“Jangan bilang hal seperti itu lagi, Kirana….” suara Bramasta parau, seperti seseorang yang baru saja ditikam dari arah yang tak bisa ia lihat. Mobil berhenti di pinggir jalan. Mesin masih menyala, tapi dunia di dalam kabin terasa membeku. Kirana masih menatap keluar jendela, berusaha menahankan gemuruh di dadanya. Bramasta meraih tangannya, menggenggamnya kuat, seolah jika ia melepaskan sedikit saja Kirana akan menghilang selamanya. “Sayang… aku mohon,” ucap Bramasta rendah, hampir berbisik tapi tegas. “Kamu jangan pernah bicara soal pisah. Aku nggak akan sanggup.” Kirana menarik napas panjang, menghapus sisa air mata yang belum sempat jatuh. “Pak Bram… kamu nggak bisa lindungi aku dari seluruh dunia kamu.” “Aku bisa,” sanggah Bramasta cepat, tanpa berpikir. Kirana menoleh perlahan,

