ada satu pun yang bisa mengerjakan soal pemberiannya.” Seorang anak menyahut, wajahnya tampak kesal ketika bercerita.
Loqestilla pun tersentak. “Apa kalian baik-baik saja?” tanyanya khawatir.
Venecia sempat memberi pelototan pada anak yang sempat bicara tadi, sebelum akhirnya ia menjawab pertanyaan Loqestilla. “Miss Loqestilla pasti tahu sendiri bagaimana cara Mr. Albanero menghukum kami. Lena dan Roni yang paling muda, sedikit tidak bisa menahannya, jadi mereka sakit dan sempat tidak masuk sekolah selama dua hari.”
Loqestilla menutup mulutnya yang menganga. “Astaga! Apakah hukumannya separah itu?”
Venecia menggeleng. “Tidak masalah, Miss, kami sudah terbiasa. Kami juga beruntung punya salep yang Miss Loqestilla berikan waktu itu. Sangat manjur, he he he.”
Loqestilla tidak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa menatap sedih pada murid-muridnya yang baik dan kekanakan.
Pantas saja, pantas saja sejak tadi ia mencium bau darah yang cukup kuat dari anak-anak didiknya. Mungkin aroma tersebut diakibatkan oleh luka-luka yang belum sembuh benar akibat hukuman Ferguso.
Menghela napas, Loqestilla pun meletakkan bukunya. Ia berdiri di depan kelas dengan senyum selembut ibu bulan. Dengan tangan terentang dan suara yang halus, ia pun berucap, “Ada yang ingin pelukan?”
Melihat tawaran tersebut, sesaat semua anak membeku. Mata mereka menatap lurus pada Loqestilla seorang. Namun, sedetik kemudian, mereka berlari berhamburan, mencoba menjangkau Loqestilla dan mendapat pelukan hangat dari guru yang baik hati nan mempesona.
.
***
.
Sebelum kembali ke estatnya, Neuri sebenarnya ingin menemui Loqestilla untuk berpamitan. Namun, siapa sangka jika dia melihat pemandangan yang begitu langka dan sejujurnya, sangat mengharukan.
Dari kejauhan, lewat jendela yang terbuka, Neuri bisa melihat betapa Loqestilla begitu disayangi murid-muridnya.
Rasanya, baru kali ini Neuri melihat ada seorang guru yang mau memeluk dan mengayomi anak didiknya seperti seorang ibu. Dulu, semua tutornya sangat galak dan disiplin. Meskipun sering memuji, tapi semua itu seperti pujian politik yang memang sudah direncanakan jauh-jauh hari. Mau bagaimana lagi, Neuri seorang bangsawan, para tutor adalah orang biasa yang dipekerjakan. Selain mengajar, mereka juga haruslah mampu mengambil hati majikan.
Hal itu membuat Neuri tidak begitu mempermasalahkan aturan yang dibuat Ferguso di sekolahnya.
Ia pikir, anak-anak memang sepatutnya didisiplinkan supaya tidak membangkang dan tidak tahu aturan di masa depan. Didikan yang keras akan membuat seorang anak lebih kuat mental. Ia tidak tahu, jika mendidik dengan cara yang lembut ternyata bisa juga diterapkan.
Meskipun begitu, jika bukan Loqestilla yang melakukannya, Neuri masih ragu, apa memang bisa anak-anak itu sebegitu penurut?
“Mungkin mereka sudah terpikat oleh rubah satu itu.”
Mengambil napas dalam-dalam, Neuri tidak ingin memikirkan hal itu lagi. Masalah yang harus dipikirkan sudah terlalu banyak. Ia tidak ingin menambahnya dengan sesuatu yang tidak begitu berarti.
Pada akhirnya, Neuri pun membalik badan. Pergi tanpa berpamitan kepada Loqestilla.
.
***
.
Sementara itu, di dalam kereta kudanya yang mewah dan sama sekali tidak terasa bergeronjal, Duke of Clemente sepertinya sedang merenungi perbuatannya. Sedari tadi, ia hanya memandangi telapak tangannya sendiri. Tangannya yang besar dan kuat, yang baru saja dipakainya untuk menampar pipi seorang wanita.
Ia jarang semarah ini kepada seorang wanita. Malah sebenarnya, ia cenderung menyukai mereka seperti apa pun wujudnya. Baginya, wanita adalah makhluk yang lembut dan rapuh, yang bisa digenggamnya tanpa bisa menyerang balik. Ia selalu merasa berkuasa jika bersama mereka.
Namun, wanita yang kini sedang diincarnya memang terlalu berani. Seberapa pun Rowland memberikan perhatian, senyum dan cara Miss Vent menatapnya masihlah menyiratkan kekosongan. Seolah-olah kehadirannya tidak pernah dianggap penting dan berarti.
Perilaku rubah betina itu sangat menyakiti hatinya. Mungkin lebih tepatnya, menyakiti harga dirinya.
Dia sendiri merasa aneh. Mengapa bisa tahan mengejar wanita seperti itu.
Jika dibandingkan istri-istrinya, tentu Loqestilla Vent ini jauh dari sempurna. Istri-istrinya, bahkan gundiknya, punya wajah yang lebih cantik, tubuh yang lebih menggoda, dan senyuman semanis gula-gula yang akan diberikan kepadanya kapan pun ia minta. Jauh, sangat jauh sekali dari Miss Vent yang sebenarnya sangat biasa meskipun tetap jelita.
Yang membuatnya tertarik dengan Loqestilla, mungkin hanya karena wanita itu seorang demihuman, makhluk yang cukup unik baginya. Telinga Miss Vent sangat unik, dan sering sekali Rowland menghasratkan untuk menyentuh telinga seperti hewan itu. Mungkin rasanya seperti menyentuh telinga kucing, lembut dan empuk. Ia selalu membayangkannya. Sayangnya, sampai sekarang ia belum berhasil mewujudkan angannya yang kurang terpuji itu.
Hal lain yang membuatnya tertarik kepada Loqestilla Vent … mungkin karena aroma. Wanita itu beraroma cukup menyenangkan, bukan aroma parfum mahal, tapi seperti bebungaan di taman, bunga mawar balerina yang lucu menggemaskan. Seperti bunga yang benar-benar baru saja mekar di pagi hari, dan menguarkan wewangian tiada henti. Ia tidak tahu apakah Miss Vent-nya itu memang punya aroma alami yang demikian, atau sebenarnya memakai parfum yang tidak ia ketahui jenisnya.
Rowland mengambil napas dalam, lalu menyandarkan punggung untuk meredakan kepenatan. Entah mengapa, gara-gara hal seperti itu saja, ia merasa sangat lelah.
Haruskah ia tetap mengejar wanita seperti Miss Loqestilla Vent? Atau, ia tinggalkan saja dan mencari perempuan perawan lainnya yang lebih baik?
Hanya saja … senyuman terakhir Miss Vent itu masih tidak bisa ia lupakan. Rasanya, Rowland merasa terjebak.
Rasanya juga, sudah lama sekali ia tidak merasa tidak berdaya seperti ini. Apa jangan-jangan, ia telah jatuh cinta? Ha ha ha, konyol. Dia sudah setua ini, mana mungkin kembali jatuh cinta. Lagi pula, sudah lama ia menyingkirkan pikiran-pikiran sentimental seperti itu. Pengalaman selama bertahun-tahun menjadi playboy membuatnya tahu bahwa tidak ada hal baik yang bisa ia dapatkan dari jatuh cinta.
Cinta hanya akan membuat dirinya menderita, jatuh, jatuh, dan jatuh. Ia tidak ingin lagi merasakannya. Sebab, terakhir kali ia jatuh cinta, yang dia rasakan hanya kejatuhan, bukan hal-hal berwarna merah muda yang disebarkan dewa asmara.
.
TBC
15 Juni 2020 by Pepperrujak