Kerusakan 22
.
Pada malam setelah pengumuman pertunangan yang tidak diduga, Neuri segera mengajak Loqestilla berbincang empat mata di ruang kerjanya. Tumben sekali karena malam ini ia tidak duduk di kursi kebesarannya, melainkan memilih sofa di dekat perapian untuk menyambut tamunya.
Seraya menunggu kedatangan Loqestilla, Neuri menyesap tehnya dengan pelan dan khidmat. Ia sedari tadi hanya menatap api yang berkobar dan menari-nari, membuat matanya terasa berat karena terlalu hangat.
Setelah meletakkan cangkir teh ke meja kayu di depannya, ia menghela napas dalam dan panjang. Bahunya juga turun dengan lelah, seolah-olah seekor gajah puluhan ton bergelayutan di kedua pundaknya.
Neuri tidak tahu apakah rencananya tadi pagi adalah sebuah langkah yang salah atau tidak. Ia terlalu impulsif sampai tidak memikirkan hal-hal lain yang mungkin terlalu merepotkan di masa depan. Itulah mengapa ia harus berbicara dengan Miss Loqestilla. Ia tidak bisa seenaknya memutuskan semua hal sendiri, meskipun sebenarnya Neuri pun tahu bahwa Loqestilla pasti akan menuruti semua keinginannya. Entah mengapa, rubah satu itu begitu mengabdi padanya.
“Lord Neuri.”
Seseorang sudah berada di ambang pintu, berdiri dengan ketenangan yang selalu membuat orang lain merinding.
Neuri melirik sekilas, lalu memberi perintah, “Silakan masuk, Miss Loqestilla.”
Loqestilla melangkah ke dalam ruangan, lalu menutup pintu dengan pelan dan beradab. Setelahnya, ia duduk di sofa yang berada di depan Neuri tepat atas perintah tuan rumah.
“Miss Loqestilla pasti sudah paham tentang sesuatu yang ingin aku bicarakan.” Neuri mengawali pembicaraan. Ia menuang teh dalam teko ke cangkir kosong yang masih bersih, lalu menghidangkannya ke depan Loqestilla.
“Iya, Milord.” Loqestilla menjawab cepat, matanya melirik penasaran pada tingkah laku Neuri yang di luar kebiasaan. Sebab, biasanya majikannya tidak pernah melakukan pekerjaan-pekerjaan pelayan, bahkan untuk sekadar menuangkan teh pada tamu. Namun, sekarang Neuri bersedia menyajikan teh untuknya. Apa Lord Lunadhia itu tidak apa-apa?
“Aku benar-benar terlalu gegabah saat itu. Maafkan aku,” ucap Neuri lagi. Matanya lurus menatap iris Loqestilla yang semerah rubi.
“Saya mengerti. Saya juga berterima kasih karena Lord Neuri mau berbuat sejauh itu untuk saya,” balas Loqestilla. Senyumnya tampak lembut dan menenangkan hati.
Entah mengapa, mendapat tanggapan yang santai dan tenang, perasaan Neuri pun ikut lebih tenang. Ia merasa beruntung karena Loqestilla bukan pribadi yang mudah menyalahkan serta menghakimi orang lain. Setidaknya, perasaan bersalah Neuri bisa ditekan sedemikian rupa.
“Namun, karena aku mengatakan bahwa kita akan menikah dalam waktu dekat, tampaknya kita harus mengurus hal itu di masa depan.” Neuri tampak mendebas penat.
“Apa Lord Neuri akan menikahi saya?” tanya Loqestilla pensaran. Matanya menatap lurus dan dipenuhi rasa ingin tahu.
Hal itu membuat Neuri mau tidak mau harus menjawab dengan benar dan jujur. “Aku tidak tahu. Sejujurnya, seperti yang pernah kukatakan pada Anda, aku masih belum ingin menikah.”
Loqestilla mengangguk-angguk. “Saya juga demikian. Saya tidak pernah memikirkan rencana seperti itu. Kepala saya pening.”
Neuri tersenyum kecil. “Hanya saja, karena status kita di masyarakat sudah seperti itu, ada baiknya kita lebih menempatkan diri ketika bertindak.”
Kepala Loqestilla meneleng ke kanan. “Misalnya?”
“Anda tahu bagaimana sepasang kekasih berperilaku, kan?”
Kali ini Loqestilla mengangguk-angguk. “Ya, saya sering mengamati sepasang kekasih yang sedang kasmaran di jalanan. Mereka bergandengan tangan, saling memberi perhatian, dan bahkan tidak segan berciuman di depan umum.”
Neuri menghela napas maklum. “Bagian terakhir sedikit berlebihan, kita tidak perlu melakukannya.”
Loqestilla mengangguk-angguk lagi. “Tapi, itu berarti kita harus berpura-pura ketika di depan orang lain? Apa maksud Lord Neuri seperti itu?”
“Jika Miss Loqestilla tidak keberatan, ya, kita bisa berpura-pura.”
Namun, Loqestilla tidak langsung menanggapi. Ia malah memperhatikan Neuri lebih intens dari sebelumnya. Bahkan matanya memincing seolah memikirkan hal-hal rumit yang tidak ia pahami. “Tapi, bukankah Lord Neuri dan saya sudah sering melakukan hal seperti itu? Saya sering menggandeng lengan Anda, dan Anda juga sangat perhatian pada tingkah laku saya. Sejujurnya, saya juga selalu memberi perhatian pada Anda, ‘kan?”
Sekarang, Neuri yang kebingungan harus menanggapi apa. Memang benar jika kedekatannya dengan Loqestill--dari luar--terlihat sangat intens. Tidak heran jika orang-orang desa sering menjodoh-jodohkan mereka. Padahal, ia dan rubah satu itu hanya bersikap sopan dan saling menghargai.
Apa yang salah dengan menggandeng lengan? Bukankah seorang gentleman memang harus memberikan lengannya untuk menghormati wanita yang diajaknya berbicara?
Lalu, apa ada yang salah juga dari caranya memberi perhatian pada Loqestilla? Tamunya yang kekanakan itu sering bertindak aneh dan kadang agak ceroboh, sehingga mau tidak mau Neuri harus memperhatikan tindak tanduk Loqestilla setiap saat. Ia juga merasa bertanggung jawab karena Loqestilla berada di bawah naungannya.
Namun, orang lain melihatnya berbeda, seolah Neuri memang pilih kasih dan memberi perhatian terlalu berlebihan pada Loqestilla. Yah, setidaknya hal itu cukup menguntungkan untuk saat ini.
Setelah mendebas kecil, Neuri pun akhirnya berkata, “Kalau begitu, mari bersikap seperti biasanya saja.”
Mata Loqestilla membulat senang, ia mengangguk-angguk cepat dan seolah lepas dari beban berat. “Ya, tentu saja.”
Neuri kembali menyesap teh di atas meja. Setelah perasaannya sedikit lebih kalem, ia memasang wajah serius lagi. “Miss Loqestilla, apa Anda tidak menemukan petunjuk mengenai p*********n yang terjadi pada kita sebelumnya? Aku sudah menyelidikinya, tetapi petunjuk yang tertinggal sangat tipis.”
Di tempatnya, Loqestilla menjadi lebih pendiam. Wajah sumringahnya berubah muram dalam sekejap. Jika ditanya apa ia memiliki petunjuk mengenai orang-orang yang menyerangnya, tentu ia punya. Hanya saja, ketika ia mengungkap petunjuk yang dimilikinya, ia tidak yakin Neuri bisa menerimanya dengan baik. Sebab … sebab petunjuk itu berkaitan dengan tindakan brutal yang pernah dilakukannya sebelum ia sampai di Lunadhia.
Ada dua hal yang berkaitan dengan petunjuk yang dimilikinya; tentang para elf, dan pembunuhan ketua mereka.
Loqestilla pun ikut menyesap teh yang sebelumnya telah disajikan untuknya, menyembunyikan perasaan gugup dan keinginannya untuk meneguk ludah.
“Saya tidak begitu banyak mendapatkan petunjuk, Milord. Hanya saja, sejak Duke of Clemente sering mengunjungi saya, p*********n itu sama sekali tidak pernah terjadi lagi.”
Neuri mengangguk. “Aku juga memikirkan hal yang sama. Entah ada hubungannya dengan Duke of Clemente atau tidak, tapi jika ini memang bukan kebetulan, bisa jadi mereka adalah utusan seseorang yang berhubungan dekat dengan His Grace.”
“Benar. Tapi, karena petunjuk yang didapat sangat sedikit, sulit untuk memutuskan apakah memang ada keterkaitan dengan His Grace atau tidak.”
Neuri menghela napas. “Seingatku, orang terdekat His Grace yang berasal dari ras elf adalah istri paling mudanya, Lady Freya. Hanya saja … aku tidak yakin wanita itu bisa berbuat hal cukup licik. Setahuku, dia memiliki kepribadian yang baik.”
Loqestilla tidak berkomentar sama sekali.
“Aku sering melihat Lady Freya menyumbang ke berbagai panti asuhan, dan sikapnya tergadap orang kalangan bawah pun patut diapresiasi.”
“Sifat di depan dan di belakang, terkadang cukup berbeda, Milord,” sahut Loqestilla.
Neuri mengangkat alis. “Ya, bisa saja itu semua hanya pencitraan. Hanya saja, aku tidak bisa mempercayai bahwa Lady Freya bisa bersikap kejam. Dia salah satu bangsawan yang kuhormati karena memang sifatnya tidak semunafik lainnya.”
“Anda tampak mengenalnya dengan baik.”
Kali ini Neuri menggeleng. “Aku tidak begitu mengenalnya. Aku hanya pernah melihatnya berbuat baik tanpa sepengetahuan orang lain. Saat ke kota, aku kadang menemukannya memberi makan kucing di gang-gang yang kotor.”
“Perempuan yang baik,” sahut Loqestilla lagi.
“Ya. Untuk saat ini, mari percaya bahwa dia perempuan yang baik. Setidaknya hal itu bisa sedikit menenangkan perasaan. Namun, sebaiknya tidak lengah dan terpengaruh oleh emosi pribadi saat menyelidiki sebuah kasus.”
Loqestilla mengangguk dengan khusuk. “Ya, My Lord.”
.
***
.
Malam ini terasa begitu dingin. Dingin sampai rasanya bisa membekukan hati dan tubuh fisiknya.
Ah, mengapa hal seperti ini kembali terjadi pada dirinya?
Sebuah penolakan yang tidak menyenangkan. Penolakan yang terasa menyakitkan dan membakar seluruh jiwanya.
Ini yang ke dua kali, dan rasanya sama sakitnya.
“Your Grace, Your Grace, suamiku. Tolong buka pintunya dan mari bicara. Mengapa kau terus mengurung diri seperti ini? Kau membuatku cemas, suamiku.”
Suara yang lembut dan khawatir menggaung dari luar kamar. Namun, Rowland Rathmore Lubbock sama sekali tidak peduli. Ia tidak ingin diganggu, mengapa istrinya yang cantik dan biasanya bijaksana menjadi terdengar seperti seorang pemaksa menyebalkan.
Rowland pun meneguk kembali anggur merah di dalam botol. Ini sudah botol ke sepuluh, dan dia masih juga belum pingsan. Sungguh menyebalkan.
Ah, mengapa juga dia harus minum wine sebanyak ini dan berusaha untuk mabuk? Padahal di hari biasa, ia sangat menghindari alkohol karena ingin tetap waras dan memiliki tubuh yang bugar.
Sekarang, ia bertindak sejauh ini, hanya gara-gara seorang perempuan.
PRANK!
Sebuah botol dilemparkan ke lantai, dan pecah berkeping-keping. Isinya meluber, menciptakan genangan berwarna pekat dan merah.
Di malam yang hening dan dingin, Rowland meratap-ratap seperti orang tua yang siap menjemput ajal.
Dia selalu bertanya-tanya, mengapa setiap kali dia benar-benar jatuh cinta, nasibnya tidak pernah beruntung sedikit pun.
Cinta pertamanya … cinta pertamanya juga dimiliki orang lain. Kini, ketika ia jatuh cinta lagi, seseorang juga mengambilnya lebih dulu. Sampai kapan kemalangan seperti ini menimpa dirinya?
Ia punya tiga istri dan puluhan gundik, tapi cintanya pada mereka hanya secuil biskuit. Kecil, kecil sekali sehingga ia membutuhkan banyak wanita di sisinya untuk mengisi bagian-bagian yang kosong dan berlubang.
Loqestilla Vent, mengisi hampir seluruh hatinya. Tapi, tapi, wanita itu tidak bisa berada di sisinya. Apa yang harus ia lakukan? Apa yang harus dia … lakukan?
“Apa yang harus kulakukan?”
Rowland bangun dari tempat tidurnya, berjalan sempoyongan ke depan perapian yang menyala-nyala dan menghangatkan kamarnya.
“Tentu saja menghancurkan semuanya.” Kalimat tersebut terucap dari bibir yang tersungging miring, tapi matanya kosong dan menghitam, seolah dirasuki setan.
Entah apa yang sedang dipikirkan Rowland Lubbock malam itu, tapi ia berhasil keluar dari kamarnya dan menyambut istrinya dengan wajah ceria seolah tidak pernah berduka.
.
TBC
21 Juni 2020 by Pepperrujak