“Haz, kenapa kamu ke sini?” tanya Abimanyu, terlihat kesal.
Hazna, tidak menjawab, ia bergegas pergi meninggalkan Abimanyu, dan Angela. Apa yang dilihatnya cukup menjawab rasa penasarannya. Dengan langkah lebar, Hazna keluar hotel dan naik taksi, sambil mengusap air matanya.
Sementara Abimanyu, terlihat cemas, tapi Angela bersikap biasa saja. Senyum puas tergambar jelas di wajah Angela, sambil memainkan rambut panjangnya.
“Angela, seharusnya, kamu beritahu aku, jika Hazna datang, belum saatnya Hazna tahu tentang hubungan kita,”tegas Abimanyu seraya merapikan kemejanya.
“Aku tidak mau, menyembunyikan hubungan kita dihadapannya, dia yang telah merebut kamu dariku, aku cukup pusing bersembunyi dari wartawan, dan menutupi hubungan kita dari public!” Protes Angela, seraya menghempaskan tubuhnya kasar di tempat tidur.
Setelah merapikan kemejanya, Abimanyu segera keluar kamar, untuk mengejar Hazna. Abimanyu takut, jika Hazna mengadukan hal ini pada ibunya. Mengingat ancaman ibunya yang akan mencabut jabatan CEO darinya. Dengan cepat Abimanyu menuju mobilnya dan melaju cepat berharap bisa bicara pada Hazna.
Mobil taksi yang dinaiki Hazna, berhenti di depan rumah Bu Ratna, setelah membayar taksi, Hazna melangkah masuk, berusaha menenangkan hatinya dengan meraup udara sebanyak-banyaknya dan menghembuskannya pelan, lalu kembali melangkah pelan di depan pintu, terlihat ibu mertuanya yang sudah menyambutnya dengan senyum bahagia.
“Bagaimana, makan siang di kantor, bersama Abimanyu?” tanya Bu Ratna dengan mengulas senyum.
“Menyenangkan, Bu.., Mas Abimanyu, menghabiskan makanan yang Haz masak, tampaknya ia suka dengan masakan Hazna,” jawab Hazna, dengan tersenyum kecil. Ia tidak tega mematahkan hati wanita paruh baya yang tulus menginginkan kebahagiannya putranya.
“Alhamdulillah, semoga semuanya berjalan, yang seperti ibu inginkan, perlahan-lahan kalian saling cinta.” Bu Ratna berucap, seraya menatap lekat menantu pilihannya, dan berharap rumah tangga, yang berawal dari perjodohan ini akan langgeng.
Hazna dan Bu Ratna, terlihat menuju teras rumah samping, menatap taman yang mengeliling sebuah kolam renang, mereka tampak berbincang-bincang seperti layaknya ibu dan anak. Hazna berusaha menyembunyikan masalahnya dari Bu Ratna. Tidak pantas rasanya mengumbar aib suaminya sendiri, meskipun itu dengan ibu mertuanya.
Terlihat Abimanyu, memasuki rumah dengan langkah lebar, di edarkannya netranya ruang demi ruang, mencari keberadaan Hazna, dalam hatinya ia sangat cemas, jika Hazna mengadu pada ibunya. Abimanyu melihat Hazna dan Bu Ratna di halaman samping, dengan cepat ia menghampiri mereka.
“Haz..,” panggil Abimanyu, dengan raut muka cemas.
Bu Ratna dan Hazna, seketika menoleh ke arah Abimanyu. Bu Ratna tersenyum ke arah Abimanyu.
“Lho, baru ketemu, sudah pulang ke rumah, katanya mau lembur,” ledek Bu Ratna pada putra semata wayangnya.
Melihat nada bicara dan ekpresi ibunya, Abimanyu menyimpulkan, jika Hazna tidak mengatakan tentang kejadian di hotel.
“Abimanyu, ingin bicara pada Hazna,” jawab Abimanyu.
“Maklum Nyonya, pengatin baru, jadi penginnya deketan terus,” celetuk Bi Eni, sembari membawakan 2 gelas jus alpukat dan menaruhnya di meja.
Celotehan Bi Eni, mengundang tawa bahagia Bu Ratna. Lalu bergantian menatap Abimanyu dan Hazna.
“Ya Sudah, bicaralah, kalian memang harus sering-sering berbincang-bincang,” balas Bu Ratna.
Hazna, terlihat hanya diam, tanpa ekpresi, sesekali tersenyum tipis ke arah Bu Ratna. Memendam kesedihan, karena apa yang diharapkan Ibu mertuanya sangatlah tidak mungkin, apalagi jika pernikahan mereka ada wanita lain di hati suaminya.
Abimanyu mengajak Hazna, masuk ke dalam kamar, setelah mereka berada di dalam kamar, Abimanyu menatap lekat wanita yang satu hari ini baru menjadi istrinya.
“Terima kasih, kamu tidak bilang pada Ibu,” ucap Abimanyu pelan.
“Jadi mawar yang memikat hatimu itu Angela Kana. Mas Abim masih berhubungan dengannya?” tanya Hazna dengan bibir bergetar, ingin rasanya ia memukul dan menampar, pria yang mengucap ijab qobul, tapi begitu mudah mengkhianatinya.
“Iya, Haz. Mawar yang memikat hatiku adalah Angela Kana, kami sudah berhubungan selama dua tahun, aku sangat mencintainya dan bermaksud menikahinya, tapi sayang, Ibu tidak menyukai Angela,” jelas Abimanyu.
“Lalu posisiku di hatimu apa? Kamu hanya menjadikanku istri di atas kertas, hanya untuk membuat ibumu bahagia, Mas Abim mengorbankan perasaanku,” balas Hazna, dengan derai air mata.
“Jangan menyalahkanku Haz, kamu sendiri, kenapa menerima perjodohan ini?” timpal Abimanyu geram.
“Aku menerima perjodohan ini, karena semata-mata niat untuk ibadah. Karena menikah adalah ibadah. Jika ada seorang pria, yang seiman dan mapan, meminangku, alasan apa untuk menolak lamarannya?” balas Hazna lirih, menatap sendu Abimanyu.
Abimanyu hanya terdiam, dilihatnya Hazna yang berurai air mata. Tatapan Abimanyu dingin, seakan ia dibutakan oleh cintanya pada Angela.
“Sudah aku bilang, aku tidak peduli dengan perasaanmu, yang aku khawatirkan hanya kesehatan Ibuku, dan perasaan Angela,” ucap Abimanyu dengan nada dikeraskan.
“Jangan khawatir, Mas... Aku tidak akan membuka aibmu, di depan siapapun. Aku akan menerima segalanya,” jawab Hazna.
Abimanyu terdiam mendengar ucapan Hazna, ada keraguan di dalam hatinya, mungkinkah Hazna, akan diam saja, tidak memberitahu tentang perselingkuhannya pada ibunya. Abimanyu menatap lekat wanita yang di hadapannya, mencari celah kejujuran di matanya.
“Baguslah, jika kamu mengerti, yang penting kesehatan ibu,” balas Abimanyu.
Malam semakin larut, Abimanyu masih sibuk di depan laptopnya, di meja kerja yang terletak di sudut kamar, sementara Hazna terlihat, membaca buku di atas tempat tidur, pikirannya melayang pada sosok aktris Angela Kana, terbayang kecantikan, tubuh yang seksi, yang membuat suaminya tidak bisa berpaling dari aktris itu.
Hazna menghela napas panjang, menghembuskannya pelan. Lalu bangkit dari duduknya, melangkah mendekati Abimanyu.
“Mas, aku minta izin untuk aktif kembali mengajar taman kanak-kanak,” ucap Hazna pelan, seraya berdiri di depan meja kerja Abimanyu.
“Kamu boleh melakukan apa saja keinginanmu,” balas Abimanyu ketus, dengan tatapan datar.
“Terima kasih,” balas singkat Hazna. Melangkah kembali ke tempat tidur, dan merebahkan tubuhnya.
Kamar pengantin baru, yang seharusnya berisi kehangatan, dan indahnya cinta, kini hanya rasa hampa dan dingin yang dirasa. Hazna kembali menitikkan air mata, pada siapa ia akan tumpahkan segala sakit dalam d**a, pada ibunya yang berharap kebahagian untuk dirinya, akankah Hazna tega membuat kecewa yang tiada tara, ketika mendengar pernikahan putrinya, telah hancur di malam pertama pernikahan. Atau akankah bercerita pada sahabatnya yang dari awal, sudah memperingatkan tentang Angel Kana yang dekat dengan Abimanyu. Hazna begitu resah, terjaga dari tidurnya, waktu menunjukkan jam tiga dini hari. Tanpa berpikir, Hazna bergegas mengambil air wudhu, lalu melakukan sholat tahajut. Karena mengadu pada Allah adalah yang paling tepat.
Begitu lama Hazna bersujud, sambil berderai air mata, segala sakit di hati ditumpahkannya, di atas sajadah
“Semua yang terjadi, atas kehendakmu Ya Allah, aku menerima segala apa yang terjadi dalam hidup ini, ampunilah segala kesalahanku. Hanya Engkau yang dapat membolak-balikan hati manusia. Berikanlah hidayah pada suamiku, dan beri kesabaran atas diriku, aamiin,” doa Hazna di akhir sholatnya.
Setelah itu, melantunkan ayat suci Al’quran dengan merdunya, hingga sayub-sayub adzan subuh terdengar, Hazna melanjutkan dengan sholat subuh. Setelah sholat subuh, Hazna, pergi ke dapur, menyiapkan jus dan menu sarapan dibantu Bi Eni. Setelah semua menu sarapan, siap di meja makan, Hazna kembali ke kamar, di dapati Abimanyu masih tidur pulas, Hazna membuka korden dan jendela kamar, sinar sang surya pun masuk ke dalam kamar memberi kehangatan. Hazna menghirup udara pagi, dilepaskan segala beban hidupnya, pasrah menjalani takdir hidupnya, tapi tetap yakin, bahwa hubungannya dengan suaminya akan membaik.
Hazna lalu membersihkan diri, hari ini ia akan menyibukan dirinya untuk kembali mengajar di taman kanak-kanak. Dengan mengenakan rok panjang dibalut blouse warna navi dan hijab senada, serta merias wajahnya dengan natural, penampilan yang sederhana, tapi tidak mengurangi kecantikan alami Hazna, wajah dan penampilanya di tatapnya di depan cermin.
Apa aku harus, berpenampilan seperti Angela, supaya kamu mencintaiku Mas... batin Hazna.
Lamunannya membuyar ketika ponsel suaminya berdering, dengan hati-hati diraihnya ponsel itu dari atas nakas, terlihat nama Angela di layar ponsel.
“Angela Kana, jangan kamu hubungi lagi suamiku!” tegas Hazna, memberanikan diri berbicara pada wanita kekasih suaminya.
“Ha...ha... tawa mengema di seberang ponsel. Apa kamu pikir kamu bisa bersaing denganku, suamimu sudah tergila-gila padaku sebelum menikahimu, dan kami akan terus bersama,” timpal Angela.
“Aku istri sah Abimanyu Raharja, selama talak belum terucap dari mulut suamiku, akan mempertahankan pernikahan ini,” balas Hazna dengan tegas. Lalu menutup ponsel, dan mengnonaktifkan ponsel Abimanyu, kemudian menaruh di tempat semula.
Hazna menyiapkan baju kerja untuk Abimanyu, setelah itu mengambil tasnya dan bergegas turun, menuju ruang makan. Terlihat ibu mertuanya sudah duduk di kursi dan meminum segelas s**u.
“Haz, mau ke mana?” tanya Bu Ratna, sambil meletakkan gelas di meja.
“Haz, akan mulai mengajar di taman kanak-kanak,” jawab Hazna.
“Haduh Haz, kamu itu tidak kekurangan apa pun di rumah ini, kenapa harus kerja, berapa sih gaji guru taman kanak-kanak,” ucap Bu Ratna.
“Bukan soal gaji, tapi Haz senang, jika bersama anak-anak kecil, mereka seperti malaikat kecil, segala tingkahnya pasti mengundang tawa,” Hazna berkata sambil mengulas senyum bahagia.
“Non Haz, sudah ingin punya momongan ya,” sela Bi Eni.
“Ibu juga sudah ingin nimang cucu,” celetuk Bu Ratna, membuat Hazna terdiam.
Bersamaan dengan itu Abimanyu turun, menuju ruang makan, lalu duduk.
“Abimanyu, minggu depan kita adakan resepsi pernikahan kalian, setelah itu kalian pergi bulan madu,” ucap Bu Ratna sangat antusias.
“Tidak usah Bu...,” ucap Hazna dan Abimanyu bersamaan.
“Kompak sekali kalian, kenapa tidak usah ada resepsi dan bulan madu?” tanya Bu Ratna sembari menatap Hazna dan Abimanyu bergantian.
“Bu.. aku sudah bilang ‘kan, aku tidak mau mengadakan resepsi pernikahan,” tukas Abimanyu.
“Iya, Hazna setuju dengan Mas Abimanyu,” sela Hazna.
“Baiklah, tidak ada resepsi, tapi harus ada bulan madu, ibu ingin segera punya cucu,” balas Bu Ratna.
Ucapan ibunya, membuat Abimanyu tersedak. Keinginan ibunya sangat lah mustahil terwujud, jika Abimanyu tidak menyentuh Hazna.
“Insya Allah, ya Bu, Allah akan mengabulkan keinginan ibu,” ucap Hazna dengan tenang.
“Aamiin,” ucap Bu Ratna, terlihat begitu bahagia.
“Haz, aku akan mengantarmu ke tempat kerjamu,” ajak Abimanyu.
“Nggak usah, Mas ..., aku naik taksi saja.”
“Haz, jangan menolak ajakkan suami, lagi pula ‘kan satu arah,” sahut Bu Ratna.
“Baiklah Bu.” Akhirnya Hazna, menuruti kemauan ibu mertuanya dan suaminya.
Hazna, duduk di jok depan bersebelahan dengan Abimanyu, selama perjalanan Abimanyu dan Hazna saling diam. Hingga mobil sedan berhenti di TK. Cermin Bunda. Hazna mencium punggung tangan Abimanyu.
“Aku pamit dulu Mas, hati–hati di jalan,” ucap Hazna sebelum menutup pintu mobil.
“Haz, terima kasih.”
“Untuk Apa?”
“Untuk membuat ibuku tenang, dan merasa kita baik-baik saja,” jawab Abimanyu.
Hazna mengangguk, lalu menutup pintu mobil. Lalu beranjak masuk ke dalam kelas. Sambutan riuh anak-anak, membuat Hazna tersenyum, tawa dan celoteh mereka mampu membuat Hazna melupakan lara hatinya..
Setengah hari berlalu, Hazna kembali pulang ke rumah. Terasa hampa waktu memasuki kamar. Hingga malam tiba, suaminya tak kunjung pulang. Waktu menunjukkan pukul sebelas malam, pintu kamar dibuka pelan, Abimanyu masuk ke dalam kamar, Hazna, masih terjaga, ia melirik suaminya yang sedang berganti baju, memakai piyama. Dan merebahkan diri di sampingnya, masih dingin sedingin es. Istri yang seharusnya dipeluk dibiarkan begitu saja. Hazna hanya bisa menghela napas pelan, menguatkan kesabarannya.
Pagi hari Hazna, masuk ke kamar mandi, sudut matanya menangkap kemeja putih milik Abimanyu yang berada di keranjang cucian, sesuatu berwarna merah menempel di kemeja Abimanyu. Bekas lipstik dengan jelas ada di kemeja suaminya. Membuat Hazna kembali menumpahkan air matanya. Masih bisakah Hazna bersabar dengan keadaan seperti ini. Haruskah Hazna menerima, jika suaminya memadu kasih dengan wanita lain.
“Ya Allah, ampuni hambamu ini, apa yang harus aku lalukan dengan pernikahan seperti ini,” desah Hazna, menitikan air matanya.
Sang mentari menyapa, Abimanyu terbangun dari tidurnya, ia mendapati Hazna, sudah rapi dengan baju dan hijabnya, seperti biasa baju kerja untuknya sudah disiapkan Hazna.
“Mas, aku tunggu di ruang makan, aku sudah siapkan sarapan untukmu,” ucap Hazna datar.
“Haz, kamu tidak usah, mengurusiku, kamu tidak perlu melaksanakan kewajibanmu,” balas Abimanyu.
“Aku istrimu, jika aku tidak menjalani kewajibanku, itu sama halnya aku tidak menjalankan perintah Allah. Terlepas dirimu, menjalankan kewajibanmu atau tidak, itu urusan Mas Abim.”
Ucapan Hazna terasa sindiran yang menusuk sampai relung hati, rasa bersalah dan rasa berdosa, mempermainkan sebuah pernikahan. Abimanyu terdiam.