Pantai Anyer

1026 Words
Cinta tidak akan menuntut kesempurnaan, cinta akan memahami, menerima dan rela untuk berkorban. Karena cinta seharusnya membuatmu bahagia bukan terluka *** Dia Melepas pelukanya, dan mencium keningku dengan lembut, entah kenapa aku tak mampu menolaknya, jantungku berdetak dengan begitu cepat, dia tersenyum memandangku, aku tak mampu menatap mata tajamnya "begitu indah" bathinku, "Hey... Ngalamun apa? cepetan masuk." dia mengagetkanku, membuatku salah tingkah. "Anjirr! Apa yang udah aku lakukan barusan?" gumamku, aku balik kanan, meninggalkannya. Rasanya aku ingin menoleh, melihat dirinya sebelum dirinya masuk mobil atau belum, tapi aku gengsi, entar dia besar kepala lagi, "Qiila. Dari mana kamu, bentar lagi giliran kamu looch." Reza teman akrabku, mengingatkanku. Haduh gara-gara dia, aku gak konsentrasi," mendadak di lamar, mendadak di nikahkan. Kampret kampret!" umpatku dalam hati, "Yaelaah.. Malah bengong, udah siap belum?" Tanya Reza, "Iya ah, kamu tenang aku kan pintar, calon Dokter." jawabku kePDan, padahal aku sedikit gerogi, Dosen yang membimbingku termasuk Dosen yg killer, "Ah sudahlaah" Aku lagi berperang dengan hatiku. Giliran namaku di panggil, hanya aku dan Dosen yang akan menyidangku. Takut, gugup tapi aku mencoba tenang dan biasa saja, walau sedikit gemeteran sich, hehehehe Walau kurang konsentrasi, tapi aku mampu menjawab pertanyaan yang di ajukan sang Dosen. Dan hasilnya, aku lulus, bisa melanjutkan praktek kedokteranku di Rumah sakit. Sebelum di wisuda dan di nyatakan lulus sekolah kedokteran. "Qiila Bagaimana?" aku pura-pura cemberut, "Kamu yang sabar yah?" tahun depan coba lagi..." Dinda, yang agak cupu mengelus punggungku. "Aku berhasil donk" kataku, "Aah kamu bikin kami khawatir ajah" sahut Lisa. Memukul bahuku, pelan "Peluk aku doonk." pintaku, ketiga temanku memelukku. "Hhmmm... Kita harus pikirkan, mau praktek magang di rumah sakit mana?" Ucap Lisa. "Iyah. Ada pandangan gak kamu?" tanya Reza, yang kacamatanya semakin tebal , tapi tidak mengurangi ketampananya. "Udah itu pikirkan nanti, yuuk kita makan aku laper." lagi-lagi Lisa, teman yang selalu tampak kelaparan walau sudah makan, "Okey, okey..." jawab kami serempak. "Kebiasaan, makan mulu" ledek Reza yang selalu saja, berantem. Keduanya masih bersaudara. Kami berjalan, menyusuri koridor kampus, menuju kantin. Gawaiku berdering, pacarku memanggilku. "Bentar, Kesayangan aku telepon" izinku, menjauhi temen temenku. ketiga temanku, hanya mengangguk. "Iya asayaang." jawabku, setelah mengangkat panggilanya, "Aku kangen. Ketemuan yah, aku jemput kamu di kampus." unkapnya diujung ponselnya. "Hmm... kamu ke mana saja, sepekan ini?" cecarku, "Ntar aku ceritain" jawabnya, "Hmmm...Tapi aku lagi sama temen-temen aku, Yang." Kataku, mengulum senyumku memandang ke tiga temanku. Yang juga sedang memperhatikanku. "Hhhmm.... nggak mau ya, aku udah OTW menuju kampusmu, Sayang." ucapnya sedikit merengek, "Ya udah. Aku tunggu kamu, aku pamitan dulu sama temen-temenku," ujarku. "Oke. Sayang.I love You" ucapnya, "I love you too" balasku, lalu panggilan berakhir, "Teman-teman, aku tidak jadi ikut ya? Pacarku ngajakin aku jalan nich." pamitku dan aku langsung mundur dari temanku, dan menjauhi mereka tanpa menunggu persetujuan mereka, ada rasa kecewa dari raut muka mereka, tapi mereka temanku, selalu mengerti dengan keadaanku. Pacarku Alberto, dia keturunan Indo-Belanda. Beragama kristen. Dan aku Islam. Tapi kita sudah pacaran selama satu tahun lebih, aku mengenal pacarku saat orientasi mahasiswa baru. Dan dia kakak senior yang galak, tapi aku suka. Kamipun pacaran saat dia sudah mau lulus kuliah, sebenarnya aku suka sejak pertama kali melihatnya, dan aku juga tidak menyangka dia nembak aku di saat pesta malam tahun baru. Seorang pangeran, pujaan gadis-gadis di kampus, suka sama aku yang di kenal tomboy dan juga judes ama orang, aku juga pemain basket. Ah tapi gara-gara, aku kecelakaan tangan kiriku patah, Ayahku melarangku ikut basket lagi. Padahal aku langsung masuk team inti dan jadi kapten waktu itu. "Sayang. Bengong apa kamu, ayo masuk.Mau kulitmu terbakar kena sinar matahari?" goda Albert, Albert sudah datang menjemputku. Aku masuk ke mobilnya, dia tersenyum. Semakin hari Albert semakin tampan saja. "Seminggu tidak kasih kabar, tidak seru tau!" protesku. Setelah aku duduk di sampingnya, Albert tersenyum manis. "Maafin pacarmu ini, kemarin mendadak ke luar kota, Papa aku ngajak mendadak, HP Aku ketinggalan, tidak seru. Karna aku lupa nomor wa atau telponmu." Albert cemberut, menyesali dirinya sendiri. "Tapikan bisa kasih kabar lewat akun sosmedmu?" aku sedikit kesal. "Sebenarnya aku ingin, tapi karna udara di Bogor dingin, jadi aku masuk angin selama di sana." jawabnya. Dia selalu berkata jujur, dan aku sangat percaya padanya. Dia tahu agamaku, jadi dia menjaga kehormatanku. Selama pacaran, aku dan dia tidak pernah kontak fisik, hanya sekedar gandeng tangan, tidak ada ciuman dan pelukan. Yang masih membuat ragu, karena keyaqinan kita yang berbeda. Pernah suatu hari Albert meminta izin orang tuanya untuk menjadi seorang muallaf. Namun di tentang keluarganya, apalagi Albert anak laki-laki bungsu kedua kakaknya perempuan. Dia sangat di jaga dengan ketat oleh keluarganya. "Maafkan aku, aku telah menghianatimu." Bathinku. Saat tiba-tiba, aku melihat cincin yang di sematkan di jari manisku, aku langsung, mengambilnya dan menyimpanya asal di dalam tasku. Pernikahan yang tidak aku inginkan, membuat aku merasa menjadi penghianat. "Sayang, kita kepantai yah," katanya, mengagetkanku "Sayang, kamu melamun lagi?" Albert bertanya khawatir. "Ah tidak. Kamu bilang apa Sayang?" tanyaku, tergagap. "Yaa Tuhan.. Kamu tidak mendengarkanku? kita ke pantai." katanya lagi. Aku tersenyum, dia memang selalu tahu, apa yang aku mau. "Siap Sayang, aku ikut, kemanapun kau mau." kataku, manja. "Sayang. Aku mau mengikuti agamamu, demi bisa menikah denganmu," katanya, aku terkejut. Meski niat itu tidak hanya sekali dia utarakan. "Kamu serius, Sayang?" Aku bertanya, dengan mengerjap-ngerjapkan mataku, "Iya. Aku sebulan ini sedang belajar tentang agamamu, semakin kesini. Aku semakin tertarik. Islam itu indah, aku membaca kisah Nabi Muhammad. Membuat aku semakin mantap dengan Islam. Sayaang, bantu aku masuk agamamu ya?" dia memohon kepadaku, matanya berkaca. Albert cinta pertamaku. Dia sangat baik, dia yang sering menjagaku saat aku saki, ketika aku harus di rawat di rumah sakit. "Bagaimana dengan orang tuamu?" tanyaku. "Mereka belum tahu." katanya. Dia menundukan kepala, buliran bening mengalir dari mata indahnya. Albert laki-laki yang sangat baik dan tulus, selama berpacaran dirinya tidak pernah menuntut lebih dariku , dirinya begitu sangat menjagaku, Entah kenapa aku merasa bersalah, apakah aku berkhianat kepada pacarku, ataukah aku yang berkhianat kepada suamiku yang tak pernah aku anggap, sebab aku malah pergi dengan pacarku padahal aku sudah menikah dan sah menjadi seorang istri dari laki-laki yang tidak aku kenal sama sekali. Entahlah rasanya aku sangat pusing saat ini memikirkan hubungan yang tak aku inginkan ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD