#6: PERNIKAHAN YANG (TAK) DIIMPIKAN

993 Words
Setiap gadis punya harapannya tersendiri tentang sebuah pernikahan, yang mereka sebut dengan pernikahan impian. Ada yang menginginkan pernikahan sederhana nan sakral. Ada yang berharap pernikahan mewah dan glamor. Ada yang memimpikan pernikahan ala dunia dongeng--lengkap dengan pesta dansanya. Tidak ada yang salah dengan itu. Azel sendiri pun punya cerita tentang pernikahan impiannya. Ia ingin menikah dengan orang yang ia cintai, juga mencintainya. Ada pesta yang dihadiri keluarga, kerabat dan teman-temannya. Ada gaun cantik yang dibuat oleh perancang terkenal. Ada cake wedding bertingkat yang dipesan pada ahlinya. Ada pertunjukan musik dan pesta dansanya. Terpenting, semuanya akan bahagia di hari pernikahan itu. Tapi, sekarang pernikahan itu hanya akan tetap jadi sesuatu yang diimpikan tanpa ada kesempatan untuk terwujud. Azel memandang lekat pantulan dirinya di dalam cermin. Hari ini pernikahannya. Pernikahan yang sama sekali tidak pernah diimpikan Azel. Tak ada pesta perayaan. Tidak ada gaun. Tidak ada cake wedding. Tidak ada pertunjukan musik. Tidak ada kerabat dan teman-temannya yang datang sebagai tamu undangan. Tidak ada pria yang ia cintai dan mencintainya. Tidak ada kebahagiaan. Azel mengepalkan tangannya. Matanya tersengat. Azel ingin menangis. Ajaibnya tidak ada air mata yang keluar. Di hari ini Azel hanya mengenakan pakaian kebaya lama. Rambutnya disanggul. Wajahnya dipulas make-up ala kadarnya, hanya agar terlihat tidak pucat. Semuanya ini sungguh jauh dari pernikahan idaman Azel. Ketukan pintu membuat Azel menoleh dan mendapati Kafka berdiri di depan pintu. Cowok itu berpenampilan kasual. Kemeja lengan panjang yang digulung sampai siku dan celana jeans. Rambut ikalnya disisir agak berantakan. "Udah mulai?" Tanya Azel dengan suara serak. Kafka menggeleng, lalu berjalan masuk. Cowok itu duduk di tepi ranjang Azel, lalu menatap Azel dengan saksama. "Gimana keadaan lo?" "Nggak pernah merasa seburuk ini," aku Azel. Jujur apa adanya. Ia tidak ingin berpura-pura keadaannya baik-baik saja. Memangnya gadis mana yang merasa baik-baik saja saat dipaksa menikah dengan pria yang sama sekali tidak dikenalnya hanya karena terlanjur hamil? "Lima menit lagi acara dimulai. Lo siap?" "Siap atau nggak, emangnya bisa ngubah keadaan? Enggak, kan? Siap atau enggak gue tetap akan ngadepin pernikahan ini." Kafka terdiam. Sadar sejak tadi pertanyaannya salah terus. Kafka sendiri bingung dengan keadaan ini. Tujuannya menemui Azel hanya ingin melihat dan memastikan kakak perempuannya itu baik-baik saja.   Tapi nyatanya ia sama sekali tidak bisa membantu. Ia tahu keadaan tidak pernah baik-baik saja untuk Azel sejak gadis itu hamil. "Sudah siap?" Kafka dan Azel menoleh secara bersamaan pada sumber suara. Ternyata Mama. Kafka berdiri, tapi Mama melewatinya begitu saja. Kafka memejamkan mata lalu lalu menarik napas dalam. "Gue turun duluan," ucapan itu ditujukan pada Azel. Azel mengangguk, sementara Mama bersikap seolah tidak mendengar apapun. Sepeninggalan Kafka, Azel kembali menatap bayangan dirinya dalam cermin. Azel menatap matanya sendiri, ada ketakutan yang mati-matian ia sembunyikan di sana. Mama berusaha merapikan riasan Azel. Memoleskan sedikit bedak lagi. "Kamu nggak boleh terlihat pucat," begitu katanya. Padahal Azel tidak peduli dengan penampilannya yang pucat atau tidak. Yang dipikirkannya saat ini hanya bagaimana dia menghadapi pernikahan ini. Juga bagaimana kehidupannya kemudian. "Kita turun sekarang," ajak Mama seraya menggamit bahu Azel, membantunya untuk berdiri. Azel menyentuh tangan Mama yang berada di bahunya dan berkata, "Bisa beri aku waktu lima menit lagi?" "Semuanya sudah menunggu," jawab Mama yang mengisyaratkan penolakan atas permintaan Azel. "Papa ingin semua ini cepat selesai," tambahnya kemudian. "Kumohon," pinta Azel dengan suara serak dan mengiba. Mama menarik napas, lalu mengangguk. Diusapnya pipi Azel lalu berbisik, "Mama akan kembali sebentar lagi." Lalu berdiri dan meninggalkan Azel. Tapi baru beberapa langkah, Mama berhenti dan berbalik. Dipanggilnya nama Azel. Saat Azel menoleh, tatapan mereka bertemu. Kemudian Mama mengerjap. Sebaris air mata membasahi pipi Mama. "Maafkan Mama," ucap Mama. Azel diam, tidak tahu harus mengatakan apa. Tapi ternyata Mama tidak butuh Azel membalas ucapannya. Karena setelah mengucapkan maaf, Mama melanjutkan lagi langkahnya dan menutup pintu kamar. Tinggallah Azel sendiri. Menatap bayangan dirinya. Juga menghitung mundur sisa waktu lima menit yang ia punya. *** "Saya terima nikahnya Alfazel Eka Danuwijaya dengan mas kawin yang telah disebutkan, tunai!" Abytra mengucapkan kabul dengan mantap dan jelas. Para saksi pernikahan saling berpandangan, lalu serempak bersuara. "SAAAAH!" kata mereka. Lalu, penghulu mulai membacakan doa. Abytra ikut menengadahkan tangan. Namun, diam-diam melirik Azel yang duduk di sebelahnya. Gadis itu menunduk. Tangannya saling meremas. Setelah doa selesai. Azel menyalami Abytra. Pria itu bisa merasakan tangan kurus itu dingin dan bergetar. Abytra meremas tangan itu dan Azel tiba-tiba mendongak. Tatapan mereka bertemu. Dan, Abytra tersenyum. Setelah itu, bertindak sebagai seorang suami, Abytra mencium kening Azel. Azel hanya mampu memejamkan mata dan mengigit bibirnya. "Sekarang kau milikku," bisik Abytra pelan, yang hanya bisa didengar oleh Azel. Azel menatap Abytra, tapi pria itu sudah mengalihkan tatapan pada yang lain. Sekarang Abytra menatap Thomas Danuwijaya, ayah mertuanya. Pria itu terlihat begitu lega. Abytra tertawa dalam hati. Thomas boleh saja mengira satu masalahnya sudah berhasil ia kendalikan. Tapi, Abytra tahu, masalah ini baru saja akan dimulai. Ini adalah awal dari kehancuran Thomas. Bersama seluruh keluarganya. Dan Abytra bisa memulainya dengan gadis yang kini resmi menyandang status sebagai istrinya. *** Pernikahan sudah selesai. Penghulu dan para saksi sudah pulang. Rumah Danuwijaya kembali sepi. Semua kembali ke rutinitas seperti biasa. Seolah tadi sama sekali tidak ada proses pernikahan yang terjadi. Azel kembali ke kamarnya. Tapi, kali ini ia tidak sendirian. Ada pria di dalam kamarnya. Pria asing yang sama sekali Azel tidak tahu apapun tentangnya, kecuali nama dan umurnya. Pria itu berdiri di dekat jendela, dengan punggung bersandar pada dinding dan tangan terselip di saku celana. Pria itu menatap Azel tanpa kedip. Azel memejamkan mata. Yang diinginkannya saat ini adalah menghilang dari sana. Tak peduli mesti harus melebur menjadi debu. Tak mengapa, terpenting dirinya bisa lenyap untuk selamanya. Tanpa harus menghadapi pria asing yang tengah menatapnya tanpa kedip itu. Tanpa harus menjalani kehidupan pernikahan yang tidak Azel impikan ini. Tapi, Azel tidak bisa lenyap. Ia masih tetap di sana. Duduk dengan tangan lembab dan saling meremas. Tetap harus menjalani kehidupan, meski pernikahan ini tidak pernah ia impikan. Sampai kapan Azel harus bertahan dengan segala hal yang terasa makin menyulitkannya ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD