Kamu menyukai seseorang yang tidak dapat membalas cintamu karena cinta yang tak terbalas dapat bertahan dengan cara yang tidak dapat dilakukan oleh cinta yang pernah dibalas." - John Green
***
"Qiila... Kamu dari mana saja, Sayang?" Tanya Ayahku, aku sedikit gugup untuk menjawab, tapi Ayah malah memelukku, beliau tidak meminta jawabanku. "Ayah, khawatir sama kamu, kenapa HPmu tidak aktif?" tanya Ayah, dengan suara tertahan.
"Hhmmm... Maaf Ayah, HP Qila mati kehabisan daya." jawabku. Suamiku memandangku, penuh tanya. Pasti dia sudah menduga, aku sengaja menghindarinya.
"Yaa Sudah kamu mandi, terus shalat isya dan makan malam." suruh Ayahku, aku mengangguk. Ayah tidak mempermasalahkan lagi ke mana aku pergi, mungkin Ayah sudah tahu aku pergi dengan Albert. Ayahku pasti juga sudah menghubungi teman-temanku.
Aku masuk ke kamarku, dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan juga mengambil wudlu, untuk mengerjakan shalat isya. Aku mandi untuk menghilangkan lengket terkena air laut saat di pantai tadi.
Kemudian aku keluar berlilitkan handuk saja.
"Aah, kenapa kamu masuk!" marahku, karena suami yang tak aku anggap masuk kamar, begitu saja, di saat aku keluar dari kamar mandi dan hanya memakai sehelai handuk. Dia tertawa geli, sedangkan aku hanya mematung, menatap marah pada dirinya.
"Okey, aku keluar."katanya, tatapan mata nakalnya membuat diriku merinding.
Cepat-cepat aku memakai piyama, dan langsung memakai mukena untuk mengerjakan shalat isya.
***
Malam telah larut, aku mencoba memejamkan mata, tidur di sofa. Tiba-tiba suami yang tak aku anggap masuk. Aku pura-pura tidur.
"Sayaang, kenapa kamu tidur di sofa, kalau kamu memang tidak suka aku, biar aku yang tidur di sofa." katanya. Aku merasakan dia akan membopong tubuhku, aku langsung membuka mataku, .
"Mau ngapain?" bentakku.
"Belum tidur, ya?" tanyanya, "Kamu tidurlah di kasurmu, biar aku di sofa. Aku akan setia menunggu hatimu terbuka untuk menerimaku" katanya. Membuat diriku sedikit tersentuh.
"Hhmm... Nggak perlu, kamu boleh tidur di kasur, tapi tidak boleh menyentuhku" kataku.
"Aku tidak janji, takutnya aku khilaf" gumamnya. Aku spontan melotot. "tidak, aku bercanda." lanjutnya, kemudian.
Akupun bergegas ke kasurku, di tengah aku pasang dua buah bantal guling, dan kami memakai selimut sendiri-sendiri.
aku melepas jilbabku sebab suami yang tidak aku anggap juga sudah melihatku kemarin, saat tidak sengaja aku ketiduran saat belajar, dan suamiku membuka jilbab yang aku kenakan, dan membiarkan rambut panjangku teruai.
Tidak berselang lama aku mendengar dengkuran halus orang tidur di sebelahku. aku mendongakan kepalaku, kupandang wajahnya di lampu yang remang.
"Sebenarnya kamu tampan, tapi aku lebih mencintai pacarku, Albert" kataku dalam hati. Aku kembali merebahkan tubuhku yang sedikit lelah, dan berusaha memejamkan mata untuk tidur.
***
Pukul tiga pagi aku terbangun, perutku sakit. Nyeri datang bulan, sialnya aku tidak punya pembalut, aku lupa jadwal datang bulanku, sebab padatnya tugas kampus membuat skripsi.
Aku memegang perutku, selalu begini saat datang bulan. Sakit sampai aku tidak bisa apa-apa..
"Sayang kamu kenapa?" Tanya suami yang tak aku anggap.
"Sakit perut." Jawabku. Meski sebal, namun aku tetap menjawab pertanyaannya.
"Hhmm.. Mana yang sakit?" dia menyalakan lampu, dan ingin menyentuh perutku, namun spontan aku memukul tangannya.
"Maaf" ucapnya, membuat aku merasa bersalah.
"Ini sudah biasa, kalau datang bulan, perutku selalu sakit seperti ini." kataku.
"Aku buatkan minuman jahe mau?" tanyanya, aku menggeleng.
"Aku tidak punya pembalut." kataku, meringis kesakitan.
"Ya sudah. Aku belikan sekarang. Biasanya kamu pakai merk apa?" Tanyanya, penuh perhatian.
"Pembalut herbal, beli di apotek." Jawabku. Air mataku menetes, saking sakitnya.
"Tahan yaa, aku segera belikan." dia langsung pergi, mengambil jaket dan dompet.
Aku masih, menahan sakit. Nyeri yang luar biasa.
Aku berusaha memejamkan mata, jika nyeri seperti ini, biasanya karena kelelahan.
Menjelang adzan subuh yang pertama, suami yang tak aku anggap kembali. Dia membelikan pembalut sesuai yang aku inginkan. Aku mengambilnya, dan lari ke kamar mandi.
Saat aku keluar kamar mandi, dia sudah menungguku di depan kamar mandi.
"Sudah baikan belum perutnya?" tanyanya. Aku menggeleng, "mukamu pucat banget, aku buatkan teh panas ya?" katanya. Aku tidak menjawab, aku kembali berbaring di kasurku.
Dia bergegas ke luar kamar.
"Sayang, minum dulu tehnya." suruhnya, aku menurut. Tubuhku terasa lemas. Aku meminum teh yang di buatkannya. "Tidurlah.bAku bersiap ke masjid dulu."
pintanya, lalu ia masuk ke kamar mandi,
Akupun mencoba tidur. Sedikit perut mulai mereda sakitnya, sebab pembalut herbal mampu membuat meredakan nyeri datang bulan.
Pukul tujuh pagi aku baru terbangun, aku mencuci muka dan beranjak keluar, aku melihat suamiku sedang menjemur pakaian. Dia mencuci pakaianku juga.
Sedangkan Ayah, sedang menyiapkan sarapan pagi. Aku merasa bersalah. Sebab merasa jadi ratu di rumah ini.
"Sayang udah bangun?" tanya Ayah, melihat aku turun dari tangga. Aku hanya mengangguk. "Perutmu sudah tidak sakit lagi?" Tanya Ayah. Aku mengangguk sekali lagi
"Ayo makan Sayang" ajak suamiku. Yang sudah berdiri di sebelahku.
Di depan Ayah, aku mencoba bersikap manis. Aku menuruti ajakan suami yang tak aku anggap.
"Makan yang banyak." pinta Ayah, aku tersenyum.
"Biar cepat besar." Sahut dia, sekilas ingatanku kembali ke bocah laki-laki cengeng, dia selalu bilang "Makan yang banyak biar cepat besar"
Ya karena di mata bocah cengeng itu, aku sangat kurus.
Hari ini aku tidak ke kampus, aku masih memikirkan untuk magang praktek kedokteran di rumah sakit mana. Pikiranku kembali ke Albert. Ayah dia punya rumah sakit, dan dia juga bekerja di rumah sakit Elisabet. Kenapa aku tidak mencoba magang di sana. "ah aku harus mencoba bertanya kepada Albert" bathinku.
"Perutmu sudah enakan?" tanya suami
aku memandang sebal, sambil mengunyah makananku.
"Kamu kelelahan ya, Sayang? Kalo kelelahan biasanya sakit sekali nyeri datang bulan, kemarin kemana saja?" Tanya Ayah. Ayah tahu jika aku kelelahan, nyeri datang bulanku bakalan sakit luar biasa. Untungnya tidak sampai pingsan, itu juga berkat suami yang tak aku anggap.
"Ke pantai." jawabku singkat, aku tidak bisa berbohong sama Ayah.
"Pantai mana?" tanya Ayah, lagi.
"Anyer, kan Qila udah lama tidak main di pantai Ayah." rengekku.
Ayah tidak bertanya, aku pergi dengan siapa, karena pasti Ayah tahu, aku pergi dengan Albert. Tidak mungkin Ayah akan membuat menantunya cemburu.
"Besok kalau kamu sudah baikan, kamu daftar pernikahan di KUA, dan kemudian di lanjutkan, resepsi pernikahan." seketika itu, aku tersedak. Dengan khawatir suami yang tidak aku anggap menyodorkan air minum.
"Pelan-pelan makannya, Sayang" Ucap suami yang tak aku anggap.
Entahlah, di depan Ayah aku tidak bisa memberontak, sebab Ayah adalah satu-satunya orang tuaku. Beliau sangat menyayangiku. Beliau tidak pernah memarahiku, Setelah Bunda sudah tiada.