14. Apartemen Brian

1351 Words
Soya tersenyum sesampainya dia di rumah brian, setelah kemaren seharian menghindari lelaki berdarah spanyol itu. "udah capek main petak umpat nya?" brian mendengus lalu berbalik pergi masuk ke dalam rumah nya. Brian hanya merasa dongkol karna kemaren soya selalu menghindarinya. Menangkap satu komunikasi pun percuma, karna komunikasi itu tetap tidak bisa membawa soya ke hadapannya. Kalau awalnya brian menghindari gadis itu, tapi kenapa sekarang dia yang mencari-cari gadis itu. Karna brian sudah mulai perduli dengan kedelai. "ya aku takut, kamu pasti mikir aku gadis anarkis" soya berlari kecil menyusul brian. "emang anarkis" brian menjawab. "takut kamu ilfeel nanti, malah ngejauhin aku." kedelai. "SOYA" brian membentak dan berbalik. "gue kesel, mending lo pulang!" "iya, soya salah. Maafin soya ya!" soya mengatakan merentangkan yang menghalangi jalan brian. Kalau biasanya setiap gadis akan mengukur dan memohon, soya masih sama, dia tidak menghentikan brian tapi memilih yang menghalangi langkah brian. "enggak" brian menjawab. "aduh susah nih" begitulah pelan pelan. "minggir!" brian berkata. "maafin soya dulu !. Soya tuh ngerjain dini sama anggun karna ada alur. Enggak mungkin dong aku diam aja pas di bully kemaren" soya menjelaskan. Brian menghela nafasnya lalu membebankan di saku celana selututnya, berdiri menungguya melanjutkan penjelasannya. "anggun itu ngelabrak soya pas makan sama temen-teman, terus nyiram nana lagi. Kalau dini, brian tau sendiri lah, kan kamu yang nolongin aku pas di keroyok minggu lalu" soya menjelaskan. "gue enggak suka lo bohong sama gue" "iya iya maaf" soya mengerucutkan bibir nya. "yaudah gue maafin" brian menjawab. "yes.." soya berloncat kecil dan tersenyum lebar. "bunda kamu ada?" tanya soya. "lo kesini mau ketemu gue atau bunda?" brian berdecak kesal. "tante jessica sebenarnya, tapi aku juga ngerasa bersalah jadi sekalian deh minta maaf ke kamu" soya menjelaskan. "emang sinting" brian melewati soya dan masuk ke kamarnya, dan soya masih mengekor di belakangnya. "masuk!" Soya menggeleng. "soya enggak enak masuk kamar cowok, tapi kalau kamu maksa. Yaudah deh" soya melangkahkan kaki nya masuk ke kamar brian yang di d******i warna abu-abu, hitam dam putih. "kamar kamu bagus" soya menjawab lalu duduk di sofa kamar brian. "kamar lo?" brian bertanya, dia tau kalau gadis cerewet seperti soya pasti akan menceritakan kamarnya secara detail. "penuh warna, pink, putih, terus aku juga penyuka paris. Jadi banyak furniture berbau romance gitu. Makanya aku bisa romantis sama kamu baby" soya menjelaskan. "oh" brian menjawab. "brian" soya berdehem sebentar. Brian mengangkat satu alismya. "udah ada rasa belum sama aku?" soya bertanya. Brian hanya mengangkat bahunya acuh, dan memilih bermain handphone nya. "yah" soya mendesah kecewa, lalu menegakkan tubuhnya "kak syu bilang perjuangan enggak bakal mengkhianati, soalnya perjuangan bukan cowok berengsek yang hobby selingkuh mengkhianati ceweknya" "makin enggak waras" brian menjawab. "belum selesai ngomong aku" soya berdecak "cinta datang karna terbiasa, jadi kamu biasain aja ada soya terus, lama-lama juga kamu jatuh cinta sama aku, kayak aku yang jatuh cinta sama kamu" Soya menaik turunkan alisnya sambil tersenyum lebar. "ngimpi" brian menjawab. "mimpi ku yang jadi kenyataan, eh- harus jadi kenyataan" "kalau gue tetap enggak suka?" brian bertanya. Dada soya terasa sesak, tapi dia tetap harus optimis mendapatkan hati brian. "ya mau gimana lagi, soya bakalan jadi istri kedua justin bieber, atau jadi pacar charlie puth. Jungkook bts juga enggak masalah sih, soalnya bts kan sekarang udah kaya raya. Lumayan di jajanin" "SOYA" brian membentak. •• Soya dan jessica sedang latihan yoga bersama, rasanya jessica sangat senang karna dia punya teman yang memiliki hobby yang sama dengannya, mungkin setelah ini ia akan meyakinkan brian agar mau menjadikan soya istri, agar jessica punya anak perempuan secantik soya. "soya mau nempatin apartemen brian?" Soya menoleh ke arah jessica, dahi nya menyerngit heran. Soya rasa, ia belum bercerita sejauh itu tentang mencari tempat tinggal pada jessica. "tante tau?" soya balik bertanya. "apa sih yang enggak tante tau, mau nempatin apartemen brian enggak?" "tapi brian tan?-" "udah, ini juga brian yang mau. Kamu cewek pertama yang dia perduliin" "harga nya di diskon ya tan" soya tersenyum lebar. "enggak usah!" jessica tersenyum "enggak bisa tante, soya kan enggak mungkin tinggal di apartemen itu cuma cuma" soya berkata. "nanti ya, kita lihat apartemen nya dulu." "ih kesannya kok soya enggak tau diri ya tante, tante kasih harga nego aja buat soya" "duh nih anak" jessica menjitak pelan kepala soya "udah jangan banyak bacot, ikuti apa kata tante!" "i..iya deh tante" Soya hanya bisa pasrah, soya memang sangat menyukai brian. Tapi soya tidak ingin menjadi beban dan di anggap menyukai brian karna brian berasal dari keluarga kolongmerat. "tapi tan, brian-" "brian bilang, dia enggak terlalu minat tinggal di apart, jadi apart nya di kasih buat kamu" "ih brian, aku enggak enak tan" "udah, yang penting lihat isi nya dulu. Masalah yang lain, di pikirin nanti" Sekarang soya hanya duduk tenang di dalam mobil bersama jessica, sambil mengobrol. Sampai setengah jam kemudian mereka sampai di salah satu gedung yang menyatu dengan kantor terbesar di jakarta. Soya turun bersama jessica. Soya melihat banyak orang berlalu lalang menggunakan setelan kantor, menyapa hormat jessica yang merangkul nya. "soya ini kantor yang akan di kelola brian nanti habis lulus, dan di sebelahnya ada lift khusus ke gedung apartement" jessica menjelaskan. Soya menganga tidak percaya. "pantesan brian tuh kadang suka kesel kalau soya mau bayarin" soya berkata. "ayo" jessica membawa soya masuk ke dalam lift yang membawa mereka ke lantai tujuh. Jessica menekan password sebuah pintu, setelah terbuka ia masuk di ikuti oleh soya. "ini akan jadi apartement kamu sekarang" jessica berkata. "soya janji tante, soya bakalan nyicil deh" soya berkata, dia terpesona dengan ruangan yang serba putih yang nampak elegan. Soya jadi berpikir akan sedikit mendesain ulang ruangan itu dengan tema paris atau pun hal yang berbau romantis. "udah, pikirin nanti aja. Yang pasti kamu harus secepatnya pindah kesini" "siap my guardian angle" soya menjawab. "tapi tan, ini beneran ya aku nyicil satu tahun, nanti boleh ya kalau wallpaper nya ku ganti, aku pengen ala-ala paris gitu"  "nanti minta temenin brian buat dekorasi nya" jessica berkata. •• Brian membuang p****g rokok nya sambil membaca isi pesan soya yang menceritakan kegiatannya harkui ini. From : setan tengil Bunda kamu bilang, itu apart yang kamu berikan ke aku. Ih sweet bgt, tapi aku nyicil ya, soalnya apart nya gede banget. Aku juga bilang ke mama buat pindahan lusa, sama sekalian aku mau renovasi. Aku suka apart nya, makasih. Sampai besok ketemu di sekolah ya. Oh iya, besok pulang nya kayaknya enggak bisa nebeng kamu deh. Aku ada job foto endors sekalian mampir ke persidangan. Goodnight baby brian Brian tersenyum kecil membaca nya, lalu memasukkan handphone nya ke saku celana. Brian tidak pernah seperduli ini pada seorang gadis, sampai soya hadir dengan segala cara menyebalkannya, memaksa untuk tinggal di sisi nya, walaupun brian sudah menyuruhnya menjauh. Brian mengambil kunci motor nya, dia hanya ingin memastikan soya baik-baik saja. Brian melirik jam tangan yang melingkar di tangan kiri nya. Brian mengendarai motornya dengan kecepatan sedang menuju ke perumahan soya, dia hanya ingin mendengar ocehan tidak berguna soya. Matanya tidak sengaja melihat seorang gadis dengan piama tidur pendek, rambutnya hitamnya di gelung, gadis itu sedang duduk di halte sambil memejamkan matanya. Beberapa orang melirik ke arah gadis itu, brian berdecak kesal dan menghentikan motor nya. Brian turun dari motor nya, membuka jaketnya dan melampirkannya di bahu gadis itu. "soya" brian berkata. Soya membuka matanya, terkejut melihat brian ada di depannya, soya seakan tersadar dan memegang jaket di bahu nya. "brian?" Brian merasa deja vu. Dia pernah mengalami kejadian ini, melampirkan jaket nya pada seorang gadis saat kelas sembilan. "ayo gue antar pulang" brian berkata. "nanti dulu" soya menjawab. Brian duduk di sebelah soya. "aku pernah cerita kakak ku yang cewek?" soya bertanya. Brian menoleh, dia baru tau kalau soya punya seorang kakak. "kak syura itu cantik, dia juga beruntung banget. Awalnya ku kira kayak gitu, tapi akhirnya aku tau kami pisah karna emang kak syu udah muak sama mama papa. Memang ya pernikahan tanpa restu itu susah" soya bercerita. "kak syura bilang, aku harus ke aussie. Kak syura mau aku tinggal sama dia" soya melanjutkan. "kalau gue bilang jangan pergi?" brian refleks berkata. "tenang, aku enggak akan pergi kecuali kamu memang punya cewek lain" "soya" "iya?" Cangkir.. "jangan ge'er, tapi gue peduli sama lo" brian berkata setelah mencium bibir soya. P eduli kok cipok bibir, ih kalau suka bilang aja. Soya enggak jadi galau drh kalau di kasih kecup gini. ............................... Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD