Menikah.
Azel memejamkan mata. Membayangkan kata itu saja terasa sulit baginya. Apalagi harus menjalaninya.
Umurnya baru 17 tahun. Masih remaja. Seharusnya ia bersenang-senang menikmati masa mudanya. Tapi sekarang ia dihadapkan dengan pernikahan. Itu karena kehamilan ini.
Azel mengusap perutnya. Belum membuncit memang. Tapi, Azel tidak dapat membohongi diri bahwa ada yang mulai tumbuh dan hidup di sana.
Seminggu sudah sejak Papa dan Mama tahu Azel hamil. Papa murka, tentu saja. Perusahaan sedang terlilit masalah, dan sekarang Azel malah memperburuknya. Malam itu kedua orangtua Azel bertengkar hebat--tentu saja itu bukan pertengkaran pertama. Tapi, Azel yang mendengar pertengkaran itu, dan tahu itu karena dirinya, membuatnya menangis tanpa suara di dalam kamar semalaman.
Azel masih ingat kata-kata yang diucapkan Papa padanya malam itu. Anak tidak tahu diuntung. Anak tidak punya otak. Anak gagal. Banyak sumpah serapah yang Papa lampiaskan padanya--juga Mama. Azel tidak bisa membalas makian Papa karena ia tahu apa yang Papa katakan itu benar. Dirinya memang gagal.
Seandainya malam itu aku tidak percaya pada kata-kata Falih. Seandainya aku tidak hamil. Seandainya ....
Banyak kata-kata 'seandainya' yang memenuhi pikiran Azel. Tapi, semua tidak membantu keadaan menjadi lebih baik sama sekali. Semuanya sudah terjadi. Pengandaian itu hanya menambah rasa sesalnya.
Hari-hari setelah aibnya terbongkar, seperti neraka bagi Azel. Ia tidak diizinkan sekolah. Tidak diizinkan kemana-mana. Bahkan keluar kamar pun tidak diperbolehkan. Makanan selalu di antar pada jam makan. Azel persis menjadi tawanan. Dan menjadi tawanan di rumah sendiri adalah hal yang paling buruk.
Papa akan carikan laki-laki yang mau menikahimu. Orang lain tidak boleh ada yang tahu tentang kehamilan ini. Mau ditaruh dimana muka Papa ini nanti. Begitu yang diucapkan Papa dua hari yang lalu. Dan beberapa jam yang lalu Papa mengatakan sudah menemukan laki-laki itu.
Sebentar lagi, ia akan menikah. Dengan orang yang sama sekali tidak ia kenal. Ia akan menjadi istri dari orang asing.
Azel tidak pernah menyangka, bahwa satu kesalahan bisa menghukumnya dengan begitu banyak masalah.
Angin berhembus, memainkan rambut ikal sepunggung Azel. Gadis itu memegang pagar pembatas balkon. Besinya terasa dingin di kulit. Mata Azel menatap ke bawah.
Kalau aku terjun dari sini, apa yang akan terjadi? Apa aku akan mati? Bagaimana rasanya mati? Sakit? Atau sama sekali tidak merasa apa-apa?
Berbagai pertanyaan itu memberondongnya secara bersamaan. Azel semakin mempererat pegangannya. Merasakan dingin besi yang mengigit.
Lalu samar-samar Azel mendengar suara petikan gitar. Mengalun lembut. Menghanyutkan. Tak lama kemudian disusul nyanyian yang begitu Azel kenal.
So hear my voice remind you not to bleed
I'm here,
Saviour will be there
When you are feeling alone, oh
A saviour for all that you do
So you live freely without their harm
(Savior by Black Veil Brides)
Perlahan, mata Azel terasa panas dan pedih. Air mata mulai mengumpal di ujung mata, lalu pecah dan berguguran membasahi pipi. Lagu yang dinyanyikan Kafka itu menyentuhnya. Seakan Kafka sengaja menyanyikan lagu itu khusus untuk menghiburnya.
Bertahan. Itu yang Kafka minta lewat lagu yang Azel dengar. Apakah dirinya mampu bertahan? Apakah penyelamat itu benar-benar ada?
When I hear your cries
Praying for life
I will be there
Azel memejamkan mata. Sekecil apapun harapan itu, untuk kali ini, Azel memilih untuk mempercayainya. Tidak selamanya dunia gelap oleh malam, akan tiba saatnya pagi menyapa membawa cahaya matahari yang memberi harapan kehidupan. Itu janji Tuhan.
Meski dirinya pendosa, Azel selalu percaya pada janji-janji Tuhan. Tuhan tidak akan pernah melepaskannya. Tuhan pasti akan menjadi penyelamatnya.
***
I will be there ....
Kafka menutup coda lagu dengan baik. Jemarinya sudah begitu hapal dengan chord lagu ini sebab terlalu sering dimainkan. Kafka memang menyukai lagu Savior ini. Menurutnya lagu ini mampu memberi semangat di dalam keputusasaan.
Selama menyanyikan lagu ini, ada satu kata yang terus Kafka gemakan dalam hati. Sampailah. Sampailah. Sampailah. Kafka berharap pesan lagu itu bisa tersampaikan pada Azel. Kafka tersenyum melihat Azel menyadari pesan yang ingin ia sampaikan lewat lagu itu.
Kafka tahu, saat ini Azel berada di titik terendah dalam hidupnya. Hamil. Lalu dipaksa menikah dengan pria yang sama sekali asing. Dan semua terjadi dalam waktu begitu cepat. Jiwa remajanya pasti terguncang oleh kenyataan pahit yang menyerangnya bertubi-tubi seperti ini.
Sebenarnya Kafka menolak pernikahan itu. Ia sudah mengajukan penolakannya pada Papa. Tapi, Papa lebih keras kepala daripada Azel. Setiap keputusannya tidak bisa diubah.
"Azel bersalah. Ia harus bertanggung jawab untuk masalah yang dibuatnya," begitu kata Papa saat mereka berbicara empat mata di ruang kerja Papa.
"Tapi, apa tidak ada jalan keluar?" tanya Kafka.
"Ini yang terbaik. Demi keluarga, Azel dan juga anak di kandungannya. Papa akan usahakan memilih pria yang terbaik."
"Apa ada yang mau?"
Papa mengusap wajahnya letih. "Papa bisa memaksakannya."
"Maksud Papa?" kening Kafka berkerut.
"Kamu masih terlalu muda untuk mengerti jalan pikiran orang dewasa," kata Papa mengakhir sesi bicara mereka malam itu.
Beberapa jam lalu, saat makan malam, Papa mengabarkan sudah menemukan pria yang bersedia menikahi Azel. Kafka tidak tahu bagaimana cara Papa mendapatkan pria ini. Tapi, Kafka berharap ini memang jalan terbaik bagi mereka semua.
Azel memang kehilangan masa remajanya, tapi Kafka akan memastikan Azel tidak akan kehilangan masa depannya. Mereka bersaudara. Dan Kafka tidak akan pernah membiarkan saudaranya hidup tanpa masa depan.
Bukankah ia sudah berjanji untuk pada Azel untuk selalu di sisi gadis itu?
***
Abytra Ramadhan, begitu pria asing itu memperkenalkan diri. Berusia 35 tahun.
Azel melihat pria di hadapannya itu. Pria itu memiliki wajah yang tidak terlalu buruk. Tatapannya tajam dan tegas. Rahangnya kokoh, dengan rambut-rambut halus. Alisnya tebal dan hitam--ada bekas luka di sebelah kanan yang membuat alisnya terputus. Hidungnya mancung. Ada lesung pipi di sebelah kiri, saat bibir penuh pria itu melekukan senyum ketika memperkenalkan diri.
"Ini putri saya, Azel," kata Papa.
Pria itu menatap Azel lalu mengangguk pelan. Sementara Azel hanya menatap pria itu tanpa memberi respon apapun. Memangnya respon seperti apa yang bisa ia berikan di saat seperti ini?
"Sepertinya yang kita bicarakan sebelumnya, pernikahan akan diadakan secepatnya. Sebelum kehamilan Azel diketahui orang lain."
Abytra menyugar rambut ikal tebalnya sebelum mengangguk sekali lagi.
"Saya akan memberi waktu kalian berdua untuk saling mengenal," kata Papa seraya berdiri.
Dengan isyarat mata Papa juga meminta Kafka untuk masuk ke dalam kamar. Kafka yang sejak tadi berdiri dengan tubuh bersandar di dinding dan tangan terlipat di d**a, menghela napas panjang. Ia tidak ingin meninggalkan Azel dan membiarkan gadis itu menghadapi ini sendirian. Tapi, otoritas yang ditunjukkan Papa tidak dapat dibantah.
Sepeninggal Papa dan Kafka, Azel meletakkan di atas perut, lalu mengusapnya. Kemudian ia mengajukan pertanyaan yang sejak tadi ingin ditanyakan pada pria asing di hadapannya itu.
"Kenapa?"
Hanya satu kata itu. Tapi, Azel tahu pria bernama Abytra itu mengerti. Terlihat dari sudut bibirnya yang terangkat. Pria itu tersenyum, tapi tidak menjawab pertanyaan Azel.
Suasana menjadi begitu hening. Tak ada yang bersuara. Pria itu hanya tersenyum menatap Azel. Sementara Azel, sudah tidak memiliki pertanyaan lagi untuk diajukan kepada pria asing yang akan menjadi calon suaminya itu.