Sepanjang perjalanan menuju Ragunan, Ello merasa nyaris gila dan sempat berpikir memarkirkan mobil di salah satu rumah sakit jiwa saja. Tapi hal itu urung dilakukannya karena setiap kali dia mengerang dan menjerit frustasi, Sharyn akan segera melemparinya tatapan yang mengerikan dan tajam. Lalu akhirnya Ello mengalah dan kembali menyetir. Tak berapa lama setelahnya pasti dia akan menjerit lagi karena si nakal Eza melemparinya dengan biskuit. Ditambah Finza yang tertawa-tawa senang sambil terus bernyanyi.
“Omel... comel... omel... comel... omel... comel...” Finza bertepuk tangan heboh bersama Sharyn.
Sharyn tertawa bahagia sambil menarik-narik kemeja yang dipakai Ello. “Ya ampun, Mas. Lihatin, deh. Incha lucu banget, ya. Pas udah pisah sama Mas Erro aja dia terus manggil-manggil Mas El, lho.”
Ello melirik malas. “Maksud kamu?”
“Tadi kan Mas Erro bilang kalau Incha nggak bisa pisah lama-lama sama mereka. Kan tadi ceritanya Mas Erro-nya udah jadi Mas El. Terus Mas El-nya sekarang malah yang jadi Mas Erro. Tapi buktinya Incha malah manggil-manggil Mas El. Artinya Incha sayang banget sama Mas El.”
Ello memasang raut wajah datar. Ditatapnya Finza yang tertawa bahagia di kursi mini jok belakang.
“Papap melomel comel omel...” teriak Finza sambil menggerakkan tangannya bahagia.
“Bubububu...” kali ini Eza yang membuat suara. Bayi itu tampak memainkan bibirnya dengan tangan dan menggetarkannya. Menimbulkan suara aneh yang terus bersahutan di dalam mobil.
Ello menghembuskan nafas lelah. Sepertinya hari ini akan terasa sangat panjang ditambah dua alien itu. Oh, Ello tidak bisa membayangkan kenakalan apalagi yang akan ditimbulkan si kembar kesayangan saudaranya itu.
Sampai akhirnya audi putih Ello menepi di parkiran luas Kebun Binatang Ragunan. Suasana ramai dan penuh sesak pengunjung langsung menyapa mereka. Ello menyipitkan mata melihat keramaian yang ada. Mendadak perasaan malas menyerangnya secara akut. Jujur saja, Ello paling benci dengan keramaian dan lautan manusia yang seperti antri sembako itu.
“Mas El, ayo turun! Jangan bengong kayak orang gila, deh!” Lagi-lagi Sharyn mengucapkannya dengan nada jutek yang menyebalkan.
Ello menyerah dan akhirnya berlari turun membuka pintu. Dalam hati mendumel betapa rempongnya Erro setiap hari membawa dua bayi yang sangat berisik.
“Mas, turunin keretanya yang cepet, dong!”
Ello semakin kesal mendapat perkataan ketus dari Sharyn. Tak tanggung-tanggung, diturunkannya kereta dorong si kembar bersamaan dengan dua bayi itu dengan sekali junjung. Sharyn langsung memekik saking kagetnya. Bahkan Finza hampir menangis ketakutan dengan sikap Ello.
“Ya ampun, Mas El jahat banget, sih! Tega-teganya Mas El memperlakukan keponakan Mas El dengan kasar gini! Mas El bener-bener jahat! Kalau Mas Erro tahu, dia pasti kecewa sama Mas!” Sharyn merebut Finza dari tangan Ello.
Ello mengacak rambut frustasi. “Ini semua gara-gara kamu yang berisiknya nggak ketulungan ngalahin si kembar! Bikin aku nggak konsen nyetir di jalan!”
“Kalau Mas El emang nggak ikhlas ngajak aku sama si kembar jalan-jalan, ya udah! Mas El pulang aja sana! Aku bisa jalan-jalan sendiri! Lagipula ada Jaja sama Incha yang nemenin aku! Kita nggak butuh Mas El!”
Astaga. Ello menganga kaget. Merasa semakin frustasi dengan tingkah Sharyn yang ternyata jauh lebih menyebalkan ketimbang Nasha. Bahkan sekarang istri kekanakannya itu sudah berjalan menjauhinya sambil mendorong kereta bayi sendirian. Mau tak mau Ello berlari mengikutinya.
Suara tangisan Finza menjadi hal yang pertama kali didengar Ello ketika berhasil menyusul Sharyn. Sekarang istrinya itu tampak kebingungan menenangkan Finza yang seluruh mukanya sudah memerah. Begitu pula dengan pipi gembilnya yang basah oleh air mata.
“Mamamamama...” Bola mata Finza berputar mencari sosok Echa. Tangisannya menderas dan hidungnya ikutan memerah. Dua tangannya memukul-mukul kereta.
“Aduuuh mampus!” Sharyn menjerit. Tiba-tiba sudah melupakan amarahnya yang meluap-luap pada Ello. Sekarang dia sudah berteriak kebingungan dan panik. “Mas, gimana ini? Incha nangis terus nggak mau berhenti.”
“Mana aku tahu.” Ello menjawab sama paniknya. Matanya bergerak pelan menengok Finza yang masih terus menangis. Tiba-tiba perasaan kasihan mendera Ello. Pasti Finza ini kangen dengan orang tuanya. Erro bilang sendiri kalau Finza memang tidak bisa jauh terlalu lama dengan orang tuanya. Dan sekarang Finza pasti mencari Echa atau Erro.
“Incha sayang, yuk nonton gajah sama Tante. Tadi katanya Incha mau ketemu gajah, kan? Ayo nonton, yuk! Tapi jangan nangis, ya.”
Tapi, Finza tak berhenti menangis. Justru tangisannya makin kencang. Membuat Sharyn semakin kebingungan dan mulai mengeluarkan bujuk rayuan yang lain.
“Ihhh, Incha jangan nangis... Tante nggak tahu harus gimana, Cha.” Sharyn berucap dengan nada memelas semakin membuat Ello tak tega.
“Papapapap...” jeritan Finza semakin terdengar.
Sharyn semakin frustasi. Pandangan matanya jatuh pada Ello. Seketika sebuah ide cemerlang melintas di otaknya. “Mas El pasti bisa bikin Incha anteng. Coba deh, Mas.”
Ello mengernyit. “Maksud kamu?”
Sharyn tak menjawab. Sekarang dia asyik menggendong Finza dan mengarahkannya pada Ello. Membuat Ello menjerit panik karena tiba-tiba Sharyn menyerahkan Finza padanya.
“Nah, sekarang Incha sama Papa, ya.” Sharyn berseru riang. “Jangan nangis lagi kalau udah sama Papa.”
Ello tampak kikuk ketika menggendong Finza yang begitu mungil dalam dekapannya. Suara tangis bayi itu masih terdengar bersahutan. Mau tak mau Ello menepuk-nepuk punggung kecilnya dengan lembut. Sampai ketika Finza mendongak dan menemukan wajahnya, seulas senyum terbit dari wajah mungil itu.
“Papapapa...” jeritan Finza semakin terdengar. Tangan mungilnya bergerak menarik-narik kemeja Ello dan berusaha membenamkan wajahnya di sana.
Sharyn menjerit histeris. Bahagia sekaligus tak percaya. Akhirnya Finza menghentikan tangisannya. Dan sekarang keponakannya sudah tenang sambil menyembunyikan wajahnya di d**a Ello. Seperti koala kecil mencari kehangatan.
“Ya ampun, gemesss. Lucu banget, sih, Incha. Mas El keren banget, deh. Kayaknya Mas El juga bakat jadi papa idaman,” puji Sharyn riang.
Hal itu membuat Ello memalingkan wajah seketika dari Sharyn. Rona merah langsung menjalar di pipinya. Pujian seperti papa idaman membuatnya menjadi malu. Karena sungguh dia tidak pernah membayangkan dirinya menjadi seorang papa—Oh, kecuali seorang dokter yang sejak dulu diimpikannya tentu saja.
“Udah, nggak usah banyak ngomong. Let’s walking. Time is money. Don’t spent your time like a trash.” Ello berjalan cepat mendahului Sharyn.
Sharyn tertawa kecil di tempatnya. Diliriknya Eza yang masih diam di kereta dorong sambil memakan biskuit tini winni bity kesukaannya. Lalu Sharyn mengambil inisiatif agar menggendong Eza saja dan menitipkan kereta dorong di tempat penitipan barang. Setelahnya barulah dia menyusul Ello yang sejak tadi menggendong Finza yang bergelung hangat di pelukannya.
“Mas El, tunggu aku!” teriak Sharyn dari kejauhan.
Ello menoleh. Alisnya terangkat samar melihat Sharyn yang datang dengan tergopoh-gopoh sambil menggendong Eza.
“Mana keretanya?”
“Tadi aku titipin di penitipan, Mas. Kasihan Jaja juga pengen digendong,” jawab Sharyn riang. “Mas, kalau lagi gini kita kayak keluarga bahagia, ya. Jalan-jalan bareng sambil gendong dua bayi kembar yang gemesin.”
Ello tak menjawab dan malah memalingkan muka. Tapi diam-diam, senyuman miringnya terlukis begitu saja. Entah ada perasaan apa, tapi tiba-tiba hatinya menghangat. Sekarang Ello tahu mengapa Rio yang dulu sama dinginnya dengan dia kini berubah menjadi pribadi lain. Apakah suasana hangat seperti ini yang merubahnya? Atau karena—Cinta?
Rio pernah bercerita padanya kalau pertemuan pertamanya dengan Riska bukanlah sesuatu yang bisa dibilang baik. Mereka bertemu dalam hal yang tidak menyenangkan. Lebih tepatnya dalam hubungan orang lain. Bayangkan saja jika dulu Rio adalah kekasih Echa dan Erro adalah cinta pertama bagi Riska. Jika orang yang tidak tahu, mereka pasti tidak akan percaya dengan fakta yang terselip secara rapat itu.
Dan bila Ello menarik kesimpulan, sebenarnya takdir antara dia dan Sharyn juga seperti itu. Kalau bukan karena Nasha yang berselingkuh dengan Benny—yang notabene mantan pacar Sharyn—mungkin sekarang Ello tidak akan pernah bertemu dengan Sharyn. Begitu juga dengan Riska dan Rio. Kalau bukan karena Riska bersahabat dekat dengan Erro, Rio tidak akan bertemu dengan Riska. Aneh memang. Tapi seperti itulah kenyataannya.
Ello juga sering bertanya pada Rio bagaimana cara menghadapi fakta seperti itu. Rio selalu menanggapinya dengan santai dan tertawa. Katanya, cinta itu sesuatu yang nggak pasti. Sulit ditebak. Bisa tumbuh kapan aja, tanpa sebab, dan tanpa kita sadari. Ello sendiri tahu bagaimana kisah cinta sahabat dan saudara kembarnya dulu. Ello adalah saksi nyata dari kisah cinta segi empat yang sempat pelik itu. Dulu, sih. Dulu. Jaman Erro dan Rio masih kuliah. Sekarang mereka berempat bersahabat sangat dekat.
Entah mengapa, di otak Ello kini terbayang wajah Nasha dan Benny yang terus berputar-putar. Oh, Ello tidak sudi kalau suatu hari nanti harus bersanding dengan para penghianat itu! Ugh, menjijikkan!
“Mas El, kok malah bengong? Kita udah dapat tiketnya, Mas.” Sharyn menjerit jengkel karena Ello tak kunjung bergerak.
Ello terkesiap. Dalam sekejap dia sadar bahwa sekelilingnya sudah penuh sesak orang-orang yang ingin masuk ke dalam. Sharyn merengut di depannya. Sementara beberapa orang mendorongnya agar cepat maju. Buru-buru Ello menundukkan kepala sebagai permintaan maaf dan segera menyusul Sharyn ke dalam area kebun binatang.
“Mas El, tadi kenap—” omelan Sharyn yang siap meluncur seperti rel terhenti karena Eza di gendongannya kini berteriak sambil menuding-nuding pepohonan. “Jaja mau lihat jerapah? He-eh? Jerapahnya nggak di sini. Nanti, ya. Kita jalan dulu lewatin jembatan ini. Baru nanti bisa lihat jerapah.”
“Apah... Apah... Apah...” Eza masih terus menuding pohon-pohon.
“Iya, sabar ya Jaja sayang. Nanti kita lihat jerapah.” Sharyn mendekap Jaja semakin erat. Lalu mendekatkannya pada dinding kaca di dekat jembatan. “Nah, sekarang lihat gorilla dulu, ya. Tuh di bawah ada gorila. Kalau jatuh nanti Jaja bisa dimakan huhahuha...” katanya sambil menirukan suara gorila.
Ello memasang wajah datar pada Sharyn yang dengan seenaknya menakut-nakuti bayi dengan gorilla. Eza memang tidak takut. Dia tertawa bahagia melihat gorila yang berlarian ke sana-ke mari sambil memukul-mukul d**a dan mengaum. Tapi berbanding terbalik dengan Finza yang hampir menangis ketakutan dan semakin mengencangkan pegangan pada Ello. Bisa gawat kalau Finza menangis lagi. Maka Ello bergerak mundur sambil mengelus punggung kecil Finza secara lembut seperti yang dilakukannya tadi.
“Acih... Papap...” Finza berkata sambil menggerakkan tangannya lucu.
Ello tidak pernah merasa segemas ini pada bayi. Sekarang dia tahu kalau keponakannya begitu menggemaskan dan lucu. Bahkan Ello tidak sadar bibirnya sudah maju untuk mencuri satu kecupan di pipi gembil Finza. Dan sialnya, saat Ello mendongak ternyata Sharyn tengah mengamatinya. Ugh, Ello benci tertangkap basah!
Benar saja, sekarang Sharyn berteriak heboh dengan nada menggoda. “Cieee... Mas El habis cium Incha, ya?” pandangan Sharyn beralih pada Finza yang masih menggelendot di d**a Ello. “Uluh... uluh... Incha kecil-kecil udah dapet ciumannya Mas El. Tante aja yang istrinya nggak pernah dicium. Tante jadi iri sama Incha.”
Ello memasang wajah malas. “Berisik! Ayo jalan!”
Sharyn masih terkekeh di belakang Ello. Dengan langkah riang diikutinya Ello dari belakang. Lalu mereka menyusuri satwa primata dan aneka reptilia. Barulah mereka menjelajahi bagian binatang Asia dan Australia. Sampai pada akhirnya beberapa binatang kesukaan Eza dan Finza menampakkan diri, membuat dua bayi kembar dalam gendongan Ello dan Sharyn melonjak bahagia.
“Apaaah... Apaaah... Apaaah...” Eza terus bergerak sambil menunjuk jerapah yang tengah memakan dedaunan pohon. Sharyn semakin kerepotan mengikuti kemauannya.
“Aduh jangan ke sana, Ja. Lihatnya dari sini aja. Nah, iya. Ayo dadah dulu sama apah-nya. Ayo kenalan. Apah sini, nama aku Arnafenza. Namanya apah siapa?” Sharyn mengangkat tangan Eza dan melambaikannya pada sang jerapah yang masih asyik sendiri.
Eza terus berteriak sambil melambaikan tangan. “Apaaah... Apahhh... Cini... Jajah... Cini... Apah...”
Ello berdecak menatap Sharyn dan Eza yang tampak konyol di matanya. “Dasar gila. Jerapah mana bisa diajak bicara.”
Sharyn memajukan bibir. “Apa, sih, Mas El? Mas El mah nggak ngerti gimana cara ngurus anak! Ternyata bener, Mas El emang nggak cocok jadi papa.”
Ello menganga kaget. Ya ampun, dia bahkan tidak sadar saat mengucapkannya. Kenapa mendadak Sharyn marah lagi padanya? Seharian ini perasaan Sharyn marah terus padanya. Setiap yang dilakukan atau dikatakannya pasti salah di mata Sharyn.
Ello berusaha meminta maaf. Tapi Sharyn bersikap tak peduli dan mengacuhkannya. Dia terus asyik meladeni Eza yang meminta boneka jerapah di zoo shop.
“Jaja mau boneka apah, ya? Sini Tante belikan. Dadah dulu sama apah-nya. Dah apah. Kiss bye mana kiss bye. Nah, kiss bye dulu.”
Dengan patuh Eza mengikuti perintah Sharyn. Tangan mungilnya terangkat ke depan dan melambai-lambai. Finza yang melihat langsung mengikuti gerakan kakak kembarnya. Lalu keduanya mengirim kiss bye pada sang jerapah yang menjauh menuju pohon lain.
“Ajaahh... Ajah... Unghh... Unggh...” Finza tak mau kalah saat melihat sang gajah berjalan-jalan membawa penumpang. Sekarang telunjuk Finza terangkat sambil menuding tumpangan gajah. Sebentar-sebentar dia menarik ujung kemeja Ello.
“Kenapa, Cha?” Ello berdecak malas mengerti maksud perkataan Finza. Sepertinya dia ingin naik gajah. Ugh, sorry-sorry saja, Ello paling anti berbau-bau ria. Apalagi sampai menumpangi tubuh gajah yang kotor dan bau itu. Membayangkan saja membuatnya mual.
“Ajaahh... Ajahhh...”
“Nggak boleh! Om nggak suka naik gajah. Nanti Incha kotor terus bau. Incha nggak mau, kan?” Ello menatap Finza yang tampak berpikir keras mencerna perkataan Ello. Mau tak mau Ello menghela nafas panjang. Tadi dia mengatai Sharyn gila karena mengajak Eza bicara. Sekarang dia sendiri ikutan gila gara-gara bicara dengan Finza yang hanya menjawabnya dengan mengerjap-ngerjapkan mata polos.
“Ajahh... Ajahh...”
Ello menghembuskan nafas panjang. “Iya deh, kita cari boneka gajah aja buat Incha.”
Seperti paham Finza bertepuk tangan heboh. Membuat Ello tersenyum miring karena bangga berhasil menenangkan si cantik Finza. Kemudian Ello menyusul Sharyn yang sudah masuk ke dalam shop dan memilih-milih aneka boneka di dalam etalase kaca. Eza langsung menunjuk satu boneka jerapah yang cukup besar.
“Ah, Jaja mau beli boneka yang lebih gede dari Jaja? Nonono!” Sharyn menggerakkan telunjuk tanda tidak setuju. Secepat kilat dia meraih boneka mini yang pas di tangan Eza. Lalu disurungkannya boneka mini itu pada Eza. “Kalau yang ini cocok buat Jaja. Okey? Suka, kan?”
Eza tak menjawab. Bayi itu sudah asyik memainkan boneka barunya dengan raut serius. Sharyn tersenyum bahagia sambil mengecup puncak kepala Eza. Sekarang matanya tertuju pada Finza yang berada di gendongan Ello. Wajahnya cemberut karena tidak mendapat boneka. Kepalanya celingukan mencari keberadaan boneka mambo bumbo si gajah.
“Ambilin satu buat Incha, Mas.” Sharyn memberi titah.
Ello menggaruk kepala bingung. Seumur hidupnya dia tidak pernah pergi ke tempat seperti ini. Apalagi berdiri di tengah ratusan boneka binatang yang menggelikan dan keseluruhannya berbentuk sok menggemaskan. Ugh, Ello benar-benar tidak suka dengan boneka!
Sharyn semakin jengkel sewaktu Ello tidak segera memutuskan boneka mana yang akan dibelikan untuk Finza. Sejak tadi dia hanya memasang wajah tidak suka saat menatap boneka di sekelilingnya. Lalu ketika Sharyn sudah memasang wajah menyeramkan, Ello buru-buru menyambar salah satu boneka gajah berwarna pink yang biasa disebut Bona.
Finza menjerit senang dan mendekap bonekanya kuat-kuat sambil tertawa riang. Ello berdecak tak percaya. Sharyn lagi-lagi memasang wajah menggoda.
“Apa aku bilang, Mas? Incha suka banget sama Mas El. Buktinya Incha suka banget tuh, boneka yang dipilihin Mas El.”
Setelah berputar-putar di seluruh area kebun binatang, akhirnya mereka duduk di salah satu bangku panjang di taman. Sharyn mengeluh karena seluruh badannya pegal-pegal. Belum lagi tangannya yang mulai kram karena nyaris seharian menggendong Eza. Ditambah betisnya yang mulai mati rasa.
“Mas El, capek.” Sharyn memulai sesi kanak-kanaknya.
Ello menghembuskan nafas pasrah. “Mau pulang sekarang?”
Tanpa aba-aba Sharyn bangkit dan mengangguk riang. “Yuk pulang, Mas. Tapi—makan dulu, ya?
Ello mendesah jengkel. “Makan di Champ kan bisa. Sama aja.”
Sharyn memanyunkan bibir. Senyumannya surut terganti dengan wajah cemberut. “Jadi, kita langsung ke Champ?”
“Memang mau makan ke mana?”
Sharyn memajukan bibir. “Mas El emang nggak pernah peka!” teriaknya sambil berjalan dengan angkuh meninggalkan Ello dan Finza di gendongannya.
Ello hanya bisa bengong di tempatnya.
***