***
Matahari pagi begitu indah bersinar hari ini. Aku dan Heya baru saja selesai mandi saat bel rumah berbunyi. Kami saling bertatapan, lalu senyumku terbit sebagai jawaban bahwa yang datang pasti orang yang telah aku undang. “Tunggu di sini,” ucapku pada keponakanku itu.
Aku kemudian menuju pintu, membukanya lalu melihat seorang wanita yang parubaya kira-kira umur Empat puluhan berdiri di depanku dengan senyum lebarnya. “Selamat pagi, Mbak Feya,” sapanya dengan sangat hangat, sehangat mentari pagi yang menerpa diriku dan dirinya.
Aku mengangguk singkat. Senyum juga kubagi dengannya. Aku tahu siapa dia. Asisten rumah tanggaku yang baru, yang aku dapatkan dari kenalanku. “Pagi. Dengan Ibu Rinda, ya?” tanyaku tak kalah ramah. Dia mengangguk, lalu menyodorkan tangannya untuk bersalaman denganku.
Kusambut itu hingga kami berjabatan tangan sebagai perkenalan pertama. “Ayo masuk, Buk,” ajakku. Kami masuk ke dalam rumah, ia tampak melihat-lihat isi rumahku dengan sekedarnya. Cukup sopan menurutku.
“Perkenalkan ini Heya, keponakanku,” ucapku memperkenalkan Heya. “Kami hidup berdua saja sejak Dua tahun lalu karena orang tuaku dan orang tua Heya meninggal dalam kecelakaan,” Ibu Rinda tampak terkejut mendengar informasi itu. Pikirku pantas Ibu Rinda tahu bagaimana keadaanku dan Heya agar ia dapat mengenali kami dengan baik. Karena harapanku adalah ia dapat bertahan lama menjadi asisten rumah tanggaku di rumah ini.
“Ibu turut berduka cita Mbak Feya,” ucapnya sebelum mengalihkan perhatiannya pada Heya. “Halo Heya, ini Bibi Rinda,” katanya mengenalkan diri pada Heya. Dari apa yang aku lihat sejak ia masuk ke dalam rumah ini, sepertinya ini bukan pertama kalinya ia bekerja sebagai asisten rumah tangga untuk seseorang. Aku cukup senang bila beliau berpengalaman.
Heya mengangguk singkat sembari tersenyum lebar, mengikuti cara Ibu Rinda tersenyum padanya. “Aku Heya,” balasnya sambil meraih tangan Ibu Rinda untuk ia jabat. Aku memang mengajarkannya untuk selalu bersikap sopan terhadap siapapun yang jauh lebih tua darinya. Entah itu seperti apapun status sosialnya. Syukur lah Heya mengerti dan menuruti apa kataku.
“Wahh, sudah cantik, sopan pula,” komentar Ibu Rinda. Aku tersenyum bangga mendengarnya.
“Terima kasih, Bibi,” ucap Heya kesenangan. Ia memang gembira bila ada yang memujinya cantik. Aku jadi ingat Satrio sering memuji Heya agar hatinya gembira dan tidak ngambek lagi saat ditinggalkan.
Kugelengkan kepalaku untuk melupakan itu. Tak pantas mengingatnya lagi. Cukup sudah! Bukankah aku datang ke sini untuk melupakannya? Jadi kenapa aku masih saja mengingatnya dalam diam. Tolong hati, jangan memaksa begini. Kita harus sembuh apapun yang terjadi. Jangan pernah mengingat namanya lagi terlebih kenangan indah bersamanya.
“Kalian sudah sarapan?” tanya Ibu Rinda secara tiba-tiba. Dia membangunkanku dari lamunanku tentang Satrio.
Aku meringis dan menggelengkan kepala. Rencananya aku dan Heya ingin mencari sarapan di luar hari ini. Namun, Ibu Rinda terlanjur datang lebih awal. “Belum Bu,” jawabku.
Ibu Rinda menyingsingkan lengan bajunya. “Baiklah, Bibi akan masak sarapan untuk kalian pagi ini,” katanya.
Aku menggerengkan tanganku. “Tidak usah, Bu. Ibu kan baru masuk besok!” ujarku tak enak hati.
Namun, Ibu Rinda tampak menggelengkan kepala. “Tidak apa-apa Mbak Feya, Bibi mau kok masakan kalian pagi ini. Sekalian mengetes seperti apa cita rasa yang Mbak Feya dan nona Heya suka agar pekerjaan Bibi lebih mudah ke depannya,” ucapnya.
“Tapi, belum ada apapun di dalam kulkas Bu. Kami baru saja sampai kemarin dan belum sempat belanja bahan makanan,” kataku.
“Biar Bibi ke pasar dulu. Kalian masih sanggup menunggu, kan?” tanyanya.
Kalau sudah begitu aku bisa apa selain setuju? Akhirnya Ibu, ah tidak ia lebih suka dipanggil Bibi rupanya karena menyebut dirinya berkali-kali dengan cara seperti itu, maka aku pun akan memanggilnya dengan cara yang sama. Bibi Rinda maksudku, dia masak sarapan untukku dan Heya.
Jujur aku katakan masakan Bibi sangat enak. Sangat cocok dengan lidahku dan Heya. Kami menikmatinya tanpa banyak protes. Bibi juga mau-mau saja repot ke pasar sebelum memasak makanan. Aku hanya memberinya uang Dua ratus ribu tadi dan dia banyak sekali mendapatkan bahan makanan. Entah akan cukup berapa hari itu, aku pun tidak mengerti.
Sempat kuajak Bibi makan bersama kami, tapi katanya dia sudah sarapan. Dia hanya pamit pulang setelah menyelesaikan pekerjaannya. Aku sudah mengucapkan terima kasih padanya dan bermaksud ingin memberinya uang untuk ongkos pulang, tapi sekali lagi Bibi menolak. Katanya ia tidak membutuhkan itu. Besok dia berjanji akan datang lagi dan mulai akan menginap di rumah ini.
Sekedar informasi saja, Bibi Rinda adalah seorang janda. Anak-anaknya sudah menikah semua. Ia mengambil pekerjaan ini karena merasa bosan di rumah sendirian. Mulai besok rumahnya akan ditinggalkan karena ia akan tinggal bersamaku dan Heya. Itu adalah syarat yang aku berikan untuk asisten rumah tanggaku sebelum dia setuju untuk bekerja denganku.
Menurutku akan lebih mudah bila asisten rumah tanggaku menginap di rumah ini.
Lalu, di hari yang sama pula aku dan Heya seharusnya bertemu dengan pengasuh baru Heya, tetapi sayangnya kami mendapatkan kabar yang tidak menyenangkan. Calon pengasuh Heya mengurungkan niatnya untuk bekerja denganku karena satu dan lain hal. Aku cukup sedih karena belum mendapatkan pengasuh Heya.
Keesokan harinya Bibi Rinda benar-benar datang dengan barangnya. Aku dan Heya tersenyum cerah menyambutnya. Kuceritakan tentang pengasuh Heya yang kemarin tak jadi datang, lalu ia menawarkan diri untuk tak perlu repot mencari pengasuh lagi.
“Gimana kalau Bibi saja yang jaga nona?” tanyanya padaku. Terang saja aku terkejut sekaligus lega mendengarnya. Bukankah semuanya akan semakin lebih mudah bila Bibi juga menjaga Heya?
“Baiklah Bi, aku akan tambahin gaji Bibi sesuai dengan pekerjaan Bibi,” ucapku menanggapi usulannya. Bibi setuju.
“Terima kasih, Bi. Selamat bekerja bersama kami, semoga Bibi betah ya,”
“Sama-sama, Mbak Feya. Semoga kalian betah juga ada Bibi di sini,”
Aku mengangguk singkat. Tentu aku dan Heya akan betah karena ada anggota baru di rumah ini. Dan, entah kenapa aku percaya pada Bibi Rinda dalam mengurus rumah sekaligus menjaga Heya. Aku akan tenang bekerja bila Heya bersama Bibi Rinda.
Akhirnya urusan rumah sudah ada yang mengurus. Heya juga ada yang menjaga. Kulihat keduanya mudah sekali dekat. Mungkin kehadiran Heya juga menjadi pengobat rasa sepi Bibi Rinda.
Aku dapat bekerja dengan nyaman setelah ini. Kebetulan masa cutiku juga sudah habis. Aku harus melakukan kewajibanku sebagai tour guide lagi. Aku harap diriku dapat bekerja dengan baik seperti yang aku lakukan selama ini, sebelum hatiku patah oleh Satrio. Semoga tidak ada yang berubah, sebab pekerjaan ini benar-benar pekerjaan yang aku sukai.
***
To be continued.