Mendua-Bab 5

1555 Words
*** Sejak ponsel pribadiku rusak parah, aku tak lagi memiliki hubungan dengan orang-orang dari masa lalu. Setidaknya mereka tidak tahu nomor ponselku yang baru kecuali Binka. Dia kuberi kabar karena tak ingin putus kontak begitu saja dengannya. Ngomong-ngomong, pagi setelah aku menangis semalaman hari itu, Bianka datang sambil membawa kue ulang tahun untukku. Ternyata dia tidak melupakan hari lahirku itu. Bianka mengucapkan deretan doa terbaik untukku di hari ulang tahunku itu. Ia berharap aku bisa menemukan kebahagian sejati tak lagi larut dalam kesedihan ini. Aku sayang Bianka. Dia sahabat terbaikku. Tidak akan kulupakan semua tentangnya. Tak ingin pula aku putus kontak darinya. Kami sudah menjadi sahabat sejak bertahun-tahun lamanya. Sama lamanya dengan hubunganku dan Satrio. Dia adalah sahabatku yang lain selain Axel. Berbicara tentang Axel, aku jadi mengingat pesan terakhirnya sebelum aku melempar ponselku hingga hancur. Kini aku tak lagi memiliki kontaknya. Kami kembali menjadi orang asing setelah ini. Tak seperti Bianka yang datang ke rumahku pagi itu, sehingga aku bisa memberi tahunya bahwa ponsel dan nomorku yang lama tak lagi bisa dihubungi. Bila ingin memiliki nomorku lagi, maka tinggalkan nomornya agar aku dapat mengabarinya. Sedangkan untuk Axel, aku tak bisa melakukan itu karena kami tak bertemu sesering aku bertemu dengan Bianka. Kini, sudah Tiga minggu sejak kejadian itu. Aku kembali sibuk dengan pekerjaanku. Duniaku benar-benar telah berubah. Tidak ada lagi Satrio di dalamnya. Dunia Heya pun sama, ia sudah mulai terbiasa tanpa Satrio. Kami hidup mandiri tanpa lelaki itu lagi. Aku juga sudah tidak mencari tahu tentangnya dan wanita barunya itu. Hidupku benar-benar telah kubatasi untuk Satrio. Hari ini aku akan pindah rumah. Tidak kujual rumah ini karena peninggalan orang tuaku, tetapi aku tak lagi menetap di Kota ini karena pekerjaanku tak lagi di tempat ini. Heya kubawa serta menuju Kota yang mungkin akan mengukir sejarah baru untukku dan Heya. Bianka tampak sangat sedih karena kepergianku. Kami mungkin akan jarang bertemu setelah ini. “Jangan nangis, Bi, kan kita bisa vidio call,” ucapku menenangkan Bianka. Bianka menggelengkan kepalanya. “Berbeda, Feya! Kamu pasti sibuk di sana,” katanya. Aku tersenyum singkat untuknya. Tak seceria dulu, tapi cukup untuk meyakinkan Bianka bahwa semua akan baik-baik saja. Aku ingin Bianka tahu, untuknya aku tidak akan pernah berubah. Dia sahabatku yang paling kusayangi, yang tak ingin aku lupakan apapun yang terjadi. Tanpa Bianka mungkin aku tidak akan mengerti maknanya persahabatan setelah Axel pergi. Bianka banyak menghabiskan waktunya denganku. Ia menemaniku dalam suka dan duka. “Feya, janji ya cerita ke aku kalau ada apa-apa sama kamu dan Heya,” pinta Bianka. Aku anggukan itu dengan segera. Kepada siapa lagi aku bercerita selain kepada Bianka. “Sebenarnya aku juga bersyukur kamu bisa pergi dari Kota ini, Fe, dengan begitu mungkin hatimu akan jauh lebih lega,” Kali ini aku tidak menggerakan kepalaku sama sekali. Namun, aku mengiyakan itu dalam hati. Bianka benar sudah seharusnya aku bersyukur karena akhirnya usahaku untuk benar-benar melupakan Satrio telah diberi jalan oleh Tuhan. Dengan perginya aku dari Kota penuh kenangan ini, maka mungkin hatiku benar-benar akan sembuh dari luka yang pernah Satrio torehkan. “Ingat ya Fe, jangan pernah lupain aku. Aku selalu menunggu kamu untuk pulang kembali ke Kota ini dan kita akan berkumpul lagi,” ucap Bianka. “Iya, Bianka, suatu hari aku pasti balik ke rumah ini lagi. Nggak mungkin selamanya aku tinggalkan tempat ini karena kamu tahu kan rumah ini adalah tempat aku dan Heya kembali,” Bukan air mataku yang jatuh membasahi pipi, tetapi air mata Bianka. Aku tahu sahabatku itu memang merasakan kesedihan atas apa yang telah menimpaku. Kadang Bianka masih saja membahas Satrio dan menyayangkan sikapnya karena meninggalkanku demi perempuan lain, tetapi hari ini kata-kata itu tak lagi keluar dari mulutnya. Mungkin Bianka tak ingin aku semakin bersedih hati. “Terima kasih karena sudah menjadi sahabat baikku selama ini, Bi,” ucapku pada Bianka. Dia menggelengkan kepalanya. “Aku yang seharusnya mengucapkan terima kasih, Feya. Terima kasih karena kamu sudah menjadi wanita yang tangguh, contoh yang baik untukku dan Heya,” katanya. Aku terkekeh untuk itu. Kami lalu berpelukan. Mungkin setelah ini akan lama sekali bagi kami untuk berpelukan dan saling menguatkan seperti ini. Aku akan menyibukan diriku di Kota yang baru. Akan kuhapus semua hal menyakitkan, dan menggantikannya dengan sesuatu yang membahagiakan. “Ngomong-ngomong gimana Heya? Pengasuhnya bisa ikut?” tanya Bianka. Aku menggelengkan kepala sebagai jawaban. Babysitter Heya tidak bisa ikut karena dia sudah berkeluarga. Aku terpaksa mencari pengasuh yang baru di sana nanti. Semoga saja aku bisa menemukan pengasuh yang baik dan bertanggung jawab agar Heya merasa nyaman bersamanya. “Nanti aku cari pengganti di sana. Sudah ada kontak yang bisa aku hubungi juga kok, tenang aja,” ucapku membalas pertanyaan Bianka. “Syukur lah. Kamu dan Heya baik-baik ya di Kota orang. Ukir kisah baru untuk kalian berdua, Feya. Aku yakin kalian bisa,” Tentu bisa Bianka. Aku sudah berjanji tidak akan menyianyiakan kehidupan ini. Heya dan diriku harus bahagia untuk menebus rasa sakit yang kami rasakan bertubi-tubi selama ini. Perjalanan ini masih sangat panjang terutama untuk Heya, peri kecilku yang akan selalu kujaga. Putri dari kakakku yang telah tiada itu harus mengecap yang namanya kebahagiaan selama hidupnya. Tidak akan aku biarkan di menderita sendirian. “Aku harus pergi sekarang, Bi. Penerbangan kami sejam lagi, takut macet di jalan!” ujarku pada Bianka. “Iya aku tahu, kan aku yang akan mengantar kalian!” balas Bianka dengan mulut yang maju ke depan. Feya menggeleng gemas. Ada ya yang bisa menghiburnya seperti yang sering Bianka lakukan selama ini di sana nanti. Sepertinya aku tidak akan pernah bisa menemukan teman seperti Bianka lagi. “Bianka,” ucapku serius. Ada yang harus aku sampaikan pada Bianka, dan ini menurutku sangat penting. Bianka mengernyitkan dahinya dengan heran. Aku tahu sekarang dia gugup. “Lanjutkan pernikahanmu dengan Antoni, Bi. Kamu dan dia berhak bahagia,” Pasalnya, sejak tahu pernikahanku dibatalkan, Bianka tak jadi menerima lamaran Antoni kekasihnya demi menghargai perasaanku yang sedang terluka. Antoni menceritakan itu padaku dan tak ayal ia sedikit menyalahkanku. Aku pun merasa tak enak hati meski ia tidak terang-terangan melakukannya. Bianka melotot, ia menggelengkan kepalanya. “Antoni pasti infoin ini ke kamu, kan?” sebalnya. Aku tersenyum lembut untuk Bianka. “Please, Antoni lelaki yang baik. Dia tepat untukmu, Bianka. Jangan sia-siakan dia hanya karena masalah yang telah menimpaku. Terima lamarannya dan menikah lah dengannya,” ucapku. Mata Bianka berkaca-kaca. Aku tahu sebenarnya dia ingin sekali menikah dengan Antoni, tetapi karena pernikahanku tiba-tiba saja batal, dia tak enak hati menikah kini. Sebagai sahabat aku tak ingin Bianka ikut ditinggalkan sepertiku oleh Antoni, lelaki yang teramat dirinya cintai. Aku ingin Bianka bahagia meski mungkin aku juga akan kehilangannya setelah dia menikah. Namun, tidak apa-apa, dia dan Antoni juga berhak bahagia. Orang tuanya pun sudah mendesaknya karena umurnya, umur mereka memang sudah tidak muda lagi. “Diiyakan dong, Bi! Kok diam saja!” ujarku memecah keheningan di antara kami berdua. Bianka mengembuskan napasnya dengan berat. Enggan untuk menuruti mauku. Namun, aku tidak bisa meninggalkannya dengan cara seperti ini. “Aku janji akan memulai lembaran baru yang jauh lebih bahagia dari selama ini, Bi. Aku akan buktikan pada Satrio bahwa dia salah telah menduakanku dengan perempuan itu!” Aku menganggukkan kepala, meyakinkan Bianka. “Aku bertekat, Bianka! Kamu nggak usah khawatir tentang perasaanku lagi. Aku sudah baik-baik saja sekarang,” Kembali Bianka mengembuskan napasnya dengan berat. Ia menatapku lekat, mencari kebohongan di mataku yang sayangnya dengan pandai aku sembunyikan darinya. Maaf Bi, kamu tidak akan menyadari rasa sakitku lagi. Memang tak sejelas dulu, tetapi masih ada dan kesembunyikan dengan kesungguhanku untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. “Baik lah, tapi kamu janji harus datang ya kalau nanti aku menikah!” ujar Bianka yang langsung kuiyakan dengan anggukan kepala. Sayukur lah ie bersedia sehingga aku tak perlu merasa bersalah lagi. Aku akhirnya bisa pergi dengan tenang. “Ihh, ya udah yuk! Sudah jam segini,” “Heya ayo berangkat!” ujarku semangat pada keponakanku itu. Dia juga tampak sumbringah karena menganggap perjalanan ini akan sangat membahagiakan untuk kami. Jauh di dalam lubuk hatiku, kami hanya ingin melarikan diri dari Kota penuh kenangan ini. Padahal, dulu berkali-kali aku ditawarkan untuk pindah oleh atasanku ke Kota yang jauh lebih indah wisatanya dan lebih maju dari Kota ini, dan aku dengan tegas menolaknya karena tak ingin jauh-jauh dari Satrio. Tck! Dia memang sanggup merubahku, entah itu ke dalam hal yang poistif maupun negative. Namun, tidak apa-apa, sekali lagi kukatakan dengan tegas bahwa kisah itu, kisah kami berdua telah selesai. Tidak ada yang perlu diingat lagi karena hidup harus terus berjalan. Aku tidak ingin hidup kami jalan di tempat, sedang Satrio telah bahagia bersama pasangan barunya. “Feya! Ah, melamun aja kamu!” tegur Bianka yang akhirnya menarik kembali ke dunia yang sesungguhnya, dunia yang akan diisi olehku dan Heya saja. “Yuk berangkat!” Akhirnya kami meninggalkan rumah penuh kenangan itu. Kutatap lekat gerbangnya setelah kami keluar dari sana sebelum mobil Bianka membawa kami pergi menuju bandara. Meski berpergian jauh, tetapi rumah dan Kota ini akan tetap terhubung denganku apapun yang terjadi. Kisah kasih di tempat ini akan selamanya berada dalam memori meski aku tak ingin mengenangnya lagi. Berembus napas berat dariku, tapi itu sebuah kelegaan karena akhirnya aku dan Heya dapat melewati ini. Kupeluk keponakan tersayangku itu, kubisikan kata-kata penguat untuknya. Semoga kita bisa mendapatkan kebahagian yang tiada tara setelah semua kesakitan ini. Aamiin. *** To be continued.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD