#7: TENTANG MASA LALU YANG TIDAK BISA DILUPAKAN

785 Words
Abytra tidak akan pernah melupakan saat-saat itu. Keluarganya yang hancur, kehilangan orang-orang tercinta, dan impian yang terenggut. Waktu itu usia Abytra 20 tahun. Semester 4 di salah satu universitas negeri. Abytra yang anak tunggal hidup dengan kedua orangtuanya. Ayahnya bekerja sebagai direktur perusahaan yang bergerak di bidang tekstil. Sementara ibunya hanya seorang ibu rumah tangga. Mereka hidup harmonis dan bahagia. Namun, pada suatu siang, sepulang kuliah Abytra menemukan sesuatu yang berbeda di rumahnya. Pagar mendadak dipasang segel. Abytra segera berlari masuk ke dalam rumah, ingin bertanya pada ibunya apa yang terjadi. Alangkah terkejutnya Abytra saat mendapati rumahnya dalam keadaan berantakan. Keramik porselen pecah berkeping-keping, bantal-bantal sofa bertebaran, dan beberapa pajangan tidak terpasang pada tempat semestinya. Seolah-olah rumah baru saja diamuk badai. Tidak hanya itu, Abytra juga menemukan ibunya bersimpuh di lantai dan menangis. "Apa yang terjadi?" Tanya Abytra sambil bersimpuh di depan ibunya. "Ayah ...," hanya satu kata itu yang mampu diucapkan Ibu di sela isak tangisnya. "Kenapa dengan Ayah?" Terbata-bata dan susah payah, Ibu menjelaskan apa yang baru saja terjadi. Ayah ditangkap kepolisian. Dituduh menggelapkan dana perusahaan. Rumah disegel. Tak lama setelah Papa ditangkap, datang beberapa preman, yang datang menagih hutang. Katanya, Ayah berhutang uang ratusan juta rupiah dan minta dibayar sekarang juga. Preman-preman itu mengamuk di rumah karena Ibu tidak bisa membayar. Abytra menggeleng setelah Ibu mengakhiri ceritanya. Ia tidak percaya Ayah melakukan hal itu. Abytra kenal betul ayahnya. Ayah adalah orang yang jujur. Sikap jujur itulah yang selalu ditanamkan pada Abytra. Beliau selalu mengatakan, 'kalau manusia sudah tidak jujur, apalagi yang bisa dipercaya dari manusia itu?'. Dengan prinsip kejujuran yang selalu Ayah pegang, mustahil rasanya Ayah melakukan penggelapan dana perusahaan, kan? Terus mengenai hutang, mengapa Ayah harus berhutang ratusan juta rupiah? Selama ini keluarga mereka bercukupan. Memang, mereka tidak kaya raya. Mereka lebih memilih hidup sederhana Ayah selalu mengajarkan untuk berhemat dan membeli sesuatu yang dibutuhkan. Sejak kecil Abytra sudah diajarkan ayahnya untuk membuat skala prioritas. Ini pasti ada kesalahpahaman. Ya, pasti itu. Ayahnya tidak mungkin melakukan hal sehina itu. "Ayah nggak mungkin melakukannya," kata Abytra kemudian. Ibu mengangguk setuju. Tapi, setelah kasus itu diusut, bukti ternyata memberatkan Ayah sebagai tersangka. Ada pengaliran dana sebesar sekian miliar rupiah yang masuk ke rekening atas nama ayah. Tidak hanya itu, juga ada dokumen pemalsuan anggaran yang ditandatangani Ayah. "Ayah tidak pernah melakukan itu," kata Ayah saat Abytra menjenguknya di sel tahanan. Keadaan ayah saat ini benar-benar memprihatinkan. Tubuhnya kurus dan tidak terurus. Ayah seperti tanaman yang tidak mendapatkan cukup sinar matahari. Dalam beberapa bulan, Ayah menua dengan begitu cepatnya. Seolah-olah penjara menghisap kehidupannya. "Aby percaya Ayah," kata Abytra. "Aby akan melakukan apapun untuk membuktikan Ayah tidak bersalah. Aby akan mengeluarkan Ayah dari tempat ini." Ayah mengangguk dan tersenyum. "Maafkan Ayah karena menyulitkan kamu." Aby menggeleng. "Aby nggak merasa disulitkan. Ayah nggak perlu minta maaf," kata Abytra menggenggam tangan ayahnya erat. "Waktu berkunjung sudah habis," kata sipir penjara mengingatkan. "Sekarang Aby pamit dulu. Ayah harus jaga kesehatan," pesan Abytra. Ayah mengangguk, "Tolong jaga Ibu." "Pasti. Aby akan menjaga Ibu dan mengeluarkan Ayah dari sini. Kita akan bersama-sama lagi. Itu janji Aby pada Ayah." Ayah tersenyum lalu berdiri dan kembali ke dalam sel tahanan bersama sipir. Namun, adakalanya takdir berlaku tidak sesuai dengan kehendak. Ayah mengembuskan napas terakhirnya sebulan kemudian. Di dalam penjara yang dingin. Kematian Ayah membuat Ibu juga kehilangan semangat hidupnya. Ibu menghabiskan waktu dengan mengurung diri di kamar. Tidak mau melakukan aktivitas apapun. Lambat laun fisik Ibu melemah. Cinta adalah kehidupan. Saat kau kehilangan cinta, maka kau juga kehilangan hidupmu. Itulah yang terjadi pada Ibu. Enam bulan setelah kepergian Ayah, Ibu pun menyusul belahan jiwanya itu. *** Ada dua penyesalan yang tidak akan pernah Abytra lupakan. Pertama, janji untuk mengeluarkan ayah dari penjara dan membersihkan namanya. Dua, tidak bisa menjaga Ibu sebagaimana mestinya. Penyesalan itulah yang terus ia tanggung sampai detik ini. Menyiksa hatinya. Abytra membenci dirinya karena tidak bisa menepati janji yang telah ia ikrarkan sendiri. Malam itu, di kamar barunya di kediaman Thomas Danuwijaya, Abytra tidak bisa memejamkan mata. Kenangan-kenangan pahit masa lalu berkunjung dan membuatnya terjaga semalaman. Dalam diam, air mata Abytra mengalir setiap kali mengingat ayah dan ibunya pergi dalam keadaan menderita. Suara tarikan napas pelan dan teratur membuat Abytra menoleh. Di hadapannya, di atas ranjang, Azel tidur. Lama Abytra memerhatikan Azel. Bertanya-tanya dalam hati, apakah sudah benar keputusannya memulai pembalasan dendam ini pada gadis kecil yang hidupnya sudah tidak lagi bahagia? Semua keluarga Thomas Danuwijaya harus kau hancurkan. Seperti pria itu yang telah menghancurkan keluargamu, bisik sebuah suara di kepala Abytra. Abytra memejamkan mata. Lalu menarik napas. Tidak ... ia tidak boleh menjadi lemah seperti ini. Bagaimanapun ia sudah melangkah sejauh ini. Ia tidak bisa mundur lagi. Ini demi orangtuanya. Juga untuk dirinya--agar Abytra bisa memaafkan dirinya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD