***
Hari pertama aku bekerja semuanya berjalan dengan lancar. Aku bertemu dengan orang-orang baru yang menyenangkan hatiku. Mereka menerima kehadiranku dengan baik. Tak membedakanku meski aku bukan berasal dari Kota ini. Memang masih banyak yang harus aku pelajari, tetapi mengingat baground pekerjaanku selama ini, aku pasti bisa melakukannya. Atasan mempercayaiku hingga menawariku untuk yang kesekian kalinya bekerja di tempat ini. Beliau pasti percaya aku bisa melakukan ini.
Pertama kali datang aku sudah ditugaskan untuk membantu turis yang datang pagi ini yang telah dijemput oleh driver. Diriku yang akan menjadi guide mereka. Aku siap karena kebetulan diriku memang cukup fasih menggunakan bahasa asing. Ada beberapa yang telah aku pelajari, terutama bahasa inggris.
Semua berjalan cukup lancar karena aku didampingi oleh guide lainnya dalam mengenalkan wisatawan ke beberapa tempat favorit.
Itu adalah pekerjaan pertamaku sejak bergabung di stempat baru ini. Pekerjaan kedua, aku sudah dilepaskan ke lapangan sendirian. Syukur lah diriku mudah mengingat, sehingga aku sudah hafal mana-mana saja tempat yang harus dikunjungi.
Sejujurnya ini menyenangkan. Memiliki pemandangan baru, teman-teman baru dapat menghiburku. Sungguh aku gembira. Rasanya lukaku bisa sembuh lebih cepat bila seperti ini. Namun, tetap saja sesekali aku mengingat Satrio lagi. Jika sudah begitu, cepat-cepat aku singkirkan ia dari memori.
Kini, tak terasa sudah hampir Sebulan aku berada di tempat kerjaku yang baru ini. Layaknya aku yang dulu, aku yang sekarang pun sama bersemangatnya dalam menjadi seorang tour guide. Wisatawan yang kutemui tak hanya dari dalam Negeri, tapi juga mancanegera.
Di rumah juga semua kondisi terkendali. Heya diasuh oleh Bibi Rinda dengan baik. Mereka berdua sangat akrab, seperti cucu dan neneknya. Aku senang melihatnya karena dengan begitu diriku benar-benar aman meninggalkan Heya bersama Ibu Rinda.
Heya juga aku berikan guru private. Berhubung umurnya sudah hampir Lima tahun, jadi kupikir ada baiknya aku memberinya seorang guru dengan catatan tak boleh terlalu memkasanya untuk belajar. Dia layak memilih harus belajar atau tidak. Sekali lagi bersyukur karena Heya begitu penurut. Waktu gurunya datang, dia begitu antusias cerita dari Ibu Rinda. Heya patuh kala diajak belajar dan dia sangat pintar, mudah sekali menyerap pelajaran.
Kalau yang itu dia pasti mirip dengan Kakak perempuanku. Dia sangat pintar. Wawasannya pun sangat luas. Lagi pula kakak iparku pun pintar. Dia lulusan S2 di luar negeri. Sayang sekali dulu pernikahan keduanya tidak direstui sehingga Heya tak bisa bertemu dengan kakek dan neneknya dari pihak kakak iparku.
Kugelengkan kepala untuk melupakan itu. Heya tidak membutuhkan mereka karena ada aku di sini. Tidak akan kubiarkan Heya kekurangan kasih sayang selama aku masih hidup di dunia. Tanpa berjanji pada mendiang kakakku pun aku tidak akan menyianyianykan Heya.
Kembali pada pekerjaanku. Katanya ada beberapa turis, rombongan, datang pagi ini. Mereka banyak maunya dan sulit untuk diajak bicara. Aku penasaran apa yang mereka inginkan hingga menyulitkan rekan kerjaku yang bertugas untuk melayani mereka.
Kami akhirnya dikumpulkan di tempat ini untuk melakukan brefing. Atasan ingin mendengar cerita dari rekan kerjaku mengenai kekacauan ini. Masalahnya ada yang sampai berteriak kepada guide. Aku juga jadi penasaran apa masalahnya sampai wisatawan tersebut meneriaki guide. Memangnya salah apa rekan kerjaku hingga bisa seperti itu?
“Nina, jelaskan padaku dan kami semua insiden yang sebenarnya!” ujar atasanku yang aku yakini menahan marah akibat insiden ini.
Nina mengangguk singkat. “Begini Bu, ada salah satu orang dari rombongan tersebut yang ribetnya minta ampun. Apapun yang saya lakukan selalu salah sampai akhirnya dia membentak saya, Bu,” terangnya.
“Baiklah, Feya tolong gantikan Nina khusus untuk wisatawan yang satu itu. Nina kamu tetap menghandle teman-temannya, bisa?”
Nina mengangguk semangat. Rupanya ia bisa menangani yang lainnya, tapi tidak dengan yang satu ini. Lalu bagaimana denganku? Apakah aku sanggup menanganinya? Mau menolak, tapi aku masih baru di sini. Bisa-bisa atasanku yang baru ini memarahiku dan mengusirku. Membayangkannya saja sudah membuat bulu kudukku berdiri. Sepertinya aku memang haru menerima pekerjaan ini.
“Feya, kamu dengar?” tanya atasanku.
Segera aku menganggukan kepala, sebab tidak ada yang bisa aku lakukan selain menerima.
“Bagus!”
Rapat dadakan itu dibubarkan setelahnya. Aku menahan Nina agar sedikit memberi informasi untukku mengenai wisatawan yang satu ini.
“Turis darimana, Nin yang rewel?” tanyaku pada Nina.
Ia terkekeh, sepertinya senang sekali aku yang menangani wisatawan yang katanya sulit untuk ditangani ini. “Aslinya orang Indonesia kok, tapi karena teman-temannya berasal dari luar negeri jadi ya gitu, dia bagian dari mereka,” jelasnya.
“Lah orang pribumi? Waduh, apa maunya sih sampai bikin susah begini,” tanggapku.
Nina menggelengkan kepalanya. “Kamu coba gih, siapa tahu denganmu dia nggak banyak ulah,” ucapnya.
Aku mengedikan bahu. Paling-paling aku tinggalkan kalau sampai si wisatawan itu banyak maunya. Ah! Tidak, mana mungkin aku berani melakukan itu. Bagaimanapun juga wisatawan yang datang ke tempat ini adalah raja yang harus kami layani.
“Tapi nggak salah sih Ibu Gita menunjukmu, Fe, karena kamu sudah berpengalaman. Pasti kamu bisa kok mengatasi permasalahan ini,” ucap Nina. “Semangat ya!” ujarnya kemudian.
Aku mencebikan bibirku. Nina melambaikan tangannya, aku pun melakukan hal yang sama. Dalam hati aku bertekat untuk bisa melakukan pekerjaanku dengan baik sehingga aku semakin memiliki sesuatu yang positif di tempat ini.
Dengan langkah yang lebar aku menuju tempat penginapan wisatawan tersebut. Ini hari pertama wisatawan tersebut datang ke tempat ini. Mungkin mereka lelah hingga marah-marah.
Kuketuk pintu hotel yang aku yakini adalah kamar wisatawan yang Nina maksud. “Permisi,” panggilku, tapi belum juga ada jawaban. Kuketuk sekali lagi sampai terdengar suara gaduh dari dalam.
Aku panik mendengarnya hingga mencoba memutar handle pintu. Ternyata bisa dibuka. Buru-buru aku masuk ke dalam, tetapi yang kulihat kemudian sungguh mengejutkan diriku. Pupil mataku seakan keluar dari peraduannya akibat terlalu terkejut mendapati seseorang yang aku kenal ada di sana, tengah mencoba bangkit dari terjatuhnya. Sial bagiku karena dia baru saja mandi dan handuknya ikut terjatuh hingga perutnya sedikit terbuka. Handuk itu hanya menutupi selangkangannya.
“Aaaaaaa!” pekikku.
“AAaaaa!” dia juga ikut terpekik.
Kubalikan tubuhku hingga membelakanginya. Lalu, buru-buru aku meninggalkan kamar itu. Keluar dari sana dalam keadaan mata yang masih tertutup. Beruntung aku tidak menabrak pintu atau dinding hingga tak menimbulkan cidera. Mulutku komat komat karena masih tak menyangka yang aku lihat ada dia, seseorang yang aku kenal yang sempat ikut aku lupakan karena rusaknya ponsel lamaku.
Astaga! Kenapa dunia begitu sempit?
***
To be continued.