Pantai Anyer #part2

1006 Words
Ada yang hanya berstatus, tapi tak saling cinta. Ada yang sudah saling cinta, tapi tak bisa bersama." - Boy Candra *** Tidak memakan waktu lama, mobil Albert memasuki kawasan wisata pantai Anyer. Adzan dzuhur berkumandang. "Sayaang, kita nyari masjid atau mushola dulu ya, habis itu makan sian,?" pinta Albert. Aku mengangguk setuju. Kami pacaran lebih dari satu tahun, walau beda agama, setiap masuk waktu shalat, dia akan selalu mengingatkanku untuk beribadah kepada-Nya. . Aku mengerjakan shalat, dan ia menungguku. Selalu seperti itu. Itu yang membuat aku, tidak bisa berhenti menyayanginya. "Itu di sebelah kanan jalan ada rest area Sayang, kita bisa istirahat shalat makan di sana." tunjuk Albert. Aku hanya mengiyakan. Gawaiku berdering, aku melihat layar ponselku, ada nomor baru. Panggilan w******p, ada foto profil suami yang tidak aku anggap. "Kamprett, ngapain calling aku?" bathinku, Kesal. "Kenapa tidak di angkat Sayang?" tanya Albert. "Ah tidak penting, nomor tidak aku kenal." jawabku, aku me rijeck nya. Tidak lama, ia memanggilku lagi, tetap aku abaikan. Hingga ampai berhenti di rest area. Lalu pesan chat masuk. "Assalamu'alaikum Dindaku... Ini suamimu loch, kenapa Dinda sayang, mengabaikan panggilan suara Suamimu?" isi pesannya. "Suami kamprett!!" makiku, dalam hati, semakin kesal. "Ada apa, Sayang, kok mukanya jadi jutek githu?" pacarku bertanya, ia nampak penasaran, "Udahlah Sayang, aku males ladenin pesan tanpa nama" kesalku, lalu. Aku memilih mematikan ponselku. "Kenapa tidak kau coba angkat, siapa tahu penting?" usul Albert, namun aku cepat-cepat menggeleng, "Dari semalam, ada yang isengin nomor aku" jawabku, berdusta. Albert menatapku, seakan ia ingin menanyakan sesuatu, Tapi aku sudah sangat kesal, membuatku cemberut dan Albert memilih diam. Hari ini adalah hariku berdua bersama Albert pacarku. Dan aku tak ingin seorangpun mengganggu kebersamaanku. Biarkan aku egois untuk saat ini. Aku keluar dari mobil, yang sudah terparkir di rest area, aku menuju mushola yang ada di tempat ini. "Sayang, aku shalat dulu, Ya." pamitku. Mataku menatap ke sana ke mari, mencari mushola, "Okey, tunggu aku jadi muallaf, lalu kita bisa shalat bersama." Balasnya. Begitu manis. Matanya berkedip-kedip lucu, membuatku menjadi salah tingkah. Aku tersenyum memandangnya, tanpa membalas ungkapannya, aku mengangguk pasti, sambil mencoba tersenyum manis, mengembalikan mood ku, yang sempat memburuk. Aku lupa tidak membawa mukenaku, sebab ada di bagasi sepeda motorku. Akupun bergegas mengambil air wudlu, dan segera masuk ke dalam mushola, biasanya di sana ada mukena, aku merasakan kesegaran, saat aku sudah berwudlu. Masuk ke dalam mushola, di sambut dengan sejuknya kipas angin. Serasa Tuhan sedang membelaiku, sejuk sekali. Aku mengambil mukena, kemudian memakainya dan berdiri siap untuk menghadap sang khaliq, aku memusatkan pikiranku ke sang pencipta. Selesai shalat, aku bergegas keluar. Mencari keberadaan Albert yang menungguku. Aku tersenyum saat melihat dia sedang bermain dengan anak kecil, menendang bola, Rasanya ia sudah pantas menjadi seorang Ayah Dia memang sangat menyukai anak-anak. Sebab itu pula ia memilih menjadi Dokter anak. Dari kejauhan aku melambaikan tanganku, ia tersenyum melihatku yang sedang berjalan menghampirinya. Albert mengelus puncak kepala anak kecil tersebut, anak kecil itu nampaknya sangat menyukai Albert, entah bagaimana, Albert memang selalu di sukai anak-anak. Mungkin auranya yang memancarkan betapa dirinya menyukai anak-anak. Membuat anak-anak dengan mudah akrab dengan dirinya. "Sayang, sudah sembahyangnya?" Tanyanya, saat melihatku sudah berdiri di sampingnya. Aku mengangguk. "kita makan dulu yuk." ajaknya. Aku mengangguk, dia menggandeng tanganku. "Kamu mau makan apa sayang?" tanya Albert. Saat setelah memasuki sebuah tempat makan mungil di rest area tersebut. "Aku pengen mie rebus aja ya?" pintaku. Albert tersenyum manis, diapun memesankan mie rebus untukku, dan jus orange, kami pesan makanan yang sama. Rasanya aku memang sedang ingin makan mie instan, sekali-kali makan mie instan tidak masalah. Tidak lama kemudian, dua mangkuk mie instan dengan telur juga sayur pelengkap, sudah tersaji di meja, tak lupa jus orange yang nampak segar dengan es batunya. Dan kamipun makan dengan lahap, tanpa obrolan. Hingga tandas, mangkuk hanya tinggal sedikit kuah saja, Selesai makan, Albert membayar dan kamipun pergi ke arah parkiran, di mana mobil Albert terparkir, dan kami melanjutkan perjalanan. Perjalanan tidak jauh dari rest area, deruan ombak pantaipun sudah terdengar di telingaku, begitu juga aroma air laut, sudah tercium di indera penciumanku. Kami telah sampai di parkiran, pantai Anyer, Sebelum masuk ke pantai, Albert membelikan topi dan kacamata hitam untuk melindungiku dari sengatan sinar matahari yang nampak terik, Lalu kamipun masuk ke pantai, dengan bergandengan tangan, seakan Albert tak ingin melepas genggaman tanganku. "Uuh pantai." gumamku, mataku berbinar, melihat ombak pantai yang bergulung-gulung, suara gemuruh khas pantai, aah aku seperti anak kecil yg sudah lama tidak pergi piknik. "Sayang, kau seperti anak kecil saja." Albert meledekku. Aku tertawa kecil. aku menatap mata Albert intens, Albert sangat tampan, ku pandangi lekuk wajahnya yang sempurna, dia memang lelaki idaman saat di kampus, namun dia lebih memilihku yang galak juga tomboy. Entah akupun sangat menyukai Albert sejak pandangan pertama. Namun aku menyembunyikannya dengan selalu jual mahal, ketika ia berniat ingin mengajakku berkenalan. Namun pada akhirnya hatiku luluh juga, saat dia mulai mendekatiku dengan modus mengajak aku untuk ikut acara penggalangan dana untuk korban bencana. Walaupun aku Tahu bahwa itu hanyalah modus, namun aku pura-pura tidak tahu. Aku hanya bisa menikmati kemodusanya tersebut, karena aku juga sangat menikmati kemodusanya. Dia begitu baik, ketampanannya membuat dirinya selalu di dekati perempuan, namun sedikitpun ia tak pernah meresponnya, jika dirinya playboy, sudahlah pasti, ia akan dengan mudah memanfaatkan gadis-gadis yang mendekatinya, hingga pernah pada suatu hari, ada yang mendatangiku untuk menjauhinya sebab dirinya mengaku hamil anak Albert, ia memfitnah Albert dengan begitu konyol tanpa bukti, Albert yang bukan orang sembarangan, iapun dengan mudah mampu membuktikan, kedustaan gadis tersebut, gadis itu memang benar hamil, bahkan menjebak Albert, namun gadis itu hamil dengan laki-laki lain, dan Albert bisa membuktikan jika anak yang gadis kandung bukanlah anak Albert. Mengetahui gadis itu hamil di luar nikah, bahkan ketahuan dirinya yang memfitnah Albert, akhirnya ia malu sendiri, dan memilih keluar dari kampus, dan sampai saat ini, dirinya tak pernah berani menampakan diri di depan umum, sekarang ia tinggal di manapun tidak ada seorangpun yang tahu, sebab orang tuanya juga merasa malu, dengan kelakuan anak gadisnya tersebut, sebab telah mencoreng nama baik keluarganya, hingga usahanyapun, mengalami kerugian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD