Bab 1 Ijab Qobul Hanya di Bibir Saja
Pria tampan, berkulit putih, tubuh tinggi berisi, dan tegap dengan alis tebal serta bermata tajam, tersenyum puas, dengan peluh membanjiri tubuh kekarnya. Desahan wanita yang dipeluknya, mampu membuatnya terbang melayang menuju surga dunia. Angela Kana, gadis cantik, dengan tubuh tinggi semampai, rambut berwarna tembaga yang panjang sebahu dengan ikal di bawahnya, serta kulit putih bersihnya, mata hitam serta hidung mancung itu mampu membuat Abimanyu jatuh dalam pelukannya.
Angela Kana, berusia 23 tahun, seorang aktris yang cukup terkenal, menjalin hubungan dengan pengusaha restoran, hotel, dan resort bernama Abimanyu Raharja yang berusia 28 tahun. Hubungan yang sudah berjalan 2 tahun itu, semakin erat, layaknya suami istri.
“I love you Abim, jangan pernah tinggalkan aku, meski saat ini kamu sudah menikah,” desah manja Angela di telinga Abimanyu, membuat desiran kuat mengalir ke jantung Abimanyu.
“Aku, berjanji sayang, kamu adalah satu-satunya wanita yang aku cintai,” balas Abimanyu sambil mendaratkan kecupan di bibir merah sensual milik Angela. Lalu keduanya pun terlibat dalam permainan panas di atas ranjang, tanpa ikatan pernikahan. Dan tanpa merasa berdosa, mereka melakukannya berkali-kali.
Malam itu Abimanyu keluar dari rumah, ia tidak memperdulikan istri yang baru dinikahinya beberapa jam yang lalu. Dan malam yang seharusnya untuk pasangan halalnya, ia berikan pada Angela Kana kekasihnya. Bahkan ia tidak memperdulikan ocehan Ibunya. Dengan perasaan kacau dan marah, ia meninggalkan malam pertamanya, dan lebih memilih memadu kasih dengan kekasihnya, yang tidak pernah di sukai oleh wanita yang telah melahirkannya.
Sinar sang surya, memasuki celah korden jendela kamar hotel. Kamar VVIP dengan berbagai fasilitas itu diperuntukan untuk Angela, wanita spesial Abimanyu.
Angela mengeliat, ketika hangat sang surya menyentuh kulit tubuhnya yang putih mulus, dengan berlahan membuka netranya, senyum tipis mengembang di bibirnya, ketika wajah Abimanyu sudah menempel di wajahnya, aroma mint sabun menguar di tubuh atletis Abimanyu, membuat gairahnya muncul. Dengan sigap tangan Angela melingkar di leher Abimanyu, menariknya hingga menyatu dengan tubuhnya yang masih polos tanpa sehelai benang pun.
“No, Angel. Cukup untuk hari ini, aku sudah mandi,” ucap Abimanyu sambil mengurai tangan Angela dari lehernya.
“Ayolah sayang, sekali lagi, satu bulan kita baru bertemu, ayolah kita habiskan hari ini bersama,” rengek Angela. Dengan memperlihatkan tubuh seksinya.
Abimanyu bangkit, sambil tersenyum tipis. ”Pagi ini ada rapat, aku sudah di tunggu di ruang rapat, nikmati harimu Angel, jalan-jalan dan shopping, aku sudah transfer, untuk kebutuhanmu,” balas Abimanyu, seraya merapikan kemejanya, memakai dasi, dan kemudian memakai jas.
“Oke, terima kasih sayang,” ucap Angela malas sambil mengecup bibir Abimanyu.
Abimanyu berjalan menuju pintu, dan keluar kamar. Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya menyapanya.
“Pagi, Pak Abim,” sapa salah satu room boy.
“Pagi,” balas Abimanyu dengan ramah.
Abimanyu dikenal pemimpin yang rendah hati, humble, dan baik pada semua karyawannya. Oleh karena itu karyawannya sangat loyal pada Abimanyu. Pimpinan dari beberapa restoran, 1 hotel bintang 5 dan beberapa resort di tempat wisata itu, sangat di kagumi oleh banyak orang. Beberapa gadis dari kalangan atas pun mengejar cintanya. Tapi Abimanyu menjatuhkan pilihannya pada Angela, seorang aktris yang dikenalnya 2 tahun yang lalu. Dan saat ini resmi menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Walau public belum mengetahui hubungan mereka, tapi berita kedekatan mereka sudah sedikit tercium awak media, yang terus menjadi tanda tanya.
“Maaf sedikit terlambat,” ucap Abimanyu pada karyawannya ketika memasuki ruang rapat.
Sekitar satu jam, Abimanyu memimpin rapat. ”Oke, rapat saya akhiri, terima kasih, untuk semua devisi atas laporan bulanan, semuanya boleh kembali ke ruangan masing-masing!” perintah Abimanyu.
Abimanyu, meraih ponselnya ketika selesai rapat, dan menyalakan ponselnya, panggilan masuk dari nomer ibunya memenuhi layar. Dengan segera Abimanyu menelepon kembali Ibunya.
“Assalamu’alaikum, Ibu. Maaf tadi Abim matikan ponselnya, karena ada rapat,” ucap Abimanyu dengan pelan dan sopan.
“Waalaikumsalam, Abim. Semalam, kamu tidur di hotel lagi,” protes sang ibu, ketika mendapati putra satu-satunya tidak ada di rumah pagi ini.
“Kamu keterlaluan, meninggalkan istrimu sendirian di malam pertamanya,” bentak Ratna, wanita yang melahirkan Abimanyu dengan geram.
“Maaf ibu, Abim sudah menuruti kemauan ibu untuk menikahi wanita pilihan ibu, Abim tidak pulang ke rumah. Ada pekerjaan banyak di hotel,” balas Abimanyu.
“Abim...kamu harus pulang malam ini, atau jabatan CEO aku cabut!” perintah Ratna dengan nada keras.
Abimanyu terkejut dengan ancaman Ibunya, bertahun lamanya ibunya tidak pernah berkata kasar padanya dan kini, ia mendengar ancaman dari ibunya.
Abimanyu terdiam, sementara sambungan ponsel sudah diputus Ratna, hatinya terasa sesak, ketika mengingat kenyataan bahwa dirinya telah menikahi wanita yang sebelumnya tidak dikenalnya yaitu wanita berhijab pilihan ibunya.
***
Sementara itu seorang wanita, sudah rapi mengenakan baju gamis lengkap dengan hijabnya, ia termenung, menatap wajah cantik alami, pemilik hidung mancung dan bibir mungil itu duduk di depan cermin, dalam hati terus bertanya, kenapa laki-laki yang sah menjadi suaminya meninggalkannya di malam pertama, seharusnya kemarin malam, adalah hal yang paling ditunggu oleh pasangan pengantin, tapi kenyatatan tidak. Hazna Safitri harus menelan pil pahit ketika kehadirannya justru tidak diinginkan oleh sang suami. Lamunan Hazna membuyar, ketika terdengar bunyi pintu kamar dibuka, terlihat suaminya di balik pintu, Hazna berusaha mengukir senyum hangat, kesedihannya berusaha ditelan sekuatnya.
Hazna masih duduk di depan meja rias, sementara Abimanyu duduk di sofa, tepat menghadap Hazna. Mata mereka saling tatap.
“Hazna Safitri, aku tegaskan padamu, ijab qobul yang aku ucapkan kemarin, hanyalah di bibir saja, jadi jangan harap aku memenuhi kewajibanku padamu, terutama nafkah batin,” ucap Abimanyu.
Bibir Hazna tercekat, tatapannya berubah pilu, netranya mulai memanas dan berkilat. Sedikit cinta yang diharapkannya seketika pudar, mendengar perkataan Abimanyu, lelaki halalnya yang baru satu hari mengucapkan ijab qobul dengan lantangnya. Wanita yang berusia 22 tahun menahan kesedihannya sekaligus rasa kecewanya.
Walau matanya memanas, Hazna mencoba menahan tangis, ia masih berpikir positif, mungkin lelaki di depannya yang sekarang bergelar suami, memerlukan waktu untuk menerima perjodohan ini. Dengan nada pelan, Hazna berucap,” Iya Mas Abim, Haz mengerti, mungkin kita memerlukan waktu untuk beradaptasi, dan saling mengenal, tapi Hazna siap menjalankan kewajiban sebagai seorang istri, baik lahir maupun batin.”
Mata tajam Abimanyu, malah semakin tajam menatap wanita di hadapannya, ia pun bangkit berdiri. ”Terserah apa yang kamu pikirkan, tapi aku tidak akan mengubah keputusanku,” ucap Abimanyu, lalu berjalan ke meja kerja, yang berada satu ruangan dengan kamarnya.
Berlahan air mata yang ditahannya luruh tanpa permisi, membasahi pipi Hazna. Hingga ketukan pelan pintu kamar, menghentikan tangisnya. Berlahan Hazna, mengusap air matanya dan beranjak untuk membuka pintu kamar.
Ceklek! Suara pintu terbuka, terlihat Bi Eni, asisten rumah tangga ada di depan pintu, wanita berusia 40 tahun itu, tersenyum ramah di depan pintu kamar.
“Bi Eni, ada apa?” tanya Hazna, berusaha menghilangkan mimik sedih wajahnya.
“Tuan Abim, dan Non Hazna, sudah ditunggu di meja makan untuk makan malam,” jawab Eni.
“Oh... sebentar lagi kami turun,” sahut Hazna.
Eni mengangguk pelan, dan pergi meninggalkan Hazna. Terlihat Hazna menoleh ke arah Abimanyu yang masih sibuk fokus pada laptop
“Mas, ibu menunggu kita untuk makan malam,” ajak Hazna yang sambil merapikan hijabnya..
“Kamu turun dulu, nanti aku menyusul,” sahut Abimanyu dengan nada datar dan dingin.
Hazna mematuhi perintah suaminya, ia pun keluar kamar dan dengan langkah pelan menuruni tangga. Sesampainya di meja makan, terlihat Bu Ratna sudah duduk di kursi makan, dan menoleh ka arah Hazna.
“Mana Abimanyu?” tanya Bu Ratna.
“Maaf Bu, tampaknya Mas Abim sibuk, biar aku nanti bawakan makanan ke kamar,” balas Hazna seraya duduk di kursi makan.
Ratna hanya mendesah pelan. ”Haz, kamu yang sabar, aku akui ini pernikahan yang terjadi karena perjodohan. Aku ingin Abimanyu itu menikah dengan wanita sholehah sepertimu, karena aku merasa gagal menjadi seorang ibu, dalam mendidik putraku, terutama masalah agama, aku ingin kamu yang bisa membawa Abimanyu ke jalan yang benar,” jelas Ratna dengan sorot mata memohon dan penuh harap.