Mendua-Bab 3

1718 Words
*** Pintu mobil kututup dengan pelan. Senyumku tulus untuk Axel yang hari ini mengantar kami hingga ke depan gerbang rumah. “Makasih, Xel,” ucapku. Namun, ternyata Axel menolak hanya mengantar sampai ke depan gerbang saja, Axel membantuku menggendong Heya hingga menidurkan keponakan kesayanganku itu ke kamarnya. Sementara tugasku hanya sekedar menarik koper yang berisi pakaianku dan Heya. “Sekali lagi makasih atas bantuanmu, Axel. Senang bisa ketemu kamu lagi, tapi maaf karena kita harus bertemu dengan cara seperti ini,” “Sama-sama,” Axel tersenyum hangat. “Pertemuan seperti apapun itu aku tetap senang melihatmu lagi, Feya,” katanya sembari tersenyum. Sejujurnya aku sangat malu sebab Tuhan mempertemukan kita dalam keadaan yang seperti ini. Harapanku dulu adalah kita bertemu lagi di aula pernikahanku atau pernikahanmu, dan kita sudah berdamai dengan masa lalu. Bukan dalam keadaan diriku yang dipenuhi dengan luka seperti saat ini. Namun, apa dayaku ketika kenyataan menghantamku, menunjukan betapa tidak beretikanya Satrio atas hubungan kami. Aku dilukai dengan sangat dalam olehnya. “Ehmm Fe, boleh aku meminta nomor hpmu?” Pertanyaan Axel membuyarkan lamunanku tentang betapa kejinya sikap Satrio. Mataku yang tadi berkaca aku usahakan bersih dari airmata ketika menimpali pertanyaan Axel tersebut. Mendengar bagaimana Axel berhati-hati kala meminta nomorku, membuat aku sedikit tertawa. Ternyata dirinya benar-benar telah banyak berubah. Tak seperti dulu yang seenaknya saja. Dia kini telah benar-benar dewasa. Sebenarnya itu sangat wajar mengingat umur kami yang sudah tidak muda lagi. Dua Puluh Delapan tahun cukup untuk menjadikan seseorang bersikap dewasa. Aku mengangguk singkat. “Silakan dicatat,” kataku meminta pada Axel. Buru-buru teman lamaku mencatat nomor ponselku dengan wajah yang kalau aku boleh menilai sangat gembira. Entah karena apa. “Terima kasih, Feya,” Bahkan Axel dengan lantang mengucapkan kata terima kasih untukku. Caranya mengingatkanku akan cara Satrio kala mengucapkan terima kasih untukku. Lelaki itu selalu membuatku tersenyum biasanya, tapi sekarang tidak lagi, dia adalah yang pertama membuatku menangis. Hatiku sakit bila mengingatnya, bahkan hanya untuk sedetik saja. Lagi-lagi aku mengingat Satrio. Hal itu membuatku mengembuskan napas dengan berat. Axel mungkin menyadarinya, tetapi dia memilih untuk pura-pura tidak mendengarnya. Aku beruntung karena memiliki teman seperti Axel, begitu pengertian meskipun kami telah sangat lama tidak berjumpa. Setelah mencatat nomor ponsel pribadiku, Axel langsung pulang. Sengaja aku tidak memintanya mampir terlalu lama lantaran hatiku sedang tak membutuhkan teman untuk bicara sekarang. Aku perlu waktu untuk menyendiri. Ingin menangisi kisah yang pada akhirnya kandas ini. Axel mengatakan ia akan menghubungiku dengan segera. Dan, aku hanya bisa menganggukan kepala. Tak terlalu berminat dengan apa yang ada di dalam pikiran Axel saat ini. Bagiku, sembuh dari patah hati adalah apa yang harus aku lakukan. Karena sesungguhnya bukan hanya aku yang akan merasakan kehilangan, tetapi Heya juga, sebab selama ini hidupnya selalu di kelilingi oleh Satrio. Mengingat kebaikan lelaki itu kepada Heya membuat aku tak bisa menahan tangisku sekali lagi. Untung lah Axel telah lama meninggalkan rumahku, sehingga aku tak perlu menyembunyikan tangis ini. Heya pun masih tertidur lelap di kamarnya. Barangkali keponakanku itu letih sepulang dari pantai. Ya Tuhan, kembali air mata ini jatuh membasahi pipi. Aku tidak tahu apakah aku sanggup menjalani kehidupan ini tanpa Satrio nanti. Aku pun tak tahu bagaimana caranya menjelaskan kisah yang telah kandas ini kepada Heya. Rasanya tak ada kata yang dapat kurangkai untuk menerangkannya kepada Heya. Dia pasti akan mencari Satrio yang sejak hari ini tak akan pernah ke rumah ini lagi. Tiba-tiba dadaku terasa sangat amat sesak. Bagaimana tidak? Di setiap sudut rumah ini telah pernah di jamah oleh Satrio. Entah ia bercanda denganku atau bercanda dengan Heya. Tawanya, suaranya, semua tentang dirinya pernah mengisi rumah ini dengan begitu indah. Mataku menatap dapur yang biasanya menjadi tempat favorit Satrio. Dia pandai memasak. Makanan kesukaan Heya dan kesukaanku selalu menjadi menu favoritnya di dapur. Dia tak pernah mengecewakan kami. Benar-benar seorang chef yang hebat untuk kami berdua. Aku menggelengkan kepala, enggan mengingat kenangan yang dipenuhi oleh tawa itu. Sudah cukup! Tak seharusnya aku mengingat kembali dirinya. Satrio telah menentukan jalannya sendiri. Jangan salahkan aku, sebab aku pernah berusaha untuk memperbaiki hubungan ini, tetapi dia memilih untuk tetap bersama Santi. Aku pernah meminta penjelasannya agar aku tahu apa yang kurang dariku hingga dia rela mendua. Namun, dia tak merasa memberiku penjelasan adalah sesuatu yang penting. Tak ada jawaban dari kejadian ini selain karena cinta Satrio telah memudar untukku. “Teganya kamu Satrio,” lirihku. Pada akhirnya aku menangis lagi dan lagi. Masih tak percaya cinta yang selama Sepuluh tahun ini Satrio umbar di manapun kami berada akhirnya berlalu begitu saja. Kulangkahkan kakiku menuju kamarku. Semakin banyak saja memori tentang Satrio di sana. Foto-foto indah kami berdua yang penuh canda tawa menghiasi dinding kamarku. Tak satu pun tanpa tawa gambar diri kami berdua di sana. Semuanya menunjukan kebahagian karena kami pernah saling mencintai. Aku ingin mencopot gambar-gambar itu, tetapi nyatanya aku tak mampu melakukannya. Tidak sakarang, karena aku benar-benar masih membutuhkan waktu untuk menenangkan hatiku yang terlanjur kacau balau ini. Lama aku menangis untuk kemudian tertidur tanta sengaja. Aku dibangunkan oleh Heya yang memanggilku karena ingin makan katanya. “Tante lapar,” Begitu ia merengek aku segera bangun dan menyiapkan makanan untuknya. Tak tega bila melihat keponakan yang telah aku anggap sebagai anak sendiri itu menahan lapar. Ia adalah bagian dari diriku yang sangat aku sayangi. Heya makan dengan lahap. Dia pintar, bisa makan dengan sendirinya. “Tante tadi nangis ya?” tanyanya. Aku terdiam. Bertanya-tanya di dalam hati apakah mata dan wajahku sangat sembab hingga Heya bisa berkata seperti itu. “Tante jangan nangis lagi ya, kan ada Heya,” Bukan mengiyakan kata-katanya, aku justru kembali menjatuhkan air mata. Dipeluknya diriku setelah meletakan sendok makannya terlebih dahulu. Diusapnya pungguku yang rapuh dengan penuh kelembutan. Tangisku semakin menjadi karena hal itu. Heya, cepat lah besar sayangku, aku ingin menumpahkan semua keluh kesah ini padamu agar kamu mengerti betapa hati ini tak tersisa lagi. Ia telah hancur lebur tanpa dapat ditata kembali. Kubalas dekapannya yang begitu erat, tetapi lembut itu, aku tahu tak bisa diriku terus menangisi masa lalu seperti ini. Namun, bagaimanapun juga diriku hanya manusia biasa yang memiliki hati tak sekuat baja. Wajar bila kesakitanku tak bisa terbendung. Aku harap secepatnya raga ini mampu menahan diri untuk tidak menangis lagi di depan Heya. Kuusap air mataku agar Heya tidak khawatir. “Lanjutin makannya, Sayang,” ucapku setelah menjauh dari pelukannya. Heya mengangguk singkat. “Tante, kenapa Om Satrio nggak pulang bersama kita?” tanyanya sembari kembali menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya. Jantungku berdetak sangat cepat mendengar pertanyaanya itu. Tak kuasa aku menjawabnya, tetapi aku harus tetap menjelaskan pada Heya bahwa mulai detik ini Satrio tidak akan pernah bersama kami lagi. “Heya, tante mau kamu jangan cariin om Satrio lagi ya, Sayang,” ucapku mencoba memberi pengertian untuk Heya. Aku tahu ini juga tak kalah sulitnya untuk si kecil itu. Bayangkan saja, sejak umur Dua tahun Heya sudah mengenal Satrio dengan baik. Satrio sudah seperti Bapaknya sendiri. Setiap hari Satrio menemaninya, menghiburnya di kala hatinya sedih. Namun, kini mendadak lelaki itu menjauh. Tak lagi memiliki waktu untuk bersamanya. “Kenapa tante?” Aku menggeleng menjawab pertanyaan Heya. Harus mulai darimana aku menjelaskan ini agar Heya mengerti? “Om sekarang punya kesibukan lain. Dia nggak bisa datang ke sini lagi seperti biasa. Sekarang hanya tersisa kita berdua,” Heya mengernyitkan dahinya. Tampak tak ingin terima bahwa Satrio tak akan pernah bisa datang ke rumah ini lagi. “Om juga nggak akan ketemu Heya tante?” tanyanya. Dan, aku hanya bisa menggelengkan kepala. Wajah Heya pun berakhir murung, tetapi ini memang harus aku katakan padanya. Aku tak ingin dia menunggu Satrio dalam waktu yang lama. Sama seperti diriku, Heya pun harus move on dari lelaki b******k itu. Dia tak pantas untuk diingat bahkan dalam waktu sedetik saja. Meskipun sangat sulit melupakannya, tetapi aku akan berusaha. Aku juga akan membuat Heya melupakannya apapun yang terjadi. “Kamu bisa berjanji sama tante, Heya? Jangan cari Om Satrio lagi ya, jangan sebut-sebut namanya juga karena tante nggak mau dengar apapun lagi tentang dia,” pintaku pada Heya. Dia semakin terkejut saja. Wajahnya menunjukan semua itu. Maafkan tante Heya, tetapi tante harus melakukan ini untuk kita berdua. Tante akan melakukan apa saja untuk membuatmu bahagia walaupun harus menjauh dari Satrio untuk selamanya. Bukan aku yang menginginkan ini, keponakanku, tapi Satrio sendiri yang ingin kita menjauh pergi. Tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja. Satrio tidak mungkin bisa mempengaruhi hatiku untuk selamanya. Aku yakin suatu hari bisa melupakannya dan berdamai dengan rasa sakit ini. “Heya, kamu mengerti maksud tante, kan?” tanyaku ingin tahu apakah Heya paham maksudku atau tidak. Heya hanya mengangguk, lalu menggeleng singkat. Wajahnya menjelaskan kebingungan. Namun, aku tersenyum untuknya, lalu memeluknya karena hanya itu yang bisa aku lakukan saat ini. Hari-hari berlalu setelah itu. Pekerjaanku menunggu sebab masa cuti akhirnya selesai. Heya kembali aku titipkan pada pengasuhnya yang pulang dan pergi sesuai jadwal. Dia tidak menginap di rumah selama ini. Dia akan menyerahkan Heya begitu aku pulang dari pekerjaanku. Rutinitas itu kembali mengingatkanku pada Satrio. Pekerjaanku yang kadang mengharuskan aku pulang terlambat membuatku sering meninggalkan Heya dan berakhir Heya dititipkan pada Satrio. Hal itu sering terjadi, tetapi Satrio baik-baik saja direpotkan olehku dan Heya. Namun, sekarang tidak lagi. Karena hal itu pula aku mempertimbangkan untuk meminta pengasuh Heya menginap di rumah agar bisa menjaga Heya selama aku pergi dan sibuk dengan pekerjaanku. Tak jarang diri ini baru dapat pulang ke rumah setelah larut malam. Jika pengasuhnya bisa menginap, aku sedikit lebih tenang meninggalkan Heya. Aku akan membicarakan hal itu dengan pengasuh keponakanku itu nanti. Sebab, tak ada yang bisa kuandalkan lagi saat ini. Tidak ada lagi Satrio di sisi kami. Aku harus bisa mengatur semuanya sendiri saat ini. Memang sangat sulit karena peran Satrio selama ini betul-betul sangat besar dalam hidupku dan Heya. Kami bergantung padanya. Namun, sudah lah aku harus merelakannya. Bagaimanapun juga aku dan Heya harus tetap semangat menjalani kehidupan kami tanpa Satrio. Aku juga harus lebih banyak meluangkan waktu untuk Heya kalau bisa karena Heya masih sangat membutuhkan kehadiranku sebagai pengganti orang tuanya. Ditambah lagi ia baru saja kehilangan sosok yang selama ini selalu dirinya anggap sebagai papanya yaitu Satrio. Aku menggelengkan kepala, mencoba untuk melupakan kebaikan-kebaikan yang selama ini Satrio berikan kepadaku dan juga Heya. Semua sudah berlalu dan sudah seharusnya aku membuang kenangan itu. Kenangan-kenangan yang hanya akan membuatku kesakitan meski semuanya terkesan sangat manis. *** To be continued.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD