Soya memainkan piano nya, memainkan piano tuts-tuts nya. Malam ini dia sedang tidak tertarik mengirim pesan singkat pada brian atau melakukan apapun selain bermain piano. Soya yang selalu bersembunyi di balik sikap manja dan juga senyuman manisnya juga punya sisi yang serindukan di sebutnya sendiri suram.
Soya selalu optimis dengan semua yang dilakukannya, dapat dilakukan tentang mengejar brian. Dia tidak akan mundur kecuali lelaki itu punya gadis lain yang di cintai nya, maka saat itu soya akan mundur penuh.
Tapi ketika mengingat sikap dingin dan mengucapkan ketus lelaki itu, senyum soya perlahan muncul. Soya tau, brian itu tidak sadar perduli dengan soya.
"kedelai"
Soya menghentikan permainan piano lalu berpaling menghadap mamanya yang sekarang masuk ke kamarnya.
"sayang, mama mau ke belanda. Kamu pindah ikut mama ya!"
"kayaknya soya blak-blakan, turunan dari mama ya" soya jawab.
"kuliah di sana, sayang. Kamu bisa mengambil jurusan yang kamu mau"
"enggak ah, kasian brian kalau aku enggak ada. Aku enggak mau pisah sama dia"
Kiandra tersenyum melihat anak itu.
"masih lama sayang, kamu bisa berpikirin baik-baik dulu. Maaf ya mama bikin mood kamu hancur" kiandra mengecup kening soya.
"cepat tidur, kalau terdengar suara berantem. Itu artinya rumah kita emang angker"
"Kenapa sih mama bisa nikah sama papa?" pertanyaan soya membuat langkah kiandra terhenti.
"karna mama memilih mencintai dari pada di cintai"
Deg ..
Soya tidak tau apa yang terjadi dengan dadanya yang tiba tiba tiba tiba.
Dia mencintai brian, tapi brian. Soya tidak tau perasaan lelaki itu.
Soya tersenyum.
"selamat malam mah" kata soya.
Soya menggelengkan lalu lalu berjalan ke Arah balkon kamarnya.
Mencoba berpikir positif, jika dia bukan lah ibu nya. Mereka tidak sama, brian akan menghabiskan waktu, dan soya sudah menerima masalah baik dan buruk nanti jika brian juga akan memintaainya atau tidak.
Soya menopang dagu nya di balkon pembatas, bibirnya mengerucut, rambutnya di terpa angin.
Soya menegakkan punggung, saat melihat motor ninja hitam yang baru saja sampai di depan rumah-nya, si pengendara motor itu membuka helm full face nya.
Brian ..
Senyum soya langsung tertarik, ia dengan cepat berlari ke luar rumah.
••
Brian tidak tau setan mana yang menghinggapi nya, sejak mengantar soya pulang. Ia terus mengingatkan gadis berambut hitam sepinggang itu, kedelai yang bersembunyi di balik senyuman itu membuat brian sangat kesal.
Brian Membuka handphone-nya, lalu mendengus. Tidak ada obrolan dari kedelai. Bagaimana dia akan membaca dengan pesan kesal dari gadis itu.
Brian berdecak kesal lalu bangun dari duduknya, menendang sofa yang di duduki nya. Dia kesal dengan dirinya sendiri, kenapa bisa sekhawatir itu dengan gadis pecicilan sok kuat seperti soya kianti larasati.
Brian mengambil kunci motornya, malam ini berniat ingin menghilangkan pikirannya tentang kedelai.
Brian melajukan motornya ke arena balap, setelah menghubungi vano dan angga yang memang sudah ada di arena balapan pembohong malam ini.
Brian melirik jam terbang, sudah jam setengah setengah jam, dan balapan lagi akan di mulai.
"besok jadi kan ke dufan?" bertanya.
Brian mengangkat bahu acuh.
"kalau lo enggak mau, kasih alamat soya ke kita aja, biar dia pergi sama kita"
"hentikan bahas tuh cewek!" brian menatap tajam. "enggak guna gue di sini"
Brian kembali mengendarai motor ninja-nya.
"Brian, ini lo di tantangin tand-ing" angga menganga tidak percaya, seorang brian yang tidak pernah pergi sebelum melawan orang yang menantang, sekarang sudah pergi. Padahal lelaki itu baru sampai duapuluh menit yang lalu.
Brian tidak tau, kenapa dia mengendarai motornya ke kawasan elite rumah soya, dan berhenti tepat di depan pagar rumah gadis itu.
"BRIAAAN"
Brian tersentak kaget melihat soya yang berlari ke arahnya, membuka pagar rumah dengan sedikit susah payah. Gadis itu tersenyum lebar.
Munafik, brian mendengus dan mau pasang helm lagi. Tapi dengan cepat merebut helm brian.
"baru sampai juga, udah mau pulang aja" soya mengerucutkan bibirnya
"balikin!" brian berkata.
"Tidak, tidak, tidak," jawab soya.
Brian menghela nafasnya.
"kayaknya lo baik-baik aja" brian berkata. Soya tersenyum lembut dikembalikan, hanya beberapa detik, lalu gadis itu kembali tersenyum lebar dengan pipi memerah.
"Kamu khawatirin aku?" kedelai memeluk helm brian.
"sana balik, gue mau pulang" brian berkata.
"yah, padahal masih kangen" soya memasang wajah memelas nya.
"muka lo kayak pemulung yang minta belas kasih"
"ih briaan, cantik gini juga. Mirip jisoo blackpink"
"enggak kenal" balas brian ketus.
"yang cantik kayak aku itu loh, yang nyanyi memukulmu dengan du du du" soya mencontohkan. "eh tapi bagus sih kamu enggak tau"
Brian mengangkat satu alisnya menatap kedelai.
"Mungkin kamu emang cowok macho dan bukan fanboy alay yang kalau liat artis korea langsung ngiler"
Brian berdecak kesal.
"brian besok kamu pakai baju putih ya, biar couple sama aku" soya kembali berkata.
"ogah, alay" brian menjawab
"Aku suka warna putih loh. Besok kita beli sepatu pasangan juga yuk, tapi bayar masing-masing sih. Uang soya udah habis buat belanja sama ikut kegiatan amal kemaren"
"ogah gue" brian menjawab.
"ih kamu kok serba enggak mau sih. Yaudah soya ngalah deh, kamu mau nya besok apa?"
"mau kencan sama kyle jenner" brian menjawab ketus.
"dih kyle udah punya baby gitu, sementang bibirnya seksi. Nanti deh soya juga menyaring bibir, tapi kata teman-teman bibir soya udah cipok-mampu"
"siapa yang bilang?" brian bertanya.
"banyak, makanya kamu tontonin vlog aku, berlangganan juga, terus ikuti aku i********:. Baca tuh komentar nya"
"hallah, bilang aja mau mau nambah pengikut" brian mencibir.
"duh baby peka banget sih" soya tertawa kecil.
" P RANG ..."
soya menoleh ke Arah dalam rumah, ia lupa menutup pintu dan sekarang bunyi benda pecah cukup terdengar dari di dalam rumah nya.
"Kedelai"
"eh iya. Brian, kita janjian nya pagi jam tujuh ya. Takut macet. Yaudah kamu pulang, istirahat" soya menerima helm brian.
Brian berdecak kesal, lalu turun dan melepaskan jaketnya.
"pakai!" brian memberikan jaketnya.
"Aku tau kamu manis, tapi nanti kamu kedinginan, aku enggak mau ah kesayangan aku yang belum jadi pacar ini nanti sakit, masuk angin. Nanti batal lagi acara pdkt aku maju" soya menggeleng.
"pakai!" brian memakaikan jaket nya.
"brian jangan gini dong, aku padahal udah punya rencana buat modusin kamu loh besok" soya mengerucutkan bibirnya.
Brian memasangkan helmnya di soya, dan itu berhasil membuat soya diam.
"Naik !, gue ajak lo jalan-jalan" kata brian setelah naik ke motornya.
Perlahan soya naik ke boncengan motor brian.
Brian menarik tangan soya dan melingkarkan nya di perutnya.
"brian" soya ingin menarik tetapi brian menahannya.
"jangan ge'er !, gue tau lo bukan cewek murahan. Gue yang nyentuh lo, anggap aja gitu" brian berkata lalu melajukan motornya.
"Terima kasih brian" kata soya.
"hmm"
"jangan hmm gitu dong!"
"bacot" brian mendengus.
"Aku enggak mau kamu jadi brian sabyan. Mending jawabnya iya sayang . Kan enak di dengar tuh"
Brian yang kesal melajukan motornya dengan kencang sampai membuat soya memekik kaget.
......................................... Tbc