Setelah makan, Glowry menarik buku tadi. Rasa penasarannya semakin tinggi dan saat ia membaca cerita itu, seakan ia berada di dalam. Anehnya lagi, cerita itu seperti nyata dan sengaja ditulis. Sebenarnya ia tidak ingin terlalu meresapi isinya, tapi hatinya terlalu cengeng untuk cerita yang belum tentu benar. Berbagai gejolak yang bertentangan dalam hati Glowry, akhirnya ia tetap melanjutkan isi buku itu. Selembar foto bertema hantu terselip disalah satu halaman,
“Wow! Menakjubkan. Ah, aku semakin yakin jika cerita ini ditulis sesuai keadaan. Baiklah, ayo kita lanjutkan!” seru Glowry antusias sendiri.
Flasback
“Kakak memanggilku ada apa?” seru Nancy tanpa mengetuk pintu langsung masuk begitu saja.
“Aaaaakkk...” teriak Neilh begitu memutar tubuh menatap sosok yang tiba-tiba berseru. “Nancy! Apa-apaan kau ini! Kau ingin membuat kakakmu jantungan, huh!” bentak Neilh sambil memegang d**a.
Siapapun yang melihat Nancy pasti akan bereaksi sama seperti Neilh. Kedua mata menggunakan soflen berwarna putih, separuh wajah di rias seperti kulit yang terkelupas berlumur warna merah menyala. Sedangkan pakaian yang Nancy kenakan adalah pakaian jaman belanda kuno berhias cipratan warna merah mirip darah. Tidak ketinggalan, ia juga menggunakan kuku palsu sepanjang 1 sentimeter.
“Tidak. Kau saja yang berlebihan. Aku kesini juga karena panggilanmu,” jawab Nancy tidak suka.
“Aku tidak berlebihan. Kau saja yang gila! Memakai seperti itu,” maki Neilh pada Nancy dan sang adik melotot padanya.
“Hey! Aku ada party Hallowen. Tentu saja aku berhias seperti ini!” teriak Nancy tidak terima dibilang ‘gila’.
“Oh! Aku tidak tahu, jika malam ini Hallowen” ucap Neilh baru teringat.
“Ah, sudahlah! Kau membuang waktuku saja. Aku jadi terlambat karena kau!” ucap Nancy mengakhiri perdebatan dengan sang kakak yang tidak berguna. Ia melenggang pergi begitu saja, keluar dari ruang kerja sang kakak.
“Lama sekali, dari mana saja kau?” tanya Migael.
“Menemui Neilh untuk sesuatu yang tidak berguna,” jawab Nancy malas.
“El dimana?” tanya Nancy sambil menyapukan pandangannya ke sekitar.
“Dia pergi dulu. Dia mengatakan harus menemui seseorang,” jawab Migael.
“Ck! Dia terlalu peduli dengan jabatan di sekolah. Ya sudah, tunggu apa lagi?” ucap Nancy.
Mereka naik ke rooftop dan di atas, Helikopter telah siap diterbangkan. Nancy dan Migael segera masuk. Helikopter itupun melayang melewati gedung-gedung tinggi dan perkotaan yang terlihat sangat ramai. Jalanan kota terang benderang karena lampu kendaraan yang memadati jalan. Helikopter yang mereka tumpangi berbelok meninggalkan perkotaan dan semakin naik. Tujuannya adalah tempat di balik bukit tinggi yang berada di ujung kota. Beberapa Helikopter lainnya juga menuju ke arah sama dengan Nancy. Pesta Hallowen diadakan di sekolah, jadi tidak heran kalau atas bukit lalu lalang Helikopter dan pesawat. Tak lama mereka mendarat di lapangan luas khusus Helikopter, mereka segera keluar dan menuju tranportasi yang akan membawa mereka masuk. Karena bukan jam sekolah, maka pihak sekolah hanya menyiapkan satu bus khusus. Jika jam sekolah akan ada deretan bus dengan tulisan bermacam-macam.
Nancy menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan. Ia mulai mengayunkan kaki dengan langkah anggun. Pandangannya lurus ke depan tanpa senyum, hanya wajah datar seperti biasa. Aula yang sangat luas sudah penuh dengan para murid Hidden side yang memakai kostum ala hantu. Berbagai riasan yang menyeramkan mereka kenakan. Nancy sendiri juga tak kalah mencolok. Ia bergabung dengan murid lainnya karena tidak menemukan dimana Elvrince berada. Musik yang berdentum sangat keras dan lampu temaram, membuat party Hallowen semakin hidup. Beberapa anak juga sengaja memakai kostum tengkorak yang akan terlihat jelas jika di tempat gelap atau temaram.
Waktu semakin malam, tapi Nancy tak kunjung menemukan Elvrince. Ia merogoh ponsel dalam tas dan mencoba menghubungi. Dua kali panggilannya tidak diangkat, lalu ia mencoba mengulangi lagi berharap Elvrince mau mengangkat.
Di tempat lain...
“Apa kau suka?” tanya Agride.
“Tentu saja” jawab Elvrince cepat.
“Baiklah. Sudah saatnya kita keluar,” ajak Agride. Ia mengulurkan tangan pada Elvrince dan menuntun untuk keluar.
Ruang kosong yang berada di Tower, tidak jauh dari lokasi Aula tempat pesta adalah tempat yang direncanakan oleh Agride untuk menyatakan cinta pada Elvrince, tapi gagal karena lidahnya tak mampu untuk mengucapkan tiga kata itu. Akhirnya ia dan Elvrince hanya makan malam romantis di satu ruangan yang sudah ia siapkan dan dihias sangat cantik.
“Kak, kita terlalu lama lari dari pesta. Buktinya pesta hampir di ujung acara,” ucap Elvrince setelah sampai di Aula melalui pintu samping.
Meski pihak sekolah menutup akses masuk, tapi untuk pintu-pintu yang terhubung dengan Aula tidak dikunci. Maka dari itu, Agride berani membawa Elvrince ke area lain.
“Tidak akan ada yang menyadari kita lari dari pesta ini,” bisik Agride disamping telinga Elvrince.
“Benar juga,” Elvrince menyetujui.
“Maukah berdansa bersamaku?” tanya Agride tepat disamping telinga Elvrince. Suara musik yang keras membuat siapapun susah berkomunikasi jelas, kecuali mendekatkan disamping telinga.
Elvrince tersenyum sambil mengangkat telapak tangan tepat di depan Agride, dan Agride tersenyum sambil meraih telapak tangan Elvrince untuk digenggam. Sebelah tangannya menarik pinggang ramping Elvrince agar tidak ada jarak diantaranya. Mereka mengayunkan ke kanan dan ke kiri mengikuti irama musik yang terdengar romantis untuk Agride. Sesekali Elvrince berputar dengan berpegangan telapak tangan Agride yang besar.
“Apapun yang terjadi diantara kita nanti, kuharap kita akan tetap berhubungan baik. Sama seperti saat ini,” ucap Agride pelan dan diangguki Elvrince cepat.
“Migael! Lihat itu!” seru Nancy sambil menunjuk ke sudut ruangan.
Migael yang sedang asik dengan ponselnya, terpaksa mendongak dan mengikuti arah telunjuk Nancy. Ia menajamkan pandangannya hingga kedua bola mata Migael seperti ingin lepas dari tempatnya,
“El. Agride. Ada apa dengan mereka?” jawab Migael setelah ia mengamati dengan seksama, siapa yang ditunjuk Nancy.
“Aku mengkhawatirkan dia setengah mati, tapi dia malah berduaan dengan Agride,” desis Nancy kesal.
Ia berjalan menghampiri dua sosok manusia yang sukses membuatnya mendidih. Bukan karena cemburu atau apa, ia sempat berpikir jika Elvrince lupa lorong menuju ke Aula. Meski sudah bertahun-tahun sekolah disini, tapi Elvrince kerap sekali kesasar.
“Beginikah caramu memperlakukan aku?” seru Nancy lantang, hingga semua yang ada berhenti berdansa.
Seruan Nancy membuat Elvrince tersentak dan mengalihkan pandangannya dari wajah Agride ke samping.
“Hai, my twin...” sapa Elvrince sambil nyengir kuda.
“Ck!” decih Nancy.
Buug buug bugg
“Lepaskan ini!” ucap Nancy kesal sambil memukul tangan Agride yang dipukul oleh tas tangan Nancy,
“Aduuh...hey! Kau sudah gila atau apa,huh!” rintih Agride sambil melindungi diri dengan tangannya tapi percuma.
“Nancy! Sudah, apa-apaan kau ini,” Elvrince menengahi.
“Kau juga! Kenapa tidak menjawab panggilanku,huh!” bentak Nancy pada Elvrince. Elvrince langsung tergagap, otaknya terus berputar mencari alasan yang tepat.
“Disini terlalu ramai dan musiknya terlalu keras, aku tidak mendengar ponsel berbunyi” jawab Elvrince dengan suara mantap.
Nancy terdiam, menimbang jawaban Elvrince yang cukup masuk akal. Ia melirik keseluruh ruangan untuk mengukur besarnya. Tidak salah lagi, ruangan ini sangat luas dan penuh dengan siswa lain. Tidak hanya setingkat dengannya, tapi seluruh tingkat sampai Universitas. Ia berpikir ulang, mungkin Elvrince mencari dirinya tapi tidak bertemu lalu memutuskan untuk tetap di tempat menikmati makanan yang tersedia. Nancy menghembuskan nafas pelan,
“Aku percaya” ucap Nancy akhirnya. Tanpa Nancy tahu, Elvrince menghembuskan nafas lega.
“Tapi? Kenapa kalian sangat dekat? Apa ada sesuatu?” seru Nancy sambil memicingkan mata kepada Elvrince dan Agride.
Agride memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana,
“Kita bukan orang asing, bukan? Lagi pula, aku dan Elvrince tidak punya kekasih. Salahkah jika kami berdansa?” jelas Agride, berbalik bertanya pada Nancy.
“Oh begitu,” Nancy sambil manggut-manggut. Detik kemudian ia teringat sesuatu, “Bukankah kau me- emmmmff...” ucapan Nancy terpotong tak jelas karena Migael yang membungkam mulut Nancy terlebih dahulu.