Pagi-pagi sekali Ello mendapat amukan dari Erro. Tidak perlu diragukan lagi siapa dalang dibalik semua ini. Sudah jelas Sharyn sendiri yang membuat ulah. Setelah Ello menginterogasinya, akhirnya Sharyn mengaku juga. Rupanya subuh-subuh tadi Sharyn langsung menelpon Echa tentang ajakan Ello untuk menghabiskan bulan madu di museum. Lalu sudah jelas Echa akan melapor ke Erro. Dan tentu Erro akan mengamuk karena merasa dipermainkan Ello.
Dan sekarang saudara kembarnya itu pagi-pagi sudah datang di muka rumahnya. Tentunya bersama istri dan dua anak kembarnya yang tidak kalah berisik. Belum apa-apa saja Eza sudah melempar beberapa buku kedokteran milik Ello yang tersusun rapi di meja. Bahkan Finza mulai memainkan stetoskopnya sambil berbicara sendiri—yang entah Ello tidak tahu bahasa planet dari mana yang dia gunakan.
“Ro, please, itu buku gue mau dimakan Jaja.” Ello menggeram frustasi dan mulai bergerak meraih buku yang digigiti Eza. Lalu setelahnya Eza sudah menangis dan Echa menepuk-nepuk punggungnya memberi ketenangan.
Erro masih terus menatap Ello dengan muka marah. “Jadi, lo mau bulan madu ke museum?”
Ello tak menjawab. Sharyn langsung mengambil-alih dengan mengangguk-angguk sambil memasang wajah tersiksa. “Iya, Mas Erro. Tega banget Mas El ngajak aku ke mueseum. Kata Mas El, biar aku lebih pinter.” Sharyn mengakhiri ceritanya dengan muka cemberut.
Ello pura-pura tak mendengar. Dia sibuk membersihkan buku kedokterannya yang terkena air liur Eza dengan setumpuk tisu. “Lo tahu berapa harga buku ini? Dua juta! Dan Jaja udah bikin buku gue kelihatan menjijikkan. Gue nggak mau baca buku yang udah basah-basah kertasnya. Lo harus beliin buku kayak gini yang sama persis dan gue nggak mau Jaja sentuh-sentuh barang gue lagi.”
Erro bersiul-siul tak peduli. Dia hanya tertawa sambil meraih Finza yang masih asyik berbicara dengan bahasa alien. Pipinya yang penuh tampak kemerahan. Dan bibirnya komat-kamit dengan lucu. Sementara tangan mungilnya memain-mainkan stetoskop milik Ello.
“Omel... comel... omel...” Finza menunjuk-nunjuk Ello. Bayi itu tertawa senang melihat muka seram Ello yang melotot ke arahnya. Membuat Finza berteriak semakin riang. “Omel! Om comel! Omel comel!”
“Bukan Omel sayang. Om El. Omelnya dipisah, ya. Om-El.” Echa membenarkan Finza yang hanya menggeleng tak mengerti.
Ello malas meladeni bayi-bayi Erro yang berisik. Sangat malas. Apalagi kalau mereka sudah berteriak-teriak memanggilnya dengan sebutan omel comel. Sorry saja, namanya bukan omel maupun comel.
Arviello isn’t Omel or Comel. But he is Ello. El. Please, don’t call him as omel comel.
Rasanya Ello ingin meneriakkan itu ke muka bayi kembar Erro yang dengan kurang ajarnya selalu memanggil dia dengan sebutan omel dan comel. Ugh, lama-lama jijik juga mendengar nama bagusnya diganti-ganti begitu.
“Ro, si Incha bisa nggak sih kalau ngomong yang bener dikit?”
Erro memicing tajam. “Eh, Incha masih enem bulan, ya. Maklum lah kalau dia ngomongnya kayak gitu. Nanti kalau udah gede dia pasti bisa manggil lo dengan bener, kok.”
Sharyn mendekap Finza yang daritadi terus dipelototin Ello. “Mas El, jangan kayak gitu. Incha takut, Mas.”
Ello menggeram frustasi. Akhirnya memilih bangkit dan menarik jas putihnya—berusaha merebutnya dari Eza yang menjadikan jas itu alas duduk. Oh, jas putih kebanggaannya!
Tidak! Dia harus menyelamatkan benda itu sebelum Eza membasahinya dengan sesuatu!
“Jas gue!” Ello berteriak panik. Mulai menampilkan raut jijik saat Eza menggigiti jasnya.
Erro tertawa puas. “Well, menurut gue, lo harus belajar mulai dari sekarang.”
Ello mematung di tempatnya berdiri. “Tunggu—Maksud lo apa?”
Tak ada jawaban selain tawa dari Erro dan Echa. Saat itulah Ello baru sadar saudara kembarnya tadi membawa barang-barang yang super banyak dan entahlah. Ello tak tahu itu buat apa.
“Karena lo nggak suka sama paket Lombok pemberian gue, tenang aja. Gue masih punya yang lain.” Erro merogoh-rogoh sakunya dan tersenyum lebar begitu menemukan tiket yang dipesannya tadi. “Taraaa...”
“Tiket Ragunan!” Sharyn berseru riang. Lalu menarik-narik kemeja yang digunakan Ello. “Mas El, ayo ke sana! Udah lama nggak ke sana. Terakhir waktu kelas 6 SD. Aku kangen Ragunan. Ayo Mas El, temenin aku!”
Ello tersenyum miring. Lalu menoleh pada Echa dan Erro. “Oh, mending kalian aja sama anak kembar kalian. Sama gue nitip Sharyn, ya. Have fun kalian berlima, gue banyak kerjaan,” jawabnya malas.
Erro balas tertawa. “Sayangnya bukan gue yang mau ke sana. Tapi lo sama Sharyn. Dan gue yang mau nitip. Gue nitip si kembar sama kalian.”
Sebelum Erro selesai menjelaskan, Ello sudah menganga shock. What? Gila. Dia dan si kembar Erro yang nakal-nakal itu. Ugh, Ello tak bisa membayangkannya. Menghabiskan waktu bersama Eza yang menggigiti jasnya dan Finza yang terus berteriak memanggil-manggilnya dengan sebutan comel. Oh, atau bahkan mendengar suara mereka yang seperti alien. Pasti Ello akan gila sepanjang perjalanan. Mengurus Sharyn saja sudah merepotkan, apalagi kalau ditambah si kembar Jaja dan Incha yang tidak kalah berisik dan troublemaker.
“El, aku udah siapin semuanya di tas. Ada popok, s**u, baju ganti, dot, pokoknya semua ada di dalam tas. Kamu tinggal ajak mereka jalan-jalan aja.” Echa tampak mengecek barang bawaannya. Sharyn mengekorinya dengan senang hati.
Oh, tidak! Ello harus kabur secepatnya—
Dan sebelum Ello berhasil kabur, Erro sudah menyeretnya menuju kamar terdekat dan mengunci pintunya.
***
Dari sekian banyak hal di dunia ini, satu hal yang paling tidak dimengerti Ello yaitu jalan pikiran kembarannya. Bukannya mau menghina atau apa. Hanya saja, Ello tidak pernah tahu apa isi otak Erro selain Echa dan Echa. Dan untuk kali ini, Ello angkat tangan. Semakin tak mengerti sewaktu kembarannya menyurungkan paper bag padanya.
Ello mengernyit waktu membuka isi di dalam paper bag. Satu potong jeans panjang, kemeja kotak-kotak donker, kaos oblong hitam, jam tangan hitam, dan topi jeans donker. Ello menatap barang-barang itu dengan kernyitan di dahinya yang lebar. Ugh, bukannya dia tidak suka. Hanya saja barang-barang itu terlalu asing. Rasanya sudah lama tidak memakainya. Terakhir mungkin waktu masih kuliah dulu. Dan sekarang itu sangat jauh dari Arviello—yang kesehariannya bekerja dengan kemeja bergaris berwarna terang dan bawahan celana panjang hitam kasual. Dibalut dengan jas putih kebanggaan barlabel Dr.
“Buat apaan?” Ello menatap saudara kembarnya datar.
Erro berdecak. “Buat lo pergi sama Sharyn ke Ragunan.”
“Lo gila, ya. Gue ada check up keliling pagi ini. Kerjaan gue nggak bisa ditinggalin gitu aja. Apalagi cuma demi acara bikinan lo yang nggak jelas. Kalau lo emang mau ngajak si kembar ke kebun binatang, ya udah bawa aja. Jangan seret-seret gue.”
“Bawel banget, sih. Udah, ikutin aja kemauan gue,” Erro membuka lemari di sampingnya dan melotot. Di dalam lemari itu hanya terdapat setumpuk kemeja garis dan beberapa yang warnanya polos terang. Lalu sisanya hanya celana panjang hitam katun, denim, dan kasual. Bahkan kaos-kaos oblong milik Ello bisa dihitung dengan tangan. Apalagi jeans-nya hanya tiga saja.
Astaga. Mungkin Ello tidak pernah bahagia sebelumnya. Atau dia melewati masa remaja dengan menjadi kutu buku yang tidak gaul. Ugh, seingatnya dulu Ello tidak separah ini. Waktu SMA sampai awal masuk kuliah, Erro masih sering melihat Ello memakai jeans dan kaos. Tapi lagaknya setelah dia kembali dari London, gaya pakaian kembarannya semakin purba saja. Ya, kuno dan jadul. Beberapa hari setelah kepulangannya sebagai Master dari universitas terkenal London, dia nyaris shock dan asing melihat Ello yang menemuinya dengan pakaian rapi ala-ala dokter botak—yang rambutnya habis gara-gara sering berpikir dan belajar.
“El, waktu gue balik dari London, sebenernya gue kayak nggak ngenalin lo tahu nggak.”
Ello menatap Erro malas. “Semua dokter emang dituntut rapi dan berpakaian kayak gitu, Ro. Gue bukan kameramen yang bisa pake jeans kayak lo.”
Erro menggeram frustasi. Sama sekali tak bermaksud mengejek Ello. Dia hanya—Ah, sudahlah. Erro tidak peduli. Sekarang dia hanya bertugas menyelesaikan misinya. Maka dengan cepat dilepasnya kaos di tubuhnya dan dirampasnya satu kemeja garis warna biru muda dari lemari Ello. Tak hanya itu, dia juga menukar jeans-nya dan mengganti dengan celana denim milik Ello. Beberapa detik kemudian dia sudah berubah menjadi ‘Arviello’ dua.
Ello menganga saking kagetnya. Semakin tak mengerti sewaktu Erro menyisiri rambutnya dengan rapi dan menambahkan kacamata fantasi yang sama persis dengan milik Ello ke matanya.
“Ro, mau ngapain lo?” Ello memekik tak terima.
“Gue mau gantiin lo di rumah sakit. Jadi, nama gue sekarang dokter Arviello. Hari ini gue yang bertugas sebagai dokter penyakit dalam di Jakarta Medical.” Erro terkekeh melihat Ello yang mematung. “Ya ampun, santai El. Lo tenang aja, gue bakal minta bantuan Rio nanti. Gue nggak bakal bikin pasien lo keracunan. Suer.”
Kalau ada lautan yang luas dan jurang yang dalam, Ello ingin menjeburkan diri sedalam-dalamnya ke sana. Bahkan kalau perlu dia ingin mengubur dirinya sendiri hidup-hidup. Lalu merubah dirinya menjadi batu es yang beku dan tak bisa hancur di kutub selatan sana.
Ya, karena sekarang dia membatu seperti orang gila. Bahkan tak sadar sewaktu Erro sudah dengan kurang ajarnya memakaikan kaos oblong dan kemeja kotak-kotak gelap yang sudah menjadi blacklist di hidup Arviello.
“El, lo mau gue pakein jeans-nya atau pake sendiri?”
Seperti robot, Ello melenggang menuju kamar mandi dan mengganti sendiri celananya. Dan ketika dia keluar, Erro tersenyum bangga. Akhirnya Arviello sudah berubah menjadi Arnaferro. Tinggal sentuhan sedikit saja nama Arviello resmi terhapus. Baru kali ini Erro bangga memiliki adik yang sangat penurut seperti Ello.
“Sini duduk!” Erro menarik paksa Ello agar duduk di tepi ranjang. “Gue kasih tahu ya, Arnaferro nggak pake kacamata. Rambutnya Arnaferro juga nggak serapih ini. Sini gue kasih rahasianya.”
Dan Ello masih tak bergerak sewaktu Erro dengan paksa menarik kacamatanya, lalu menempelkan softlens ke matanya. Awalnya, Ello merasa matanya perih dan berat. Tapi lama-kelamaan dia terbiasa. Sampai akhirnya bayangan di cermin terbentuk dengan jelas dan dia melotot. Sungguh yang di depannya ini bukan Arviello. Tapi Arnaferro. Lalu yang di sebelahnya bukan Arnaferro. Dan malah Arviello.
“Maksud lo apaan sih, Ro? Lo mau gue dipecat gara-gara lo ngaku sebagai Arviello?”
“Apaan, sih? Nggak usah berlebihan gitu, deh. Gue cuma kasihan aja sama lo. Nikah tapi nggak ngerasain bulan madu. Makanya mumpung gue lagi nggak ada job, gue berbaik hati cover-in lo. Yah, meskipun cuma main ke Ragunan sama jagain si kembar, kan lumayan lo bisa refreshing sama istri lo.” Erro menepuk pundak Ello. “Gue begini karena gue perhatian sama lo, El. Gue nggak mau lo kerja terus-terusan. Lo kan juga manusia biasa. Lo butuh istirahat, butuh seneng-seneng, butuh berumah tangga.”
Ello menggeram. “Tapi gue nggak perlu dandan kayak lo, kan? Meskipun muka kita sama, gue teteplah gue. Gue nggak bisa jadi kayak lo! Dan lo nggak bisa jadi kayak gue! Gue sama lo beda, Ro! Jangan mengada-ada, deh. Gue bakal pergi, tapi nggak perlu jadi Arnaferro.”
“Maksud gue nggak gitu, El. Lo jangan salah paham gini, deh. Jangan bikin gue emosi.”
“Sejak awal lo yang selalu bikin gue emosi tahu nggak, Ro?!”
Erro menghembuskan nafas panjang. “Oke, gue jelasin dari awal. Jadi gini, Echa ada janji nemenin Riska beli kereta dorong buat Mauren. Dan kebetulan kemarin gue abis beliin satu set mainan kebun binatang gitu buat si kembar. Jaja lagi suka banget sama jerapah, setiap hari dia nunjuk gambar-gambar jerapah gitu di buku dongeng. Terus Incha juga lagi suka sama gajah. Kemarin di toko Incha nangis-nangis minta boneka gajah sama gue. Akhirnya gue beliin yang gajah buat Incha. Eh, nggak tahunya di rumah Jaja langsung nangis minta yang jerapah. Makanya gue ambil kesimpulan kalau mereka lagi seneng sama binatang. Apalagi pas gue beliin snack twiny bity, Jaja sama Incha langsung rebutan.”
Ello menguap sebentar. Merasa cerita kembarannya akan sepanjang rel kereta. “Terus?”
Erro menggaruk rambutnya. “Udah selesai. Terus apalagi?”
“Jadi, kesimpulannya gitu doang?” Ello menatap tajam kembarannya. “Terus kenapa gue mesti jadi lo?”
“Oh itu, sorry El, gue lupa jelasin. Jadi gini, Incha nggak bisa betah kalau nggak di samping gue atau Echa. Biasanya dia bakal nangis kalau udah nggak lihat salah satu di antara kita. Jadi tolong banget, El. Lo dandan kayak gue gini ya biar Incha nggak rewel. Sumpah susah banget bikin dia anteng kalau udah nggak lihat mama-papanya. Ntar kalau dia udah mulai mewek pas sama Sharyn, langsung lo rebut aja ya sambil lo tunjukin muka lo dan yakinin ke dia kalau lo itu gue.”
“What?” Ello memicing tajam. Sialan. Masalah apa lagi ini yang bakal dibuat Erro? Ugh, membayangkan dirinya yang menggendong Incha sambil bilang, Cup...cup... sayang, ada Papa di sini, sudah terasa sangat menggelikan. Apa lagi melakukannya pada bayi yang bukan anaknya—meskipun anak kembarannya. Ugh, beda cerita lagi.
Ello menyumpah dalam hati merutuki ide gila saudaranya.
“Please El, gue mohon sama lo. Sekali ini aja cover-in gue biar Incha nggak nangis. Gue janji cover-in lo di Jakarta Medical dengan baik. Sumpah gue nggak bakal macem-macem. Gue bakal minta tolong Rio.”
Ello menghembuskan nafas panjang. “Kalau Jaja? Jaja nggak bakal poop di baju gue, kan?”
“Oh, tenang aja. Jaja nggak rewel, kok. Jaja sama siapa aja mah nggak masalah. Selama lo kasih lolipop atau lo pegangin mobil-mobilan dia pasti seneng. Eh, tapi ya itu tadi, Jaja pencernaannya lancar banget. Dia bisa poop kapan aja. Kadang tiga kali sehari. Kalau lo kasih jajan sembarangan poop-nya bisa encer dan—”
Muka Ello sudah sedatar tembok ketika Erro memaksakan tawa.
“Ehem. Mending nggak usah dilanjutin. Haha. Nanti lo nggak berangkat-berangkat, lagi.”
“Hmm. Bagus, deh kalau lo sadar kecerewetan lo membuang waktu.”
Erro tampak tak mempedulikan Ello. Sekarang dia malah asyik menatap dirinya di cermin sambil kedua tangan merapikan kerah jas putih. Yeah, siapa lagi kalau bukan menatap pantulan wajah Dokter Arviello dalam dirinya.
“Well, selamat datang Dokter Arnaferro. Gue nggak bisa bayangin gimana reaksi Rio nanti kalau dia lihat gue pakai jas putih kesukaan dia. Hahaha...” Erro tertawa bangga. Terakhir dia menukar jam alba perak Ello dengan jam hitam besar quartz miliknya. “Oke, sampai ketemu nanti di Champ jam 7 malem.”
Ello hanya bisa mengangguk pasrah di belakang Erro. Ah, sial. sejak kapan dia mudah dikenadalikan begini. Bahkan dia mau-mau saja mengikuti permainan gila saudaranya. Ello tidak habis pikir. Di mana otak pintarnya yang jernih itu?
Tiba-tiba tubuh jangkung Erro terhenti di tengah jalan. “Oh, iya. Gue cuma mau ngingetin, kita boleh tuker profesi sama nama. Tapi—” Erro tersenyum miring. “Istri kita nggak bisa dituker,” lanjutnya dengan tawa.
Sumpah Ello ingin sekali melempar jam di tangannya tepat di muka kembarannya yang sekarang sok keren dengan jas kebanggaannya. Huh. Sorry saja. Melakukan tukar nama sekaligus profesi saja sudah membuatnya gila, apalagi kalau juga tukar istri.
Sinting.
Oh, Ello lupa kalau sejak dulu Arnaferro memang selalu sinting. Harusnya dia sadar itu.
***
Dan ketika pintu kamar dibuka, Ello tidak bisa menahan tawanya karena Sharyn langsung berteriak sambil bergelayut manja di lengan Erro seakan-akan yang tengah dipeluknya sekarang adalah dia. Padahal jelas-jelas yang berada di depannya ini Erro. Baru ketika Ello asyik menertawai istri dan kembarannya, sepasang lengan memeluknya lembut. Refleks Ello menghempaskan lengan yang berusaha memeluk pinggangnya tersebut. Lalu detik selanjutnya terdengar teriakan dan makian keluar.
Echa menunjuk Ello dengan penuh kebencian. “Kamu kenapa, sih, Ro?! Sejak tadi pagi kamu ngebetein, tahu nggak?! Kamu marah-marah nggak jelas gara-gara Jaja sama Incha mainin kamera kamu sampe rusak! Sekarang aku terus yang kena imbasnya! Maksud kamu apa, hah?!”
Ello mulai gelagapan menjelaskan. Sementara Erro yang sejak tadi digelendoti Sharyn kini menepuk jidat frustasi. Ternyata istrinya bodoh sekali. Sudah belasan tahun mereka menghabiskan hidup bersama. Mulai dari kanak-kanak hingga dewasa sekarang, masih saja bodoh membedakan dia dan kembarannya.
“Sa—Sabar, Cha! Sabar!” Ello berusaha mengumpulkan suaranya yang hilang. Sumpah, seram sekali kakak iparnya satu ini. Seperti macan betina saja. Ello tidak habis pikir mengapa saudara kembarnya bisa betah bertahun-tahun hidup dengan wanita yang galaknya mengalahkan macan di hutan.
“Sabar gimana?! Emang pantes kamera kamu rusak. Sekalian semua—”
“Cha, gue yang Erro!” Erro menggeram frustasi sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Sharyn di lengannya. Sharyn yang semula tersenyum-senyum di lengan suaminya kini berjengit kaget.
What? Apa barusan katanya? Sharyn melotot sambil menatap ke arah dua laki-laki tinggi yang sama-sama berdiri di depannya. Pada detik selanjutnya dia tersentak dan segera menjauhkan diri dari Erro dengan kepala tertunduk.
“Ya ampun Mas Erro, maafin Sharyn Mas. Sharyn nggak tahu kalau—”
Erro tersenyum geli. “Oh, nggak apa-apa, kok. Santai aja.”
Ello berdeham-deham jengkel sambil menatap ke arah Echa. Sayangnya yang ditatap kini tengah melotot. Menatap Erro dan Ello secara bergantian dengan sangat intens. Sharyn yang tadi bengong kini ikut mengamati keduanya. Jadilah Echa dan Sharyn seperti orang gila memandangi suami masing-masing. Lalu sesekali menengok ke suami lainnya. Ello memasang wajah datar saking malasnya. Sebaliknya Erro tertawa bahagia karena sudah membuat istri dan adik iparnya menganga kaget.
“Gimana sayang? Pangling ya sama aku?” Erro mengalungkan lengannya di leher Echa dengan santai.
Echa tergagap. “Kamu beneran Erro? Kamu lagi nggak bercanda, kan, Ro?”
Erro menghembuskan nafas jengkel. “Aku cuma ganti gaya dikit aja masak kamu nggak bisa ngenalin aku, sih? Jadi, selama ini kamu cuma bisa ngenalin aku dari tampilanku aja?”
Echa tak menjawab apapun. Masih menganga saking kelewat shock.
Sementara Sharyn sudah heboh sendiri. Berteriak-teriak dan menjerit bahagia melihat Ello yang begitu stylish dan keren di matanya. Tidak pernah terbayang kalau Arviello yang datar dan dingin bisa berubah menjadi Arnaferro yang begitu easy dan friendly. Apalagi baju yang dipakai Ello sekarang adalah jeans hitam pensil dengan atasan kemeja donker kotak-kotak yang sangat catchy di matanya.
“Mas El ganteng banget.” Sharyn berucap malu-malu. Dalam hati Ello sudah bersorak saking bahagianya sebelum Sharyn tiba-tiba menambahkan. “Mirip Mas Erro. Aku suka, deh!”
Oh, jadi begitu? Jadi, Sharyn suka dengannya hari ini karena tampilannya begitu fresh dan stylish seperti Erro? Ugh, Ello menyesal mendengarnya. Lebih baik dia tuli saja daripada harus dibilang ganteng ala Erro. Karena sesungguhnya Ello jauuuh lebih suka perempuan yang menyukai dia dan kegantengannya yang apa adanya. Ya, memang beginilah seorang Arviello dengan segala kekurangannya. Harusnya Sharyn bisa menerima itu.
“Ro, kamu kan bukan dokter! Gila ya kamu ini?!” Echa menjerit frustasi.
“Ya ampun sayang, cuma sekali doang. Lagian kasihan El. Masak dia nggak bulan madu, sih?”
Echa berkacak pinggang. “Main ke Ragunan itu emang bisa disebut bulan madu? Kamu jangan mengada-ada, deh. Mending kamu pulang jaga rumah atau bersih-bersih. Banyak banget pakaian si kembar yang belum aku cuci.”
Erro pura-pura tak mendengar. Dia asyik menyeret-nyeret Echa menuju pintu. Tapi lagaknya Echa tak terima karena dia belum memberikan kiss bye pada Eza dan Finza yang masih di atas kereta dorong mereka.
“Dah sayang. Mama pergi dulu, ya. Muah... Muah...” Echa mengecup kening Finza dan Eza bergantian. Begitu juga dengan Erro yang langsung berlari tak mau kalah.
“Papa juga pergi dulu, ya. Jaja jangan nakal. Jagain Incha yang bener, ya. Baik-baik sama Tante Sharyn dan omel comel.” Erro tertawa pada Ello sebelum benar-benar pergi. “Jagain anak gue, ya. Gue nggak mau mereka sampe nangis atau kenapa-kenapa di jalan. Awas lo kalau nggak becus bawa anak gue, El.”
Sharyn bersorak heboh ketika Erro dan Echa sudah menghilang dari balik pintu. “Siap Mas Erro! Kita pasti jagain si kembar dengan baik!” Dan ketika Sharyn menoleh pada Ello, sudah dapat dipastikan reaksi pertama suaminya itu adalah...
Datar. Datar seperti garis lurus. Bahkan Sharyn sudah memaksakan tawa untuk mencairkan suasana. Tapi selama beberapa menit ke depan Ello masih menampilkan raut wajah datar dan malas.
“Mas El udah ganteng-ganteng begini tetep aja tembok!” Sharyn mendengus sambil mendorong kereta yang dinaiki Eza dan Finza. “Buruan deh, Mas, jangan bikin aku semakin bete!”
***