Benny tak henti-hentinya tersenyum sepanjang perjalanan. Sebentar-sebentar diamatinya Sharyn yang tengah duduk di sampingnya sambil menatap kaca jendela. Raut wajahnya tampak murung sekali. Matanya juga masih bengkak. Tapi keberadaan Sharyn di sampingnya, membuat Benny sangat bahagia. Ah, sudah lama sekali dia tidak berduaan saja dengan little girl-nya ini. Semua gara-gara si dokter tembok sialan satu itu. Setiap malam Benny tak henti berdoa agar dokter itu segera botak dan menua karena terlalu banyak mengurus pasien. Jadi, jika dokter itu musnah, dia bisa memiliki little girl-nya kembali seperti dulu. “Ryn, kayaknya kamu butuh hiburan, deh. Kita nonton film, yah. Hari ini ada Conjuring Season 2, loh.” “Aku nggak tertarik.” Sharyn menjawab tanpa menoleh sedikit pun. “Ayolah. Kita dulu

