#3: MIMPI BURUK DAN AIB YANG TERBONGKAR

1408 Words
Hari ini Azel lagi-lagi tidak sekolah. Sejak pagi badannya oyong. Pandangannya berputar, seakan dirinya berada di round table. Apalagi semalaman ia tidak bisa tidur. Bayangan kejadian di tempat aborsi masih mengganggunya. Seakan kejadian itu melekat di pikirannya seperti lem setan. Azel meringis saat perutnya terasa perih. Sejak semalam ia belum makan. Lapar, sebenarnya. Tapi, tidak berselera memakan apa pun. Aroma makanan itu mengusiknya. Membuat perutnya bergejolak. Sejak hamil penciumannya memang menjadi lebih sensitif. Azel jadi mudah mual. Suara ketukan pintu membuat Azel mengerang. Padahal ketukan itu pelan, tapi di telinganya, seakan seperti godam yang memecahkan kepala. Azel menutup kepalanya dengan bantal. Berharap hal itu membantunya terhindar dari gangguan, tapi nyatanya tidak. "Masuk!" perintah Azel akhirnya. Handel pintu turun ke bawah, lalu pintu berayun terbuka. Di balik pintu Kafka berdiri sambil membawa nampan. "Mama yang nyuruh," kata Kafka duluan sebelum ditanya. "Jangan dibawa masuk!" sentak Azel tepat saat Kafka melangkah masuk. Azel sudah mengepit hidungnya dengan jari. "Tapi, Mama ...." "Lo pergi sana. Jangan ganggu gue!" usir Azel. "Lo belum makan sejak kemarin." "Apa urusan lo? Udah pergi sana!" Kafka menarik napas panjang. Tapi cowok itu belum mau menyerah. "Makanan ini gue tinggal. Terserah lo mau makan atau nggak." "Jangan ditinggal! Lo ngerti nggak, sih?" "Tapi lo belum makan." Azel mengerang kesal. "Makan atau nggak itu bukan urusan lo. Sekarang, lo tutup pintu kamar gue dan pergi bawa makanan itu. Ngerti?" Tidak ingin melihat Azel tambah marah, akhirnya Kafka mengalah. Azel memang seperti itu. Keras kepala. Kalau sudah bilang tidak, maka tidak bisa dibantah. Satu-satunya yang bisa menundukkan kekeraskepalaan Azel hanya Papa. Sayangnya, pagi-pagi sekali Papa sudah pergi. Akhir-akhir ini Papa selalu berangkat ke kantor pagi sekali. Sepertinya ada masalah di perusahaan. "Malah bengong lagi. Keluar sana. Buruan!" Kafka tersadar, lalu melangkah mundur. Tak lupa menutup pintu kamar Azel kembali. Selepas kepergian Kafka, Azel memejamkan mata. Tangan kanannya terangkat dan diletakkan di dahi. Azel menahan rasa mual yang kembali menyerangnya. *** Pulang sekolah Kafka tidak kemana-mana. Cowok itu langsung pulang ke rumah. Sejak tahu keluarga dalam masalah--yang ia yakin disebabkan oleh permasalahan di perusahaan orangtuanya--Kafka jarang mampir kemana-mana. Bahkan sekadar hangout dengan teman-temannya. Selain itu, Kafka juga mengkhawatirkan Azel. Meski sikap Azel selalu tidak baik padanya, Kafka tidak bisa tidak peduli dengan kondisi Azel saat ini. Azel semakin terlihat tidak sehat. Tubuhnya mengurus--ya walau sebenarnya Azel itu tidak gemuk juga. Intinya, Azel sedang bermasalah. "Sorry gue nggak bisa ikut," tolak Kafka, ketika Bintang, teman sebangkunya ngajak nge-band. "Tanpa lo, formasi kita timpang, Ka. Ayolah ...," bujuk Bintang. "Lagipula udah lama kita nggak nge-band," lanjutnya kemudian. Kafka memanggul ranselnya dan menjawab, "Gue beneran nggak bisa, man. Nyokap udah nyuruh gue balik." "Yaelah. Anak mami, lho." Kafka tersenyum. Senyum miris. Anak mami? Seandainya saja Bintang tahu siapa dirinya, pasti temannya itu akan berpikir ulang mengatakan dirinya sebagai anak mami. "Gue cabut!" Pamit Kafka sambil menepuk bahu Bintang. Bintang balas menonjok bahu Kafka dan berkata, " go to the hell!" Kafka tertawa sambil melambaikan tangannya. *** Azel terbangun. Hal yang pertama kali dia lihat adalah langit-langit berwarna putih kusam dengan bercak-bercak kuning di sana sini. Bukan warna langit-langit kamarnya. Kemudian Azel mengedarkan pandangan. Ini memang bukan kamarnya. Kamarnya berwarna biru laut, bukan putih kusam dengan penuh coretan seperti ini. Dimana ini? Bagaimana dirinya bisa terdampat di tempat seperti ini? Belum sempat Azel mencerna apa yang sebenarnya terjadi, ia tersentak saat merasakan sentuhan di perutnya. Alangkah terkejutnya Azel saat menyadari dirinya tidak sendirian di ruangan ini. Ada orang lain. Orang itu berjas putih dan memakai masker menutupi wajahnya. Saat tatapan mereka bertemu, Azel tidak mampu menahan jeritannya. Mata orang itu merah. Tatapannya begis. Seperti hendak melumat Azel. Yang membuat Azel ketakutan, orang itu menekan-nekan perut Azel. Azel berusaha memberontak. Tapi tangannya terikat. Azel mulai menangis. Memohon pada siapapun orang itu, untuk tidak menyentuhnya. Tapi, orang itu tidak mendengar dan terus menekan perut Azel kuat-kuar. Azel menjerit kesakitan. "Aaaaarrggghhh ...." Azel terbangun. Napasnya tersengal-sengal. Jantungnya berdetak begitu cepat. Azel menyandarkan tubuhnya yang gemetarab ke kepala ranjang. Memeluk perutnya. Air matanya merebak dan membasahi pipi. Ternyata tadi itu hanya mimpi. Tapi, bagi Azel itu mimpi paling buruk selama hidupnya. Ia benar-benar ketakutan. Saking takutnya, Azel tidak berani memejamkan matanya sedetikpun. Azel takut tertidur dan bermimpi buruk lagi. "Ma-maaf. Ma-maaf. Ma-maaf," bisik Azel terbata-bata di sela isak tangisnya. Azel tahu mimpi buruk ini adalah hukuman baginya karena berniat membunuh janin yang tidak berdosa di dalam perutnya. *** Malam itu Kafka kembali mengetuk pintu kamar Azel. Tak lupa membawa nampan berisi segelas s**u hangat dan semangkuk bubur. Tadi Kafka sengaja meminta Bi Inah, asisten rumah tangga, membuatkan bubur untuk Azel. Sudah dua kali ketukan. Tapi belum ada sahutan dari dalam. Apa Azel tidur? Pikirnya. Kafka mencoba mengetuk sekali lagi. Hasilnya tetap sama. Kafka menyentuh handel pintu, lalu menurunkannya. Pintu terdorong sedikit. Ternyata tidak dikunci. Kafka membuka pintu sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara. Ia melongokkan kepala ke dalam, dan tersentak. "Azel!" Teriaknya seraya mendorong pintu dengan keras. Kafka berjalan cepat, meletakkan nampan di meja nakas di samping ranjang Azel, lalu berlutut di samping Azel yang gemetaran. "Apa yang terjadi?" tanya Kafka khawatir. Tapi, Azel tidak menjawab. Gadis itu terus terisak. Ternyata Kafka benar. Azel sedang ada masalah. Lihat saja penampilan gadis itu sekarang. Benar-benar memprihatinkan. Ada lingkaran hitam di bawah mata Azel, yang menandakan gadis itu tidak tidur semalaman. Tubuhnya juga gemetaran. Azel terlihat seperti orang depresi. "Azel ...," panggil Kafka cemas seraya menyentuh tangan Azel. Tapi, Azel tidak merespon. Seakan-akan Kafka tidak berada di sana. Azel hanya terus terisak dan mengumamkan kata-kata yang tidak begitu jelas. "Azel!" Teriak Kafka saat melihat tubuh Azel merosot dan membentur lantai. Kafka menyentuh bahu Azel, mengangkat tubuh itu lalu meletakkan kepala Azel di pangkuannya. Kafka menggoyang-goyang tubuh Azel. Berharap hal itu bisa menyadarkan Azel. Kafka panik. Ia bingung harus berbuat apa. Mengapa hal seperti ini terjadi saat orangtua mereka tidak ada di rumah? Bagaimanapun caranya, ia harus membawa Azel ke rumah sakit. Azel butuh pertolongan. Dengan seluruh kekuatannya Kafka berusaha mengangkat Azel. Berhasil. Lalu Kafka membawa Azel keluar kamar dan menuruni tangga. Sesampainya di bawah, Kafka melihat Bi Inah tergopoh-gopoh mendekati mereka. "Astaga, Den! Non Azel kenapa sampai begini?" Tanyanya panik. Kafka tidak punya waktu untuk menjelaskan. Ia juga tidak tahu harus menjelaskan bagaimana karena dirinya pun tidak tahu apa yang terjadi. Lagipula yang paling penting saat ini adalah membawa Azel secepat mungkin ke rumah sakit atau klinik. "Tolong ambilin kunci mobil di meja ruang keluarga, Bi. Cepat!" Perintah Kafka dengan napas tersengal. Bobot Azel memang tidak berat, tapi tetap saja menguras tenaga. Semenit kemudian Bi Inah sudah kembali dengan kunci mobil di tangan. Bi Inah membuka pintu mobil lalu membantu Kafka memasukan Azel ke mobil. "Tolong telepon Mama, Bi!" perintah Kafka sebelum melajukan mobilnya. *** Kafka berharap apa yang baru saja dia dengar dari dokter itu salah. Atau dokter sedang mengerjainya. Atau dokter salah memeriksa. Apapun itu, tidak masalah. Asal semua itu tidak membuatnya mendapatkan kenyataan seperti ini. Hamil. Azel Hamil. Bagaimana mungkin? "Apa kamu dan keluarga belum tahu tentang kehamilan ini?" Kafka menggeleng. Ia tidak tahu. Mama dan Papa pasti juga tidak tahu. Ya, Tuhan, apa-apaan ini? Kafka mengusap wajahnya. "Su-sudah berapa lama?" "Umur kandungannya?" Kafka mengangguk. "Jalan tujuh minggu." Sekali lagi Kafka mengusap wajahnya. Ia masih tidak percaya dengan kenyataan yang baru saja ia dengar dari dokter. Azel hamil. Sudah jalan tujuh minggu ... dan mereka sama sekali tidak mengetahuinya. Bagaimana bisa? "Hubungi orangtua kalian. Saya perlu bertemu dan membicarakan hal penting, demi kebaikan pasien." "Mereka sedang di jalan, dok." "Baiklah kalau begitu. Kalau mereka sudah datang, segera temui saya." Kafka mengangguk. Lalu, "Apa saya bisa menemui Azel?" Tanya Kafka. "Silakan. Kalau terjadi sesuatu, tekan saja tombol darurat," pesan dokter sebelum pergi. Kafka membuka pintu ruangan tempat Azel dirawat. Gadis itu sudah sadar. Saat mendengar suara pintu dibuka, ia menoleh. Tatapan mereka bertemu. Azel hamil, kata sebuah suara di kepala Kafka. Kafka menelan ludah, dan terasa pahit dan sakit. "Falih?" Tanya Kafka. Azel mengerjap sekali. Lalu, gadis itu menutup wajahnya dengan tangan. Azel mulai terisak. Tangisan Azel cukup bagi Kafka sebagai jawaban atas pertanyaannya. Kafka berjalan mendekat. Saat berdiri di samping Azel, Kafka mengusap kepala Azel dengan lembut. "Gue di sini. Lo nggak sendirian. Kita hadapi masalah ini sama-sama," bisiknya. Berharap kata-kata itu dapat menenangkan kakak perempuannya itu. Azel mungkin bukan saudara kandungnya. Tapi, Azel adalah satu-satunya saudara yang Kafka miliki. Apapun yang terjadi, Kafka berjanji tidak akan membiarkan Azel sendirian menghadapi semua ini. Akhirnya, Kafka mengetahui juga alasan dibalik perubahan yang terjadi pada Azel akhir-akhir ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD