RED - 21 : Broken Heart

1708 Words
Kerusakan 21 Rowland Rathmore Lubbock, berusaha sekeras yang ia bisa untuk membawa obrolannya terdengar romantis, tapi juga cerdik. Pada hari yang penting ini, ia tidak mau kebodohannya terumbar dengan tidak sengaja. Inilah mengapa, sedari tadi ia sangat hati-hati dalam bertutur kata. Padahal seharusnya ia ingat bahwa Loqestilla sudah tahu tabiatnya berkat berhari-hari lalu ia terus merecoki rubah betina itu. Matanya pun terus memandangi wanita dambaannya tiada henti. Mengikuti setiap gerak-gerik Loqestilla bahkan dari gerakan yang kecil dan samar. “Miss Vent.” Di tengah pembicaraan yang mulai membosankan--bagi Loqestilla--tiba-tiba saja Rowland menjadi lebih serius. Padangan matanya melembut tapi juga tegas dan mendalam. Setelah berdehem dua kali, ia pun akhirnya memberanikan diri untuk mengucapkan tujuan yang sebenarnya. “Miss Vent, aku jauh-jauh mendatangimu ke sini sebenarnya bukan karena ingin melihatmu bekerja. Melainkan, aku ingin melamarmu secara resmi.” Di tempat duduknya, Loqestilla langsung menegakkan diri, telinga rubahnya menjentik kaku. Meskipun ia tahu bahwa Rowland menyukainya, dan berkali-kali menampakkan minat untuk menidurinya, tapi dia tidak menyangka jika pria itu akan melamarnya. Padahal seingat Loqestilla, Rowland memiliki banyak gundik yang tidak ingin dinikahi, serta wanita-wanita muda yang hanya digunakan sebagai hiburan. Lalu, apa tujuan Duke of Clemente ini mau memperistri wanita asing sepertinya? “Your Grace, apakah Anda sedang berkelakar dengan saya?” Rowland mengepalkan kedua tangannya erat. “Saya tidak bergurau.” Setelah itu, ia menepuk tangannya sekali, memanggil seorang pelayan yang datang membawakan sebuah buket bunga mawar merah yang dihiasi kerlipan-kerlipan berlian. Pelayan tersebut memberikannya kepada Rowland, lalu Rowland menyerahkannya dengan dramatis kepada Loqestilla. “Selain hadiah ini, saya juga memiliki sesuatu yang mungkin Anda sukai.” Ia merogoh kantung celananya dan mengambil kotak beludru biru yang tampak mewah. Sambil berlutut, Rowland pun berkata, “Miss Loqestilla Vent, menikahlah denganku.” Loqestilla hampir saja tersedak ludahnya sendiri. Bagaimana ia harus menjawab permintaan romantis kakek tua satu ini? Ia tidak punya alasan kuat untuk menolak, dan jika dia mengatakan tidak sekarang tanpa sebuah penjelasan berarti, Rowland pasti akan terus merorong dirinya tanpa henti, entah sampai kapan. Melihat bagaimana Loqestilla tidak segera menjawab permintaannya, Rowland pun mengernyitkan dahi khawatir. “Miss Vent?” Setelah menarik napas panjang yang samar, Loqestilla tersenyum lembut. Ia berdiri dari kursinya, lalu mundur sedikit untuk memberi ruang yang lebih luas antara dirinya dan sang Duke. Kemudian dengan suara yang dibuat terlalu merdu, ia berkata, “Maafkan saya, Your Grace. Saya menolak permintaan pernikahan dari Anda.” Butuh beberapa detik hingga Rowland manyadari bahwa Loqestilla telah menampik permintaan tulusnya. Dengan wajah yang merah hampir gelap, ia berdiri, dagunya terangkat begitu angkuh. “Kau menolakku? Apa alasanmu?” Pertanyaan seperti itu, benar-benar tidak ingin Loqestilla jawab. Apa butuh sebuah alasan khusus untuknya untuk menolak sebuah lamaran? Jika dia memang tidak suka, apa orang yang melamarnya harus tahu dengan jelas? Konsep seperti ini, sangat tidak masuk akal untuk Loqestilla. Bagi orang yang sejak dulu tidak suka dipaksa dan dituntut, permintaan untuk mengikat diri adalah hal yang paling ia ingin hindari. Dan pernikahan adalah hal yang paling ingin ia jauhi. “Saya … hanya tidak bisa melakukannya, Your Grace.” Mendengar jawaban Loqestilla yang tidak memuaskan, Rowland Lubbock semakin berwajah tidak bersahabat. Matanya menajam, alisnya menukik. Jika seseorang mendeskripsikan kondisi Duke of Clemente saat ini, mungkin orang tersebut akan menyamakan sang Duke dengan singa yang wilayahnya terusik. “Mengapa kau begitu kejam padaku, Miss Vent? Apakah semua perhatianku selama ini padamu tidak cukup? Apakah semua hadiahku tidak bisa meluluhkan hatimu? Apakah kau tidak melihat betapa tulusnya perasaan cintaku?” Loqestilla hanya diam membisu. Ia memperhatikan Rowland dengan seksama, dan sebenarnya sedikit jengkel karena Rowland terus saja menyinggung-nyinggung mengenai hadiah ini dan hadiah itu. Sifat Rowland yang pemaksa itu sangat menganggu, beracun, dan mengintimidasi. Pantas saja tidak ada wanita yang berani menolak pria ini, karena setiap kali ditolak, Rowland akan menggila seperti babi kelaparan. Mengoik sana mengoik sini, menuntut penjelasan, memberi ancaman, mengungkit-ungkit kebaikannya, lalu membuat orang lain merasa bersalah. Menarik napas dalam kembali, Loqestilla pun membuka mulutnya lagi. “Your Grace, bukankah sejak awal Anda sudah tahu bahwa saya tidak suka dipaksa? Bukankah Anda sudah tahu bahwa saya ini pemberontak, bahkan karena hal itu pula Anda sempat menampar saya, bukan? Jika memang demikian, seharusnya Anda juga tahu jika bisa saja saya menolak pinangan Anda tanpa alasan.” Dengan wajah yang sudah membiru menahan amarah, Rowland melempar buket bunga beserta kotak beludru yang begitu ia agung-agungkan sebelumnya. Tangannya yang besar terangkat, berusaha menampar Loqestilla seperti yang dulu pernah dilakukannya. Namun, sebelum tamparan tersebut bertandang ke pipi si rubah, sebuah tangan lainnya mencegah dan menahannya. “Your Grace, tolong kendalikan diri Anda.” Itu adalah Neuri, yang entah sejak kapan ada di ruangan tersebut tanpa siapa pun tahu. Rowland dengan amarahnya yang masih membara, menepis tangan Neuri dengan kasar dan kuat. Napasnya kembang kempis seperti kuda joki yang dipaksa berlari ratusan kilometer tanpa henti. “Wanita ini, wanita ini benar-benar ….” Rowland pun tidak bisa melanjutkan kalimatnya dengan benar. Ia berhenti untuk mengatur napasnya yang hampir tidak terkendali. Neuri menatap Loqestilla yang juga menatap balik ke arahnya. Ia kemudian menghela napas, tahu bahwa Loqestilla sedang meminta tolong padanya. Terlebih, padangan rubah betina itu sangat memelas, Neuri sama sekali tidak bisa berlari jika sudah dihadapkan dengan tatapan yang begitu menarik simpati. “Maafkan Miss Loqestilla, Your Grace,” ujar Neuri pada akhirnya, tidak tahu lagi harus berkata apa. “Dia, wanita itu, menolakku tanpa alasan yang jelas. Benar-benar tidak tahu diuntung.” Loqestilla diam saja, Rowland terus mengomel tanpa mau berhenti. Neuri pening tak terperih. Pada akhirnya, dengan lidahnya yang tidak bertulang, Neuri begitu saja mengucapkan kata-kata yang mengejutkan. “Miss Loqestilla memiliki alasan yang kuat untuk menolak pinangan dari Anda, Your Grace.” “Apa itu?!” “Miss Loqestilla Vent sudah bertunangan dengan saya. Kami memutuskan untuk menikah tidak lama lagi.” Loqestilla membeku, Rowland membatu, dan orang-orang yang rupanya sejak tadi melihat pertunjukan seru yang terjadi di dalam kantor guru pun terdiam kaku. “Bertunangan denganmu? Miss Vent?” Rowland bertanya dengan kata-kata yang tidak begitu lengkap, bibirnya agak kelu, dan sesungguhnya hatinya sedang hancur berantakan. Di sisi lain, tanpa rasa bersalah, Neuri mengangguk ringan. “Benar, Your Grace. Kami memutuskannya kemarin.” “Apa kau bilang?” “Saya dan Miss Loqestilla sudah bertunangan.” Entah apa yang dipikirkannya, tapi Rowland dengan sangat impulsif meninju Neuri saat itu juga. “Pengkhianat!” raungnya murka. “Dasar b******n tengik. Bukankah kau sendiri yang bilang bahwa kau tidak memiliki perasaan apa-apa, bahwa hubunganmu dengan Miss Vent tidak seperti yang dipikirkan orang-orang. Sekarang bisa-bisanya kau berkata seperti ini di depanku tanpa rasa bersalah. Kau benar-benar tidak punya malu!” Neuri tidak membalas apa-apa, baik itu kata-kata maupun hantaman yang dilakukan lebih dari tiga kali, tidak satu pun yang ingin ia kembalikan. Bahkan sebenarnya, Neuri pun kaget dengan tindakannya yang sudah terlalu berbahaya. Namun, dibilang hanya keceplosan pun, sebenarnya bukan seperti itu. Dia hanya … hanya merasa bahwa perlu membantu Miss Loqestilla. Melihat wajah yang memelas meminta tolong padanya, Neuri tidak sanggup mengabaikan hal-hal itu. Padahal, bukankah ia tidak begitu tertarik dengan Miss Loqestilla? Bukankah simpatinya pada Miss Loqestilla hanya didasarkan pada rasa takut dan kemanusiaan biasa? Entah sejak kapan Neuri jadi seperti ini. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya terlalu terikat dengan rubah betina itu. Rasa simpatinya sudah berada di level yang membahayakan. Bahkan, bahkan Neuri mulai takut jika dia ditinggalkan. Ah, benar-benar perasaan yang membuatnya tidak nyaman. . . . Pada akhirnya, setelah mengamuk di sekolahan, Rowland pun pergi begitu saja. Tentu ia tidak melewatkan bagian memaki dan mencaci Neuri maupun Loqestilla. Bahkan ketika melihat para murid, ia menyumpa serapahi mereka semua. Di dalam kantor guru, Loqestilla merapikan berbagai macam kekacaun yang dibuat Duke of Clemente. Neuri juga tetap berada di sana, berdiri mematung seraya mengawasi Loqestilla yang tidak mengucap sepatah kata pun ketika bergerak ke sana- kemari. “Miss Loqestilla, maafkan saya.” Suara Neuri sangat kecil, hingga orang-orang yang mengintip dari luar tidak bisa mendengarnya. Namun, sesamar apa pun ucapan itu, Loqestilla tentu bisa dengan jelas menangkap dengan kedua telinganya. Tanpa menjawab apa-apa, Loqestilla tersenyum tenang seperti biasa, seolah tidak pernah mendengar apa pun atau mengalami kejadian yang hampir menghentikan detak jantung. “My Lord, mengapa Anda tidak duduk dulu? Sepertinya pukulan Lord Lubbock membuat wajah Anda jadi terlihat buruk. Akan saya ambilkan kompres.” ujarnya seraya terkekeh. Neuri mengambil napas, dan akhirnya duduk di sofa paling mewah di sana. Ia melihat ke luar, dan mendapati kepala desa, Ferguso, dan bahkan murid-murid sekolah melihat ke arahnya. “Apa yang kalian lihat?” tanyanya malas. Kepala desa maju lebih dulu, menghampiri Neuri yang tengah duduk sambil melipat kaki. “Apakah itu benar, My Lord? Apakah Anda dan Miss Loqestilla sudah bertunangan?” Neuri menatap Loqestilla sejenak, lalu kembali menghadap kepala desa. “Hm, benar. Mengapa?” Wajah kepala desa tiba-tiba diliputi kebahagiaan yang menyenangkan. Ia menyalami Neuri dengan sangat bersemangat. “Selamat, My Lord, selamat atas pertunangan Anda. Ya Tuhan, Ya Tuhan. Semoga Moon Goddes memberkati pernikahan Anda.” Neuri hanya mengangguk-angguk. Ia sudah terlanjur berbohong, tidak mungkin ia menarik ucapannya dengan sengaja, mengatakan bahwa semua tindakannya hanya untuk melindungi Loqestilla. Jika kebohongannya tersebar, Rowland bisa saja kembali ke estatnya dan memaksa-maksa Loqestilla untuk kembali menjadi istrinya. Lagi pula, ia sudah tinggal seatap dengan Loqestilla sejak lama. Apa bedanya jika status mereka kini berganti sedikit saja? Sementara itu, Loqestilla yang tidak ingin terlibat percakapan antara Neuri dan kepala desa, memilih pergi ke tempat penyimpanan. Ia beralasan ingin mencari kain bersih dan baskom untuk mengompres luka di wajah Neuri. Di perjalanan, ketika anak-anak mulai mengikutinya, ia perintah mereka untuk kembali ke kelas dan bahkan dengan kejam memberi tugas meskipun sudah selesai ujian. Di sisi lain, Ferguso juga pergi begitu saja, entah ke mana. Wajahnya tampak keruh dan kecewa. Loqestilla duga, Mr. Albanero yang selalu kasar itu pasti tengah terluka hatinya. Pria keriting itu sejak awal sudah menunjukkan ketertarikan dan pemujaan yang dalam pada Neuri. Tidak heran mengapa ia selalu tampak memusuhi Loqestilla sejak awal berjumpa. Semakin lama, Loqestilla sadar jika ketertarikan Ferguso pada Neuri sudah memasuki fase yang cukup berisiko. Pria itu menyukai dan mencintai Neuri secara seksual, selayaknya pria yang jatuh cinta pada wanita, atau sebaliknya. Hanya saja, Neuri tampaknya kurang peka dengan perhatian yang diberikan kepadanya, sehingga menganggap kasih sayang yang dicurahkan Ferguso hanya sebentuk pengabdian dan penghormatan. Namun, Loqestilla tahu, dia sudah berkali-kali melihat yang seperti itu di luar sana. Meskipun dia tidak begitu sensitif pada perasaannya sendiri, dan tidak begitu mengerti hubungan romantisme yang selalu diagungkan manusia, tapi Loqestilla memahaminya jika menyangkut orang lain. Sekarang, dengan pengumuman Neuri mengenai pertunangan dengannya, Loqestilla bisa melihat betapa hancur perasaan Ferguso kali ini. Loqestilla menghela napas lagi. Rasanya, seharian ini ia terlalu banyak menarik napas panjang, terlalu merasa lelah dan penat. Ternyata, ia memang tidak cocok hidup dengan banyak cinta dan kasih di sekitarnya. Hal-hal itu selalu menciptakan drama yang menyedihkan dan memusingkan. Tiba-tiba saja, Loqestilla lebih suka bekerja dengan orang-orang liar yang tidak tahu aturan. Sebab, dengan begitu ia tidak perlu mengikuti moral dan memikirkan banyak hal. . TBC 20 Juni 2020 by Pepperrujak
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD