*** Aku masih berusaha mengumpulkan kesadaran dan melupakan mimpi aneh itu saat Heya memanggil diriku. “Tante?” Ia terbangun gara-gara aku yang terkejut. Aku menoleh padanya, lalu tersenyum menenangkannya. “Tante kenapa?” Rupanya rasa penasaran dan kekhawatirannya tak bisa hilang meskipun aku sudah berusaha untuk menenangkannya. Aku menggelengkan kepala, masih tersenyum agar ia tak perlu terlalu khawatir. “Nggak, Sayang. Tante cuma kaget karena pagi cepat banget datangnya,” jawabku. Berharap jawaban itu bisa memuaskan hati Heya. “Sungguh?” Aku mengangguk tegas. “Iya, tante benaran kaget. Lupa kalau hari ini tante libur,” ucapku menjawab kecurigaannya. Memang hari ini aku libur. Aku bersyukur sekali atas itu karena dengan begitu diriku tak perlu terburu-buru berangkat kerja. Hey

