*** Seperti Nina yang menatapku penuh selidik dengan mata bulatnya, aku pun melakukan hal yang sama pada perempuan itu dengan mata tajamku. Aku tahu dia pasti sedang penasaran pada mataku yang membengkak sehabis menangis ini. Namun, belum kudengar saja tanya dari mulutnya. Tak ingin memberikan kesempatan untuk Nina bertanya, aku pun mencoba untuk melarikan diri darinya dengan cara pergi lebih dulu menemui Axel. Tentu saja tak langsung menemui lelaki itu. Nanti aku bisa mampir ke suatu tempat dulu sebelum memulai perjalanan wisata kami kali ini. “Etss! Tunggu dulu,” Namun, dengan caranya Nina pun mencegatku. Menghalangiku untuk meninggalkan tempat istirahat kami atau tempat kami menyimpan peralatan pribadi ketika telah sampai di tempat kerja. “Mau ke mana? Masih pagi,” tanyanya. A

