Abimanyu bersiap untuk membuka kemeja, tetapi kemudian urung kerena telinganya menangkap suara ketukan dari balik pintu, bergegas ia membuka pintu, terlihat ibunya ada di depan pintu dengan membawakan minuman.
“Ini teh melati, di luar dingin, minumlah,” ucap Bu Ratna pada putranya.
“Ibu, tidak usah repot-repot, biar Hazna yang menyiapkan,” balas Abimanyu.
“Tadi ibu bikin, sekalian buat kamu, kalau Hazna ‘kan, tidak suka teh, jadi ini buat kamu,” timpal Bu Ratna.
“Iya Bu, terima kasih,” jawab Abimanyu seraya meraih secangkir teh dari tangan ibunya dan segera menutup pintu kamar, ketika Ibunya melangkah pergi.
Abimanyu, duduk di sofa, ia menyerutup sedikit demi sedikit secangkir teh melati, favoritnya, sampai habis tidak tersisa. Lalu diletakkan cangkir kosong di atas meja.
“Haz, cepatlah keluar dari kamar mandi, aku mau ganti baju,” ucap Abimanyu, sambil melepas celana kain panjang, hingga menyisakan celana pendek.. ”Di luar hujan, tapi kenapa tubuhku gerah dan terasa panas,” guman Abimanyu, yang tiba-tiba merasa aneh dengan tubuhnya. terasa panas tiba-tiba mengalir di darahnya. Ada sesuatu keinginan untuk segera dipenuhi oleh tubuhnya. Abimanyu terlihat gelisah, keringat mulai membasahi wajahnya, hawa panas semakin ia rasakan. Padahal AC kamar sudah dinyalakan.
Ceklek...pintu kamar mandi terbuka, Hazna keluar dari kamar mandi dengan lingerie sebatas lutut yang seksi, tubuh semampai dan kaki jenjang terlihat putih dan bersih tanpa cela, demikian juga dengan leher dan dadanya terbuka, terlihat lekukan yang jelas, bentuk tubuh seksinya, rambut hitam legamnya tergerai sepinggang, sungguh seperti melihat seorang bidadari yang turun dari langit, yang memiliki kecantikan sempurna.
Hazna, menatap Abimanyu, yang sudah bertelanjang d**a, dengan celana pendeknya, d**a yang bidang terlihat jelas. Demikian juga dengan Abimanyu, matanya menatap penuh nafsu, menatap setiap inci dari tubuh Hazna, yang selama ini tertutup dengan hijabnya. Wajah cantik wanita di depanya itu mengalahkan Angela. Dan entah dorongan apa yang menyebabkan Abimanyu, langsung mendekat dan memeluk tubuh Hazna. Harum parfum rose, membuat gairah cinta Abimanyu membuncah, dan ingin segera dilampiaskan. Dengan sedikit kasar di kecupnya bibir Hazna, membuat Hazna sulit untuk bernapas. Lalu tubuh itu dibaringkan di tempat tidur. Hazna hanya terdiam, ia hanya menikmati setiap sentuhan–sentuhan yang Abimanyu berikan, ini adalah sentuhan pertama bagi Hazna. Tapi tidak dengan Abimanyu, dia sudah berkali-kali melakukannya dengan Angela.
Abimanyu seakan-akan hilang akal, dengan liarnya memainkan tubuh Hazna, hingga membuat Hazna harus menahan sakit, ketika kesuciannya direngut, secara paksa dan kasar. Desahan aduh, di bibir Hazna, diartikan lain oleh Abimanyu. Peluh mengalir di d**a Abimanyu, hingga terpuaskan sudah hasratnya.
Hujan dan gemuruh petir di luar, menjadi saksi kisah dua manusia, berbagi peluh, tanpa ada rasa cinta. Hazna menerima karena itu adalah sebuah kewajiban, sedangkan Abimanyu, entahlah dorongan apa yang menyebabkan dirinya jatuh ke dalam pelukan Hazna.
Sepanjang malam Hazna terjaga, dengan rambut dan baju yang berantakan, di sampingnya terlelap suaminya dengan tubuh polos, tertutupi selimut, malam ini adalah malam yang tidak pernah terlupakan bagi Hazna. Malam di mana, Abimanyu menjadikan dirinya istri seutuhnya. Entah karena kewajiban sebagai seorang suami, entah karena lingerie yang seksi, dan aroma parfum rose, yang digunakan Hazna. Yang pasti bukan karena cinta. Tapi Hazna cukup bahagia, dalam hati kecilnya berharap, bahwa Abimanyu suatu saat akan melakukannya dengan cinta, dan menjadi miliknya seutuhnya, hati dan cintanya juga raganya.
Sayup-sayup terdengar adzan subuh, Hazna bengkit dari tidurnya, dengan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, permaiman semalam membuat Hazna tidak berdaya. Dengan berjalan pelan Hazna melangkah ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya dari ujung rambut sampai ujung kaki, tidak lupa membaca doa niat mandi wajib. Setelah itu Hazna mengambil air wudhu. Lalu dilanjutkan shalat Subuh. Doa-doa ia panjatkan di akhir salat.
“Ya Allah, Engkau berpihak pada orang-orang yang sabar, jadikan aku termasuk orang-orang yang sabar.” Doa Hazna, dengan menitikkan air mata.
Sinar mentari, menembus kaca jendela, dengan korden yang sudah terbuka. Abimanyu, mengeliat, tubuh tanpa sehelai benangpun masih bersembunyi di balik selimut, matanya menatap ke sekeliling kamar, tidak dilihatnya Hazna. Lalu Abimanyu bergegas ke kamar mandi dan membersihkan diri. Setelah itu, bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Dengan langkah cepat menuruni tangga.
“Ibu, Hazna, aku tidak sarapan, aku berangkat dulu,” ujar Abimanyu ketika melewati ruang makan, sambil berjalan tergesa-gesa.
“Iya hati-hati,” jawab Bu Ratna.
Hazna, berjalan cepat mengikuti langkah suaminya.
“Mas... tunggu,“ teriak Hazna.
Abimanyu berhenti, dan menoleh ke arah Hazna.
“Ada apa?”
“Hati-hati,” balas Hazna, sambil meraih tangan Abimanyu, dan mencium punggung tangannya dengan takzim.
“Haz, aku minta maaf, semalam, aku tiba-tiba sangat ingin memenuhi hasratku, kepada siapa aku lampiaskan, kalau tidak pada dirimu, aku khilaf,” ucap Abimanyu pelan.
“Itu sudah kewajibanku, melayanimu, jangan merasa bersalah, kapan kamu menginginkannya aku siap. Khilaf pada istri sendiri mendatangkan pahala,” balas Hazna, menatap lekat Abimanyu yang tampak salah tingkah.
Abimanyu hanya terdiam, ia lupa jika sekarang Hazna pasti akan mencium tangannya, ketika akan berangkat kerja. Gara-gara kejadian semalam membuat Abimanyu malu menatap Hazna. Entah apa yang membuatnya khilaf, dan sedikit gila. Malam yang tidak pernah terlupakan bagi Abimanyu, walaupun ini tidak pertama kali baginya, tapi tetap saja hal ini sangat berkesan baginya, semalam entah dorongan apa yang membuat Abimanyu bernafsu untuk memeluk Hazna. Tapi ia benar-benar sadar telah merengut kesucian istrinya. Kini wajah Hazna ada di benak Abimanyu, wajah cantik yang natural, tubuh seksinya yang hanya diperuntukan untuk dirinya, desahan, sikap pasrahnya dengan mata yang terpejam, mempunyai daya tarik sendiri, yang diiringi rintihan membuat Abimanyu, terbayang-bayang kejadian semalam. Panggilan telepon dari Angela tidak dihiraukannya.
Hazna kembali ke ruang makan setelah mengantar suaminya sampai naik mobil hingga mobil menghilang di balik pagar.
Hazna kembali duduk di kursi makan, menyantap roti bakar dan menyerutup cokelat panas menu favorit di kala pagi.
“Haz, bagaimana semalam, apa kamu dan Abimanyu sudah...” bisik Bu Ratna dengan tatapan serius.
“Sudah Bu..” balas Hazna, tahu apa yang di maksud mertuanya.
Tapi kenapa ibu mertuanya menanyakan hal itu, seakan-akan ia tahu hal itu akan terjadi. Hazna hanya menahan rasa penasarannya.
“Syukurlah, obatnya manjur,” celoteh Bu Ratna, sambil tersenyum tipis.
Ucapan ibu mertuanya membuat Hazna terbengong, penuh tanda tanya.
“Maksud Ibu, obat apa?”
“Haz, di dalam pernikahan itu wajib bagi suami untuk memberi nafkah batin, jika Abimanyu tidak melakukannya, dia akan dosa besar. Dan keturunan juga penting dalam membangun rumah tangga, kehadiran seorang anak, bisa mempererat hubungan kalian, kamu juga tidak akan kesepian, jika seorang anak ada di sampingmu, iya ‘kan Haz,” ujar Bu Ratna, puas karena rencananya berhasil, walau harus dengan mencampurkan obat perangsang di dalam teh yang di minum Abimanyu.