***
Langit mala mini benar-benar kelam. Tak ada Satu cahaya pun yang dapat menyinari kelamnya. Bintang-bintang sedang bersembunyi, takut pada embusan angin malam yang cukup kencang. Dinginnya mampu menusuk tulang. Aku terdiam di sudut kamarku yang juga ikut kelam, sebab lampu ikut aku matikan.
Aku tidak sedang menangis, tetapi hatiku benar terasa perih. Hari ini menjadi hari paling buruk dalam hidupku setelah Empat minggu lamanya aku bertahan dari rasa sakit. Hari ini adalah hari terakhir sebelum hari pernikahanku dengan Satrio, tetapi semua itu tinggal kenangan sebab Satrio meninggalkanku demi perempuan lain.
Kugenggam erat-erat tanganku agar air mata tidak jatuh membasahi pipi. Namun, pada akhirnya aku kalah juga. Kesedihan di dalam jiwa membuatku tak bisa menahan isakan. Ia datang begitu saja tanpa dapat kucegah. Tolong lah, aku sudah berusaha. Namun, aku tidak bisa melakukannya dengan baik.
“Satrio,” lirih aku memanggil nama lelaki yang sampai detik ini masih kucintai itu. “Teganya kamu merusak mimpi-mimpi indah kita. Kamu nggak ingat pengorbanan apa saja yang selama ini telah kita lalui bersama ya?” Hanya angin malam dan kegelapan yang dapat mendengar rintihanku.
Ya Tuhan, betapa sakitnya.
Rasa sakit ini kembali tumbuh di hati sejak pagi ketika wedding organizer yang mengurus pernikahan kami menghubungiku, bertanya kenapa Satrio membatalkan sewa gedung dan yang lainnya begitu saja.
Aku memejamkan mata mengingat pertanyaan itu. Betapa terkejutnya diriku mendengarnya. Selama Empat minggu ini diriku memang mencoba untuk melupakan wedding organizer dan segala persiapan pernikahan kami yang lainnya karena diam-diam masih berharap Satrio hanya mengerjaiku saja. Kami masih dapat melanjutkan pernikahan setelah semua prank ini berakhir.
Namun, ternyata itu hanya harapan semuku. WO telah menghubungiku, merasa heran kenapa semua dibatalkan ketika waktu pernikahan hanya tersisa sehari lagi. Aku tidak bisa menjawabnya selain mengucapkan permintaan maaf karena telah membatalkan semuanya. Aku akan bertanggung jawab, tetapi semua sudah dipertanggung jawabkan oleh Satrio. Lelaki itu mengganti kerugian-kerugian yang disebabkan olehnya.
Bukan main banyaknya, tetapi menurutku dia pantas mendapatkannya. Dia yang menyebabkan pernikahan kami ini berantakan. Dia pula yang harus mempertanggung jawabkan semuanya.
Rasa sakit itu tak hanya berhenti sampai di sana saja. Siangnya ada lagi yang menghubungiku, entah itu prasmanan dan yang lainnya. Mereka lagi-lagi bertanya kenapa dibatalkan. Sama saja, aku tak bisa menjawabnya. Pada akhirnya, aku terpaksa menonaktifkan handphone karena tak sanggup mendengar pertanyaan-pertanyaan itu. Hatiku terlalu sakit untuk menerimanya.
“Dasar manusia nggak punya hati! Tega kamu, Satrio! Apa yang kurang dari aku selama ini?” pekikku tertahan di tengah kegelapan. Aku tak ingin Heya dan pengasuhnya yang sejak Tiga minggu lalu mulai menginap di rumah ini merasa terganggu. Kucoba redam suara tangisku sebisa yang aku sanggup. Lagipula malam sudah sangat larut, jarum jam pendek tepat berada di angka Dua Belas, sedangkan jarum panjangnya telah lewat beberapa menit. Aku sebaiknya berhenti menangisi lelaki itu.
Seperti kata kebanyakan orang, mantan seharusnya dibuang ke tempat yang seharusnya. Tak perlu ditangisi sampai seperti ini. Kuusap kasar air mata yang tersisa, kubiarkan senyum di bibir sedikit menghiasi. Ini adalah akhir dari kesedihan hari ini. Besok tidak akan ada yang akan bertanya padaku lagi. Aku yakin bisa melewati semuanya dengan hati yang perlahan sembuh dari luka.
Kuaktifkan kembali ponsel pribadiku, berharap pertanyaan-pertanyaan itu benar-benar tiada lagi. Namun, ternyata aku salah, berbondong pertanyaan mengenai kenapa pernikahanku batal datang dari teman-temanku dan juga teman-teman Satrio. Airmata yang tadi sudah mengering kini mengalir lagi. Rasa sakit itu bertambah berkali-kali lipat dari terakhir kali. Ya Tuhan, kenapa Engkau uji aku dengan cara seperti ini?
Kenapa Kau hadirkan Satrio bila pada akhirnya Kau biarkan hatinya berpaling dariku di saat pernikahan kami sudah di depan mata? Tak bisakah kau melihat betapa hatiku terluka, Tuhan? Kenapa hal menyakitkan ini harus terjadi padaku! Aku tidak sanggup menerimanya. Aku hanya manusia biasa yang sangat mencintai Satrio. Bagaimana caraku melupakan rasa sakit ini Tuhan? Tolong bantu aku.
Ratapanku memang tidak akan berguna, tetapi hanya itu yang bisa aku lakukan setelah bertahan selama hampir sebulan dari sakit hati ditinggalkan. Banyak yang harus aku hadapi selama sebulan ini. Kecewaku terutama. Ditambah dengan pertanyaan-pertanyaan Heya yang tak bisa hentikan tentang kenapa Om kesayangannya tak pernah datang mengunjunginya lagi.
Bayangkan seperti apa aku menghadapi hari-hari selama ini? Hancur hatiku, hancur hariku. Kalau bukan sibuk bekerja, mungkin aku akan terpuruk karena ditinggalkan. Jika bukan karena memikirkan Heya, mungkin aku sudah menjadi gila.
Aku menjadi waras hanya demi keponakan yang masih membutuhkan kehadiranku. Dia sudah tidak memiliki siapa-siapa selain aku, sehingga aku tidak boleh terpuruk karena semua ini.
Terus kugulir pesan yang masuk ke dalam handphoneku. Semuanya dari teman-teman kami. Ada juga dari rekan kerja. Pertanyaan mereka sama yaitu kenapa pernikahanku dan Satrio dibatalkan. Mungkin Satrio telah memberi pengumuman kepada teman-temannya bahwa tidak akan pernah ada yang namanya pernikahan untuk kami berdua. Mungkin juga dia telah mengenalkan pacar barunya.
Aku menggelengkan kepalaku atas pemikiranku yang terakhir. Sungguh bukan lagi menjadi urusanku bila memang dia ingin mengenalkan perempuan itu kepada teman-temannya. Sekarang aku hanya masa lalu baginya, dan dia layak untuk kuanggap sebagai masa lalu juga. Bahkan masa lalu yang paling menyakitkan dan enggan untuk kukenang.
Masih aku menggulir layar ponselku pada salah satu aplikasi chating tersebut. Dalam ketidakberdayaan itu, ada satu pesan masuk yang membuatku berhenti menggulir layar ponselku. Pesan dari seseorang yang selama Empat minggu ini selalu menemani hari-hariku. Tidak sering, tetapi kerap kali pesannya membuatku terhibur. Seperti saat ini misalnya, dari banyaknya pesan yang masuk ke ponselku, hanya dia yang akhirnya bisa menghentikan isak tangisku.
“Selamat ulang tahun, Shena Arfeya. Kau adalah anugrah terindah dari Tuhan. Mata air untuk jiwaku yang gersang. Jadi lah kuat, Feya. Percaya lah, Tuhan sangat menyayangimu hingga dirimu harus berada di titik ini. Aku, Axel Adijaya, sangat menyayangimu.”
“Selamat menjadi lajang kembali, Feya. Aku berjanji akan menemanimu sampai nanti.”
Begitu pesan tertulis dari Axel yang sanggup menghentikan kegiatan menggulir layar ponselku dan juga menghentikan isak tangisku.
Axel, dia lelaki yang tiba-tiba kembali hadir dalam hidupku. Dia juga yang mengingat ulang tahunku hari ini. Dia satu-satunya. Bahkan Bianka yang merupakan teman kuliahku, sahabatku saja tidak ingat hari ini adalah hari ulang tahunku. Dia hanya memintaku untuk bersabar atas kejadian tragis yang menimpaku saat ini.
Namun, Axel, teman lama yang akhir-akhir ini datang kembali, mengingat jelas bahwa hari ini adalah hari ulang tahunku. Dia pula yang pertama mngucapkan selemat untukku.
Kubiarkan saja pesan Axel setelah k****a. Dia memang bisa menghentikan tangisanku, tetapi aku sedang tak ingin meladeninya. Suasana hatiku sedang tak baik-baik saja saat ini. Biar lah itu kubalas nanti.
Ada yang ingin aku cek mengenai hari ulang tahunku ini. Pesan dari Satrio. Kucari nomornya, berharap dia telah mengirimiku pesan. Namun, tidak ada apa-apa di sana. Pesan-pesan manis terakhir darinya bahkan sekitar Dua bulan yang lalu. Sisanya hanya pesan singkat yang menunjukan betapa dia telah berubah. Lalu akhir dari semua itu adalah kata-kata puitis panjang lebar yang masih sempat kukirimkan untuknya sebagai bentuk sakit hatiku, dan tidak dibalas olehnya sama sekali.
Saat itu juga aku memaksa diri untuk berhenti mengiriminya pesan. Satu hal yang setidaknya membuatku sedikit lega yaitu foto profilnya masih sendiri seperti dulu. Tidak fotonya bersama Santi.
Tidak mendapati pesan dari Satrio di aplikasi itu, aku berpindah ke aplikasi lainnya. Tempat banyak orang memposting memont membahagiakan. Kuketikan nama akun Satrio yang masih sangat kuhafal itu.
Namun, apa yang kulihat? Foto terakhir yang dirinya unggah adalah foto dia dan Santi tengah bergandengan tangan sembari menghadap ke belakang. Captionnya sungguh menyakitkan.
Kita tidak pernah tahu seperti apa masa depan itu. Aku beruntung menemukanmu sebelum terlambat
Emotikan love diujung kalimat itu. Hancur hatiku. Memangnya ada apa denganku hingga dia mengatakan itu untuk Santi? Tidakah Satrio bisa sedikit saja menghargai perasaanku ini? Kenapa dia sangat tega menyakitiku. Apa yang ada pada Santi hingga dia tega berkhianat dan menghancurkan aku sejauh ini?
Malangnya nasipku. Tak hanya menerima pengkhianatan Satrio, tetapi juga mendapatkan hinaan darinya. Kuremas dadaku yang terasa sangat nyeri. Aku menangis lagi. Isakku tertahan demi tak ada yang mendengar tangisan. Kulempar ponselku secara asal hingga benda itu pecah. Mungkin suaranya sedikit membuat Heya dan pengasuhnya terkejut, tapi sudah tidak peduli lagi.
“Teganya luka ini kau buat semakin menganga, Satrio. Aku benci kamu!” Tidak ada yang bisa aku lakukan lagi sekarang. Kurebahkan tubuhku, kutenggelamkan diriku ke dalam selimut hingga akhirnya aku tertidur tanpa sengaja.
Syukur lah besok adalah hari liburku sehingga aku tak perlu pusing menutupi pembengkakan pada mataku akibat terlalu lama menangis.
Keesokan harinya aku terbangun. Kupunguti sisa ponsel yang telah hancur. Aku tak berniat memperbaikinya lagi, sebab di sana terlalu banyak kenangan bersama Satrio. Bahkan aku akan mengganti nomor ponselku dengan nomor yang baru.
Sudah saatnya aku bangkit. Jangan sampai Satrio dan Santi semakin bahagia melihat keterpurukanku ini. Mereka sudah menjadi pasangan, dan seharusnya aku juga bisa move on dari kisah ini.
Semalam adalah kali terakhir aku menangisi Satrio. Benar-benar yang terakhir. Tidak aka nada lagi tangis untuk lelaki kurang ajar itu.
Kusimpan ponsel yang telah hancur. Kupatahkan terlebih dahulu kartu dari masa laluku itu. Kini aku akan memperabiki hidupku bersama Heya. Tidak ada yang bisa menyakiti kami lagi ke depannya. Kami akan tumbuh menjadi pribadi yang jauh lebih baik, yang akan dihargai oleh orang lain dengan cara yang baik pula.
Aku berjanji atas diriku sendiri. Aku harus pulih apapun yang terjadi.
Saat aku menatap bayanganku di depan cermin, tekat itu jelas telihat di kedua bola mataku. Rupanya tangisanku semalam membuatku lega karena selama Empat minggu ini aku selalu menahannya. Kini tak ada lagi yang harus aku sesali. Semuanya sudah menjadi kehendak Tuhan.
Sebagai manusia aku hanya bisa menjalaninya saja.
“Selamat tinggal, Satrio. Semoga kamu bahagia bersama Santi, dan tidak menyesali perpisahan ini karena aku tidak akan pernah kembali padamu lagi walaupun aku masih mencintaimu hingga detik ini,” ucapku masih menghadap cermin itu.
“Aku janji akan bahagia tanpa hadirmu di sini. Kisah kita akan aku jadikan pelajaran yang berharga sampai nanti.”
Dua Puluh Delapan tahun dalam hidupku tak luput dari rasa sakit. Tak mungkin aku tidak bisa melewati kesakitan yang satu ini. Aku sudah banyak merasakan kehilangan, ini hanya salah satu kehilangan yang lagi-lagi harus kulalui. Aku yakin aku bisa melupakan semuanya. Aku adalah Feya yang kuat!
Tidak ada yang bisa menghancurkanku hingga lebur. Satrio, aku akan membuktikan padamu bahwa kehilanganmu bukan sesuatu yang bisa membuatku terjatuh hingga tak bisa bangkit lagi. Kita akan lihat siapa yang paling bahagia setelah ini. Aku pun akan membuktikan aku layak untuk dicintai hingga dirimu menyesal telah kehilangan diriku.
***
To be continued.