Mendua-Bab 6

1072 Words
*** Rumah yang kini Feya dan Heya tempati jauh lebih kecil dari rumah peninggalan orang tuanya di Kota kelahirannya. Namun, tidak masalah, Feya merasa cukup nyaman berada di sini, di Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Labuan Bajo. Iya, akhirnya Kota ini yang Feya pilih untuk melanjutkan karirnya sebagai tour guide. Di Kota ini Feya akan memulai hidup barunya bersama Heya. Feya akan melupakan Satrio dimulai dari tempat ini. Dirinya harap tempat yang dikenal erat dengan pulai Komodo ini dapat membantunya melupakan cinta masa lalunya bersama Satrio. Dirinya harap pengorbanannya yang jauh-jauh ke sini bersama Heya dapat memulihkan hatinya yang telah hancur karena pengkhianatan Satrio. Feya menghirup udara Kota Labuan Bajo. Kini ia tengah berada di kamarnya bersama Heya. Untuk sementara waktu ia akan sekamar dengan keponakan kesayangannya itu terlebih dahulu sebelum Heya mendapatkan pengasuhnya. Feya cukup bersyukur karena ia masih memiliki cuti selama beberapa hari lagi, sehingga masih memiliki waktu untuk berbenah di rumah ini dan mencarikan Heya pengasuh. Ia juga akan mencari seorang asisten rumah tangga untuk membantunya nanti. Tenang saja, semua itu sudah ia urus sebenarnya. Dirinya hanya perlu bertemu dengan asisten rumah tangganya tersebut dan calon pengasuh Heya. Hanya satu yang membuat kepala Feya sedikit berdenyut sejak sampai di sini yaitu pertanyaan dari Heya mengenai kenapa mereka datang ke tempat asing ini. Sebenarnya Feya pun merasa sangat kasihan pada Heya karena harus menyesuaikan diri di tempat ini. Namun, Feya bisa apa ketika kini hatinya meminta pergi? Feya hanya ingin membuktikan bahwa ia bisa menjauh dari Satrio dan masa lalu mereka. Adapun jawaban yang Feya berikan kepada Heya adalah karena mereka tidak bisa berada di sana lagi. Pekerjaan mengharuskan untuk pergi. Heya juga sempat bertanya apakah suatu hari Satrio akan menyusul atau tidak. Tentu saja Feya hanya menggelengkan kepala menjawab pertanyaan yang satu itu. Heya akhirnya kecewa, tetapi Feya dengan cepat menghiburnya. Kini, keponakan kesayangannya itu tengah bermain dengan boneka barbie pemberian dari orang tuanya Dua tahun yang lalu. Boneka itu Feya rawat dengan baik sehingga bentuknya belum berubah hingga detik ini. Feya mendekati Heya yang sedang bermain dengan Barbie tersebut. Ia duduk di lantai seperti yang tengah Heya lakukan. “Asyik sekali bermainnya, Sayang,” tegurnya. Heya menoleh secara singkat. Ia kembali sibuk berbicara dengan mainannya. “Ada tante jahat, Jiara. Kita dibawa ke tempat ini, tempat asing yang tidak kita kenal ini,” bisiknya. Aku terkejut mendengar percakapannya itu bersama boneka Barbie yang kami beri nama Jiara itu. Jantungku berdetak tidak nyaman mendengar gumamannya. Itu adalah ungkapan dari kekecewaan Heya terhadap diriku. Kugigit bibirku cukup kencang karena tiba-tiba saja mataku memanas. Ingin aku katakan pada Heya bahwa aku tidak bermaksud jahat padanya, tetapi aku merasa hal itu percuma. Heya terlanjur berpikir bahwa diriku jahat padanya karena telah membawanya terbang sejauh ini. Aku akhirnya memilih untuk beranjak pergi, tetapi Heya memanggil namaku lagi. “Tante!” ujarnya. Aku pun menolehkan kepala. “Iya?” balasku. Heya mendekat, ia menarik tanganku agar kami berdua duduk di atas tempat tidur. Biar kutebak, dia pasti menyesal karena telah mengatakan hal buruk tentangku beberapa menit yang lalu. “Kapan kita pulang, Tante? Aku lebih suka tinggal di rumah lama kita,” Aku menatapnya dengan tatapan berkaca-kaca. Ternyata yang ingin dirinya katakan adalah hal itu. “Heya, kita akan menetap di sini dalam waktu yang lama. Tante juga nggak tahu kapan kita bisa kembali ke rumah lama kita,” ucapku. “Sayang, bisakah kamu mengerti bahwa tante dan kamu di sini adalah untuk pekerjaan tante,” Heya menghela napasnya. Aku tahu, anak semuran Heya pasti sulit untuk mengerti maksudku. Namun, harus bagaimana lagi diriku? Tak mungkin kembali ke rumah lama kami dalam waktu yang singkat. “Tapi Heya lebih suka di rumah lama kita, Tante,” lirih Heya. Kalau sudah begini apa yang harus aku lakukan lagi? Andai Heya mengerti alasan terbesarku meninggalkan rumah adalah karena … “Aku suka di sana karena ada Om Satrio!” ujarnya sebelum aku sempat melanjutkan ucapanku di dalam hati. Aku memejamkan mataku karena tak sanggup menatap Heya dengan mata yang dipenuhi dengan kemarahan. Bagaimana caranya agar Heya mengerti bahwa alasanku meninggalkan Kota kelahiran kami berdua adalah karena ingin melupakan Satrio? “Heya, kamu mengingkari janjimu untuk nggak bahas Om Satrio lagi, Sayang,” ucapku setelah emosi yang mendominasi tatapan mataku teredam juga. Kini mata Heya berkaca-kaca. “Maaf tante,” ucapnya dengan air mata yang sudah turun membasahi pipi. Aku mengembuskan napasku dengan berat. Menyadari aku terlalu keras kepada Heya. Kudekap ia dengan segenap jiwa dan raga. Aku seharusnya mengerti Heya masih terlalu kecil untuk memahami perasaanku. Dia tidak tahu apa-apa tentang cinta. Dia mungkin paham rasanya ditinggalkan, tetapi dia tidak tahu perasaan itu berasal dari patah hati akibat diberi janji lalu lupa untuk ditepati. “Heya, kamu dengarin tante ya, tante kan sudah bilang om Satrio nggak bisa bareng kita lagi,” “Tapi kenapa tante?” tanya Heya. Aku menggigit bibirku hingga melukai permukaannya. Terpaksa aku menjelaskan semuanya pada Heya. “Karena om Satrio sudah memiliki tante yang lain di sisi,” Semoga Heya bisa mengerti, sebab tak mudah bagiku mengungkit hal itu lagi. Heya terlihat merenung. Dahinya berkerut heran. “Tante cantik yang waktu itu?” tanyanya tampak terkejut. Aku ingin menangis, tetapi diriku menahannya dengan sekuat tenaga. Kepalaku mengangguk singkat demi menjawab pertanyaannya. “Jadi, karena itu Om Satrio nggak pernah datang ke rumah kita lagi?” Untuk yang kedua kalinya aku menganggukan kepala. Heya tampak sangat terluka. Namun, lebih baik ia sedikit sedih daripada menunggu Satrio datang menemuinya lagi seperti dulu. “Oleh karena itu kita nggak bisa pulang ke rumah lama kita untuk sementara waktu. Tante ingin kita melupakan om Satrio dulu selama berada di sini. Kamu bisa kan, Sayang?” tanyaku berusaha sebisa agar Heya mengerti sehingga aku tak perlu menjelaskan hal yang sama berulang kali setiap dia mencari Satrio. “Aku mengerti tante,” Aku tersenyum atas pengertian Heya yang mungkin sebenarnya dia tak terlalu mengerti yang kumaksud. Setidaknya aku sudah memberitahu dia bahwa Satrio tidak mungkin kembali pada mereka lagi. Ruang itu sudah kututup pula. Aku tak ingin Satrio masuk ke dalamnya lagi. “Terima kasih, Heya. Sekarang bantu tante beresin pakaian kita ya!” pintaku mengalihkan suasana. Heya mengangguk singkat. Senyumnya ikut terbit seperti yang aku lakukan. Syukur lah, semoga senyum itu selamanya bisa menghiasi bibir keponakanku. Semoga setelah ini Heya tak lagi bertanya tentang Satrio karena aku benar-benar tak ingin mengulangi penjelasan yang sama untuk kesekian kalinya. Itu menyakitkan untukku, jujur saja. *** To be continued.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD