Pantai Anyer, #part3

1018 Words
"Sayaang, kamu kayak anak kecil." Protes Albert, ia mengusap jilbabku. Aku tersenyum shok manis. Menyukai perlakuan lembutnya padaku. Aku sejak kecil suka ke Pantai, mengingatkan aku pada Bunda yang sudah meninggal. Waktu usiaku 13 tahun, saat mau masuk SMP, Bunda Ayah mengajakku ke pantai, bersama teman Ayah dan bocah laki-laki cengeng yang bernama Rizky. Tapi entahlah dimana dia, itu adalah kali pertama aku ke pantai, saat sebelum Rizky dan kedua orang tuanya pindah kota. "Sayang, duduk di sana yuk, panas di sini. Ntar kulit cantikmu terbakar sinar matahari." Ajak Albert, menunjuk ke sebuah karpet yang di payungi dengan payung besar, "Iya, lagian siang-siang gini kamu ngajak aku ke pantai." protesku, pura-pura. Dia hanya membalas dengan senyuman yang sangat manis. Kami duduk di karpet, di bawah payung. Sambil menikmati gemuruh suara ombak pantai juga menikmati semilirnya udara panas pantai. "Mas... Pesan air kelapa 2 ya?" Pinta Albert, saat ada seorang laki-laki lewat di depan kami mengantarkan pesanan kelapa hijau, ke pelanggannya. "Baik, sebentar yaa?" ucapnya, sambil mengangguk sopan. Albert membalas senyumanya. "Ada yang ingin aku sampaikan kepadamu." katanya, aku menoleh ke Albert, pandangan Albert lurus kedepan menikmati gelombang ombak pantai, namun sedikit ada guratan khawatir yang tersirat dimimik mukanya. "Mengenai apa?" Tanyaku. Albert menatapku, pandangan kami bertemu. "Mengenai hubungan kita." Jawabnya. Aku masih belum mengerti akan maksudnya. Albert menarik nafas panjang, dan menghembuskan secara perlahan. "Aku ingin jujur sama kamu." katanya, dengan terbata. Dia menggenggam tanganku. "Maafkan aku." ucapnya, aku masih sedikit belum mengerti. "Sebenarnya kemarin aku di ajak ke Bogor, dengan alasan Papa mau menjodohkan aku dengan teman Papa, Papa menentang keras hubungan kita, sebab kepercayaan kita yang berbeda, Mama sebenarnya sangat baik, Mama mendukung hubungan kita. Mama juga menerimaku jika aku pindah keyaqinan, tapi Mama takut sama Papaku, jadi Mama hanya bisa diam. "..... Papa sangat menginginkan aku segera menikahi anak Teman Papa, aku kesal sama Papa, saat makan malam bertemu dengan keluarganya, aku tidak suka sama gadis itu, dia sedikit agresif. Pakaianya seksi, ah aku tidak bisa bayangkan sudah berapa banyak mata lelaki yang menikmati keindahan lekuk tubuhnya, aku tidak menyukai, gadisku adalah gadis yang suka di puji atas kemolekan tubuhnya.. "... Bukankah dalam agamamu, Pakaian ketat itu sangat di larang, dan aku sangat setuju, sebab yang bisa menikmati keindahan tubuh wanita hanyalah suaminya kelak... ".... Kemarin Papa marah, saat aku menolak dan berbicara masalah pakaian ketat gadis itu, sungguh aku lebih menghormati wanita yang berpakaian tertutup ketimbang terbuk.". Jelasnya panjang. "... Dua hari aku di sana, aku sakit, demam tinggi. Tapi aku tidak mau di bawa ke rumah sakit, saat di periksa, kata Dokter aku terlalu stress dan kecapek'an. Sebab itu Papa merasa bersalah dan tidak mengungkit perjodohan itu lagi." Albert diam, ia menarik nafas panjang, "Sayaang, maukah kau menikah denganku jika suatu saat nanti aku jadi muallaf?" lanjutnya, dengan sebuah pertanyaan. Ah apa yang harus aku jawab, di sisi hati aku ingin, di sisi lain aku sudah menikah. Meskipun pernikahan yang tidak aku inginkan, tapi akad nikah bukanlah hal main-main. "Maaf Tuan, ini es kelapanya," seorang penjual es kelapa menyelamatkanku. Membuatku bisa mengelak tidak menjawab pertanyaan Albert. "Terimakasih mas," kataku. Albert membayarnya. "Kembaliannya buat mas saja." kata Albert, meyodorkan uang seratus ribu. "Masyaa Allaah, ini banyak sekali mas, terimakasih semoga rejeki Tuan lancar" ucap penjual kelapa muda tersebut, sebelum beranjak pergi, Albert hanya mengangguk sambil melempar senyum, aku meminum air kelapanya. Segar terasa di tenggorokan. "Sayang, ayuk kita main air!" Ajakku, tanpa menjawab pertanyaan tadi. "Hmmm... Kamu belum jawab pertanyaanku?" protesnya. Aku membalas dengan senyuman, seakan memberi harapan untuk dirinya. Di bawah terik sinar matahari yang begitu menyengat, kami bermain ombak pantai. Berlarian seperti anak kecil, ah sekilas ingatanku kembali saat masih kecil, berkejaran dengan si Rizky. Lelah bermain ombak, panas kotor dan lengket. Kamipun beranjak pergi. Membeli pakaian ganti. Dan aku juga harus shalat ashar. Aku selalu ingat nasehat Bunda "Kamu boleh bandel tapi jangan pernah sekali kali meninggalkan shalat." pesan Bundaku. Waktu itu aku main bola basket sama anak laki-laki hingga pulang maghrib, dan tidak mengerjakan shalat ashar. Aku masih ingat pesanya, sebelum akhirnya Bunda meninggal karena serangan jantung mendadak. Waktu itu aku menerima kelulusan saat SMA. Bahagianya aku, karena bersamaan dengan pengumuman masuk perguruan tinggi dengan jurusan kedokteran. Aku dapat nilai baik, di peringkat ke dua. Saat adzan Subuh aku sudah terbangun, biasanya Bunda dan Ayah sudah bangun terlebih dahulu. Namun waktu itu Bunda belum bangun dan Ayah sudah di masjid shalat jamaah subuh. Begitu semangatnya aku, sebab aku dan kedua orang tuaku akan ke kampus, melengkapi persyaratan administrasi masuk fakultas kedokteran. Namun semangatku hilang, saat Ayah pulang dari masjid dan Bunda masih di atas tempat tidur, tanpa bernafas. Ayah menangis histeris, sebab melihat Bunda yang sudah meninggal di atas kasurnya, padahal kata Ayah, Bunda yang membangunkan Ayah untuk shalat subuh di masjid. Seketika itu Ayah pingsan, aku tak dapat berkata apa-apa selain menangis dan berteriak memanggil-manggil Bunda. Dan entah apa yang terjadi, semua dunia terasa gelap. Aku ikut pingsan. Saat terbangun, Bunda sudah di bungkus dengan kain kafan, aku tidak bisa mencium bunda untuk terakhir kalinya, Opa dan Oma memelukku, menguatkanku, bagaimanapun juga Bunda tidak ada riwayat penyakit apa-apa. Kata Oma yang berasal dari Jawa, mungkin Bunda kena penyakit angin duduk. Tiba-tiba d**a sakit sesak dan tidak bisa bernafas, akhirnya meninggal. "Kuat yaa Sayaang, Bunda pasti bahagia, kematian Bunda sangat mudah, artinya Allaah menyayangi Bunda. Kamu harus semangat, kata Ayah kamu harus tetap melanjutkan cita-citamu menjadi Dokter." pesan Oma. *** Kami berdua melakukan perjalanan pulang setelah lelah bermain pasir ombak di pantai. Tidak terasa aku tertidur. Lelah. Saat terbangun,mobil sudah berhenti di depan rumahku. "Sudah sampai rumah ya?" Tanyaku, mengerjap-ngerjapkan mataku "Turunlah, kamu kecapek'an sayang, sampai nyenyak tidurnya." ucap Albert. "Iya, eeh maaf aku tidak bisa mengajakmu masuk." ungakapku merasa bersalah. "Tidak apa-apa, aku harus kembali ke rumah sakit juga, aku dapat jatah malam." Katanya. "Baiklah, hati-hati di jalan ya, Sayaang. " pesanku melempar senyum. Dia melambaikan tanganya. Saat mobil melaju dan menghilang di tikungan, aku masuk ke rumah, Ayah dan suami yang tidak aku anggap, sudah menungguku di ruang tamu. Aku diam entah alasan apa yang akan aku utarakan, tidak mungkin jika aku berkata jujur, ke mana aku pergi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD