*** Pukul Tujuh aku akhirnya menemui Axel di kamar hotelnya. Sebelumnya aku sudah menghubunginya dan memintanya bersiap karena aku akan membawanya sarapan di restoran hotel. Sesuai perjanjian, membawa wisatawan untuk sarapan adalah bagian dari paket yang Axel ambil di hari keduanya ini. Berbeda dengan makan malam yang kemarin, seharusnya tak perlu aku temani, tetapi karena Axel memaksa, maka aku pun tak ingin menolaknya. Sembari terus memikirkan rencana hari ini, aku pun akhirnya sampai di depan kamar Axel. Kuketuk pintu hingga ia membukanya. Wajah tampan dan rupawan menjadi pemandangan pertama yang mataku dapati. Aku mengalihkan tatapan darinya demi membuat degup jantungku tak terlalu bertalu. “Ada apa? Terkesima?” tanya lelaki itu dengan percaya diri. Aku mendecakan lidahku sebel

