Mendua-Bab 9

1776 Words
*** Aku masih berada di luar kamar hotel setelah tadi keluar dengan cara menutup mataku. Astaga! Biar kuberi tahu siapa yang baru saja aku lihat, dia adalah Axel Adijaya, lelaki yang juga ikut terlupakan pasca hancurnya handphone lamaku. Sejak saat itu aku tak pernah mengingat namanya lagi. Pesan terakhirnya adalah mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku dan belum sempat aku balas karena malam itu hatiku benar-benar sedang hancur-hancurnya. Dan, kini lihat siapa yang ada di dalam kamar hotel? Semesta mempertemukan kami lagi di tempat ini entah karena apa. Aku pun tidak tahu. Barangkali ini yang dinamakan takdir. Pun, aku sekarang tak tahu harus menghadapi Axel dengan cara seperti apa. Pasalnya malam itu aku telah bersikap sombong karena mengabaikan pesan panjangnya. “Feya?” panggil Axel dari dalam dengan suaranya yang terdengar tidak percaya telah melihat kehadiranku di sini. “Kamu benar Feya, kan?” tanyanya karena aku tak juga membalikan badan. Diriku serba salah. Ingin berbalik, tapi takut ia belum mengenakan handuk seperti tadi. Aku gelisah. Sebagai tour guide aku tak ingin mengabaikan pekerjaanku, dan sebagai teman aku pun tak ingin membuatnya menunggu terlalu lama untuk kami bertukar kata lagi. Bagaimanapun juga aku ingat apa yang Axel lakukan waktu itu. Dia yang mengantarku pulang ke rumah setelah aku memutuskan untuk meninggalkan Satrio. “Feya?” panggil Axel sekali lagi. Pada akhirnya aku tak mempunyai waktu untuk terus diam saja. “Kamu sudah mengenakan pakaianmu, kan?” tanyaku. Kudengar dia terkekeh, lalu jawabannya pun membuatku lega. Syukur lah Axel sudah mengenakan pakaiannya. Aku memberanikan diri untuk berbalik menghadap Axel. Masih dapat kurasakan merahnya wajahku akibat kejadian tidak terduga beberapa menit yang lalu, dan itu mungkin diketahui jelas oleh Axel karena dia sibuk menahan senyumya sembari menatap seluruh wajahku yang memerah. “Kamu ngapain di sini?” tanya Axel kemudian. Akhirnya lelaki itu menghentikan tingkah konyolnya yang sibuk menertawakanku dalam diamnya. aku kemudian menjawab pertanyaanya. “Kerja!” kataku. “Dan kamu yang nyusahin temanku, ya?” tanyaku penuh selidik. Aku tak suka basa-basi, lebih baik kutanya saja secara langsung pada Axel. “Garis bawahi, aku nggak nyusahin temanmu. Dia saja yang nggak bisa melayaniku dengan baik!” Mulutku menganga mendengar itu. Dasar Axel keras kepala. Ternyata dia tidak sedewasa yang aku kira. Dirinya masih seenaknya saja. “Tapi kamu bikin semua orang repot, Xel! Nina bahkan dimarahin atasan kami gara-gara sikap kamu,” ucapku. “Aku minta maaf soal itu, tapi aku senang karena kejadian itu aku bisa menemukanmu di sini,” balas Axel yang akhirnya mampu membuatku terdiam. Aku menelan ludahku dengan susah payah, tak tahu ke mana arah pembicaraan Axel yang sebenarnya. Seingatku pesan terakhirnya agak membuatku bingung. Itu lah kenapa aku enggan membalasnya. Dan, kini kata-kata yang lelaki itu ucapkan sama bingungnya dalam benakku. Dalam keadaan aku yang sedang kebingungan, Axel menyodorkan tangannya. “Ngomong-ngomong, apa kabar Feya? Rasanya lama sekali kita nggak bertemu. Kamu nggak bisa dihubungi sejak malam itu,” katanya. Jujur saja, aku merasa tak enak hati sekarang. Axel tampak kecewa, tetapi ia tak ingin menunjukannya di depanku. Dengan canggung aku menyambut tangannya, lalu menjawab tanya. “Baik, Xel.” Kataku. Ingin sebenarnya aku menjelaskan apa yang terjadi malam itu, tetapi kupikir itu bukan kewajibanku. Kami hanya Dua orang sahabat lama yang tak sengaja dipertemukan kembali oleh semesta. Namun, yang aku tidak menyangka adalah Axel masih mencoba menghubungiku setelah malam itu. Mungkinkah dia benar-benar peduli padaku? Mungkinkah kata-kata manisnya di mobil waktu itu ada benarnya? Jika benar, maka aku sungguh telah melukai hatinya. “Xel,” “Fe,” Tanpa sengaja kami menyebut nama masing-masing dalam waktu yang sama. Masih dalam keadaan berjabat tangan kami terkekeh menertawakan tingkah berdua. “Kamu duluan,” ucap Axel. Aku pun mengangguk singkat. “Soal malam itu, aku minta maaf karena nggak sempat balas pesan kamu,” Pada akhirnya aku memutuskan untuk menjelaskan kejadian malam itu kepada Axel. Menurutku dia berhak tahu jika memang hatinya masih sedikit menyimpan rasa untukku. Aku tak ingin melukai siapapun karena terluka sangat lah menyakitkan. Cukup sudah rasa itu pernah menghampiriku. “Kenapa? Boleh aku tahu?” tanya Axel hati-hati. “Apa karena isi pesanku yang … ” Dia mengedikan bahunya. Mungkin masih mengingat pesan yang dirinya kirimkan, tapi enggan untuk menyebutkannya demi membuatku merasa nyaman. Aku menggeleng cepat. “Nggak gitu, tapi malam itu … ” kujeda sejenak penjelasanku. “You know Xel, besoknya harusnya menjadi hari bahagiaku bersama Satrio, tapi semua hancur begitu saja. Banyaknya pertanyaan tentang kenapa pernikahan kami batal akhirnya membuatku kesal dan menghancurkan ponselku,” jelasku padanya. Responnya adalah diam sembari menatapku dengan tatapan dalam. Aku sampai salah tingkah dibuatnya. “Xel!” “Iya?” jawab lelaki itu. “Jangan menatapku seperti itu,” ucapku agak kesal. Axel menarik salah satu sudut bibirnya. Dia mendekatiku selangkah demi selangkah, lalu menarikku masuk kembali ke dalam kamar hotelnya. Aku sampai lupa bahwa sejak tadi aku masih berada di luar dan dia di dalam. “Aku nggak suka ada jarak di antara kita, Feya,” katanya. Memang kami tak sedekat adegan romantic di sebuah drama datau novel cinta, jarak kami pun masih sewajarnya, tapi tetap saja perbuatannya membuatku terkejut. “Kupikir kamu tersinggung karena pesanku,” ucap lelaki itu menarikku dari lamunan serta rasa tak nyaman akibat ulahnya beberapa saat lalu. Aku melangkah mundur sedikit. “Bukan!” ujarku. Dia tersenyum lebar. “Apa artinya aku boleh masuk ke dalam hatimu, Feya?” tanyanya secara tiba-tiba. Terang saja pertanyaan itu membuatku membolakan mata. No! Bukan itu maksudku, tapi aku hanya tidak ingin membuatnya berkecil hati karena aku tak sempat membalas pesannya. Bukan mengizinkannya masuk ke dalam hatiku seperti yang ada di dalam pikirannya itu. “Baiklah, ini mungkin terlalu cepat. Aku janji akan berhati-hati asal kamu nggak sembarangan melupakanku lagi seperti hari-hari yang telah lalu, aku akan mendekatimu secara pelan-pelan, Feya,” Dapatkah aku menafsirkan apa yang Axel katakan? Dia ingin mendekatiku lebih dari sekedar teman kan? Tapi, kenapa? Aku baru saja patah hati Axel, tak akan mudah bagiku untuk jatuh cinta lagi. Ingin kuutarakan keberatan itu, tetapi dengan cepat ia menghentikanku. “Jangan katakan apapun, Feya. Setidaknya beri aku waktu dan apresiasi atas rasa cintaku yang tak pernah luruh selama Sepuluh tahun ini,” katanya. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Axel kenapa kamu terlalu terang-terangan padaku? Kejujuranmu membuatku merasa bersalah sepanjang waktu. Sekarang apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku membiarkanmu berjuang untuk meluluhkan hatiku? Namun, bagaimana jika pada akhirnya kamu yang terluka karena aku sulit melupakan masa laluku. “Kamu mau ya?” pinta lelaki itu dengan sangat manis. Aku hanya diam dan menatap nanar dirinya. “Diammu aku anggap iya, Fe!” ujarnya memutuskan sendiri. “Gimana kalau kamu terluka, Axel? Kamu tentu tahu nggak mudah bagiku untuk jatuh cinta lagi,” “Aku terima kalau memang pada akhirnya aku nggak bisa meluluhkan hatimu, Feya. Aku hanya ingin mengisi hari-harimu mulai sekarang,” balas Axel. Dia tampak serius sejak dulu di mataku. Namun, aku tak bisa menemukan getaran di dalam hatiku untuk dirinya. Aku memang mengaguminya, tetapi hanya sebatas teman masa lalu. Tidak bisa lebih dari itu, setidaknya untuk sekarang. “Please, Feya,” mohon Axel padaku. Tak tega rasanya melihat lelaki segagah dan setampan Axel memohon pada diriku yang biasa saja ini. Akhirnya aku menganggukan kepalaku. “Baik lah, Xel, tapi jangan salahkan aku bila akhirnya kita nggak bisa bersama seperti yang kamu harapkan,” ucapku. Axel tersenyum sangat lebar untuk yang kedua kalinya hari ini di depanku. “Aku janji akan menerima hasil akhirnya apapun yang terjadi, Feya,” katanya. Tak bisa kupungkiri, senyum lebarnya kini menular kepadaku. Namun, senyum itu hilang saat tiba-tiba saja Axel menarik diriku ke dalam pelukannya. Perasaan canggung yang dilatari terkejut memenuhi diriku karena tingkahnya. “I Love You, Feya! Aku nggak akan menyianyiakan kesempatan ini. Aku akan buktikan bahwa diriku layak kamu cintai,” bisiknya tepat di telingaku. Bisikan itu membuatku bergidik ngeri. Napas Axel yang terlalu dekat berhasil membuat jantungku semakin menggila. Mungkin karena aku benar-benar terkejut akan tingkahnya. “Xel,” lirihku memintanya untuk melepaskan pelukan itu, tetapi Axel justru mengeratkannya. “Aku rindu, Feya, dan sudah lama aku ingin memelukmu seperti ini,” akunya jujur. Aku kesulitan menelan ludahku sekarang. Kata-kata Axel membuatku tersanjung sekaligus sedikit takut. Aku jadi penasaran sebesar apa cinta yang Axel umbar untuku itu? Bisakah dia mempertanggungjawabkannya dengan cara tidak menyakitiku? Entah lah, aku tak seharusnya berharap pada Axel di saat aku sendiri tak bisa berjanji untuk membalas perasaannya. “Xel kamu bikin aku canggung, jangan seperti ini,” bisikku. “Sebentar saja, Sayang,” Pupil mataku membesar saat mendengar Axel dengan berani memanggilku seperti itu. Halo! Kami belum mengikrarkan janji apapun tentang hubungan yang menurutku sudah cukup berlanjut bila sudah dipanggil seperti itu. “Xel!” ujarku. Jangan-jangan dia hanya ingin bermain denganku. Dia ingin membalas dendam karena dulu dirinya aku tolak? Tolong jangan salahkan aku karena berpikir seperti itu. Patah hati karena tingkah Satrio telah membuatku sulit untuk mempercayai cinta seorang lelaki. “Oke, maafkan aku, Feya. Aku terlalu senang karena kamu menerima cintaku,” ucapnya setelah melepaskan pelukannya dariku. Aku mendelik padanya. “Aku belum menerima cintamu! Aku hanya memutuskan untuk memberimu kesempatan membuktikan perasaanmu padaku, Axel!” ujarku. Dia tidak marah seperti yang aku harapkan. Dirinya justru terkekeh sembari mengacak rambutku hingga aku memekikan namanya lagi. “Terserah apa katamu, tapi bagiku kamu telah menerima cintaku dan sekarang kita sepasang kekasih,” katanya secara sembarangan. Aku menolak gagasan itu secara mentah-mentah. Kugelengkan kepalaku. “Enggak Xel, kita bukan sepasang kekasih. Turuti mauku kalau kamu ingin maju!” tegasku kepada lelaki itu. Tidak bisa kuiyakan bahwa kami adalah sepasang kekasih saat ini karena aku tak ingin bertanggung jawab atas apapun yang akan terjadi ke depan. “Astaga! Iya, baik lah. Kita bukan sepasang kekasih, tapi boleh aku menganggapmu sebagai perempuan yang aku cintai dan nggak akan aku sakiti, Feya?” tanya Axel. Dia akhirnya setuju untuk menuruti mauku. “Terserah! Buktikan saja semua ucapanmu, Xel. Aku akan menunggu,” Kembali Axel tersenyum setelah sempat menunjukan ekspresi kecewa karena aku menolak gagasannya soal kami yang menjadi kekasih. “Terima kasih, Feya. Aku akan membuktikan semuanya. Tunggu saja perhatianku, kasih sayangku, pasti akan membuatmu merasa nyaman dan menerimaku sebagai kekasihmu,” katanya tampak sangat serius. Aku melambaikan tanganku. “Sudah cukup pembicaraan tentang itu, Xel. Saatnya aku bertugas sebagai guidemu!” ujarku. Dia menggelengkan kepalanya. “Berikan aku nomor ponsel pribadimu, kamu pasti punya kan?” tanyanya. Aku mengangguk singkat, lalu mengekuarkan ponsel pribadiku untuk kemudian kuberikan nomorku kepadanya. “Puas, Xel?” tanyaku saat melihat senyum di bibirnya yang mengambang indah. Dia anggukan pula kepalanya hingga membuatku sedikit gemas. Aku tak bisa menahan sudut bibirku untuk membentuk sedikit senyum diam-diam karena tingkahnya. *** To be continued.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD