#2: JERIT KESAKITAN YANG MERUNTUHKAN KEBERANIAN

1024 Words
Keberanian itu ibarat laut. Mudah sekali pasang-surut. Itulah yang dirasakan Azel saat ingin memberitahu kehamilan kepada orangtuanya. Azel ingat waktu itu. Dari sekolah ia sudah bertekad akan memberitahu mamanya. Tapi, sesampainya di rumah, saat melihat mamanya, lidahnya mendadak kelu. Seolah-olah ada sihir yang menggunakan mantra ikat-lidah-sempurna kepadanya. Di waktu lain lagi, waktu itu malam hari di meja makan. Kebetulan keluarga sedang kumpul. Ada Papa, Mama, dirinya, dan adik laki-lakinya bernama Kafka. Tumben sekali keluarganya kumpul lengkap seperti ini. Azel bertekad, selesai makan dirinya akan mengajak keluarganya bicara. Tapi, saat piring-piring itu berpindah ke bak pencuci piring di dapur, Azel belum juga bersuara. Ketika Azel menemukan saat yang pas, ponsel Papa tiba-tiba berbunyi. Membuat kata-kata, yang sudah berada di ujung lidah kembali tertahan. Papa berlalu dari ruang keluarga, masuk ke ruang kerjanya. Mama mengikuti dari belakang. Kini, tinggal dirinya dan Kafka, menonton tv. "Lo kenapa?" tanya Kafka kepada Azel setelah berhenti mengganti saluran tv. "Apa?" "Dari tadi gue liat lo ngehela napas mulu. Berat lagi. Kayak lagi mikirin sesuatu gitu." Azel menyelipkan rambut ikalnya di telinga. Lalu membolak-balik majalah yang ia temukan di bawah meja. "Perasaan lo aja kali!" elak Azel lalu pura-pura membaca. Kafka memperbaiki posisi duduknya. Kini berhadapan dengan Azel. Alisnya terangkat menatap kakak perempuannya itu. "Sejak kapan lo suka baca majalah otomotif?" Pertanyaan itu telak menohok Azel. Azel melihat cover majalah, ternyata benar, ini majalah otomotif. "Ngaku aja lo sekarang!" "Apaan sih, lo?" Azel melemparkan majalah di tangannya ke  arah Kafka--yang berhasil dielaki Kafka. Lalu buru-buru berdiri. "Males gue berduaan sama lo." Azel memutari kursi malas lalu berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Kafka memerhatikan Azel. Ia tahu ada yang berbeda dengan kakak perempuannya akhir-akhir ini. Azel jadi pendiam dan suka mengurung diri di kamar. Belum lagi Azel sering izin tidak masuk karena sakit. Azel sering pusing dan mual. Nafsu makannya pun menurun. Banyak perubahan yang terjadi pada Azel. Oh iya satu lagi, Kafka tidak pernah lagi melihat pacar Azel datang ke rumah. Apa mereka putus? Sepertinya begitu,  pikir Kafka. Sebenarnya Kafka senang kalau Azel benar-benar putus dengan Falih. Menurutnya Falih bukan cowok yang baik. Di sekolah Falih terkenal sebagai cowok yang suka berbuat masalah. Hanya karena orangtuanya kaya raya, Falih seakan bisa melakukan hal semaunya. Tapi, Kafka tidak bisa berbuat apa-apa  saat Azel memutuskan berpacaran dengan Falih. Kafka tidak bisa mengatakan ketidaksukaannya. Statusnya sebagai adik tiri, membuat hubungannya dengan Azel tidak terlalu dekat. Kafka mengembuskan napas. Lalu kembali mematikan tv. Tidak ada acara yang menarik. Lebih baik ia masuk kamar dan main gitar saja. Saat menuju kamarnya, Kafka melewati kamar Azel. Kafka mendengar suara tangisan dari dalam kamar Azel. Sepertinya kakak perempuannya itu menangis. Tangan Kafka sudah terangkat ingin mengetuk pintu, tapi terhenti. Azel pasti marah kalau dirinya ikut campur seperti ini. Akhirnya Kafka meninggalkan pintu kamar Azel dan masuk ke dalam kamarnya sendiri. "Putus cinta sering kali membuat seseorang menjadi orang paling menderita di dunia," bisik Kafka sebelum memetik senar gitarnya.                                                                                  *** Azel melihat rumah itu dari dalam mobilnya. Rumah kecil bercat putih kusam. Pagar besinya terlihat tua dan berkarat. Di tembok pagar, tertulis angka 24 dari cat merah yang sudah memudar. Pohon-pohon palem tumbuh di halaman rumah. Memberi kesan asri, sekaligus sepi. Dari tepi jalan kecil dan lengang, Azel sama sekali tidak melihat aktivitas apa pun di dalam rumah. Apa benar ini alamatnya? Azel memeriksa alamat yang tertulis pada kertas kucel di tangannya. Alamat itu ia tulis tadi malam saat chating dengan kenalannya di dunia maya. Dengan menggunakan akun anonim, Azel masuk ke sebuah grup. Di sanalah ia menceritakan masalahnya. Seseorang merespon, lalu memberikan sebuah alamat yang katanya dapat membantu Azel lepas dari masalah saat ini. Tidak salah lagi, ini memang tempatnya. Azel menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya. Ia harus turun sekarang. Semakin cepat, maka semakin cepat pula masalahnya akan selesai. Azel tidak bisa terus menyembunyikan kehamilannya. Tubuhnya sudah mengalami perubahan. Beberapa kali mamanya bertanya mengenai Azel yang sering muntah-muntah. Mama mulai curiga. Azel selalu cari alasan dengan mengatakan dirinya masuk angin atau salah makan. Tapi, tidak mungkin selamanya dia beralasan seperti itu, kan? Lambat laun perutnya yang membuncit akan membongkar aibnya itu. Sebelum hal itu terjadi, Azel harus bertindak. Ia harus melakukan sesuatu. Di tempat inilah, Azel akan mengakhiri masalahnya. Di tempat aborsi. Meski takut, Azel memantapkan langkahnya. Ia sudah berada di sini dan tidak boleh mundur lagi.                                                                                *** Azel meremas tangannya. Terasa basah dan lengket. Padahal ruang kecil--yang disebut suster tadi sebagai ruang tunggu--itu dilengkapi dengan AC. Tapi, Azel merasa gerah. Tubuhnya berkeringat sejak tadi. Di ruangan itu Azel sendirian. Menunggu antrian dirinya dipanggil. Kata Suster yang tadi menerimanya, bidan masih ada pasien. Azel diminta mengisi data administrasi dulu. Juga pernyataan persetujuan untuk melakukan aborsi. Setelah persyaratan terpenuhi, suster itu meninggalkannya seorang diri. Terkurung di tempat seperti ini membuat Azel seperti tawanan yang menunggu vonis mati. Dirinya gelisah, juga sesak. Karena tidak tahan, Azel berdiri dan memutuskan untuk keluar dari ruang tunggu tersebut. Mungkin berjalan-jalan dapat membuat dirinya lebih tenang. Azel memerhatikan keadaan sekitar. Sepi. Lalu dia melangkah ke arah kanan. Baru beberapa langkah, Azel terkejut saat mendengar jeritan perempuan. Jeritan yang begitu menyayat hati. Lalu terdengar suara gaduh. Pintu ruangan di depan Azel terbuka. Seorang wanita berbaju putih berlari keluar dengan wajah panik. Tidak salah lagi, itu suster yang tadi. Suster itu melewati Azel begitu saja. Suara jeritan itu masih terdengar, walau lirih. Jerit kesakitan. Entah keberanian dari mana datangnya, kaki Azel mendekat ke sumber suara. Saat sampai di depan pintu, tubuh Azel lemas semuanya. Azel lunglai dan terduduk di lantai. Di hadapannya seorang gadis seusianya, merintih kesakitan. Gadis itu terlihat lemas. Ada begitu banyak darah di paha gadis tersebut. Bidan yang menyadari kehadiran Azel, terkejut. Bidan segera membanting pintu agar tertutup. Azel memeluk tubuhnya yang mengigil. Jerit kesakitan yang masih mampu ditangkap pendengarannya, meremukkan tulangnya. Air mata mulai menggenang dan jatuh membasahi pipinya. Tidak ... aku tidak ingin seperti itu, rintih Azel dalam hati. Dengan mengumpulkan seluruh kekuatannya, Azel berusaha untuk berdiri. Lalu, ia berjalan dengan langkah terseret. Saat ini, yang diinginkannya hanya satu; menjauh dari tempat mengerikan ini secepatnya. Azel tidak ingin melakukan aborsi lagi. Jerit kesakitan dari gadis di ruang aborsi itu telah meruntuhkan keberaniannya. Sesampainya di dalam mobil Azel muntah dan menangis sejadi-jadinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD