*** Pelan-pelan aku menidurkan Heya ke tempat tidurku. Dia terlelap saat kami sedang menonton tv. Setelah banyak bercerita akhirnya Heya kelelahan. Aku sungguh senang mendengarnya menceritakan banyak hal meski tak satu kali pun ia menyebut Satrio dalam obrolan. Mungkin Heya tahu bahwa aku tak suka ia melakukan itu. Syukur lah akhirnya keponakan yang telah aku anggap seperti anak sendiri itu mengerti apa yang aku inginkan. Kini ia telah tertidur lelap. Kupandangi wajahnya yang tampak cantik itu. Berkali-kali aku mengatakan bahwa parasnya mirip sekali dengan kakakku sewaktu kecil. Tidak ada bedanya. Cantik dan menawan. Dalam hati aku berjanji akan menjaga Heya hingga suatu hari dia menemukan seseorang yang tepat untuk menjaganya, mencintainya tanpa syarat hingga tua. Ngomong-ngomong so

