Kerusakan 18
.
“Neuri, jadilah anak baik sehingga semua orang mencintaimu.”
“Neuri putraku, kebanggaan ibu.”
.
.
Satu-satunya rahasia yang Neuri jaga sepenuh hati hingga kini adalah perubahan sosoknya yang serupa monster hina. Ia benar-benar menutup rapat semua itu karena merasa seluruh aibnya ada di sana.
Ia menyembunyikannya dari para pelayannya, dari para warga desa, dari pendeta kuil, dan terlebih dari dunia luar yang kejam dan mudah berantakan.
Neuri selalu merasa, jika orang lain mengetahui rahasia ini, hidupnya akan segera berakhir saat itu juga. Bukan karena ia menjadi makhluk buruk rupa, tapi karena ia melakukan dosa yang begitu tercela sebagai umat manusia.
Meminum darah. Siapa manusia yang sanggup melakukannya tanpa merasa bersalah?
Padahal, sedari kecil, Neuri adalah anak yang taat. Ia menjalani didikan ibunya yang religius dan bermoral lurus. Setiap minggu selalu ke kuil untuk berdoa, menyantuni warga miskin, menolong siapa pun tanpa pamrih, berbicara sopan kepada orang lain, dan bahkan memilah-milah mana makanan yang baik dan buruk.
Hatinya lembut dan bersih, jauh dari iri dengki dan perasaan curiga kepada orang lain. Bahkan setelah dewasa, ia tidak pernah mengikuti trend-trend buruk di kalangan bangsawan maupun masyarakat pada umumnya.
Saat akil baliq, di mana gairahnya sebagai laki-laki seharusnya sangat tinggi, ia berhasil tidak menyentuh satu pun wanita. Padahal jika mau, ia bisa mencari gundik dari kalangan bangsawan juga, atau menghabiskan setiap malamnya di rumah p*******n. Namun, Neuri tidak pernah berbuat demikian. Ia begitu menghargai wanita, karena begitu ajaran sang ibu.
Ia juga tidak suka mabuk-mabukan, dan hanya minum sedikit wine sebagai sopan santun ketika sedang bertamu. Bahkan, ia bisa bertahan untuk tidak menghirup o***m di saat tubuhnya terluka maupun ketika sedang menahan sakit.
Semua kebiasaan itu membuat jiwa dan raganya sehat dan bugar, seolah suci dan bebas dari polusi dunia fana. Hanya saja, kebiasaannya mulai sedikit berubah usai keluarganya hancur menjadi lumpur.
Neuri tidak tahu mengapa keluarganya yang baik dan tidak tercela masih juga menjadi target kedengkian orang lain.
Melihat ayah, ibu, dan adiknya dibantai dengan kejam, membuatnya mau menyerahkan dirinya kepada iblis. Ia rela menjadi seperti monster asal bisa mengembalikan kebahagiaan keluarganya. Mengembalikan pelukan ibunya, tepukan hangat ayahnya di pucuk kepala, juga keceriaan adiknya yang secerah terik mentari.
Sayangnya, semua benar-benar mengecewakan.
Ia yang merelakan jasad dan raganya menjadi monster, tak bisa juga mengembalikan keluarganya yang tertidur nyenyak seperti boneka.
Memang benar jika dia bisa membunuh ‘orang-orang itu’, orang-orang yang entah dikirim siapa untuk menyobek-nyobek selimut kehidupannya. Namun, setelah itu apa? Apa yang didapatkannya?
Hanya kehidupan yang kosong melompong. Mirip telur yang sudah berlubang ujungnya, isinya meleber dan jatuh ke tanah. Meskipun ditambal, dalamnya tetap kosong, tidak ada apa-apanya.
Namun, meskipun hanya berupa cangkang, Neuri tetap ingin berusaha hidup sebaik mungkin. Berusaha menjaga cangkang itu supaya tidak benar-benar pecah sehingga orang-orang tahu bahwa dia sebenarnya sudah tidak punya apa-apa. Di dalam cangkangnya yang kosong, tersisa kulit-kulit tipis yang sudah membusuk dan berbau menyengat.
Sayangnya, Loqestilla Vent telah memecahkan cangkang kosong tersebut, menguak rahasianya yang paling dijaga sepenuh hati. Lalu sekarang, bagaimana ia harus melanjutkan hidup? Bagaimana bisa ia tetap hidup dan menatap wajah orang lain?
“My Lord, mari kita pulang.”
“Menjauh dariku!”
Di pagi buta, di mana kabut mulai tumbuh dan membungkus sekitar, Neuri duduk memeluk lutut. Ia bersembunyi di balik pepohonan, melarang Loqestilla untuk mendekati maupun menyentuhnya.
“My Lord … saya akan tetap di sini sampai Anda bersedia pulang.”
Neuri menjambak rambutnya kuat-kuat. “Untuk apa aku pulang? Setelah ini, apa yang bisa kulakukan? Kau telah mengetahui semuanya, setelah ini pun, semua orang akan tahu semuanya.”
Loqestilla menatap pohon tinggi yang digunakan Neuri menyembunyikan diri. Tatapannya sedih dan merasa bersalah. Karena tidak dapat melakukan apa-apa, dia pun hanya mendebas kecil. Pada akhirnya, ia duduk di sisi pohon yang lainnya, bersingkuran dengan Neuri yang masih meringkuk seperti trenggiling.
“My Lord ….” Loqestilla memanggil lagi, tapi tidak ada jawaban sama sekali. Ia pun melanjutkan monolognya, tidak begitu peduli apakah Neuri mau mendengarkan atau tidak. “Saya sebenarnya sudah tahu sejak lama tentang Anda yang seperti ini.”
Bahu Neuri tersentak, pupil matanya melebar, dan tubuhnya tiba-tiba saja gemetar.
“Saya sudah tahu sejak perubahan Anda bulan lalu.”
Tanpa diduga, Neuri mau menyahuti ucapan Loqestilla. “Apakah anggrek bulan itu … Anda yang memetiknya?”
Loqestilla mengangguk meskipun tahu Neuri tidak mungkin melihatnya. “Iya,” ucapnya.
“Jadi begitu, Anda membodohi saya sejak awal.”
“Bukan seperti itu!” Entah mengapa nada suara Loqestilla meninggi. “Saya tidak membodohi Anda, saya tidak berani. Saya hanya ingin mengatakan bahwa seperti apa pun rahasia yang Anda simpan, saya juga akan menyimpannya. Saya akan menyimpannya sampai saya mati.”
Tidak ada balasan sama sekali, sehingga Loqestilla pun berbicara lagi. “Saya juga seorang peminum darah, jadi saya tidak takut pada Anda. Saya juga punya banyak rahasia, jadi saya tidak mungkin membongkar rahasia orang lain dengan begitu mudah.”
Mendengar itu, entah mengapa Neuri sedikit lega. Namun, ada ketakutan baru di dalam hatinya. “Tapi aku tidak ingin meminum darah,” ujarnya. “Semua karena kutukan ini. Aku tidak sepertimu, Miss Loqestilla. Aku tidak ingin meminum darah.”
“Tapi, nyatanya, Anda bisa hidup dengan hal itu sampai sekarang, bukan? Jika Anda benar-benar ingin mati karena kutukan tersebut, mengapa tidak bunuh diri saja?”
Neuri pun menyahut. “Bunuh diri adalah tindakan tercela. Aku tidak akan melakukannya.”
“Tapi, bukankah meminum darah juga perbuatan tercela? Karena hal itu juga kan mengapa Anda menyembunyikannya sampai seperti ini?”
Suara decihan Neuri terdengar begitu jelas. “Anda tidak mengerti, Miss Loqestilla. Nilai moral kita berbeda.”
“Bukan nilai moral kita yang berbeda. Anda hanya belum siap mati.”
Ucapan Loqestilla itu, benar-benar seperti sebuah tamparan paling perih di pipi. Neuri ingin memaki dan memarahi Loqestilla yang berucap dengan begitu dingin, seperti tanpa simpati. Tahu apa rubah itu tentang dirinya, tentang masa lalunya? Tahu apa wanita itu ….
“Aku memang belum ingin mati, dan aku ingin hidup tenang. Memangnya salah jika aku menyembunyikan semua ini?”
Loqestilla mengembuskan napasnya pelan. “Saya tidak menyalahkan Anda, Milord. Saya hanya berharap Anda tidak terlalu takut dengan apa yang sudah saya tahu.”
“Miss Loqestilla memang tidak mengerti. Aku menyembunyikan semua ini juga untuk melindungi orang lain, warga-wargaku, para pelayanku, bahkan anak-anak di sekolah yang Anda ajar. Semua kehidupan mereka bergantung pada keberadaanku.”
“Dan saya juga sudah menyembunyikan rahasia itu, bukan? Apakah Anda tidak percaya pada saya?”
“Anda orang asing di sini, bagaimana bisa aku percaya begitu saja.”
Loqestilla menghela napas. Ia kemudian terkekeh kecil. “Anda sangat persisten, My Lord.”
Mendengar Loqestilla terkekeh, sejujurnya Neuri tidak merasa marah, dan sebenarnya ia sudah tidak marah. Bahkan berbicara dengan Loqestilla membuat ketakutannya sedikit menyusut. Sangat menjengkelkan, mengapa ia begitu terbuka pada orang asing yang membuatnya takut. Loqestilla itu menakutkan, tapi mengapa Neuri tidak bisa membuang rubah betina yang seperti parasit itu?
Berkali-kali ia punya kesempatan untuk membuang Loqestilla, mengusir rubah itu dari Lunadhia misalnya, atau mengumpankan kepada Duke of Clemente, tapi berkali-kali juga Neuri membawa Loqestilla kembali. Mungkin karena tidak tega, membayangkan Loqestilla yang pergi begitu saja sendirian, hidup tidak nyaman dengan menjalani bermacam-macamprofesi berbahaya.
Ah, sial. Padahal Loqestilla adalah bahaya itu sendiri. Neuri saja yang selalu lupa.
“Berbicara dengan Anda tidak akan ada akhirnya, Miss Loqestilla.” Neuri pun berdiri, menyugar rambutnya yang berantakan dan tidak dilapisi minyak maupun bedak. “Kali ini, aku akan percaya pada ucapan Anda.”
Wajah Loqestilla berubah cerah seketika. “Ya, ya. Percayakan semuanya pada saya, My Lord. Saya akan berusaha sekuat tenaga supaya Anda bisa mengandalkan saya sepenuhnya.”
Neuri menghela napas. “Ya. Sekarang ayo pulang.”
Mendengar ajakan itu, Loqestilla sampai berdiri terasuk-saruk. Ia mengibas-ngibaskan roknya, dan dengan senyuman lebar menghampiri Neuri.
Tertutup kabut pagi, dua orang di sana berjalan bersisian. Neuri yang tanpa busana, dan Loqestilla yang hanya memakai pakaian tidur berwarna putih. Diselimuti kabut, keduanya seperti hantu di cerita-cerita horor karangan musisi jalanan.
.
.
Di hari yang sama, tanpa diduga-duga, ketika Loqestilla akan pergi ke sekolah bersama Neuri, Duke of Clemente kembali datang dengan kereta kudanya yang mewah.
Bedanya, hari ini tidak ada hadiah-hadiah mahal berpeti-peti. Rowland Rathmore Lubbock hanya membawa sebuket bunga mawar merah berpita emas.
“Ehem, hari ini aku biarkan Anda bekerja. Aku hanya ingin memberikan ini sebagai permintaan maaf atas sikapku sebelumnya.”
Meskipun agak tidak percaya, tapi Loqestilla menerima buket bunga yang terlihat masih segar. “Terima kasih, Your Grace. Anda memang baik hati.”
Namun, Rowland hanya mengangguk. Setelahnya ia berpamitan pulang tanpa membahas apa pun lagi.
Ketika kereta kuda Duke of Clemente sudah melaju agak jauh, Neuri baru mengemukakan pendapatnya. “Sepertinya dia benar-benar menyesal.”
“Ya. Dan tumben dia tidak membawa banyak hadiah.”
Dahi Neuri pun berkerut. “Apa Anda sangat mengharapkan hadiah darinya?”
“Bukan begitu, My Lord. Saya hanya merasa kaget.”
Dengan wajah yang begitu serius dan tampak kesal, Neuri berkata, “Jika Anda butuh apa-apa, seharusnya Anda tidak mengandalkan orang lain, Miss Loqestilla.”
Loqestilla mengangguk. “Ya, saya akan berusaha sendiri supaya bia memenuhi kebutuhan saya.”
Namun, Neuri mendecih. “Anda memiliki majikan, mengapa tidak mengandalkannya?”
“Maksud Lord Neuri, majikan tersebut adalah Anda sendiri?”
“Ya.”
Mata Loqestilla melebar, senyumnya mengembang. “Terima kasih banyak, My Lord.”
.
TBC
17 Juni 2020 by Pepperrujak