BAB SEMBILAN

1706 Words
Waktu menunjukkan pukul lima sore. Ello berjalan keluar dari rumah sakit dengan wajah kusut dan lesu. Kemarahan Sharyn tadi siang masih terkenang di otaknya. Ello tidak mengerti kenapa perempuan itu jadi marah padanya. Padahal dia hanya mengeluarkan pendapat saja. Harusnya Sharyn tidak perlu marah. Lagipula perempuan itu tidak ada hubungannya dengan kisah cinta Erro dan Echa. Ello menghembuskan nafas lelah. Dia lebih heran pada dirinya sendiri. Kenapa sampai sekarang dia masih memikirkan kemarahan Sharyn yang tidak jelas.  Biasanya Ello bersikap cuek terhadap orang-orang di sekelilingnya. Dia tidak peduli ada orang yang marah atau pun suka padanya. Tapi kali ini berbeda. Kemarahan Sharyn membuat seorang Arviello tidak tenang.  Untung saja setelah makan siang dengan Sharyn tadi Ello tidak harus memeriksa pasien. Bisa-bisa dia salah mendiagnosis penyakit karena pikirannya sedang kacau. Seseorang menepuk pundak Ello ketika laki-laki itu hampir menuju tempat parkir. Ello menoleh dan langsung tersenyum garing pada Rio. “Cie! Yang tadi makan siang bareng calon istri.” Rio menoel-noel pinggang Ello dengan sikunya.  Senyumnya tampak ingin menggoda Ello. Ello hanya memandang Rio tanpa minat. Dengan cepat dia berjalan menuju mobilnya. Rio berlari menyusul dari belakang. Laki-laki itu setengah menarik baju Ello membuat pemiliknya menoleh. Rio meraih dagu Ello dan mengamati wajah temannya itu baik-baik. Wajah di hadapannya masih datar seperti biasanya. Tapi Rio merasa ada yang berbeda dengan Ello hari ini. Ello yang merasa risih segera menyingkirkan tangan Rio dari dagunya. “Lo kenapa, El? Marah sama gue?” tanya Rio penasaran. “Nggak. Dia yang marah sama gue.” Ello bersender pada mobilnya. “Hah?” Rio ikut bersender pada sedan hitamnya yang kebetulan terparkir di sebelah audi putih milik Ello. “Maksud lo? Ello menghembuskan nafas panjang lalu menceritakan tentang kedatangan Sharyn tadi siang. Tentang Sharyn yang membawakan makan siang untuknya. Juga tentang obrolan mereka. Ello juga berkata pada Rio bahwa dia menceritakan tentang kecelakaan Erro pada Sharyn. Laki-laki itu juga menceritakan tentang kemarahan Sharyn yang tidak jelas pada Rio. Siapa tahu dengan bercerita pada sahabatnya bisa membuat Ello tenang. Rio terlihat sedang berfikir setelah mendengar cerita Ello. Dia bersender pada mobilnya dengan mengetuk-ngetukkan dagu. “Menurut lo gue salah?” tanya Ello. “Lo nggak salah, sih.” Rio memiringkan kepalanya. “Tapi menurut Sharyn, lo itu salah.” Ello mengernyit. Tidak mengerti ucapan Rio.  “Maksud lo?” “Gini ya,” Rio mendekat pada Ello berusaha menjelaskan. “Kalau orang yang lo sayangin mau ketabrak apa yang lo lakuin?” “Gue tolonginlah.” “Nah, itu lo tau.” Rio menjetikkan jarinya. Ello menggeram. Terus hubungan hal itu dengan Sharyn marah padanya apa?! Rio yang masih melihat kebingungan di wajah Ello berusaha menjelaskan lagi. “Gini gue jelasin. Cewek itu mikir pake perasaan. Sementara kita, para cowok mikir pake logika.” Ello masih terlihat tidak mengerti. Rio menghembuskan nafas panjang. “Kalau lo ngeliat anak kecil jualan koran siang-siang. Apa yang bakal lo lakuin?” “Gue cuekin.” “Itu kita para cowok. Kita bakal cuekin tuh penjual koran. Buat apa kita beli koran siang bolong? Koran pagi aja belum tentu kita baca. Iya, kan?”  Ello mengangguk membenarkan perkataan Rio. “Tapi kalo para cewek beda, Bro. Mereka pasti bakal beli koran yang dijual si anak kecil tadi. Alasannya sederhana, karena mereka kasihan sama tuh anak.” jelas Rio. “Itu maksud gue tentang cowok mikir pake logika sementara cewek mikir pake perasaan.” Ello mengangguk-angguk. “Sejak kapan lo paham begituan?” Rio cengengesan. “Riska, sih, yang ngajarin gue. Jadi, dulu pas kita mau nge-date, di perempatan lampu merah ada anak kecil jualan koran siang hari bolong. Riska beli tuh koran. Gue tanya dong, buat apa beli koran siang-siang. Eh, dianya malah marah. Riska bilang, kamu nggak punya perasaan banget sih, Ri? Kan kasihan anak kecil tadi jualan koran, tapi nggak ada yang mau beli.” Rio menirukan suara istrinya waktu itu. “Jadi wajar aja deh, kalau Sharyn marah. Pasti sekarang dia  ngira lo itu cowok nggak berperasaan.” Rio menepuk bahu Ello. “Mending lo cepetan minta maaf sama Sharyn. Daripada entar dia batalin rencana pernikahan kalian.” Ello terdiam. Berusaha mencerna kembali penjelasan panjang Rio tadi. “El, lo minta saran aja sama si Erro. Dia kan romantis tuh. Lo minta saran gimana caranya minta maaf ke cewek yang romantis. Tapi sorry, gue nggak ikut ke tempat Erro. Gue mau pulang, dah kangen berat sama Riska and baby Mauren.” Rio masuk ke dalam mobilnya. Dari dalam mobilnya sekali lagi Rio mengingatkan Ello untuk segera minta maaf pada Sharyn. *** Sekarang di sinilah Ello berada. Dia sudah sampai di depan rumah bercat kuning milik keluarga Sharyn. Tapi sejak beberapa menit yang lalu Ello masih belum keluar dari mobilnya. Dia masih memikirkan apakah dia harus benar-benar minta maaf pada Sharyn. Karena sebenarnya Ello tidak bersalah di sini. Perempuan itu marah sendiri tanpa alasan. Haruskah dia minta maaf?  Tiba-tiba perkataan Rio di parkiran tadi sore terngiang di pikiran Ello. “Mending lo cepetan minta maaf sama Sharyn. Dari pada entar dia batalin rencana pernikahan kalian.” Benar. Sharyn adalah perempuan kekanakkan. Bagaimana kalau kemarahannya membuat dia membatalkan rencana pernikahan mereka? Kerugian materi tidak begitu menjadi masalah bagi Ello. Dia juga tidak akan menanggung malu apapun. Karena undangannya juga belum disebar. Tapi itu berarti rencana balas dendamnya pada Benny dan Nasha akan gagal  total. Ugh! Ello tidak rela itu semua terjadi. Dengan mengehembuskan nafas panjang Ello mantap keluar dari mobil. Tidak ada salahnya meminta maaf duluan. Ello terdiam sebentar di depan kaca mobil. Dia mematut dirinya dari atas kebawah.  Ello sudah terlihat rapi dan tampan dengan outfit yang dipakainya. Jeans hitam, kemeja biru donker dibalut dengan blazer warna senada. Ello keluar dari mobil. Sekilas diliriknya bunga dan cake yang masih berada dalam mobil. Lebih baik nanti saja dia memberikannya ketika Sharyn sudah memaafkannya. Tanpa sadar langkah kaki Ello sudah sampai di depan pintu ukir berwarna coklat. Ditekannya bel yang terletak di sebelah kanan pintu. Tak sampai lima menit pintu itu sudah terbuka menampilkan senyum ramah Anisa, calon mertuanya. Anisa terlihat sumringah melihat kedatangan calon menantunya. Sementara Ello  berusaha memberikan senyum terbaiknya di depan Anisa. “Eh, Nak Ello, tumben mampir ke sini? Pasti mau ngajak Sharyn malam Mingguan, ya?” Ello tertawa garing. Bahkan dia baru sadar kalau sekarang adalah malam Minggu. “Sharyn ada, Tante?” “Oh, ada. Ada.  Ayo masuk dulu Nak Ello!” Ello mengikuti langkah Anisa masuk ke dalam  rumah. Anisa mempersilahkan Ello duduk lalu masuk ke dalam memanggil putrinya. Sharyn menganga tidak percaya saat mengintip ke arah ruang tamu. Ello benar-benar ada di rumahnya. Tadi saat ibunya memberitahu bahwa Ello datang Sharyn sempat tidak percaya. Tapi ternyata ibunya tidak berbohong. Sharyn menarik nafas panjang berusaha menetralkan jantungnya yang berpacu sangat cepat. Dia menepuk-nepuk dadanya masih terkejut dengan kedatangan Ello di rumahnya. Sharyn jadi berpikir. Ada urusan apa Ello datang ke sini? Apa jangan-jangan Ello mau membahas soal tadi siang?  Sharyn memegang kedua pipinya. Tadi siang dia marah tanpa alasan pada Ello. Dan pergi begitu saja. Sharyn jadi malu sendiri. Setelah dia renungkan baik-baik. Sebenarnya Ello tidak bersalah dalam hal ini. Tadi laki-laki itu hanya mengatakan pendapatnya saja. Karena terbawa perasaan pada kisah cinta Erro dan Echa. Sharyn jadi marah mendengar pendapat Ello yang buruk.  “Heh?!” Tepukan keras Arza membuat Sharyn kaget setangah mati. Sharyn melotot lalu balas memukul lengan kakaknya. “Dicari calon laki lo tuh! Ngapain sih pake ngintip-ngintip segala?” Sharyn berdecak kesal. Suara kakaknya tadi keras sekali. Tiba-tiba saja Arza sudah mendorong punggung Sharyn ke arah ruang tamu. Dia menatap Arza dengan kesal. Tapi kakaknya itu sudah menghilang dibalik tembok. Ketika Sharyn mengalihkan pandangannya. Ello sudah berdiri beberapa langkah di depan Sharyn. Dia jadi bengong sendiri melihat ketampanan Ello malam ini. Dokter itu tampan dari ujung kaki sampai ujung kepala. Bahkan wangi parfumnya sudah menyapa penciuman Sharyn.  Sharyn menunduk melihat dirinya sendiri yang hanya mengenakan dress berbahan kaos warna putih yang sudah kusam dan kucel. Dia menggigit bibirnya merasa malu berpenampilan jelek begini di hadapan Ello. Sharyn berdeham. Meskipun begitu dia tidak boleh kelihatan malu di depan Ello. “Mas El, mau apa datang ke sini?” tanya Sharyn pelan. Ello diam tiba-tiba merasa gugup sendiri di depan Sharyn. Tapi dia menghalau kegugupannya itu. Untuk apa Ello harus gugup berhadapan dengan perempuan kekanakkan macam Sharyn. “Gue cuma mau minta maaf soal kejadian tadi siang. Gue sadar kalau gue udah nyinggung perasaan lo.”  Ello meminta maaf dengan ekspresi datar andalannya. Sharyn tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Seorang Arviello meminta maaf padanya? Ini tidak bisa dipercaya. Tapi Sharyn bisa merasakan kalau permintaan maaf Ello tulus dari hati. Yah, meskipun raut wajah dokter tembok itu—semua orang juga sudah tahu. Sharyn tersenyum. “Sama-sama, Mas El. Aku yang harusnya minta maaf sama Mas El. Nggak seharusnya aku bersikap kayak gitu tadi siang. Mungkin aku cuma kebawa perasaan aja.” “Gue akuin, gue emang salah. Nggak seharusnya gue berkata jelek tentang saudara kembar gue sendiri.” Ello memasukkan kedua tangannya dalam saku celananya. Sharyn menggeleng. “Nggak, kok. Omongan Mas El tadi siang itu emang bener. Untuk apa kita menyelamatkan orang lain yang udah jahat sama kita.” “Jadi, lo maafin gue, kan?” Sharyn mengangguk dengan senyum terkembang. “Mas El juga maafin aku, kan?” Ello mengangguk sekilas. Hal itu membuat Sharyn tertawa senang. Sungguh perasaannya sudah lega sekarang. Sharyn senang sekali akhirnya dia dan Ello sudah berbaikan. Ello mengernyit tidak mengerti kenapa Sharyn di hadapannya ini malah tertawa. Memangnya ada yang lucu? Ello terdiam. Jangan-jangan ada yang salah dengan penampilannya?  Oh, dia harap tidak. Tiba-tiba Anisa muncul dari dalam bersama Ridwan. Membuat Ello dan Sharyn mengalihkan pandangan mereka. Begitu melihat Ridwan, Ello langsung memberi salam. “Eh, eh, ini kok malah pada berdiri aja di sini? Ryn, kamu kok nggak ajak Nak Ello untuk makan malam bersama?” tanya Anisa. Sharyn menepuk jidatnya. “Sharyn lupa.” “Nak Ello sudah lama?”  tanya Ridwan. “Lumayan, Om. Ini lagi ngorol sama Sharyn.” Ello berusaha memberikan ekspresi terbaiknya di hadapan calon mertua. “Kalau begitu, ayo Nak Ello, kita makan malam dulu!” ajak Ridwan Ridwan lalu melangkah lebih dulu masuk ke dalam bersama Anisa. Sementara itu, Ello sudah terlihat pasrah ketika Sharyn menggandeng tangannya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD