Hazna hanya mengangguk, dan tersenyum kecil, dalam hatinya ia merasa, tidak berdaya, tapi ia akan berusaha untuk menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Hazna dan Ratna menikmati makan malam berdua, setelah selesai, Hazna mengambilkan sepiring nasi dan beberapa lauk serta sayur, dan membawanya ke kamar.
“Mas, aku bawakan makan malam untukmu,” ucap Hazna pelan, dan menaruh nampan yang berisi piring dan gelas di atas meja.
Abimanyu menatap datar.” Apa kamu pikir dengan perhatianmu padaku aku akan luluh, dan menerimamu sebagai istri, jangan mimpi Haz,” seru Abimanyu ketus.
Tidak pernah Hazna, menyangka bahwa satu hari setelah ijab qobul, Abimanyu berucap seperti itu. Hazna merasa menjadi wanita yang tidak sempurna. Dengan gemetar ia mencoba bertanya pada Abimanyu.
“Jika Mas Abim, tidak menginginkan perjodohan ini, kenapa harus berpura-pura menerima, ini pernikahan. Ijab Qubul, bukan hanya dua kata yang terucap di bibir, tapi itu janji pada Allah yang harus di tepati,” ucap Hazna.
“Aku tidak perduli Haz. Aku tidak mencintaimu, dan aku tidak akan menyentuh wanita yang tidak aku cintai,” tukas Abimanyu.
“Kita mungkin perlu waktu, cinta memang tidak datang tiba-tiba, aku akan selalu menunggu cinta itu,” balas Hazna lirih.
“Terserah Haz, aku tidak perduli, sampai kapanpun cinta itu tidak pernah akan aku berikan padamu, meskipun kamu memberi perhatian,” balas Abimanyu. Dan tanpa menghiraukan Hazna. Abimanyu bangkit dari duduknya dan melangkah di balkon kamar.
Terdengar Abimanyu menelepon seseorang dengan mesra.
“Hello, Sayang,”sapa mesra Abimanyu.“Jangan menangis, I love You, I am sorry Angela, percayalah, aku tidak akan jatuh cinta padanya apalagi menyentuhnya.”
Percakapan di telepon itu, terdengar jelas oleh Hazna, air mata semakin deras mengalir membasahi pipinya. Dengan cepat Hazna masuk ke dalam kamar mandi, dan meluapkan tangis dan kesedihannya di kamar mandi, dengan menghidupkan air shower, berharap tidak ada yang mendengar tangisnya, termasuk Abimanyu.
Malam semakin larut. Abimanyu tertidur pulas, dengan membelakangi Hazna. Sementara itu Hazna masih terjaga berharap Abimanyu berubah pikiran, memperlakukan dirinya sebagai seorang istri seutuhnya, namun harapannya sia-sia, hingga terdengar sayup-sayup suara adzan subuh, Hazna terbangun, rasa kecewa menyelimuti hatinya, tapi tidak mau menyalahkan Abimanyu, mungkin Abimanyu perlu waktu untuk menerima dirinya. Tidak semua orang jatuh cinta pada pandangan pertama, Ia ingat dengan ucapan ibunya, bahwa cinta akan tumbuh, dengan seiringnya waktu, cukup kita bersabar. Bersabar itu berarti menerima takdir kita.
Hazna mulai menjalankan sholat subuh, setelah berwudhu. Setelah melaksanakan kewajibannya, Hazna pun melatunkan ayat–ayat suci dengan merdunya. Terlihat Abimanyu masih terlelap, ketika Hazna selesai dengan bacaan ayat-ayat suci. Lalu Hazna bergegas keluar dari kamar menuju dapur, di sana terlihat Bi Eni, sedang sibuk memasak.
“Aku bantu ya Bi Eni,” ucap Hazna.
“Haduh Non Hazna, nggak usah, biar Bi Eni saja,” tolak wanita bertubuh gemuk itu.
“Nggak apa-apa Bi, biasanya Mas Abimanyu, kalau pagi sarapan apa?” tanya Hazna.
“Biasanya itu, minum jus buah, semua buah suka, terus roti bakar atau sandwich, hanya sarapan ringan, itu kebiasaan Tuan Abimanyu,” jelas Bi Eni.
“Iya sudah, biar aku siapkan, sarapan untuk Mas Abimanyu,” balas Hazna.
Lalu dengan cekatan tangan Hazna, membuat jus mangga dan roti bakar selai strawbery. Setelah semuanya selesai dan siap disajikan di atas meja, bersamaan dengan menu mi goreng yang sudah disiapkan Bi Eni.
“Wah, Haz, kamu nggak usah repot-repot di dapur, biar Bi Eni yang mengerjakan, apalagi ‘kan kamu pengantin baru, pasti capek, iya ‘kan,” ledek Bu Ratna.
“Betul Non, tadi saya sudah melarangnya, Nyonya, tapi Non Haz memaksa,” timpal Bi Eni.
Hazna hanya tersenyum tipis, kenyataannya semalam tidak ada aktivitas yang membuatnya lelah. Tapi Hazna berusaha menyembunyikan hal pribadi ini dari ibu mertuanya.
“Nggak apa-apa Bu, ini sudah kewajiban Hazna sebagai seorang istri,” jawab Hazna pelan.
“Ibu tidak salah pilih mantu,” balas Bu Ratna sambil menepuk pelan bahu Hazna.
Hazna kembali ke kamar, tak terlihat Abimanyu di tempat tidur, tapi bunyi shower terdengar. Dengan segera Hazna merapikan tempat tidur, setelah itu menyiapkan baju kerja untuk suaminya itu, stelan kemeja dan juga jas warna biru dipilihnya, serta dasi warna senada, sudah ada di atas tempat tidur, yang sudah terlihat rapi. Tidak lupa Hazna menyiapkan sepatu dan tas kerja.
Beberapa menit kemudian, Abimanyu keluar kamar mandi dengan handuk putih terlilit di pingangnya. Hazna langsung menundukkan pandangannya, seharusnya hal itu tidak perlu ia lakukan, bagaimanapun Hazna mempunyai hak sepenuhnya atas tubuh suaminya. Sementara Abimanyu terlihat cuek, dengan cepat ia memakai kemeja dan jas yang telah disiapkan Hazna.
“Mas aku tunggu di meja makan, aku sudah siapkan sarapan untukmu, makanlah sebelum berangkat kerja,” ucap Hazna, tanpa dibalas oleh Abimanyu.
Hazna duduk di kursi makan bersama Bu Ratna, tidak lama kemudian terlihat Abimanyu turun dari tangga dan menuju ruang makan, serta duduk di kursi tepat di hadapan Hazna.
“Bu, hari ini Abim lembur, pulang malam,” ucap Abimanyu.
“Sekarang jangan bilang pada ibu, tapi bilang sama Hazna, dia ‘kan istrimu,” balas Bu Ratna.
“Emmm,” desah Abimanyu
“Bi Eni, makasih ya jusnya, segar sekali, tidak terlalu manis, rasanya pas,’’ ucap Abimanyu ketika Bi Eni menyuguhkan buah di meja makan.
“Tuan, terima kasihnya sama Non Haz, karena hari ini yang buat jus Non Haz,” jawab Bi Eni sambil mengulas senyum.
Abimanyu menatap Hazna yang menahan senyum. Lalu ia berucap pada wanita di depanya, ”Terima kasih, lain kali biar Bi Eni yang bikin.”
“Nggak apa-apa Mas, aku ‘kan istri Mas Abim, jadi sudah kewajibanku,” balas Hazna pelan.
Bu Ratna tersenyum, ia bahagia dan yakin bahwa suatu hari nanti Hazna akan membuat jatuh cinta Abimanyu.
Abimanyu pergi ke kantor, mobil sedannya melaju kencang menuju hotel Raharja. Pesan singkat dari Angela masuk ke ponsel Abimanyu.
{Siang ini, aku tunggu di kamar kita}
Abimanyu mengulas senyum di sudut bibirnya, dengan menambah kecepatan laju kendaraan. Beberapa menit kemudian sampailah di Hotel Raharja. Dengan gegas melangkah menuju ruang kerjanya, dan mulai fokus di depan laptopnya. Ingin segera menyelesaikan pekerjaannya dan setelah itu menemui Angela yang sudah di kamar No. 201 kamar pribadi untuk Angela dan dirinya.
Pukul 11:30 pintu ruangan di ketuk pelan tok...tok..
“Masuk!” perintah Abimanyu, kepada seseorang di balik pintu yang sedang mengetuk.
Pintu pun terbuka, Hazna melangkah pelan dengan sebuah paper bag, berisi menu makan siang yang dibuatnya dari rumah. Kedatangan Hazna membuat Abimanyu terkejut.
“Haz, kenapa ke sini?” tanya Abimanyu sambil bangkit dari duduknya.
“Aku, tadi memasak makan siang untuk Mas Abimanyu, jadi aku bawa ke sini, kita bisa makan bareng di sini,” jawab Hazna sedikit tegang.
“Haz, aku tegaskan padamu, aku tidak ingin kamu mendekatiku.”
“Aku, hanya ingin menjalankan kewajiban sebagai seorang istri, aku tidak mau mengabaikanmu, jika Mas Abim, belum bisa menjalankan kewajiban Mas Abim, itu di luar kendaliku, tapi biarkan aku menjalani kewajibanku,” jelas Hazna pelan, tapi tegas.
Abimanyu menghelas napas kasar, lalu kembali duduk di meja kerja. Sebuah panggilan telepon mengagetkan Abimanyu, dengan segera Abimanyu mengangkat telepon dari Angela.
“Maaf Sayang, tidak siang ini, aku ada rapat mendadak, okay,” ucap Abimanyu dan langsung menutup ponselnya.
Sementara itu Hazna menyiapkan makan siang, ia duduk di sofa dan menata menu makan siang di atas meja. Menu sop buntut dan ayam kecap, merupakan menu favorit Abimanyu, sudah tertata rapi di meja siap untuk disantap. Dengan malas lelaki bertubuh atletis itu berjalan ke arah Hazna, lalu Abimanyu duduk di sofa, ia menyantap menu yang ada di hadapannya,
Tanpa bicara Abimanyu menghabiskan satu piring makan siang.
Emmm masakan Hazna, enak, batin Abimanyu, sambil mengukir senyum di sudut bibirnya.
Beberapa menit berlalu, Abimanyu sudah menyelesaikan makan sianganya. Keduanya masih saling diam. Hazna, membereskan tempat makan, dan setelah itu meraih tangan Abimanyu, dan mencium punggung tangannya dengan takzim. Dan hal itu membuat Abimanyu terkejut.
“Aku pulang dulu, Assalamu’alaikum,” pamit Hazna, tanpa dibalas Abimanyu.
Hazna berjalan ke luar ruangan, lalu ke loby, terlihat beberapa wartawan infotaiment sedang bertanya pada resepsionis hotel. Tentang keberadaan Angela yang diduga menginap di Hotel Raharja.
Terlihat beberapa wartawan itu tampak kecewa, mereka pun melangkah lebar dan meninggalkan loby.
“Uhhh padahal info yang aku dapat akurat, kemarin Angela Kana dari Bandara langsung ke Hotel Raharja,” gerutu salah satu wartawan, tampak kecewa.
Hazna mendengar semuanya dengan jelas, ia pun masih ingat bahwa nama Angela Kana, ia dengar satu bulan sebelum pernikahanya. Mungkinkah hubungan antara Mas Abimanyu dan Angela Kana itu benar? Dan sampai saat ini, mereka masih berhubungan. Rasa sesak tiba-tiba menghimpit d**a Hazna.
Sementara itu, Abimanyu menuju kamar 201. Walau semalam mereka sudah melepas rindu yang membuncah, tapi rasanya lelaki itu ingin menumpahkan segala hasrat bercinta dengan kekasih terluapkan, setelah satu bulan penuh menahan rindu pada kekasihnya itu. Pintu kamar dibukanya, terlihat Angela berdiri di balkon kamar, dengan berbalut gaun warna putih sebatas lutut, dengan motif bunga-bunga kecil, baju seksi tanpa lengan, dengan belahan d**a rendah, memperlihatkan bentuk tubuhnya yang seksi. Dengan gegas Abimanyu memeluk pinggang Angela, dan meletakkan dagunya di bahu wanita cantik dan beraroma vanila lembut menguar dari tubuhnya, membuat gairah Abimanyu semakin mengila.
“Sayang, malam ini aku akan bersamamu lagi,” bisik Abimanyu, bibirnya menyentuh lembut telinga Angela.
“Hemmm, aku selalu akan menjadi milikmu di setiap malam,” balas Angela, langsung membalikkan tubuhnya menghadap Abimanyu, bibir mereka langsung bertaut, diiringi deburan jantung yang berdetak tak karuan.
Tangan Angela begitu lembut mengusap d**a bidang Abimanyu, dan melepas jas, serta satu–persatu kancing kemeja dibuka.
Sementara itu Hazna, masih tertegun di loby hotel. Dengan memberanikan diri ia mendekati resepsionis untuk memastikan keberadaan Angela. Tanpa basa-basi Hazna bertanya pada sang resepsionis.
“Kamar nomor berapa Angela menginap?” tanya Hazna tegas, membuat resepsionis bertambah gugup, dan wajahnya berubah pucat.
“Maaf Bu, saya tidak bisa memberitahu.”
“Aku, ingin bicara pada Angela Kana, tolong kamar berapa?” Sekali lagi Hazna memohon pada resepsionis dengan nada tegas.
“Kamar vvip nomor 201,” jawab resepsionis pelan dengan wajah ketakutan.
Tanpa berpikir panjang, Hazna melangkah lebar mencari kamar nomor 201, tidak butuh waktu lama, ia menemukan sebuah kamar yang berada di lantai 10 dan merupakan kamar yang spesial karena cukup besar. Dengan langkah kaki pelan, Hazna berjalan mendekati pintu. Jantungnya berdebar kencang, hatinya bergejolak, pantaskah dirinya mencurigai suaminya bersama Angela di dalam kamar hotel. Rasa penasarannya terus menyusup dalam hatinya.
Tok...tok..pintu kamar hotel diketuk pelan, berharap di dalam sana hanya ada Angela Kana.
Tidak lama kemudian pintu terbuka, seorang wanita cantik, dengan pakaian seksi berdiri dihadapan Hazna.
“Siapa kamu? tanya Angela sambil memicingkan matanya, melihat wanita berhijab ada di depan kamarnya.
“Aku Hazna, istri dari Abimanyu, CEO Hotel Raharja,” jawab Hazna.
“Sayang, kemarilah sebentar,” seru Angela, memanggil kekasihnya.
Tidak lama kemudian, Abimanyu datang dengan kemeja yang berantakan, matanya membulat ketika melihat Hazna ada di depan pintu, dan menatapnya, mata Hazna terlihat berkaca-kaca, tidak mampu berucap sepatah katapun. Baru sehari pernikahannya, tapi di hadapkan pada kenyataan suaminya bersama wanita lain.