Mendua-Bab 14

1092 Words

*** Pagi ini aku dan Heya baru saja menyelesaikan sarapan kami berdua. Bibi Rinda memasak sop ayam kesukaan Heya karena aku meminta padanya. Heya sangat lahap. Aku senang sekali melihatnya. Hanya saja, entah kenapa wajah Heya terlihat murung di mataku. Tak tahan melihat itu, aku pun bertanya padanya. “Kenapa, Sayang?” Kugenggam tangan mungilnya agar ia lebih leluasa menceritakan apa yang saat ini sedang dirinya pikirkan. Heya terlihat melirikku dengan rasa khawatir. Hal itu membuatku semakin penasaran akan apa yang sebenarnya sedang terjadi kepadanya. “Ayo cerita,” pintaku. Heya mengembuskan napasnya dengan berat. “Aku ingin sekolah, Tante,” ungkapnya. Pupil mataku membesar mendengar itu. Aku lupa bahwa diriku memang sudah seharusnya mendaftarkan Heya di sebuah Sekolah. Pendidika

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD