BAB DELAPAN

2403 Words
Sabtu siang adalah hari yang menyebalkan untuk Ello. Tadi malam dia harus menjadi dokter jaga. Artinya harus tidur di kasur yang tipis dan sempit. Dan ketika bangun di pagi hari seluruh badannya sakit semua. Belum lagi Ello hanya punya waktu satu jam untuk bersih-bersih dan  makan pagi sebelum praktek dimulai jam setengah sembilan nanti.  “Dokter Arviello, kelihatannya capek sekali?” Lana muncul dengan dokumen-dokumen penuh di tangannya. Kemudian diletakkannya dokumen-dokumen itu ke atas meja Ello. “Oh, iya. Dari semalam saya belum pulang,” jawab Ello seadanya. “Dokter dapat giliran jaga malam, ya?” “Iya, Na.” Ello tersentak kaget karena ponsel dalam saku jasnya berbunyi tiba-tiba. “Sebentar ya, Na, saya angkat telpon dulu.” “Oh iya, silahkan, Dok. Saya juga mau ke bangsal sebentar.” Setelahnya Lana menyingkir keluar. Ello mengernyit begitu tahu Ghani yang menghubunginya. Tidak biasanya papanya menelponnya di tengah-tengah jam kerja seperti ini. “Hallo, Pa?”  “Halo... Arviello, anak  papa yang ganteng!” Ello menjauhkan ponselnya seketika begitu mendengar suara aneh yang keluar dari sana. Benar ini papanya atau malah mahkluk astral yang sedang menelponnya? Kenapa mendadak  papanya jadi berlebihan begini, sih? “Hallo, Pa? Papa dimana, sih?” “Papa masih di Surabaya. Besok baru pulang ke Jakarta.” “Oh...” Hanya itu jawaban Ello. Sebenarnya Ello tahu Ghani terlihat ceria sejak mengetahui dirinya memutuskan untuk menikah. Mungkin papanya merasa sudah tidak memiliki beban lagi jika dirinya menikah. “Terus gimana persiapan pernikahan kamu?” Ello sudah menduga kalau Ghani akan menanyakan tentang pernikahannya. “Kayaknya udah pada beres, deh, Pa. Kan udah diurusin WO.” “Yah, meskipun sudah ada WO, kamu juga harus turun tangan sendiri melihat persiapannya. Jangan terlalu pasif lah, El. Kamu bicarakan dengan calon menantu Papa, apa masih ada yang kurang, apa semua sudah sesuai dengan selera kalian.” “Namanya Sharyn, Pa.”  Ello membenarkan. Heran, kenapa semakin hari Ghani jadi cerewet seperti Erro. Apalagi akhir-akhir ini papanya rajin sekali menelpon Ello hanya untuk menanyakan bagaimana persiapan pernikahannya. Sebenarnya yang mau menikah itu Ello atau papanya, sih? Padahal sewaktu Erro dan Echa menikah dulu sikap Ghani biasa saja. Tidak over excited seperti ini. “Terus gimana undangan? Udah beres?” “Udah nemu yang bagus, sih, Pa.” Ello berbalik kembali ke dalam ruangannya. “Baju, baju gimana?” “Tinggal fitting.”  Ello menjawab malas sembari matanya berputar mengecek beberapa dokumen kesehatan pasien yang menumpuk di mejanya. “Catering, catering gimana?” “Udah beres, Pa.” Ello membaca sebuah hasil pemeriksaan pasien lalu mencari hasil laboratorium pasien tersebut. “Gedung gimana? Udah dipesan, kan?” “Gedung?” Gerakan tangan Ello terhadap kertas-kertas di mejanya terhenti seketika. Gedung? Ello ingat belum memesan gedung tempat resepsi pernikahan. Kemarin pihak WO menghubunginya mengatakan bahwa mereka belum bisa menemukan gedung yang pas dengan tanggal pernikahan yang sudah ditetapkan. Ello menepuk jidatnya. Kenapa dia bisa lupa begini? “Tuh kan! Papa bilang juga apa?! Kamu itu harus turun tangan juga, El! Jangan semua dipasrahkan sama WO. Kalau sudah begini kamu mau bagaimana? Ingat El, tanggal pernikahan kamu sudah semakin dekat. Dan kamu belum dapat gedung? Kamu pikir cari gedung untuk pernikahan itu mudah!” Ello hanya diam membisu mendengar ceramahan panjang Ghani. Kalau dia menjawab, papanya malah akan semakin menyalahkannya. Suara ketukan pintu tiba-tiba terdengar. Ello yang semula memperhatikan file-file pekerjaanya kini mengalihkan pandangannya terhadap pintu. Ello begitu terkejut saat melihat wajah Sharyn muncul dari balik pintu setelah dia menggumamkan kata masuk. Sharyn tersenyum manis dan melambaikan tangannya pada Ello. “Halo... El? Kamu dengerin Papa nggak, sih? Arviello?!” Ello tersentak saat Ghani membentaknya di telepon. Kedatangan Sharyn membuatnya tidak fokus. “Iya, Pa. El denger, kok.” Ello memberi kode pada Sharyn yang masih berdiri untuk duduk di sofa dulu selama dia masih berbicara dengan papanya. “El, gimana kalau gedungnya di  hotel tempat resepsi pernikahan Erro dulu?” Hotel tempat pernikahan kembarannya tidak buruk. Tapi—Ello kembali memasang wajah datarnya, di sana tersimpan kebersamaannya dengan Nasha. Ketika pernikahan Erro, Nasha selalu mengikuti Ello seperti anjing mengikuti tuannya. Ello malas dengan apapun yang sudah berbau Nasha. Dia ingin membuang semua memori tentang mantan kekasih brengseknya itu. “El nggak mau, Pa.” Ello melirik ke arah sofa. Di sana Sharyn sudah duduk dengan manis. Kedua matanya tampak melihat-lihat seisi ruangan Ello. Sementara kakinya diayun-ayunkan. Mirip anak kecil. “Itu hotelnya bagus lho, El. Tempatnya juga luas.” “Iya, Pa. El tahu. Apa mentang-mentang kita anak kembar, kita harus nikah di tempat yang sama?” “Ya enggak. Terus urusan gedungnya gimana?” “Pokoknya biar El aja yang ngurusin masalah gedung. Papa tinggal terima beres aja. Udah ya Pa, El ada pasien. Tutt—” Ello memutuskan pembicaraan sepihak membuat papanya hampir mengumpat di ujung sana. Ello memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku. Lalu membereskan kertas-kertas yang masih berantakan di atas mejanya. Setelah itu dia memandang lagi ke arah sofa. Sharyn masih duduk di sana. Pelan-pelan Ello menghampiri Sharyn. Tampak sekali perempuan itu sedang asyik melihat-lihat isi ruang kerjanya. Dia tidak menyadari bahwa Ello kini sudah berdiri di hadapannya. “Ehem.” Sharyn tersentak kaget melihat Ello berdiri menjulang di depannya. Cepat-cepat dia berdiri dan tersenyum manis. “Hai, Mas El.” “Lo tumben dateng ke sini?” tanya Ello heran. “Nggak kerja?” Sharyn menggeleng. “Aku bawain makan siang buat Mas El.” Dia mengangkat paper bag yang tadi dibawanya. Ello memiringkan alisnya. Kebetulan sekali dia belum makan siang. Dan sekarang perempuan ini datang membawakan makanan. Benar-benar rejeki nomplok. Kedua mata Ello mengitari ruangannya mencari tempat yang cocok untuk makan. Akhirnya Ello kembali menuju mejanya. Dia duduk di kursinya. Sementara Sharyn duduk di hadapannya. Perempuan itu lalu mengeluarkan beberapa makanan. Ada nasi, lauk, sayur, dan dua botol  air mineral. Melihat berbagai macam makanan membuat lidah Ello bergoyang. Apalagi harum masakan-masakan itu benar-benar menusuk hidungnya.  Perutnya yang sejak tadi sudah lapar semakin keroncongan. Dia memegangi perutnya supaya  suara  cacing-cacing dalam perutnya tidak terdengar oleh Sharyn. Kalau perempuan itu sampai tahu mungkin dia akan menertawakan Ello. Ello masih memasang wajah datar. Dia memandangi makanan-makanan itu sejenak. “Ini semua lo yang masak?” Sharyn menggigit bibirnya. Sebenarnya semua ini masakan mamanya. Tapi di rumah tadi dia sudah diwanti-wanti oleh ibunya agar  mengatakan pada Ello jika semua makanan ini adalah masakannya. Sharyn tidak habis pikir kenapa ibunya menyuruhnya untuk berbohong. Sharyn tertawa pelan. “Sebenarnya ini semua masakan Mama. Aku cuma bantuin dikit. Untuk kali ini dia tidak berbohong. Sharyn memang membantu Anisa memasak daging dan telur. “Ayo kita mulai makan, entar keburu dingin.”  Dengan cepat Sharyn mengeluarkan dua piring melamin beserta sendok dan garpunya. Lalu dengan cekatan mengambilkan nasi, lauk, dan sayur untuk Ello. “Makasih.” gumam Ello ketika Sharyn mengulurkan sepiring nasi padanya. Setelah itu Sharyn dan Ello tampak menikmati makanan masing-masing. Ketika Sharyn menanyakan enak atau tidak masakan itu. Ello hanya menjawab dengan anggukan. Ello tidak berbohong. Masakan ibunda Sharyn memang benar-benar enak di mulutnya. Daging rendangnya empuk. Sayurnya juga terasa pas di lidah Ello. Saking enaknya masakan ibu Sharyn, Ello sampai tidak menyadari jika makanan di piringnya sudah tandas. Mata Sharyn melebar melihat piring Ello sudah bersih. Padahal belum ada sepuluh menit sejak mereka mulai makan. Sharyn mengulum senyum di tengah kunyahannya. Dokter di depannya ini pasti benar-benar lapar. Sepertinya ide ibunya kali ini benar-benar tepat sasaran. Suara ketukan pintu terdengar membuat Ello dan Sharyn menoleh ke arah pintu secara bersamaan. Begitu Ello mengizinkan si pengetuk masuk. Muncullah wajah ceria Mario Fabrian di ujung pintu. Rio sangat terkejut melihat pemandangan tak wajar di hadapannya. Ello dan Sharyn makan berdua di ruang kerja Ello. Ini benar-benar amazing bagi Rio. Selama nyaris bertahun-tahun bekerja dalam satu gedung dengan Ello. Ini baru pertama kalinya dia melihat seorang Arviello makan di dalam ruang kerjanya bersama seorang perempuan. Biasanya Ello akan mengajak Rio makan di kantin. Atau ketika masih pacaran dengan Nasha, perempuan itu yang akan memaksa Ello untuk makan di luar. Rio terkikik pelan. Diam-diam berhasil menjepret Ello dan Sharyn dengan ponselnya. Nanti malam dia akan men-share foto ini di grup sosial medianya bersama Erro dan yang lainnya. Ini akan menjadi trending topik untuk mereka. “Wah! Kayaknya gue ganggu, nih.” Rio tersenyum menggoda. Ello hanya memandang sahabatnya datar. “Eh, Mas Rio. Sini Mas, gabung sama kita?” ajak Sharyn tersenyum ramah. Rio buru-buru melambaikan tangan tanda menolak. “Oh, nggak usah. Tadinya gue mau ngajak Ello lunch bareng. Ya udah deh,  gue udah ditungguin Papa nih, bye El, Sharyn.” Rio meluncur keluar setelah melambaikan tangan pada Ello dan Sharyn. “Emang papanya Mas Rio kerja di sini juga?” tanya Sharyn menutup botol air mineral yang baru saja di minumnya. Ello mengangguk. “Papanya Rio dokter senior di sini.” Sharyn mengangguk-angguk. “Hebat, papanya dokter anaknya juga jadi dokter.” gumamnya. Ello memiringkan kepalanya. Perempuan ini sepertinya pengagum profesi dokter. Awal ketika mereka bertemu kembali di rumah sakit ini dengan terang-terangan dia memuji pekerjaan Ello yang seorang dokter. Saat berkenalan dengan Rio. Ekspresi kekaguman masih tercetak jelas di wajah Sharyn. Meskipun kelakuan Rio sama sekali tidak cocok dengan gelar dokter yang dimilikinya. Dan sekali lagi. Sharyn berkata terus terang bahwa dia mengagumi seorang dokter. Hal ini membuat Ello tergelitik untuk bertanya. Ello melipat tangannya di atas meja dan mendekatkan wajahnya pada  Sharyn. “Lo, pengin jadi dokter ya?” “Hmm?” Sharyn yang sedang mengambil  sesuatu dari paper bag-nya mendongak. “Lo pengin jadi dokter?” ulang Ello. Sharyn terlihat berfikir. “Dulu, sih, waktu kecil.” Dia meletakkan kotak makanan yang dikeluarkannya dari paper bag. “Tapi aku sadar diri, Mas. Aku nggak begitu pinter. Jadi, nggak mungkin aku jadi dokter.” Sharyn cengengesan.  Sharyn memang pernah bermimpi jadi dokter. Tapi untuk memiliki suami seorang dokter  sama sekali tak pernah terlintas di mimpinya. “Kenapa Mas El tanya kayak gitu?” Sharyn membuka kotak makanan tadi yang ternyata berisikan puding coklat. Ello menggeleng menjawab pertanyaan Sharyn. Pandanganya terfokus pada puding coklat di depannya. Puding coklat itu terlihat menggiurkan di mata Ello. Benar-benar pas menjadi makanan pencuci mulut hari ini. “Kalau Mas El? Cita-cita kamu waktu kecil apa?” tanya Sharyn penasaran. Dia mengulurkan garpu bersih untuk memakan puding. “Nggak ada.” jawab Ello cepat. Dia menusuk puding yang sudah dipotong kecil-kecil itu dengan garpu lalu memakannya. Sharyn melongo mendengar jawaban Ello. Jawaban macam apa itu. Mana mungkin ada orang yang tidak punya cita-cita. “Kalau keinginan gitu pasti ada, kan? Mas El pasti punya semacam keinginan waktu kecil, kan?” Ello terdiam. Sembari mengunyah, memorinya menilik kembali masa kecilnya dulu. Keinginan Ello waktu kecil adalah mengalahkan kejeniusan Erro. Dulu diam-diam dia selalu iri dengan kepintaran saudara kembarnya. Erro bisa mengerjakan semua pelajaran tanpa belajar. Sementara dirinya harus belajar matian-matian untuk bisa mengerjakan sebuah soal. “Keinginan gue waktu kecil adalah ngalahin Erro.” Ello berucap tanpa sadar. Sharyn menatap Ello penuh minat. “Erro itu jenius. Tanpa belajar pun dia bisa dapet nilai seratus pas ulangan matematika. Sementara gue, walaupun gue udah belajar semalaman, tetep nilai yang gue dapet cuma sembilan lima.” Ello tersentak. Tak sadar dengan apa yang diucapkannya. Kenapa dengan mudah dia  menceritakan masa kecilnya pada perempuan di depannya ini? Tapi sudahlah, itu cuma masa lalu yang tidak terlalu penting. “Terus kalau Mas Erro itu jenius, kenapa dia nggak jadi dokter juga?” Ello memandang Sharyn dengan malas. Ucapannya itu seakan mengatakan kalau dia tidak pantas menjadi dokter. Dan yang seharusnya ada di posisinya saat ini adalah Erro.  “Erro itu orangnya nggak suka belajar. Dia nggak kepingin jadi dokter. Cuma dua hal yang dia suka di dunia ini. Bola dan Echa.” Sharyn memiringkan kepalanya. “Maksudnya Mbak Echa istrinya Mas Erro?” Ello mengangguk. “Erro dan Echa itu temen sejak kecil. Dan dalam hubungan persahabatan mereka Erro naksir berat sama Echa. Dia juga terobsesi jadi pemain sepak bola. Dia sempet dapet beasiswa ke Jerman untuk jadi pemain bola profesional. Tapi semua itu gagal karena sebuah kecelakaan.” “Kecelakaan?” Lagi-lagi Ello mengangguk. Akhirnya dia menceritakan kisah Erro yang mengalami kecelakaan parah karena menyelamatkan Echa. Akibatnya tulang kaki Erro remuk serta ada syaraf yang rusak membuatnya tidak bisa bermain sepak bola lagi. Erro frustasi dan mengalami trauma kegagalan. Dia juga berbalik membenci Echa. Ello ceritakan semua itu pada Sharyn. Juga hubungan cinta segi empat antara Erro, Echa, Rio dan Riska dulu. Sharyn menganga mencerna cerita dari Ello. Dia tidak menyangka di dunia ini benar-benar ada laki-laki seperti Erro yang rela  mengorbankan nyawanya sendiri untuk perempuan yang dia cintai. Sharyn juga tidak menyangka di dunia nyata seperti ini ada kisah cinta segi empat yang biasanya hanya bisa dia temui di novel atau film. “Mas Erro itu keren banget, ya? Rela mengorbankan kakinya remuk untuk nyelametin Mbak Echa.” Sharyn nampak terharu mendengar kisah cinta yang dituturkan Ello. “Kalau gue jadi Erro, gue akan biarin dia ketabrak. Sehingga gue bisa raih apa yang gue inginkan.” Sharyn tidak percaya dengan apa yang didengarnya dari mulut Ello. “Kok Mas El ngomong kayak gitu, sih?!” “Logikanya kayak gitu, kan? Buat apa lo nyelametin dia kalau pada akhirnya lo yang celaka.” Sharyn geleng-geleng kepala. Tak habis pikir dengan jalan pikiran dokter di depannya ini. Dia mengerti kalau Ello adalah orang yang dingin dan kaku. Tapi dia tidak mengira kalau laki-laki di depannya ini adalah orang yang tidak berperasaan. Perkatannya tadi benar-benar kejam.  “Ternyata Mas El orangnya kayak gini, ya? Pantas aja Nasha selingkuh sama Beny.” Mata Ello memicing mendengar ucapan Sharyn. “Maksud lo apa ngomong kayak gitu?” Nada suaranya meninggi. “Mas El mah nggak ngerti!” Sharyn berteriak kesal. Dia meraih tas, bangkit dari duduknya, dan berjalan cepat menuju pintu. “Tunggu!” Sharyn yang sudah menyentuh kenop pintu menoleh. “Beresin dulu peralatan lo.” Ello menunjuk berbagai perlatan makan yang masih ada di mejanya. Sharyn menggembungkan pipi kesal. Dengan cepat dia memasukkan segala macam peralatan makan miliknya ke dalam paper bag yang tadi ada di bawah meja. Sharyn tidak peduli peralatannya tadi masih kotor atau masih ada sisa makanan di dalamnya. Dia memasukkan semunya dengan asal. Setelah beres Sharyn berjalan keluar dari ruangan Ello. Ello terkejut mendengar suara debaman pintu yang ditimbulkan oleh Sharyn. Dia tidak mengerti kenapa perempuan itu malah marah. Bukankah semua yang dia katakan itu benar. Lalu kenapa Sharyn harus marah? Ello menggeram frustasi.  “Kenapa dia pake marah segala, sih?!” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD