Kerusakan 17
.
Terhitung sudah satu bulan berlalu, sejak terakhir kali Neuri berubah menjadi monster peminum darah. Artinya, bulan purnama juga telah kembali. Malam ini, sinar rembulan yang memukau tampak bulat dan penuh, seolah bersolek di langit Lunadhia yang sebelumnya agak keruh.
Di depan cermin panjang di dalam kamar, Neuri merapikan kravatnya. Ia menyisir rambut, memakai minyak wangi, berdandan dengan tiga lapis pakaian seolah akan menghadiri sebuah lawatan sakral. Sarung tangan kulit dipakai dengan hati-hati, sepatu pantofel yang hitam mengilat terpasang di kedua kaki.
Ketika Neuri pergi ke aula utama estatnya, seorang valet sudah siap dengan mantel panjang dan topi tinggi di tangan, yang kemudian dipakaian kepada majikan. Namun, saat sudah siap berangkat, suara seseorang menghentikan langkah Neuri.
“My Lord.”
Neuri menoleh, melihat ke salah satu tangga di mana seseorang yang memanggilnya berada. “Ada apa, Miss Loqestilla?”
Buru-buru, Loqestilla berlari menghampiri sang tuan rumah. “Apa Lord Neuri akan pergi ke kuil?” tanyanya antusias.
Neuri mengangguk.
“Bolehkan saya ikut? Saya ingin berdoa.”
Sayangnya, Neuri segera menggeleng. “Maaf, hari ini kuil ditutup untuk umum. Saya ke sana karena ada keperluan dengan pendeta kuil.”
Tampak sekali, wajah Loqestilla yang kecewa.
Melihat itu, Neuri sebenarnya agak merasa bersalah. Meskipun Loqestilla sering bersikap menakutkan, tapi wajah memelas di sana selalu bisa membuat iba. “Apa yang ingin Anda doakan, Miss Loqestilla? Mungkin saya bisa mewakili,” ujar Neuri, berusaha membesarkan hati.
Loqestilla hanya menggeleng. “Ada banyak sekali yang ingin saya doakan, Milord. Tapi … jika tidak keberatan, tolong doakan untuk kesehatan murid-murid saya.”
“Itu saja?”
Kali ini Loqestilla mengangguk kecil. “Ya, itu saja. Mungkin lain kali saya akan pergi ke kuil ketika sudah kembali dibuka.”
“Saya akan mengajak Anda ketika kuil sudah dibuka.”
Mata Loqestilla berbinar cerah. “Terima kasih, Milord. Semoga Mood Goddes selalu memberkati Anda.”
“Ya, semoga Moon Goddes juga memberkati Anda.”
Setelahnya, Neuri tidak lagi mengulur waktu untuk pergi. Meninggalkan Loqestilla seorang diri di tengah aula besar yang tampak kosong dan dingin.
.
***
.
Berdoa, berdoa apanya.
Neuri ingin tertawa terbahak-bahak jika mengingat bagaimana seriusnya Loqestilla menitipkan doa padanya. Dia tidak pernah berdoa, bahkan meskipun raganya sudah berada di dalam kuil dan di depan pendeta, tapi hatinya tidak pernah digunakan untuk berserah diri kepada Moon Goddes.
Apa yang bisa diharapkan dari makhluk terkutuk seperti dirinya? Dunia mungkin akan kiamat jika dia benar-benar menyembah dewa.
“Anda tampak gembira, My Lord.”
Pendeta kuil yang sejak tadi memperhatikan raut wajah Neuri, benar-benar tidak tahan untuk bertanya. Sebab, tumben sekali tuan tanah yang satu ini tampak bahagia. Mata yang biasa gelap, dan dahi yang selalu mengkerut, kini terlihat sedikit lebih berkilau.
“Sama sekali tidak gembira. Malah akhir-akhir banyak sekali masalah yang menimpa.”
Di dalam ruangan khusus pendeta yang hanya diterangi beberapa lilin, Neuri mengaduk tehnya, sedangkan pendeta kuil hanya duduk di kursi kayu tanpa ingin mengudap apa-apa.
“Apakah karena itu, Lord Lycaon ingin kuil ditutup hari ini?”
Namun, Neuri malah terkekeh. “Tidak juga … bukankah sudah biasa aku menutup kuil karena ingin berdoa sendirian?”
Pendeta Kuil mengangguk. “Benar. Anda sungguh seorang umat yang taat, selalu menyempatkan waktu untuk dapat berdoa khusyuk setiap sebulan sekali. Jarang-jarang ada bangsawan yang memiliki kebiasaan seperti ini.”
Penuturan pendeta kuil semakin ingin membuat Neuri tertawa keras. Mengapa orang-orang begitu percaya bahwa dirinya sedang ingin berdoa? Ada-ada saja.
“Ya … mungkin ini semacam penyegaran diri setelah satu bulan penuh hanya memikirkan permasalahan duni fana.”
Pendeta kuil tersenyum pengertian, tampak bangga dengan tuan tanah yang sejak kecil sudah diikutinya.
“Baiklah, jika Lord Lycaon ingin segera berdoa. Saya akan pergi kalau begitu.”
Neuri mengangguk. Ia beranjak berdiri bersama pendeta kuil, mengantar orang suci itu ke ruangan di bawah kuil untuk beristirahat. Ia kemudian pergi sendiri ke ruangan utama untuk berdoa seraya menggenggam kunci kuil.
.
***
.
Seperti biasa, ritual Neuri sebelum berubah ‘makhluk terkutuk’ adalah duduk terpekur di depan patung Dewi Bulan.
Hari ini ia tidak ingin berceloteh banyak hal. Pikirannya bahkan tidak begitu terganggu dengan sosok haus darah yang berada di dalam tubuhnya.
Seraya terdiam seperti kehilangan minat untuk bicara kepada seorang kekasih lama, matanya menatap kosong entah ke mana. Memikirkan tentang kejadian yang akhir-akhir menghadiri kehidupannya.
Mulai dari p*********n dirinya, Miss Loqestilla yang ternyata peminum getah manusia, hingga permasalahan dengan Duke of Clemente. Entah semua kejadian itu ada hubungannya atau tidak, tapi rasanya benar-benar membuat Neuri lelah.
Hampir-hampir juga ia lupa bahwa hari ini adalah waktu yang penting untuk dirinya sendiri. Seandainya dia benar-benar lupa, mungkin kekacauan besar akan terjadi di estatnya.
Neuri mengambil napas panjang. Ia kemudian membuka sarung tangannya, dan seperti biasa, urat-urat itu sudah terlihat mengerikan. Rasa yang panas dan kering segera merongrong kerongkongannya.
Dalam sekejap, tangan Neuri sudah dipenuhi dengan rambut-rambut halus yang semakin bertumbuh panjang.
Tanpa banyak bicara, Neuri segera menanggalkan semua pakaian, lalu berlari menuju hutan di belakang kuil. Ia berlari dengan kecepatan yang semakin tidak wajar. Semakin kaki dan tangannya membengkak dan berubah menyeramkan, semakin cepat pula pergerakannya.
Bulan purnama benar-benar sedang berkilau, sinarnya yang lembut dan suci segera menyinari sosok monster yang melolong-lolong bagai siluman kelaparan.
Neuri mengambil napas, cukup panjang dan dalam, sedang mencari sumber pangan yang paling dekat dengan tempatnya. Hidungnya yang peka akhirnya mengendus aroma yang membuat rasa laparnya semakin melambung tinggi. Aroma itu sampai membuat tubuhnya merinding dari kaki hingga kepala, ingin segera menghampiri dan menyesap sari-sari jasad di sana.
‘Haus … lapar’
Ah, suara sialan yang familier. Neuri benar-benar sudah tidak tahan.
Ia pun semakin berlari, berlari lebih cepat daripada cheetah. Menerobos hutan yang lebat dan dipenuhi semak berduri, menerobos apa saja yang sebenarnya bisa membuatnya terluka.
Hingga kedua bola mata yang sudah semerah darah itu, akhirnya menjumpai seekor rusa yang sedang asik sendirian di bawah pohon, terduduk dan mendengkur.
Saat Neuri mendekat, rusa tersebut segera membuka kedua matanya, ingin melarikan diri karena merasakan ancaman bahaya. Sayangnya, pergerakan yang dimilikinya tidak begitu lihai. Neuri lebih cepat dan kuat, sehingga rusa tersebut pun terterkam begitu saja, tidak berdaya.
Tanpa memikirkan apa pun lagi, Neuri segera mengisap darah makan malamnya. Diisap terus menerus sampai dahaganya reda.
Hanya saja, di tengah-tengah kenikmatan berpesta, telinga runcing Neuri mendengar suatu pergerakan, hidungnya mengendus sebuah aroma yang tidak kalah familier dari darah rusa.
Neuri pun segera berbalik, matanya menyorot waspada, seperti kriminal yang berusaha menyembunyikan korban kejahatannya. Ia terdiam untuk beberapa saat, fokus dengan pergerakan yang kecil dan mencurigakan.
Hingga telinga Neuri menangkap sebuah gerakan samar dari balik semak-semak. Tanpa ragu, kakinya bergerak cepat, menerjang sosok yang mengintai dari balik rimbunan dedaunan berduri.
Namun, saat ia berhasil mencengkeram leher penguntit mencurigakan tersebut, Neuri pun terkejut bukan main.
“My-My Lord, ini saya, ini saya Loqestilla.”
Visi Neuri yang memang semula sudah sangat merah, kini menjadi semakin merah. Karena tidak begitu bisa berbicara, ia hanya menggeram tidak jelas, seperti singa yang mengancam musuhnya.
“Grrrr.”
“My Lord, saya tidak akan mengganggu, saya tidak akan mengganggu. Tolong lepaskan saya.”
Insting hewani Neuri yang kuat membuatnya tidak begitu mengerti apa yang dikatakan Loqestilla. Meskipun alam bawah sadarnya seratus persen paham, tetapi sifat k**********n makhluk terkutuk yang mengambil alih tubuhnya, tidak bisa diajari begitu saja.
Neuri ingin berteriak, ‘lari, lari Miss Loqestilla’ tapi mulutnya bahkan tidak bisa mengucap kata-kata dengan benar.
“My Lord, tenang, ya, tenang. Ayo, saya temani makan. Sekarang lepaskan saya, ya?”
Suara yang lembut, aroma yang menyenangkan, belaian yang menenangkan. Semua itu membuat Neuri tanpa sadar mengendurkan cengkeramannya. Mata merahnya memandang Loqestilla dengan kepolosan yang tidak terduga. Terlebih, Loqestilla membelai kepalanya, menggusak-gusak dengan kenikmatan yang sangat asing tapi membuatnya gembira.
“Ha ha ha, anak baik. Ayo, ayo habiskan makananmu dulu.”
Entah bagaimana, tapi makhluk terkutuk di tubuh Neuri menurut begitu saja. Ia kembali berjalan ke tempat rusa yang sempat ditinggalkan, bersama Loqestilla di sampingnya. Kemudian ketika ia mengisap kembali darah makanannya, Loqestilla terus menerus membelai kepalanya, memujinya seperti seorang guru kepada muridnya.
Ini baru pertama kalinya, Neuri merasa melewati malam di tengah purnama dengan rasa damai yang entah mengapa bisa seperti itu.
Hanya saja, di pagi buta, ketika Neuri membuka matanya, dengan tubuh yang sudah kembali menjadi manusia, ia mendapati dirinya tidur di pangkuan Loqestilla.
Cepat-cepat, ia terbangun dengan gugup. Takut, takut karena rahasinya diketahui orang lain. Takut karena ia bahkan bisa merasa nyaman setelah meneguk darah tanpa rasa bersalah.
“My Lord?”
“Miss Loqestilla, bisa jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?”
Wajah Neuri benar-benar tidak enak dilihat saat ia meminta penjelasan. Namun, Loqestilla hanya memberinya senyum kecil seperti biasa. Bahkan dengan nada biasa yang terlalu kasual, rubah tersebut berkata, "Mari kita pulang terlebih dulu."
.
TBC
16 Juni 2020 by Pepperrujak