*** Saat aku kembali ke dalam rumah, aku melihat Heya bangun dari tidurnya. Ia tengah mengusap matanya sembari menatap ke arahku. Senyumku terbit untuk Heya. Kuhampiri ia dan bawa lututku menyentuh lantai agar tinggi kami sejajar. “Kok bangun?” tanyaku padanya. Terlihat jelas gadis kecil kesayanganku itu masih mengantuk, tetapi memaksakan diri untuk bangun. Heya menggelengkan kepalanya. “Siapa yang datang, Tante?” tanyanya dengan suara yang masih parau. Kupeluk ia sebelum kugendong dirinya menuju kamarnya yang merupakan kamarku juga. “Om Axel, yang waktu itu antarin kita pulang dari pantai,” jawabku. Heya terdiam. Dia tidak menanggapiku entah karena apa. Mungkin dirinya masih sangat mengantuk sehingga tak terlalu mendengar ucapanku. “Tidur lagi ya, Sayang,” ajakku pada keponakanku

