7. Kencan

1251 Words
Soya bernyanyi tidak jelas di depan cermin sambil mengenakan kaos kebesaran putih dengan rok denim yang ditambah setengah paha dan sepatu hitam. "Aku sangat panas" soya bernyanyi lalu mengoleskan liptint pink di bibir merahnya. "duh sudah ala-ala korea. Eh tapi-" Soya berbicara sendiri. "brian kan bule, selera bule kan kayak jenner" soya melapis bibirnya lagi dengan lipstik merah muda. "ah udah lah, enggak bisa ciuman juga biar pake lipstik merk si kyle jenner, belum sah sih" Soya merapikan penampilannya lagi, rambutnya di ikat. Soya langsung mengambil tas selempang nya yang sudah di isi beberapa make up, dompet dan handphone. Soya turun dari kamarnya di lantai dua, dengan bersenandung. Di meja makan dia sudah melihat temannya nana yang sudah sarapan tanpa sepengetahuannya. "Lo, kapan datang?" kedelai berkacak pinggang di sebelah nana. "eh rindu sekolah udah kece aja" nana tersenyum lalu menyuap nasi gorengnya. "non soya mau sarapan?" bik jum bertanya. "makasih bik, soya lagi enggak pengen sarapan. Takut lipstik nya ilang kalau makan" soya menjawab. "waduh, makanya beli lipstik ori dong, sist" nana menyahut. "enak aja, ini merk nya kyle jenner tau di lapis lipbam Lak me. Gratis tau, kemaren gue endors" "Bodo lah, kedelai." nana melanjutkan makannya. "nana buruan ih, kita nunggu brian di depan." soya langsung menarik tangan nana, tanpa perduli sahabatnya itu memprotes karna di tarik saat sedang makan. •• Brian menghentikan mobilnya di depan rumah soya, di belakangnya ada yang membawa mobil itu sendiri, sedangkan angga yang pindah tidak bisa ikut karna di dipaksa ikut ke acara keluarga. Brian melihat soya dan sedang menunggu berjongkok menunggu nya. "SOYAA" vano Buka kaca mobilnya. Brian Membuka kaca mobilnya. Soya dan nana langsung berdiri. "kita kan janjiannya jam tujuh, brian. Aku sudah nungguin kamu lima belas menit" soya mengerucutkan bibirnya. "masuk!" brian berkata. Soya menoleh ke arah nana yang terlihat merengut kesal, gadis dengan gigi kelinci itu masih merajuk karna soya menariknya sebelum menyelesaikan sarapannya. "Nana ikut vano ya!" soya tersenyum lebar sambil menarik tangan nana dan membukakan pintu mobil vano untuk soya. "loh rindu sekolah enggak ikut aa vano aja?" bertanya. "enggak ikhlas ya lo?" nana menyahut. "Cantik-cantik jutek banget" jawab Vano. "udah ya, kalian yang akur. Gue mau cus nemenin baby brian-ku" soya berkata lalu berlari kecil masuk ke mobil brian. Soya tersenyum semakin lebar melihat baju brian yang berwarna putih. "Katanya enggak mau pakai baju pasangan" kata soya sambil memasang sabuk pengamannya. "menjawab" brian menjawab. "ih bagus sih kalau diubah, kata orang kalau samaan nya perbarui, maksud jodoh" Brian memutar bola mata nya. "brian" Brian tidak menyahut, tetapi hanya melirik pada soya sekilas. "kamu ganteng banget, setiap hari sih sebenarnya" soya tersenyum malu. "udah tau" brian menjawab. "jadi bersyukur deh" Brian menaikkan satu alisnya. Dan seakan mengerti, soya berdehemundur sebelum melanjutkan kalimatnya. "iya, bersyukur. Aku terlahir secantik bidadari, jadi cocok sama kamu yang seganteng ini" lanjut soya. "Percaya diri banget lo" "pede itu harus, sayang. Kayak aku gini loh, pede banget bikin kamu jatuh cinta sama aku" Brian mendengus. "Itu teman kamu yang namanya angga, enggak ikut?" soya bertanya. "enggak" "kenapa ?, kan aku yang traktir. Kalau bokek enggak masalah" "songong banget" brian mencibir. "kepo doang, sayang" "niat lo sama gue apa sih? -" brian berdecak kesal "lupain!" "ih sayang, banget posesif. Kan angga itu teman kamu juga, sekarang ngerebut pacar teman lagi trend, tapi aku bakalan setia sama dia kamu sama doang. Jadi jangan cemburuan gitu ah" "gue bukan pacar lo!" tegas brian. "oh iya ya, aku lupa. Kan kamu belum ngajakin pacaran, maaf ya" soya tertawa kecil. •• Hanya merangkak bahu nana saat ada segerombolan remaja seusia mereka yang tidak sengaja hampir menabrak nana. "Hati-hati dong, di kira ini tempat nenek lo" kata vano. "santai dong!" balas seorang lelaki dari gerombolan itu. "udah kak vano, gue baik-baik aja" jawab nana. "enggak bisa na, lo hampir kedorong tadi" vano jawab "gue enggak terima. Paling enggak mereka harus minta maaf" Nana tidak pernah menyukai lelaki bad boy seperti vano, dan selalu mengolok-olok soya karna suka bad boy seperti brian. Sekarang dia tau jika tidak semua bad boy itu berengsek. Nana suka januar, Sementara lelaki menunjukkan dengan jelas jika dia menyukai soya. Tapi untuk vano, nana tau kalau senakalnya teman brian ini. Vano juga punya sisi baik. "Anak sekolah mana lo semua?" brian bertanya dengan tatapan tajam, tinggi yang menjulang membuat lelaki yang tadi meneguk air liur nya terintimindasi. "ih brian jangan berantem, aku enggak suka liat wajah ganteng kamu bonyok" soya berkata pelan. "dih sok cantik banget, cuma kesenggol dikit doang lebay" cibir seorang gadis dengan rambut kemerahannya. "Jaga mulut lo!" vano menjawab, menarik yang tinggi menyamai dengan tinggi brian itu, menarik tubuh kecil nana ke belakang menarik. Gadis yang mencibir nana itu sedikit memundurkan langkahnya melihat vano yang kesal. "udah, ayo!" nana menarik kaos baju vano. "minta maaf dulu ke teman gue!" tegas vano. "udah ih" nana menarik tangan vano. Brian berdecak kesal, lalu melirik tajam pada gerombolan itu. "lain kali lihat-lihat kalau jalan. Ketemu gue lagi, abis kalian" brian kembali sambil menarik tangan soya. Brian melepaskan tangan sampai tiba di antrian tiket. "yah sayang, kenapa di lepas?" soya mengerucutkan bibirnya. "diam!" tegas brian. "ih .." soya berdecak "tapi kamu, vano tadi sweet banget loh sama nana. Kamu kapan sweet gitu ke aku?" "bacot" Soya mendengus lalu merogoh tasnya, ingin mengambil dompet untuk membayar, sebelum itu brian lebih dulu maju dan membayar untuk mereka berempat. "Brian" soya menghadap terharu ke Arah brian. "Aku tarik deh kata-kata ku yang dinilai lebih manis dari kamu" "buka di bayar, baru deh" brian mencibir pelan. "nanti akhir pekan depan, gue yang traktir" vano berkata. "souh soya sama nana jadi terharu" soya menjawab. "padahal soya Janji loh mau bayarin jalan hari ini" "lo pikir gue kere?" brian mendelik kesal. "enggak usah banyak bacot" Brian berjalan lebih dulu, soya mau mengejarnya tapi dia menoleh di nana menarik. "maaf ya na, mau mode ke baby brian dulu. Kita enggak gandengan ya buat hari ini, lo minta gandeng vano aja, biar enggak ke senggol-senggol. Kan badan lo kecil" soya katakan. "Ngaca kedelai, badan gue sama badan lo itu enggak ada beda nya" jawab kesal. "SOYA" panggil brian. "iya sayang, bentar!" soya berlari kecil mendatangi brian. Brian menghela nafasnya, semua gadis ingin digandengan, soya hanya tersenyum lebar dan berjalan di sampingnya. "kak vano" kata nana. "vano aja!" jawablah. "Masih kesel sama yang tadi ya?" nana berkata "maaf ya, udah nyusahin" "kenapa lo meminta maaf?, gue enggak suka aja ada yang enggak sopan ke cewek kayak gitu" jawab vano. "bilang aja sih mau berantem" nana mencibikkan bibirnya. "ayo dah, na. Nyusulin si es batu sama rindu sekolah" vano mengulurkan menerima, nana tersrnyum dan menerima uluran tangan itu dan menggenggam nya. "badan lo sih kecil, kedorong-dorong" "badan lo tuh kayak tiang listrik" nana membalas "kalian tuh tinggi-tinggi gitu, anak sekolahan tapi bongsor banget" "muka gue enggak dipuji juga?" "masih gantengan lee minho" "Kenapa ya, cewek-cewek suka nya korea-korea an" "ganteng sih" "hallah" Soya menengok ke belakang, melihat nana dan vano yang tertawa membuat soya mengerucutkan bibirnya kesal. Niatnya yang berkencan dengan brian, tapi malahan nana yang asik bercengkrama dengan vano. "itu bibir enggak usah di monyong-monyongin" brian berkata. "kan niat ku yang mau modusin kamu, kencan sama kamu, tapi kenapa nana sama vano yang asik sendiri" soya berkata kesal. "terus?" brian bertanya dengan acuh. "terus, terus, terus, ada perempatan belok kanan ada warung nasi padang" "gila" brian mencibir. "gila nya juga karna kamu" jawab soya. "Aku tuh mau kayak nana gitu loh sama vano, baru kenal udah akrab banget. Kamu gandeng tangan aku juga dong, rangkul aku juga dong" "Lo aja" brian menjawab "gue sih ogah" "nanti kamu ilfeel sama aku, nanti kamu mikir aku cewek gampangan yang pegang-pegang duluan" Brian mengangkat bahu acuh. "syukur sayang" soya bilang sudah berjalan di samping brian lagi. ................................. Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD