RED - 20 : Confession

1026 Words
Kerusakan 20 . Jas berpelipit emas disapu dari debu, ditetesi parfum sampai wanginya mengombak di udara. Rambut yang putih disisir ke belakang, diberi minyak, diberi bedak. Sepatu hitam mengilat digosok lagi dan lagi, lalu dipoles menggunakan semir berbau menyengat. Bibir yang pucat dan kering diolesi pewarna, membuatnya tampak segar dan lebih muda. Seorang pelayan laki-laki datang membawa sebuah troli. Di atas troli ada sebuah kotak kecil dari beludru berwarna biru. Matanya pun memandang penuh kebahagiaan dan antusiasme yang membumbung. Cepat-cepat, diambilnya kotak beludru tersebut, lalu dibuka. “Betapa cantiknya,” ujarnya ketika melihat sebuah cincin bermata merah rubi. Sekilas, warna tersebut mengingatkannya pada seseorang yang akhir-akhir ini selalu didambanya sepanjang hari. “Aku benar-benar tidak sabar menemuinya dan melamarnya. Miss Loqestilla Vent yang menawan, semoga kau tahu jika setiap malam aku tidak bisa tidur karenamu.” Pagi itu, Rowland Rathmore Lubbock dengan gelarnya sebagai Duke of Clemente, tidak hentinya membayangkan hal-hal indah bersama kekasih impiannya. Ia sama sekali tidak memperkirakan risiko yang mungkin saja terjadi di masa depan. Kebahagiannya membuatnya lupa, bahwa Loqestilla Vent yang jelita itu bukanlah wanita penurut yang selalu sesuai ekspektasinya. Ia tidak tahu, bahwa wanita itu bahkan bisa menusukkan pisau ke dadanya sambil tersenyum lembut dan memberikan kata-kata yang menyenangkan. . *** . Kelas hari ini sangat tenang, mungkin karena tiba-tiba Ferguso mengadakan ujian harian. Anehnya, ujian tersebut bukan hanya untuk kelas yang Ferguso ajar sendiri, tetapi juga mewajibkan kelas Loqestilla untuk ikut terlibat di dalamnya. Meskipun merasa tidak adil, tapi Loqestilla menyetujui hal itu tanpa banyak membantah. Akhir-akhir ini ia menjadi berpengalaman dalam menangani Ferguso yang suka marah-marah. Terlebih, meskipun Loqestilla melaporkan tindakan Ferguso yang terkadang semena-mena terhadap para murid kepada Neuri, majikannya itu sama sekali tidak bereaksi seperti yang Loqestilla inginkan. Neuri cenderung membiarkan, dan malah seolah kurang peduli. Karena sudah begitu, Loqestilla pun memilih untuk membiasakan diri. Anak-anak menjadi ramai kembali ketika ujian telah selesai. Namun, kebanyakan dari siswa-siswi yang Loqestilla ajar terlihat lesu dan pasrah. Beberapa dari mereka mengeluhkan bahwa soal yang diujikan terlalu sulit, sama sekali tidak bisa mereka pahami. Loqestilla menghela napas kecil, agak lelah. Ferguso memang keterlaluan, memberikan soal ujian dengan materi yang sama untuk semua anak. Padahal, siswa siswi yang belajar di sini memiliki rentang usia berbeda, dengan kemampuan yang tentu saja tidak sama. Pria keriting cantik itu memberikan soal ujian yang rata-rata hanya bisa dikerjakan oleh anak-anak berusia lima belas tahun. Padahal, murid-murid Loqestilla tidak ada yang lebih dari sepuluh tahun. Entah apa rencana Ferguso berbuat demikian. Mungkin hanya ingin menjatuhkan nilai Loqestilla di mata Neuri. Mungkin ia akan berdalih bahwa murid-murid Loqestilla tidak sepandai murid-muridnya, dengan begitu bisa saja Loqestilla diberhentikan, dan dipekerjakan sebagai pekerja ladang. ‘Dasar kurang ajar’ Sekali lagi, Loqestilla menghela napas lelah. “Miss Loqestilla.” Seseorang memanggil dari ambang pintu ketika Loqestilla memeriksa jawaban murid-muridnya. Dari tempat duduknya, Loqestilla menoleh. Ia pun segera berdiri ketika melihat siapa yang datang berkunjung ke kelasnya. “My Lord,” ucapnya terlihat bahagia. Loqestilla pun menghampiri Neuri dengan tergesa, dan ia tersenyum lembut seperti biasa. “Apa ada yang bisa saya kerjakan?” tanyanya kemudian. Neuri menggeleng. “Tidak ada, aku hanya ingin mengunjungimu.” Loqestilla mengembang-kempiskan hidung, menghirup aroma seseorang dari tubuh Neuri. “Anda tidak datang sendiri? Bersama kepala desa?” Kali ini Neuri mengangguk. “Ya. Aku dan kepala desa sedang mengecek wilayah sekitar sekolah, kami akan membangun perpustakan di sini.” Mata Loqestilla membulat, lalu dengan wajah seperti anjing laut, ia bertepuk tangan. “Waah, perpustakaan? Itu bagus sekali.” Melihat bagaimana Loqestilla terlihat bersemangat, entah mengapa hati Neuri menjadi lebih tenang. Ia bahkan tanpa sadar menyunggingkan senyum samar. “Ya, dengan begitu murid-murid akan lebih punya kesempatan untuk mempelajari banyak hal.” “Benar, itu benar sekali. Saya juga banyak belajar berkat membaca buku di berbagai perpustakaan.” Karena terlalu senang, Loqestilla tidak menyadari bahwa telinga runcingnya itu bergerak-gerak sejak tadi. Hal itu sangat mendistraksi pandangan Neuri. Melihat telinga hewan tersebut menjentik-jentik begitu, sangat membuatnya tidak tahan untuk memegang atau bahkan meremasnya. Tangan Neuri sudah hampir terangkat, ketika tiba-tiba ia mendengar suara kereta kuda yang mendekat. Ketika ia menoleh, yang ia lihat adalah kereta kuda bangsawan berlambang cakar milik Duke of Clemente. Mata Neuri memincing, dahinya mengernyit dalam. Dalam hati bertanya-tanya, sedang apa Duke of Clemente ke sekolahan yang terletak di pedalama begini, dan bagaimana bisa kereta kuda itu melewati sungai. ‘Apa dia menggunakan sihir untuk menerbangkan kereta kudanya?’ Neuri benar-benar tidak habis pikir. “Miss Loqestilla,” panggil Neuri seraya menoleh kembali kepada Loqestilla. “Ya, My Lord?” “Orang tua itu pasti datang untuk Anda. Hampiri dia dan segera bawa dia pergi dari sini.” Loqestilla mengangguk. Setelah merapikan rambutnya, ia bergegas menghampiri Duke of Clemente yang baru saja turun dari kereta kuda. Melihat bahwa Loqestilla sendiri yang datang kepadanya, Rowland Lubbock pun semakin mengembangkan senyumnya. “Miss Vent,” panggilnya dengan nada seceria bocah-bocah di tempat penjual permen. Rowland segera menyambut Loqestilla dengan sikap manisnya. Ia mencium punggung tangan pujaan hatinya, menanyakan kabar terbaru, dan memberi pujian yang mampu menerbangkan angan setiap wanita. Melihat bahwa Rowland hati ini meracau lebih banyak daripada biasanya, Loqestilla pun tidak bisa menahan diri untuk mengembus napas lelah. “Ada apa, Miss Vent? Apakah Anda tidak sedang bertemu denganku?” tanya Rowland cepat ketika melihat perubahan raut muka Loqestilla. Dengan senyum kecil, Loqestilla menjawab, “Bukan begitu, Your Grace. Saya hanya merasa sangat lelah hari ini, banyak hal sudah dikerjakan. Bagaimana kalau kita berbincang sambil duduk saja?” Rowland mengangguk bersemangat. “Baiklah. Di mana Miss Vent ingin kita berbincang?” Akhirnya, Loqestilla pun membawa Rowland Lubbock ke ruang guru. Ruangan tersebut cukup sempit, karena memang awalnya hanya dipergunakan oleh Ferguso seorang. Meskipun kecil, dengan satu meja kerja dan sebuah kursi kayu untuk Ferguso saja, tapi di sana terdapat sofa panjang dengan meja kayu berpernis. Kemungkinan besar, seperangkat sofa yang tampak mahal tersebut disiapkan khusus untuk Neuri. Tampak Ferguso memang hanya adil kepada tuan tanah Lunadhia dan tidak peduli pada hal lainnya. Kemudian, di sofa tersebutlah Rowland dipersilakan duduk. Namun, karena Loqestilla menghormati bagaimana Ferguso menjaga sofa tersebut, Loqestilla pun memilih menggunakan kursi kayu yang biasa dipergunakan Ferguso. Melihat hal itu, Rowland agak mengernyitkan dahinya. Merasa bahwa seolah-olah Loqestilla menjaga jarak darinya. “Miss Vent, mengapa Anda duduk di kursi kayu jelek seperti itu?” tanya Rowland agak terdengar kesal. Matanya memincing curiga. Namun, Loqestilla tetap tersenyum lembut seperti biasa. “Sofa tersebut biasanya dikhususkan untuk Earl of Lunadhia. Saya tidak pernah diizinkan duduk di sana, jadi sekarang pun saya tidak berani untuk melanggar ketentuan tersebut. Namun, karena Lord Lubbock adalah orang yang penting, Anda boleh duduk di sana.” Kata-kata sederhana tersebut lantas membuat Rowland lebih bahagia. Ia pun tidak sambar menunaikan rencananya. . TBC 19 Juni 2020 by Pepperrujak
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD